
Bunda Laksmi jatuh pingsan setelah mendengar kabar yang memang mengejutkan bagi seluruh keluarga Ferdinand.
Friska hamil!
Ayah Yuda hanya bisa memijit pelipisnya yang sekarang terasa pening.
"Bunda sudah mewanti-wanti kamu, Briel! Biar Friska sekolah dulu! Biar Friska fokus ujian dulu!" Ayah Yuda benar-benar tak habis pikir sekarang.
"Namanya juga nggak disengaja dan emang sudah rezeki. Mau bagaimana lagi?" Sergah Gabriel mencari pembenaran.
"Kamu juga, Fris! Udah disuruh minum pil KB! Malah dibuang!" Bunda Laksmi yang sudah bangun dari pingsannya ikut-ikutan mengomeli Friska.
"Mas Briel yang buang, Bund! Katanya tidak boleh minum pil KB kalau belum pernah hamil!" Sergah Friska cepat seraya menuding pada Gabriel.
"Iya emang tidak boleh! Nanti jadi susah hamil ke depannya!" Jawab Gabriel sok tahu. Tapi yang sering Gabriel dengar kan memang seperti itu!
"Sudah, Oma, Opa!"
"Mau dapat cucu lagi kok malah ngomel-ngomel!" Queena yang sejak tadi menyaksikan perdebatan keluarganya akhirnya ikut angkat bicara.
"Iya, tapi mami kamu itu masih kecil, Queen! Nanti bagaimana dia akan mengurus bayinya?"
"Friska akan belajar, Bund!" Sergah Friska berjanji pada Bunda Laksmi.
"Gabriel juga akan membimbing Friska, Bund!" Timpal Gabriel ikut-ikutan berjanji.
"Halah! Kamu juga masih seperti bocah!" Cibir Bunda Laksmi pada Gabriel.
"Kata siapa seperti bocah? Jamannya Queena lahir, Gabriel sudah bisa langsung menggendong dan memandikannya!" Sergah Gabriel pamer pada prestasinya sebagai papi muda teladan saat dulu pertama kali menjadi seorang papi.
"Terserah!" Bunda Laksmi sudah malas berdebat sekarang.
"Trus ujiannya Friska bagaimana?" Tanya Bunda Laksmi selanjutnya.
"Friska tetap ikut ujian, Bund! Kan perut Friska belum membesar. Friska akan tetap masuk sekolah, kok!" Jawab Friska bersungguh-sungguh.
"Nggak mual di kelas? Nanti kalau muntah-muntah, guru kamu curiga, nggak boleh ikut ujian bagaimana?"
"Bagaimana? Bagaimana?" Cecar Bunda Laksmi bercerocos.
"Sudah dikasih obat untuk mual oleh dokter kemarin, Bund! Dan mual-mual Friska juga masuk kategori jarang. Jadi Gabriel pastikan semuanya aman!" Ujar Gabriel berusaha meyakinkan Bunda Laksmi.
"Kamu yang gantikan Friska bantu Bunda sekarang, Gabriel! Friska biar fokus istirahat dan belajar!" Pungkas Bunda Laksmi akhirnya yang ternyata peduli dan tetap perhatian pada Friska.
"Jangan pecicilan dan jangan angkat-angkat berat dulu, Fris! Bantu Bunda semampunya saja dan kalau capek langsung istirahat!" Pesan Bunda Laksmi juga pada Friska yang hanya tersenyum simpul. Dibalik kebawelan serta omongan pedas Bunda Laksmi, ternyata mertua Friska itu begiti menyayangi Friska.
"Iya, Bunda! Nanti Friska bantu kemas kuenya," janji Friska pada Bunda Laksmi yang sudah menghilang ke arah dapur.
"Dijaga baik-baik kandungannya!" Pesan Papi Yuda juga seraya mengusap singkat perut Friska. Ayah mertua Fruska itu selanjutnya pergi ke dapur juga menyusul Bunda Laksmi.
"Iya, Ayah!"
"Jadi ngidam jambu kristal bumbu bangkoknya?" Tanya Gabriel selanjutnya pada Friska yang masih duduk di sofa.
__ADS_1
"Nggak jadi, Mas! Udah nggak pengen," jawab Friska cepat.
"Tapi nanti malam tiba-tiba pengen lagi, nggak? Aku carikan jambu kristalnya, ya!" Tawar Gabriel pada Friska.
"Atau kau mau buah yang lain?" Tanya Gabriel lagi.
"Queena mau buah jeruk, Pi!" Celetuk Queena yang masih duduk betsama Friska dan Gabriel.
"Papi tanya ke mami kamu, kok!" Cibir Gabriel pada sang putri. Queena langsung merengut pada Gabriel.
"Yaudah beliin jambu kristal sama jeruk nggak apa-apa!" Jawab Friska akhirnya.
"Yeay!" Queena bersorak senang dan segera menghampiri Friska.
"Baiklah! Jeruk dan jambu! Aku pergi dulu!" Pamit Gabriel selanjutnya pada Friska.
"Hati-hati!" Pesan Friska sebelum Gabriel menghilang di pintu depan.
"Selamat ya, Mami!" Ucap Queena seraya memeluk Friska setelah Gabriel pergi.
"Semoga adik Queena nanti cowok! Biar cucunya Oma dan Opa lengkap," lanjut Queena seraya mengusap perut Friska.
"Bukan biar nggak ada saingan, ya?" Goda Friska pada sang putri sambung.
"Iya, itu juga! Biar Queena jadi satu-satunya Queen!" Jawab Queena seraya tergelak.
"Queen! Kesini sebentar!" Panggil Bunda Laksmi dari arah dapur.
****
[Mas, sudah dimana? Friska sudah pulang] -Friska-
[Masih antaran satu alamat lagi. Kamu dabar dulu, ya, Sayang! Habis ini aku langsung jemput kamu] -Gabriel-
[Oke!] -Friska-
Tak ada balasan lagi dari Gabriel. Friska memilih untuk duduk di bangku taman yang ada dibdepan sekolah sembari menunggu Gabriel datang. Siasana sekolah sudah lumayan sepi karena hari ini memang hanya kelas dia belas yang masuk untuk ujian hari terakhir. Akhirnya ujian sudah selesai dan Friska bisa ganti fokus pada kehamilan, jualan sprei, serta membantu Bunda Laksmi.
Friska masih asyik meng-upload foto-foto sprei terbaru saat sebuah mobil hitam berhenti di depan Friska.
Sial!
Jangan bilang itu adalah Franklyn!
Friska baru selesai membatin saat Franklyn turun dari dalam mobil hitam tadi dan menghampiri Friska. Franklyn tak lagi mengenakan seragam dan mulut pemuda itu bau alkohol.
Apa?
"Mau apa kamu!" Gertak Friska galak seraya bangkit dari duduknya dan menjauhi Franklyn.
"Ayo ikut!" Franklyn memaksa untuk meraih tangan Friska namun disentak cepat oleh gadis itu.
"Pergi! Jangan dekat-dekat!" Usir Friska sambil berusaha menjauhi Franklyn. Namun perut Friska yang mebaddak sakit membuat langkah Friska sedikitvterhambat hingga Franklyn bisa menyusulnya dengan cepat.
__ADS_1
"Aku sudah menyuruh baik-baik dan tak perlu berontak!" Bentak Franklyn kasar.
"Dan tak usah sok jual mahal juga jika kau adalah simpanan dari papinya Queena, si duda tua menyebalkan itu!"
"Tutup mulutmu!"
Plak!
Friska menampar Franklyn dengan keras karena menyebutnya sebagai wanita simpanan.
"Gadis murahan!" Maki Franklyn seraya menyeret Friska yang langsung berontak. Friska juga tidak tahu kenapa sekolah sepi sekali dan tak ada orang yang peduli.
"Lepas! Aku tidak mau!" Friska terus berontak dan meronta.
"Diam!" Bentak Franklyn lagi murka yang sudah berhasil menyeret Friska ke mobilnya. Franklyn baru membuka pintu mobil dan hebdak mendorong Friska agar masuk ke dalam saat tiba-tiba tibuhnya di tarik kebelakang dan cekalan tangannya pada lengan Friska terlepas begitu saja.
"Dasar keparat! Mau kau bawa kemana istriki, hah?" Maki Gabriel sebelum pria itu melayangkan sebuah tinjuan di wajah Franklyn.
"Mas!" Pekik Friska yang segera mundur dan menjauh.
"Kau sudah melecehkan putriku kemarin dan terima hadiahmu!"
Bugh! Bugh!
Gabriel memukuli Franklyn dengan membabi buta.
Namun Franklyn rupanya tak tinggal diam dan balas memukuli Gabriel meskipun pemuda itu sedikit kelimpungan.
"Pemuda keparat tak ada akhlak!" Gabriel yang sempat tersungkur karena pukulan dari Franklyn sudah bangkit berdiri dan kembali memukuli Franklyn dengan membabi buta. Franklyn tak mampu melawan menghadapu pukulan bertubi-tubi Gabriel yang terakhir hingga akhirnya pemuda itu tumbang di dekat mobilnya.
"Mas Briel! Sudah!" Teriak Friska yang buru-buru menghampiri Gabriel yang masih ingin lanjut memukuli Franklyn yang sudah tak berdaya.
"Ayo pulang!" Ajak Friska pada Gabriel yang wajahnya jiga sudah lebam di sana-sini.
"Awas kamu, kalai masih berani mengganggu Friska!" Ancam Gabriel seraya menuding pada Franklyn yang sudah terkapar di aspal.
"Ayo pulang!" Ajak Friska sekali lagi pada Gabriel dan suami Friska itu langsung mengangguk.
Sesaat setelah motor Gabriel melaju pergi, seorang gadis keluar dari dalam mobil Franklyn.
"Kau berhasil merekamnya?" Tanya Franklyn seraya meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Ya! Kita edit sedikit lalu kita laporkan ke polisi," jawab gadis itu yang langsung membuat Franklyn tersenyum licik.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1