Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
GARA-GARA KAMU!


__ADS_3

Gabriel datang ke kantor dengan wajah sedikit lesu karena semalam ia begadang sampai pukul dua dinihari.


"Pak Briel, Nona Kate sudah datang tadi," lapor seorang karyawan yang berjaga di meja depan.


"Benar sudah datang?" Tanya Gabriel memastikan.


"Iya, sudah! Dan sudah naik ke atas," jawab karyawan itu lagi.


Gabriel tak membuang waktu dan segera masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai atas. Gabriel ingin secepatnya menemui Kate yang kemarin benar-benar sudah membuat Gabriel kelimpungan.


Ting!


Suara lift bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, langsung membuat Gabriel bergegas. Pria itu meletakkan tas kerjanya di meja di depan ruangan Kate dan langsung mengetuk pintu ruangan Kate.


"Nona Kate!" Panggil Gabriel bersamaan dengan pintu yang akhir dibuka dari dalam oleh seorang pria.


Apa?


Siapa pria tampan ini?


"Selamat pagi! Silahkan masuk!" Ucap pria itu mempersilahkan Gabriel. Sedangkan Kate sudah duduk di kursi kerjanya dan wajah wanita itu terlihat berseri.


Baiklah!


Siapa pria ini dan apa hubungannya dengan Kate?


Mungkinkah pria ini adalah pacar baru Kate?


"Pagi, Briel! Kebetulan sekali kau datang. Aku baru saja ingin memanggilmu," sapa Kate sedikit berbasa-basi pada Gabriel yang hanya tersenyum kaku.


"Oh iya! Kau sudah kenal calon suamiku? Namanya Abrisam."


"Panggil saja Sam!" Sam memperkenalkan diri pada Gabrian sekaligus mengajak pria itu berjanat tangan.


"Aku Briel," Briel balas memperkenalkan diri.


"Jadi, anda kemana kemarin, Nona Kate?" Tanya Gabriel akhirnya tanpa basa-basi lagi.


"Aku sedikit kurang enak badan kemarin. Dan aku lupa mengisi daya ponselku juga. Maaf jika kau jadi kerepotan di kantor," jawab Kate menjelaskan seraya meraih satu amplop yang terselip di tumpukan buku di depannya.


Kenapa perasaan Gabriel jadi tak enak begini?


"Tapi mulai hari ini kau tak perlu repot-repot lagi mengatur jadwalku atau apapun itu. Sudah ada Sam yang akan menggantikanmu mulai hari ini dan mulai pagi ini-"


"Tunggu! Apa maksudnya ini, Nona Kate!" Gabriel memotong kalimat Kate dan langsung beringsut mundur seolah merasakan ada sesuatu yang salah.


"Kau aku pecat sebagai asisten sekaligus sekretarisku!" Lanjut Kate to the point yang langsung membuat Gabriel menganga tak percaya.

__ADS_1


"Apa?"


"Tapi kenapa? Saya sudah bekerja dengan sangat baik," Gabriel berucap lemas seolah kehilangan semangat.


"Alasan pertama karena aku tak ingin lagi melihatmu di kantor ini. Alasan kedua karena sudah ada Sam yang akan menggantikan posisimu, dan alasan lainnya karena sikap Friska kemarin yang sudah membuatkj malu di depan banyak orang!" Jelas Kate panjang lebar menjawab pertanyaan Gabriel tentang alasan Kate memecat pria tersebut.


Katakanlah Kate kejam.


Kate memang kejam. Tapi Kate hanya ingin fokus pada hubungannya bersama Sam sekarang. Dan kehadiran Gabriel hanya akan membuat Kate menjadi goyah karena sebenarnya Kate masih ada sedikit rasa pada Gabriel. Tapi mengingat Gabriel yang sudah menikah jadi mustahil menjalin hubungan dengan pria ini. Lebih baik Kate bersama Sam saja yang jelas-jelas masih lajang. Dan sebagai solusi dari semuanya Kate memang terpaksa harus memecat Gabriel dan membuat pria ini jauh sejauh-jauhnya dari hidupnya. Bukankah Kate harus membuang semua racun yang mencemari hubungannya bersama Sam?


"Nona Kate-" kalimat Gabriel terpotong begitu saja saat Kate mengangkat tangannya.


"Ini sudah menjadi keputusanku, Briel!"


"Tapi kau tenang saja! Aku tak memecatmu secara cuma-cuma! Ini uang pesangon yang bisa kau gunakan untuk memulai sebuah usaha atau apapun itu!" Kate menyerahkan amplop yang cukup tebal pada Gabriel.


Tentu saja!


Kate menyelipkan tiga kali gaji Gabriel disana karena Kate bukan bos yang kejam!


"Bereskan semua barangmu hari ini dan langsung keluar dari Steinberg Company! Terima kasih atas semua kerja keras serta dedikasimu selama ini, Gabriel Ferdinand!" Pungkas Kate sebelum wanita itu kembali duduk di kursi kerjanya serta mengabaikan Gabriel yang sedang menatap sengit ke arahnya.


"Silahkan keluar dan bereskan barang-barangmu, Briel!" Sam mengulangi kalimat perintah Kate.


"Kau butuh bantuan?" Tawar Sam ramah yang hanya dijawab Gabriel dengan kebisuan. Gabriel tak berbasa-basi lagi dan segera berbalik lalu keluar dari ruangan Kate. Pria itu membereskan barang-barangnya dengan cepat lalu keluar dari Steinberg Company tepat sebelum jam makan siang.


Gabriel benar-benar tak percaya kalau Kate sikapnya lebih kekanakan ketimbang Friska karena wanita itu membawa-bawa masalah pribadi ke pekerjaan dan memecat Gabriel begitu saja dengan alasan yang sangat konyol. Tapi Kate memang punya kuasa karena dia seorang pewaris tunggal Steinberg Company. Jadi Gabriel yang memang hanya seorang bawahan hanya bisa menerima nasib.


Bunda pasti mengamuk jika tahu Gabrian dipecat. Apa ini bagian dari doa Bunda kemarin yang akhirnya dikabulkan oleh Tuhan?


"Memangnya kamu mau Gabriel dipecat dari kantor gara-gara tingkah konyol kamu kemarin itu?" Lontaran pertanyaan Bunda pada Friska kenarin kembali berkelebat di benak Gabriel.


Ya, ya, ya!


Akhirnya benar-benar terkabul, kan?


Gabriel benar-benar dipecat sekarang!


****


Friska baru tiba di rumah saat terdengar omelan Bunda dari arah dapur tang entah sudah berlangsung sejak kapan.


"Siang! Friska pulang!" Sapa Friska pada Bunda Laksmi dan Gabriel yang ternyata sudah pulang.


"Mas, sudah pulang? Tumben," tanya Friska pada Gabriel yang wajahnya terlihat lesu.


"Bukan pulang! Tapi dipecat dari Steinberg Company!" Jelas Bunda Laksmi berapi-api yang tentu saja langsung membuat Friska kaget.

__ADS_1


"Dipecat? Tapi kenapa?" Tanya Friska bingung. Friska buru-buru menghampiri Gabriel yang masih lesu tanpa semangat.


"Masih tanya kenapa! Semua ya gara-gara kamu itu, Fris! Nglabrak orang sembarangan-"


"Bund! Sudah!" Gertak Gabriel tegas mencoba menghentikan omelan Bunda Laksmi yang belum berhenti sejak tadi.


"Apa benar yang dikatakan ibu, Mas?" Tanya Friska meminta penjelasan Gabriel.


"Nggak bener! Kate udah punya pengganti aku aja, makanya aku disuruh keluar," jelas Gabriel mencoba menenangkan Friska.


"Udah nggak usah kamu belain terus, Briel! Nanti Friska itu nggak sadar-sadar tentang kesalahannya dan akan ngulangin lagi! Ngulangin lagi!"


"Dari awal istri kamu itu memang pembawa masalah! Dulu sebelum kamu menikahi Friska, keluarga kita itu adem ayem, bunda juga jarang ngomel."


"Sekarang, hampir setiap hari Bunda darah tinggi!" Cerocos Bunda Laksmi panjang lebar yang benar-benar terdengar seperti belati yang melukai hati Friska.


"Friska akan minta maaf dan bicara pada tante Kate, Om-"


"Tidak usah!" Jawab Gabriel tegas.


"Tapi ini hanya salah paham dan Friska harus meluruskannya," Friska susah berurai airmata.


"Apanya yang mau diluruskan, Fris? Kalau Gabriel sudah terlanjur dipecat dan kehilangan pekerjaannya!" Bunda Laksmi ikut berkomentar pedas.


"Briel akan cari kerja di tempat lain, Bund! Udah nggak perlu lagi dibesar-besarkan masalah ini!" Ujar Gabriel frustasi mencoba meredam amarah Bunda Laksmi yang masih meledak-ledak.


"Mau cari kerja dimana? Kamu nggak ingat umur kamu itu berapa? Sudah lewat kepala tiga, Gabriel! Cari kerja kantoran juga bakal susah! Kalah sama yang fresh graduate!" Cecar Bunda Laksmi pesimis.


"Belum juga dicoba, Bund! Kan pengalaman sama jam terbang Gabriel tinggi!" Ujar Gabriel menyebutkan kelebihannya.


"Halah, terserah! Pusing Bunda!"


"Masalah kok datang terus nggak ada habis-habisnya!" Gerutu Bunda Laksmi seraya berlalu keluar dari dapur meninggalkan Gabriel dan Friska.


"Maafin Friska, Mas!" Ucap Friska penuh rasa bersalah.


"Bukan salah kamu, oke! Udah jangan menangis!" Gabriel meraup Friska dan segera memeluk istri kecilnya itu yang kini sesenggukan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2