
Beberapa bulan berlalu.
Bunda Laksmi menatap sendu pada tumpukan toples kue kering yangbada di depannya.
"Ternyata selama ini, Mami Friska yang sudah bantu promoin kuenya Oma."
"Mami Friska memang punya hoki yang luar biasa, ya, Oma! Apapun yang ia promoin pasti laris dan banyak peminatnya."
Kalimat Queena beberapa bulan lalu tentang Friska yang selama ini diam-diam membantu mempromosikan kue buatan Bunda Laksmi, benar-benar membuat hati Oma dari Queena itu menjerit.
Bunda Laksmi merasa menyesal karena sudah sering mengomeli Friska dan melontarkan sindiran pedas. Mengungkit-ungkit setiap kesalahan kecil yang dilakukan Friska.
Bunda Laksmi menyesal!
Amat sangat menyesal!
"Kamu dimana, Fris? Lihatlah hasil kerja keras kamu mempromosikan kue bunda!"
"Banyak yang repeat order! Banyak yang pesan!" Bunda Laksmi menyeka butir bening yang sudah menetes di kedua pipinya.
"Pulang, Friska!"
"Pulanglah!" Isak Bunda Laksmi yang sudah bercucuran airmata.
"Oma!" Teguran Queena membuyarkan lamunan Bunda Laksmi. Queena terlihat sudah rapi mengenakan jaket, celana jeans, serta tas ransel di pundaknya. Rencananya hari ini Queena akan ikut study tour yang diadakan oleh sekolah.
"Sudah mau berangkat, Queen?" Tanya Bunda Laksmi seraya menghapus airmata di kedua pipinya. Oma kandung Queena itu masih sesenggukan.
"Oma jangan sedih-sesih lagi! Queena nggak mau Oma jatuh sakit," Queena sudah memeluk Bunda Laksmi dengan erat.
"Mami Friska pasti akan pulang sebentar lagi, Oma!" Ucap Queena lagi penuh keyakinan.
Bukankah ucapan adalah doa?
Jadi Queena terus berdoa sambil mengucapkan kalimat kalau Mami Friska akan pulang tak lama lagi. Queena hanya berharap, semua ucapannya tersebut akan segera menjadi kenyataan.
"Aamiin! Oma juga sudah kangen sekali pada Mami Friska, Queena!" Curhat Bunda Laksmi pada Queena.
"Sudah jangan sedih lagi, Oma!" Queena membantu menyeka sisa-sisa airmata Bunda Laksmi.
__ADS_1
"Queena berangkat dulu! Oma mau dibawakan oleh-oleh apa nanti?" Tanya Queena sebelum benar-benar berangkat.
"Apa saja! Terserah Queena!" Jawab Bunda Laksmi seraya menangkup wajah sang cucu yang semakin hari semakin mirip Gabriel. Tapi Queena kan memang putri kandung Gabriel!
"Baiklah!" Queena memeluk Bunda Laksmi dengan erat dan berpamitan sekali lagi.
"Hati-hati selama perjalanan, Queen! Barang-barangnya dijaga!" Pesan Bunda Laksmi mengingatkan.
"Siap Oma! Queena berangkat, Bye!" Queena melambaikan tangan ke arah Bunda Laksmi dan gadis itu segera menghampiri Gabriel yang sejak tadi sudah menunggunya di halaman.
"Ayo berangkat, Pi!" Ajak Queena seraya naik ke jok belakamg motor Gabriel.
"Bawa ini!" Titah Gabriel seraya mengangsurkan seplastik selebaran berisi foto Friska serta semua ciri-ciri dan informasi tentang Friska.
Selama beberapa bulan ini, Gabriel memang pantang menyerah mencari Friska dan terus menempelkan selebaran tentang hilangnya Friska di semua temoat yang ia lalui. Kadang Gabriel juga membagikannyabke orang-orang yang ia temui.
Semuanya demi agar Friska cepat ditemukan, cepat pulang dan berkumpul kembali bersama.keluarga Gabriel. Semuanya sudah sangat rindu pada Friska!
"Queena bawa beberapa, ya, Pi!" Izin Queena seraya menyelipkan selebaran tadi ke dalam tas ranselnya.
"Ini kamu pulangnya kapan, Queena?" Tanya Gabriel yang sudah melajukan motornya menuju ke arahbsekolah Queena.
"Lusa, Pi! Nanti Queena telepon kalau sudah sampai sekolah," janji Queena.
"Kan bawa powerbank, Pi! Katanya di bus juga ada colokan buar nge-charge ponsel," ujar Queena memberitahu Gabriel.
"Iya, baiklah! Yang penting nanti hati-hati di sana, dan jangan misah-musah dari rombongan!" Pesan Gabriel panjanh lebar pada sang putri.
"Siap Papi!" Jawab Queena lantang.
****
"Fris!" Tegur lembut Mbak Ririn pada Friska yang sedang mengemas aneka macam keripik buatan Mbak Ririn dan anak-anak panti.
"Ada apa, Mbak?" Tanya Friska yang langsung menghebtikan aktivitasnya untuk sejenak.
"Kamu nggak mau pulang?" Tanya Mbak Ririn seraya menyodorkan selebaran berisi foto Friska dan semua informasi tentang Friska.
Entah siapa yang membuatnya!
__ADS_1
Namun di bagian bawah selebaran hanya ada nomor telepon rumah serta sebuah nomor asing. Mungkin nomornya Queena.
"Mbak dapat dimana?" Tanya Friska sedikit tergagap.
"Bagus yang membawanya. Katanya ada beberapa di pinggir jalan saat Bagus mengantar barang ke luar kota," jelas Mbak Ririn. Friska langsung merem*s kertas selebaran tadi dan melanjutkan mengenas keripik.
"Fris, mereka sudah mencarimu!" Mbak Ririn mengingatkan Friska.
"Friska masih ingin disini, Mbak!" Jawab Friska dengan bibir bergetar.
"Bisa saja mereka mencari Friska agar bisa memisahkan Friska dari kedua bayi Friska nantinya!" Lanjut Friska yangvsudah berurai airmata.
"Friska nggak mau berpisah dari kedua bayi Friska, Mbak!"
"Meskipun Friska masih muda dan belum berpengalaman, tapi Friska akan belajar dan berusaha menjadi mami yang baik untuk kedua bayi Friska nantinya!"
"Friska akan berusaha!" Pungkas Friska yang sudah bercucuran airmata. Mbak Ririn segera memeluk Friska dan menenangkan ibu hamil tersebut.
"Baiklah kalau memang itu keputusanmu, Fris! Mbak nggak akan ikut campur lagi!" Janji Mbak Ririn yang hanya membuat Friska mengangguk.
"Friska lanjut mengemas keripik dulu, Mbak!" Friska sudah lebih tenang dan ibu hamil itu menyeka sisa-sisa airmata di wajahnya.
"Besok mbak nggak bisa keliling nganter-nganter keripiknya karena ada acara," Ujar Mbak Ririn memberitahu Friska.
"Yaudah, biar Friska gantiin, Mbak!" Tawar Friska.
"Jangan! Nanti kamu kecapekan!" Cegah Mbak Ririn merasa keberatan.
"Enggak, kok! Nanti Friska ajak siapa gitu buat bantu bawa keripiknya," janji Friska agar Mbak Ririn mengizinkannya pergi.
"Yaudah! Dasar keras kepala!" Decak Mbak Ririn seraya mengacak rambut Friska, dan Friska hanya meringis.
Akhirnya Friska mendapatkan izin.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia