
"Semuanya bagus!" Ucap dokter setelah memeriksa kandungan Friska.
"Bayinya kembar, ya! Kantungnya ada dua," ujar dokter lagi seraya menunjuk ke layar USG yang tentu saja langsung membuat Gabriel dan Friska kaget.
"Kembar, Dok? Beneran?" Gabriel berbinar tak percaya.
"Iya, kantong janinnya ada dua. Selamat, ya!" Ucap dokter sekali lagi yang langsung membuat Gabriel menggenggam erat tangan Friska, lalu mengecupnya berulang-ulang.
"Dijaga kandungannya dan jangan terlalu lelah!" Pesan dokter lagi yang sudah selesai melakukan USG. Gabriel segera membantu Friska untuk bangun lalu keduanya duduk di depan dokter dan lanjut berkonsultasi.
"Ada mual dan muntah? Pada kehamilan kembar biasanya lebih parah gejala morning sicknessnya," tanay dokter seraya menulis resep vitamin untuk Friska.
"Tidak ada sama sekali sejak awal kehamilan, Dok! Apa itu wajar?" Tanya Friska khawatir.
"Benarkah?" Dokter sedikit kaget.
"Kenapa, Dok? Apa itu masalah?" Gabriel terlihat khawatir.
"Bukan masalah sebenarnya. Bawaan setiap hamil memang berbeda-beda." Jelas dokter yang langsung membuatmu Gabriel bernafas lega.
"Tetap saya resepkan obat untuk mual, ya! Tapi kalaj memang tidak merasa mual-mual tidak usah diminum!" Pesan dokter pada Friska yang langsung mengangguk.
"Usianya masih delapan belas tahun," dokter geleng-geleng kepala.
"Seusia dengan anak saya yang masih kuliah," Dokter terkekeh.
"Sebentar lagi juga sudah lulus, Dok!" Tukas Gabriel mencari pembenaran.
"Harusnya ditunda dulu, tapi kalau sudah rezeki bisa apa, ya, Pak?" Dokter sedikit berkelakar.
"Yang penting dijaga saja, ya! Jangan capek-capek, jangan stress, jangan banyak pikiran!" Pesan dokter panjang lebar pada Gabriel dan Friska.
"Siap, Dokter! Pasti saya jaga semaksimal mungkin!" Jawab Gabriel bersungguh-sungguh.
Setelah berterima kasih dan sedikit berbasa-basi, Gabriel dan Friska langsung pamit dan menuju ke apotik untuk mengambil obat serta vitamin.
"Kembar!" Gabriel masih tak percaya dengan hasil USG.
"Mudah-mudahan princess dan jagoan, ya!" Ucap Gabriel lagi seraya mengusap perut Friska.
"Aamiin!" Jawab Friska seraya tersenyum. Tak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Friska juga bahagia setelah mengetahui calon bayinya kembar.
"Kita kasih tahu Bunda, ya! Bunda pasti seneng banget!" Usul Gabriel sedikit membujuk Friska.
"Enggak!" Friska menggeleng cepat.
"Pesanan masih banyak, Mas! Nanti kalau bunda tiba-tiba shock bagaimana?"
"Tunggu Bunda agak longgar dulu," ujar Friska memberikan alasan.
"Nanti Bunda nyuruh-nyuruh kamu terus aku kan jadi nggak tega!" Gabriel nyatanya punya alasan lain.
__ADS_1
"Kan ada Mas yang gantiin," jawab Friska meringis.
"Ck! Iya! Iya!" Gabriel akhirnya setuju bersamaan dengan ponsel di sakunya yang berbunyi.
"Halo, selamat siang!" Sapa Gabriel pada nomor asing yang meneleponnya.
"Pak Gabriel Ferdinand?"
"Iya saya sendiri. Dengan siapa, ya?"
"Saya guru BKnya Queena Alesha! Bisa ke sekolah sekarang?"
"Queena kenapa memangnya? Apa putri saya membuat masalah?" Tanya Gabriel tak sabar.
"Tepat sekali! Silahkan ke sekolah sekarang, Pak!"
"Baiklah!" Pungkas Gabriel seraya menutup telepon.
"Ada apa?" Tanya Friska karena mrlihat wajah Gabriel yang sudah berubah cemas.
"Queena membuat masalah di sekolah katanya. Aku harus pergi sekarang. Aku antar kamu pulang dulu-"
"Friska pulang sendiri saja, Mas! Nanti naik taksi. Mas Briel ke sekolah Queena saja," ujar Friska cepat seraya mengusap lengan Gabriel.
"Masih menunggu obat juga. Kasihan Queena," ujar Friska lagi.
"Baiklah! Nanti telepon aku kalau sudah sampai rumah, ya!" Pesan Gabriel seraya mencium kening Friska.
"Hati-hati bawa motor!" Gantian Friska yang berpesan pada Gabriel.
"Aku pergi dulu!" Pamit Gabriel yang akhirnya meninggalkan Friska sendirian di klinik. Gabriel segera memacu motornya ke arah sekolah Queena.
****
"Itu fitnah, Pak!" Queena masih berusaha membela diri atas cecaran pertanyaan yang dilontarkan oleh sang guru BK.
"Fitnah apanya? Foto kamu sudah terpampang jelas begitu! Pakai baju terbuka! Diam saja saat diger*yangi! Mau jadi apa nanti kalau sudah besar?"
"Jadi perempuan itu jangan murahan dan jangan mau saja dipegang-pegang oleh lawan jenis!"
"Saya juga berontak itu, Pak!" Sergah Queena mulai emosi.
Tok tok tok!
Ketukan di pintu ruang BK langsung membuat Queena diam. Guru BK membuka pintu dan rupanya yang datang adalah Gabriel.
"Pak Briel! Silahkan masuk!" Guru BK mempersilahkan Gabriel untuk masuk dan Queena langsung memasang wajah cemberut.
"Putri saya kenapa, Pak?" Tanya Gabriel to the point.
"Open BO!" Guru BK menyodorkan selebaran berisi foto Queena tadi.
__ADS_1
"Itu fitnah, Pi!" Sergah Queena berusaha menjelaskan pada Gabriel.
"Ini foto kamu?" Gabriel ganti bertanya pada Queena untuk memastikan. Gabriel sebenarnya sudah naik darah melihat foto Queena yang bajunya setengah terbuka sedang diger*yangi oleh Franklyn. Andai pemuda sialan itu ada di depan Gabriel, sudah Gabriel cekik lehernya karena sudah berani menyentuh putrinya.
"Itu saat di pesta kemarin sebelum mami datang," jawab Queena lirih dengan raut wajah yang hampir menangis.
"Ini fitnah, Pak!" Ucap Gabriel tegas pada guru BK Queena.
"Putri saya nyaris menjadi korban pemerkosaan di acara ini, dan sekarang putri saya difitnah! Saya tahu Queena itu seperti apa! Putri saya bukan gadis murahan yang akan menjual diri seperti ini!" Sambung Gabriel penuh emosi.
"Lexi pasti yang sudah menyebarkan fitnah ini, Pak! Dia satu-satunya yang ada di acara itu dan mengundang saya-"
"Jangan sembarangan kamu!" Lexi tiba-tiba sudah muncul ke dalam ruang BK entah dari arah mana. Sepertinya sejak tadi Lexi menguping pembicaraan guru BK, Queena dan Gabriel.
"Lexi benar! Jangan menuduh sembarangan kamu, Queen!" Guru BK ikut-ikutan menuding Lexi.
Gabriel langsung bisa mencium aroma konspirasi disini melihat sikap guru BK Queena.
"Saya tidak-"
"Queena, sudah!" Gabriel menahan amarah Queena yang siap meledak. Gabriel ganti menatap tajam ke arah guru BK Queena.
"Seharusnya anda bisa bersikap lebih bijak sebagai seorang guru! Tapi mungkin kepala anda sudah terkontaminasi oleh tubuh murid anda-" Gabriel menatap remeh ke arah guru BK yang memang masih sedikit muda tersebut.
"Apa maksud anda?" Guru BK itu mendekati pada Gabriel.
"Saya akan melaporkan pada kepala sekolah-"
"Jangan coba-coba atau Queena akan saya keluarkan dari sekolah ini!" Ancam guru BK tersebut.
"Tidak perlu repot-repot! Besok Queena akan saya pindahkan dari sekolah penuh toxic ini!" Jawab Gabriel berani seraya menggenggam tangan Queena.
"Ayo pergi dari sini!" Ajak Gabriel pada Queena tanpa pamit tanpa basa-basi.
"Papi," Queena memanggil dengan sendu Gabriel yang masih menggenggam tangannya. Papi Queena itu baru menghentikan langkahnya saat mereka tiba di halaman parkir.
"Papi akan mengurus kepindahanmu besok," ucap Gabriel seraya menangkup wajah Queena.
"Seharusnya Queena mendengarkan papi dan tak berteman dengan Lexi," cicit Queena seraya berurai airmata.
"Jadikan saja ini sebagai pelajaran," nasehat Gabriel seraya menghapus airmata Queena. Putri Gabriel itu hanya mengangguk-angguk.
"Ayo pulang!" Ajak Gabriel selanjutnya dan sekali lagi, Queena hanya menurut.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.