Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
HANYA SALAH PAHAM


__ADS_3

Langit di luar panti asuhan sudah beribah menjadi semburat oranye menandakan senja sebentar lagi akan berubah menjadi malam. Friska masih di halaman, mengangkat nampan berisi kerupuk nasi yang sudah setengah kering.


Mbak Ririn memang tak oernah membuang nasi sisa yang ada di panti dan selalu mengubahnya menjadi camilan untuk anak-anak. Terkadang kerupuk nasi, terkadang juga apem nasi warna-warni. Wanita itu memang kreatif dan selalu punya ide.


Beep beep!.


Suara klakson dari mobil pick up Bagus yang tumben datang sore-sore, membuat Friska menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mobil pick up warna hitam tersebut.


"Mbak Fris! Lagi bawa apa?" Seru Bagus seraya turun dari mobil pick up dan dengan cepat menghampiri Friska.


"Kerupuk nasi. Masih belum.kering dan besok perlu dijemur lagi," terang Friska pada oemida di depannya tersebut.


"Biar Bagus yang bawa! Ibu hamil jangan sering angkat-angkat, kalau kata Ibu," ujar Bagus seraya mengambil alih nampan berisi kerupuk tadi dari tangan Friska.


"Kan cuma ringan," kilah Friska mencari alasan.


"Ngomong-ngomong, ngapain kesini sore-sore? Bukannya kemarin udah antar sembako dan kebutuhan anak-anak?" Tanya Friska selanjutnya pada Bagus.


"Mampir doang, Mbak! Antar rambutan. Kebetulan lagi panen di rumah Budhe dan buahnya melimpah. Jadi suruh anterin kesini buat anak-anak," terang Bagus seraya mengendikkan dagunya ke arah mobil pick up-nya.


"Wah! Udah lama nggak makan rambutan. Mana, Gus?" Tanya Friska yang langsung menghampiri mobil dan mengambil sekeranjang rambutan dari bak belakang mobil Bagus.


"Mbak! Ambil dikit saja, dan kranjangnya biar Bagus yang angkat!" Seru Bagus yang buru-buru meletakkan nampan berisi kerupuk tadi lalu berlari ke arah Friska sebelum ibu hamil itu mengangkat sekeranjang rambutan sendirian.


"Manis, Gus!" Puji Friska yang langsung memakan rambutan di dekat mobil Bagus.


"Awas mabok rambutan!" Kelakar Bagus sebelum pemuda itu masuk ke dalam panti seraya membawa sekeranjang rambutan tadi. Sementara Friska yang masih memegang seikat rambutan di tangan kirinya, baru saja akan menyusul Bagus saat sebuah mobil minibus warna putih berhenti di belakang mobil Bagus. Friska menghentikan langkahnya dan menatap pada mobil minibus itu sebelum kemudian pintu depan terbuka dan Queena keluar dari mobil.


"Mami!" Seru Queena yang langsung menghambur ke pelukan Friska dan membuat ibu hamil itu mematung.


Kekagetan Friska tak cukup sampai disitu karena Bunda Laksmi sudah menyusul turun dan ikut menghampiri Friska. Ada juga Ayah Yuda dan yang membuat Friska mengerjap tak percaya adalah seseorang yang keluar dari pintu pengemudi seraya mengulas senyuman yang sangat-sangat Friska rindukan.


"Mas Briel?" Gumam Friska tak percaya saat melihat Gabriel yang masih tersenyum dan mendekat ke arah Friska.


"Hai!" Sapa Gabriel yang langsung membuat Friska melepaskan pelukan Queena dan ganti menghambur ke pelukan Gabriel.


Friska tiba-tiba langsung menangis di pelukan Gabriel seolah sedang menumpahkan semua rasa sedih, rasa rindu, dan semua rasa yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Gabriel memeluk Friska dengan erat dan mengusap-usap punggung istri kecilnya tersebut.


"Ayo pulang!" Ajak Gabriel lembut.


Friska langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa Ayah dan Bunda ke sini mau mengambil bayi Friska, Mas?" Tanya Friska berprasangka.


"Kenapa berpikir begitu? Bunda kangen berat itu sama kamu dan mengkhawatirkan kamu sampai sakit-sakitan," ujar Gabriel yang langsung membuat Friska mengangkat kepalanya dari pelukan Gabriel, lalu Friska menatap tak mengerti ke arah suaminya tersebut.


"Bunda benci pada Friska. Bunda menganggap Friska beban dan berniat memberikan kedua bayi Friska pada orang lain-"


"Mana mungkin Bunda melakukan itu semua, Fris!" Bunda Laksmi yang turut mendengar penuturan Friska langsung mendekat ke arah menantunya tersebut dan mengusap airmata di kedua pipi Friska.


"Bunda itu sayang sama kamu, Fris! Dan tak pernah sedikitpun terbersit di pikiran Bunda untuk memisahkan kamu dan kedua cucu Bunda ini." Bunda Laksmi sudah ganti mengusap perut Friska yang kini sudah membulat.

__ADS_1


"Tapi waktu itu Friska dengar sendiri kalau Bunda merasa kewalahan menghadapi kehamilan Friska." Friska menatap bingung pada Bunda Laksmi.


"Memangnya Bunda menyebut nama kamu waktu itu?" Tanya Bunda Laksmi yang langsung membuat Friska mengingat-ingat.


"Enggak , sih! Tapi Friska sangat yakin kalau waktu itu Bunda sedang membicarakan Friska," tutur Friska penuh keyakinan.


"Kan di rumah yang lagi hamil cuma Friska," Sambung Friska lagi.


"Tapi kan kamu hamil ada suaminya. Gabriel!"


"Sedangkan waktu itu bunda lagi bahas yang hamil tapi nggak ada suaminya dan nggak tahu yang hamilin siapa," Ujar Bunda Laksmi yang sesaat malah membuat Friska bingung.


"Masa, sih?"


"Jadi sebenarnya waktu itu Bunda sama Ayah lagi ngomongin siapa?" Tanya Friska ragu-ragu seraya menatap bergantian pada Ayah Yuda dan Bunda Laksmi.


Kata-kata Sashi kala Friska kabur ke rumahnya waktu itu mendadak turut terngiang-nguiang di kepala Friska.


"Kamu kan punya suami, Fris! Itu Om Briel kan suami kamu, bapak dari calon bayi kamu!"


"Itu pasti bukan kamu, Fris! Bunda pasti ngomongin orang lain! Mungkin tetangga atau saudaranya Bunda."


Ya ampun!


Jangan sampai Friska salah sangka dan salah paham.


"Lagi ngomongin si Orens. Kucingnya Queena yang waktu itu lagi hamil juga." Ayah Yuda yang akhirnya menjawab pertanyaan Friska seraya tertawa kecil. Bunda Laksmi ikut tertawa dan geleng-geleng kepala


Kedua bola mata Friska langsung membulat tak percaya.


"Oma dan Opa itu nggak pernah benci sama Mami! Mereka itu sayang banget sama Mami. Jadi mana mungkin Oma dan Opa mau memisahkan Mami dan adik-adiknya Queena," ungkap Queena yang sudah kembali mendekap Friska.


"Bunda sampai sakit-sakitan karena memikirkan kamu yang tiba-tiba pergi tanpa pamit," timpal Gabriel yang seketika membuat Friska mencebik dan buru-buru memeluk Bunda Laksmi.


"Maafin Friska, Bunda!" Cicit Friska dengan gunungan rasa bersalah di dadanya karena sudah salah paham dan tak bertanya terlebih dahulu pada kedua mertuanya tersebut. Andai saat itu Friska menuruti kata-kata Sashi, mungkin Friska tak perlu capek-capek kabur dari rumah dan membuat Bunda Laksmi jadi sakit.


"Sudah! Bunda sudah sehat, kok!"


"Bunda tahu, bawaan ibu hamil itu memang sensitif. Dulu Bunda pas hamil Briel dan Brian juga merasakan seperti yang kamu rasakan ini," ujar Bunda Laksmi seraya mengusap lembut punggung Friska.


"Tapi harusnya Friska tanya dulu ke Bunda dan Ayah dan nggak buru-buru ambil keputusan," ucap Friska penuh sesal.


"Friska benar-benar minta maaf, Bunda! Ayah!" Ucap Friska sekali lagi yang hanya membuat Bunda Laksmi dan Ayah Yuda mengulas senyum.


"Sekarang semua sudah jelas dan clear, kan?" Gabriel sudah kembali merangkul Friska dan mengusap airmata di wajah istri kecilnya tersebut. Friska hanya mengangguk-angguk dan masih saja merasa bersalah.


"Mas Briel kapan bebas?" Tanya Friska seraya menatap pada Gabriel yang wajahnya semakin tampan saja. Efek sudah berbulan-bulan tak bertemu apa, ya?


"Emmmmm kapan, ya?" Gabriel terlihat mengingat-ingat.


"Sebulan setelah kamu kabur dari rumah sepertinya."

__ADS_1


"Sashi dan Jimmy yang membantu memberikan bukti pembelaan hingga akhirnya laporan dicabut sama keluarga Franklyn dan Lexi," cerita Gabriel pada Friska.


"Lexi dan Franklyn juga sudah mendapat karma setimpal," timpal Queena menyambung cerita Gabriel.


"Karma apa?" Tanya Friska kepo.


"Udah nggak usah dibahas! Nggak baik buat ibu hamil!" Ayah Yuda menengahi dan menghentikan pembahasan tentang Lexi dan Franklyn.


"Yang penting sekarang, kita semua sudah berkumpul dan tidak ada salah paham lagi, ya!" Lanjut Ayah Yuda seraya merangkul semua anggota keluarga Ferdinand. Termasuk Friska yang kini adalah menantu kesayangan mereka.


"Mami Friska jangan pergi-pergi lagi, ya! Kami semua sayang sama mami!" Ungkap Queena yang langsung membuat Friska mengangguk-angguk.


"Rukun sekali ternyata keluarga Mbak Friska, ya, Mbak!" Celetuk Bagus yang rupanya sejak tadi menyaksikan penyelesaian masalah antara Friska dan keluarga Ferdinand. Ada Mbak Ririn juga yang ikut berdiri di dekat Bagus.


"Itu?" Gabriel menatap penuh selidik pada Friska seolah minta penjelasan.


"Itu Mbak Ririn, Mas! Ibu asuh di panti asuhan sini." Jelas Friska seraya menarik lengan Mbak Ririn dan mengenalkan wanita itu ke semua anggota keluarga Ferdinand.


"Bukan!"


"Yang satunya!" Sergah Gabriel yang sepertinya sedikit cemburu.


"Itu Bagus! Supir pick up yang biasa mengantar barang keperluan panti." Jelas Mbak Ririn pada Gabriel.


"Bagus bukan selingkuh Friska, Briel! Jadi tidak usah cemburu, ya!" Lanjut Mbak Ririn yang langsung membuat semuanya tertawa.


"Tenang saja, Om! Bagus nggak pernah gangguin istri orang, kok!" Celetuk Bagus lagi yang langsung membuat Gabriel berdecak.


"Eh, tapi kalau gangguin yang itu boleh, nggak, Om?" Tanya Bagus usil seraya menunjuk ke arah Queena yang wajahnya langsung memerah.


"Nggak boleh, Bagus! Queena masih kecil!" Jawab Friska seraya merangkul Queena yang terlihat malu-malu.


"Bagus tungguin nggak apa-apa, Mbak! Bagus orangnya sabar, kok!" Ujar Bagus pantang menyerah.


"Keburu tua kamu nanti nungguin anaknya Friska, Gus!" Mbak Ririn menoyor kepala Bagus


"Kok anak? Itu bukan adiknya Mbak Friska?" Tanya Bagus bingung.


"Anak aku ini, Gus! Sungkem dulu sini sama calon mertua kalau memang mau nungguin Queena!" Celetuk Friska pamer yang langsung membuat semuanya tertawa dan Bagus hanya garuk-garuk kepala.


.


.


.


Nanti kalo Bagus sama Queena judulnya jadi Mertuaku Ternyata Lebih Muda dari Aku 😆


Bagus 20 tahun sesuai umurnya di cerita Melody.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Maaf baru up lagi.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2