Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
NYANGKUT


__ADS_3

"Aduh!" Friska meringis saat Gabriel menghentak ke dalam miliknya memakai "sarung ajaib"nya tadi.


"Kenapa? Sakit, ya?" Tanya Gabriel yang langsung berhenti dan tak melanjutkan pergerakannya.


"Agak ngganjel aja, Om!" Jawab Friska seraya meringis.


"Kok, Om?" Gabriel merengut karena Friska yang selalu lupa memanggilnya Om saat sedang bercinta begini. Apa salahnya memanggil Sayang atau Mas saat bercinta dan bukannya Om.


Sudah seperti om om pedofil saja!


"Eh, iya! Maaf!" Friska kembali meringis.


"Ngganjel, Sayang!" Ulang Friska sedikit kagok.


"Kok aneh, ya? Manggil sayang ke Om Briel?" Gumam Friska lagi yang langsung membuat Gabriel mengernyit.


"Aneh dimananya? Nggak aneh, kok!" Ujar Gabriel yang akhirnya kembali bergerak.


"Coba ucapin lagi, Sayang!"


"Iya, Sayang!" Jawab Friska lagi seraya kembali meringis.


"Punya kamu makin sempit aja, Fris!" Lenguh Gabriel yang wajahnya terlihat menikmati sekali.


"Punya Om-"


"Eh, punya Sayang maksudnya yang makin besar kayaknya," pendapat Friska yang hampir salah sebut lagi.


"Sakit, nggak?" Tanya Gabriel lagi.


"Dikit." Friska meringis.


"Mau pelan apa cepat?" Tanya Gabriel sekali lagi.


"Suka-suka Ayang aja-"


"Emmmh!" Friska spontan mendes*h sebelum kemudian wajah gadis delapan belas tahun itu bersemu merah.


"Kenapa? Lepasin aja! Nggak usah ditahan," goda Gabriel yang malah membuat Friska semakin tersipu.


"Enak, ya?" Tanya Gabriel usil.


"Geli," jawab Friska malu-malu.


"Apanya yang geli? Ini?" Gabriel menjilati ujung dada Friska yang sudah tegang. Menandakan kalau sebenarnya Friska sedang bergairah. Tapi sepertinya istri kecil Gabriel ini masih malu-malu.


"Om-"


"Eh, Ayang!" Lagi-lagi Friska salah sebut.


"Apa? Aku jadi bayi!" Gumam Gabriel yang masih menyumpal mulutnya sendiri dengan gundukan kenyal milik Friska.


"Emang udah ada airnya?" Tanya Friska kepo.


"Air apa? Air susu Friska? Belumlah!" Jawab Gabriel sedikit berkelakar.


"Trus kenapa dihisap-hisap begitu? Apa enaknya?" Tanya Friska lagi penasaran.


"Ya pokoknya enak aja! Aku kan nggak punya!" Jawab Gabriel asal yang tanpa terasa sudah menunggangi Friska selama setengah jam.


Duh!


Lama sekali!


"Om-"

__ADS_1


"Eh, Ayang udah belum? Friska capek ngangkang terus. Kaki kram," keluh Friska karena seingat Friska yang pertama dulu tak selama ini.


"Yaudah! Kita ganti posisi, ayo!" Ajak Gabriel seraya mencabut miliknya dari milik Friska.


"Ganti posisi bagaimana maksudnya, Ayang? Pindah ke bawah?" Tanya Friska bingung.


"Iya, aku pindah ke bawah dan kamu pindah ke atas," jelas Gabriel yang malah membuat Friska semakin bingung.


"Trus? Friska ngapain di atasnya Om Ayang?" Tanya Friska bingung.


"Kok Om Ayang? Ayang Briel!" Protes Gabriel pada panggilan Friska kepadanya yang berubah-ubah.


"Iya dari tadi mau manggil Ayang keliru terus. Jadiin Om Ayang aja!" Jawab Friska mencari alasan.


"Ck! Ayang saja! Hilangin omnya!" Sergah Gabriel bersungut.


"Iya, maaf! Jadi tadi mau ngapain? Nyuruh Friska main kuda-kudaan?"


"Eh!" Friska membungkam mulutnya sendiri karena keceplosan.


"Loh! Kok udah tahu? Hayo, belajar darimana?" Goda Gabriel yang langsung membuat Friska salah tingkah.


"Dari ponselnya Ayang," cicit Friska malu-malu.


"Udah ngerti berarti, kan? Nggak usah diajari lagi, ya!" Gabriel mengambil posisi telentang dan bersiap dijadikan kuda oleh Friska.


"Sakit nggak, ya, Ayang?" Tanya Friska merasa ragu.


"Nggak tahu." Gabriel mengendikkan kedua bahunya.


"Nanti kalau sakit nggak jadi, ya!" Ujar Friska yang meskipun ragu akhirnya berjongkok juga di atas perut Gabriel.


"Nanti kalau sakit aku kasih obat buar nggak sakit," janji Gabriel seraya tersenyum nakal.


"Udah pas?" Tanya Friska bingung.


"Coba dorong turun!" Titah Gabriel memberikan aba-aba.


"Sekarang?" Friska merasa ragu.


"Iya sekarang, Fris! Masa besok!" Gabriel merem*s gemas dada Friska yang bergelayutan.


"Aduh!" Friska baru menurunkan bokongnya sedikit, saat gadis itu sudah meringis.


"Sakit, Om-"


"Eh, Ayang!" Lagi-lagi Friska salah sebut!


"Sakit apa enak?" Nada bertanya Gabriel terdengar menggoda.


"Sakit! Sakit beneran ini!"


"Udah, Ayang!" Friska terus mengeluh dan meringis.


"Belum! Masukin dulu sampai pol! Nanti nggak sakit lagi!" Kedua tangan Gabriel memegangi pinggang Friska dan mendorongnya turun.


"Om!" Jerit Friska yang sudah menitikkan airmata.


"Aaaargh! Enak sekali, Fris!" Gabriel melenguh dan menikmati penyatuan miliknya dengan milik Friska. Pria itu seolah abai dengan rasa sakit yang kini dirasakan Friska.


"Udah, Om! Sakit!" Keluh Friska yang kini sudah menangis dan bercucuran airmata.


"Gerakin dulu pelan-pelan! Nanti nggak sakit!" Gabriel kembali memberikan aba-aba.


"Sakit sekali! Digerakin malah semakin sakit! Nanti kalau Friska pendarahan lagi bagaimana?" Sergah Friska emosi.

__ADS_1


"Om Briel jahat! Om Briel nakal!" Friska sudah ganti memukul-mukul dada Gabriel demi meluapkan rasa sakitnya. Namun bukannya protes atas pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan oleh Friska, Gabriel malah seolah memanfaatkan situasi. Gabriel mulai menggerakkan bokongnya sendiri.


"Om! Berhenti!" Friska menjerit-jerit dan tak berhenti memukuli Gabriel.


"Om Briel! Iiih!"


"Enak ini, Fris!" Ucap Gabriel yang nafasnya sudah terengah-engah.


"Sakit! Emmmmh!" Setelah berselang beberapa saat, lenguhan akhirnya keluar dari bibir Friska.


"Nah, kan!" Gabriel seolah tak membuang kesempatan lagi dan semakin mempercepat pergerakannya. Jeritan Friska sudah berubah menjadi lenguhan, erangan, dan des*han bertubi-tubi sampai Gabriel harus membungkam bibir istrinya tersebut.


"Om-"


"Eh, Ayang!" Friska memanggil Gabriel dengan terengah-engah.


"Apa? Enak, kan?" Goda Gabriel tersenyum nakal pada Friska.


"Friska mau-" Friska hampir mengangkat bokongnya dannmeninggalkan Gabriel, saat suaminya itu menahan dengan cepat.


"Itu bukan pipis! Itu kau hampir sampai!" Bisik Gabriel memberitahu Friska.


"Sampai kemana?" Tanya Friska bingung.


"Sampai ke-" tubuh Gabriel mengejang saat akhirnya pria itu berhasil mencapai pelepasannya. Gabriel menyemburkan benihnya dengan barbar karena ia memakai pengaman.


"Nggak dicabut, Om?" Tanya Friska seraya menatap horor pada Gabriel.


"Kan udah pakai sarung ajaib!" Jawab Gabriel santai.


"Jadi nggak akan hamil, kan?" Tanya Friska lagi.


"Nggaklah! Aman pokoknya!" Gabriel menarik Friska lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Friska. Cukup lama pasangan suami istri beda usia itu saling berpagutan, sebelum kemudian Gabriel mencabut miliknya dari milik Friska.


"Aduh, aduh!" Friska meringis karena merasakan ada sesuatu yang tersangkut di dalam miliknya.


"Masih aja aduh aduh! Udah selesai padahal!" Kekeh Gabriel yang hendak mencabut sarungnya, saat kemudian pri aitu kaget karena tak mendapati benda karet tersebut di miliknya.


"Loh! Kemana?" Gabriel bergumam bingung.


"Om, kok kayak masih ada yang nyangkut di dalam?" Keluh Friska yang langsung membuat Gabriel merebahkan tubuh Friska dan membuka kedua pangkal paha istrinya itu.


"Kok bisa?" Gabriel kembali bergumam heran saat melihat si sarung ajaib rasa stroberi yang tadi ia pakai tersangkut di dalam milik Friska.


"Ada apa, Om?" Tanya Friska khawatir.


"Sarungnya nyangkut. Aku ambil bentar." Gabriel berusaha menarik dengan hati-hati benda karet tadi dari milik Friska.


"Sudah!" Gabriel memamerkan pada Friska setelah berhasil mengambilnya.


"Trus isinya mana?" Tanya Friska seraya membelalak.


"Tumpah di dalam!"


"Hah?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2