
Friska masih di dapur membantu Bunda Laksmi, saat Gabriel pulang dengan wajah lesu.
"Kenapa kamu, Briel? Pulang-pulang suntuk begitu?" Tanya Bunda Laksmi pada sang putra.
"Pusing, Bund! Kerjaan di kantor banyak, malah Kate tidak ada kabar."
"Briel jadi kena omel dari para klien yang mau bertemu Kate," curhat Gabriel pada sang Bunda.
"Apa gara-gara kemarin habis dilabrak itu?" Celetuk Queena yang ikut-ikutan bertanya seolah sedang menyindir Friska yang hanya menundukkan wajahnya.
"Entahlah?" Jawab Gabriel seraya mengendikkan bahu.
"Fris, nanti kalau Kate sudah kembali kamu itu harus minta maaf karena kemarin sudah salah labrak," ujar Bu Laksmi menasehati Friska yang hanya diam menunduk sejak tadi.
"Harus, Bund?" Tanya Friska ragu.
"Ya iyalah! Nanti kan bisa kamu pura-pura ke kantor Gabriel, antar makan siang sekalian minta maaf sama Kate!" Terang Bu Laksmi mencetuskan sebuah sebuah ide.
"Memangnya kamu mau Gabriel dipecat dari kantor gara-gara tingkah konyol kamu kemarin itu?" Lanjut Bunda Laksmi lagi yang langsung membuat Friska menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nanti aku temani minta maafnya! Jangan cemberut gitu!" Gabriel mengusap lembut kepala Friska dan mencoba menghibur istrinya yang masih merengut tersebut.
"Iya, Om!" Jawab Friska lirih.
"Om!"
"Dibiasakan panggil mas, gitu, Fris!"
"Biar nggak kebiasaan! Udah jadi istri kok Om Om terus!" Komentar Bunda Laksmi lagi yang langsung ditimpali tawa kecil dari Queena. Lagi-lagi Friska dibuat merengut dengan omelan Bunda Laksmi.
"Kan panggilan kesayangan, Bund!" Kilah Friska mencari alasan.
"Iya kesayangan, tapi masa om? Panggil Mas kan juga lebih berasa sayangnya!" Pendapat Bunda Laksmi memprotes alasan Friska.
"Coba sekarang panggil Mas Briel!" Titah Bunda Laksmi selanjutnya seolah sedang mengajari Friska.
"Mas." Friska berucap agak ragu dan Briel serta Queena malah tertawa kecil.
"Sssssh! Diam kalian!" Gertak Bunda Laksmi galak pada Gabriel dan Queena.
"Coba lagi, Fris!" Titah Bunda Laksmi lagi pada Friska.
"Mas Briel!" Ucap Friska akhirnya.
"Apa, Sayang!" Jawab Gabriel lebay.
"Nah, itu bisa! Coba ulangi lagi!" Titah Bunda Laksmi sekali lagi.
"Mas Briel!" Ulang Friska sekali lagi sedikit malu-malu. Masih berasa aneh saja panggil Mas ke Gabriel.
"Iya, Sayang! Ada apa?" Jawab Gabriel lagi semakin lebay yang hanya membuat Bunda Laksmi geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Berarti Queena juga harus mulai belajar panggil Friska Mami, dong!" Celetuk Friska tiba-tiba yang langsung membuat semua orang diam dan ruangan menjadi hening.
Kriik kriiik!
Kriik kriiik!
Semuanya ganti menatap ke arah Queena yang langsung mendengus.
"Mami Fris!" Ucap Queena setengah hati seraya bangkit dari duduknya dan keluar dari dapur. Friska hanya mengulas senyum tipis dan lanjut memberikan kue ke atas kue kering yangbsudah selesai dicetak oleh Bunda Laksmi.
****
Friska masuk ke kamar saat jam menunjukkan pukul sembilan malam.
"Udah selesai bantuin Bunda, Fris?" Tanya Gabriel yang masih berkitat dengan laptop serta tumpukan kertas di depannya.
"Sudah, Mas!" Jawab Friska masih sedikit kagok. Tapi bukankah kata Bunda Friska harus membiasakan diri?
Sementara Gabriel hanya tersenyum mendengar Friska yang memanggilnya Mas.
"Masih banyak kerjaan, ya?" Tanya Friska yang sudah ikut naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Gabriel. Friska sebenarnya ingin menyampaikan pada Gabriel sekarang perihal kehamilannya, tapi sepertinya Gabriel sibuk sekali. Apa besok saja, ya?
"Iya, ini! Kerjaannya jadi dua kali lipat karena Kate masih tak ada kabar," jawab Gabriel seraya mengusap wajahnya berulang kali.
"Kamu kalau mau tidur, tidur aja! Malam ini libur dulu itunya," ujar Gabriel lagi seraya mengusap wajah Friska yang menatapnya dengan aneh.
"Ada apa? Kamu pengen?" Tanya Gabriel mencoba menerjemahkan arti tatapan mata Friska.
"Trus kenapa?" Gabriel tertawa kecil dan mengusap dada Friska yang entah mengapa terlihat lebih berisi belakangan ini. Mungkin karena rajin Gabriel pakai sebagai squishy setiap malam.
"Nggak kenapa-kenapa!"
"Mas Briel nggak tidur?" Friska balik bertanya pada sang suami.
"Nanti kalau kerjaannya sudah selesai. Kamu tidur duluan!" Gabrian menepuk bantal di sampingnya dan menyuruh Friska sekali lagi. Friska tak membantah dan segera merebahkan tubuhnya di samping Gabriel. Gadis itu memeriksa ponselnya sebentar karena tadi seperti ada pesan masuk.
Dan benar saja! Rupanya Sashi mengirimi Friska pesan. Segera Friska membuka dan membalasnya.
[Udah bilang ke Om Briel?] -Sashi-
[Belum. Mas Briel masih sibuk ngerjain pekerjaan kantornya] -Friska-
[Mas Briel? Nggak salah ketik, kan?] -Sashi-
Sashi mengirimkan sebaris emoticon tertawa.
[Kata Bunda harus dibiasakan. Kan aku istrinyaMas Briel! Bukan keponakannya] -Friska-
[Tull! Aku setuju sama Bunda! Tapi berasa kagok, nggak?] -Sashi-
[Dikit] -Friska-
__ADS_1
[Tapi tadi ngomong-ngomong kamu belum jadi ngasih tahu suamimu?] -Sashi-
[Belum! Dia masih sibuk ngurusin berkas. Mungkin besok aja] -Friska-
[Yaudah, terserah kamu saja. Asal jangan lupa diberitahu!] -Sashi-
[Iya! Nggak diberitahu juga nanti lama-lama ketahuan. Kan perut tambah gede] -Friska-
[Bulan depan masih bisa ikut ujian, kan? Sekolah sampai kapan?] -Sashi-
[Sampai seragam udah nggak muat lagi] -Friska-
[Nanti aku pinjemin dasternya mama. Kan jarang-jarang orang sekolah pakai daster] -Sashi-
[Dasar! Udah, ah! Aku mau tidur] -Friska-
[Periksa orderan dulu sebelum tidur! Siapa tahu rezeki jabang bayi bagus!] -Sashi-
[Iya! Ini baru mau ngecek, kamu chat melulu] -Friska-
[Yaudah, abaikan! Bye!] -Sashi-
[Bye!] -Frisla-
Friska mengakhiri chatnya bersama Sashi dan ganti memeriksa orderan kue kering yang masuk. Ada beberapa orderan yang langsung Friska arahkan ke nomor ponsel Bunda Laksmi. Gadis itu lanjut memeriksa orderan sprei yang biasanya sehari belum tentu ada yang order. Namun tiba-tiba....
"Hah! Ini beneran?" Friska mengucek kedua matanya saat membaca chat dari customer baru yang mau pesan 100 pieces sprei untuk souvenir.
Orang lain ngasih souvenir paling sapu tangan atau gantungan kunci. Ini kenapa sprei? Yang punya acara sultan apa, ya?
Friska buru-buru membalas chat dari customer tadi untuk memastikan kalau itu bukan penipu. Setelah chat panjang kali lebar dan tak lupa Friska juga chat supplier untuk memastikan stok, akhirnya dicapailah kesepakatan, dan customer tadi sudah langsung melunasi pembayaran.
"Seratus kali lima ribu..." Friska bergumam sendiri.
"Lima ratus ribu!" Friska sudah berbinar senang sekarang.
"Apanya yang lima ratus ribu, Fris?" Tanya Gabriel yang rupanya mendengar gumaman Friska barusan.
"Hehe, tidak ada, Mas!" Friska meringis dan segera meletakkan ponselnya karena ordeean seratus sprei sudah selesai ia handel. Gadis itu mengusap lembut perutnya di dalam selimut dan ingat perkataan Sashi tadi.
"Rezeki kita, Dek! Sehat-sehatvdi dalam perit Mami, ya!" Batin Friska seraya tersenyum lebar, lalu memejamkan mata. Gabriel yang melihat Friska merem sembari tersenyum, ikut tersenyum juga dan merapatkan selimut istrinya itu sebelum lanjut berkutat dengan pekerjaan kantor yang masih menumpuk. Gabriel benar-benar akan lembur malam ini!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1