
"Queena dianterin apa naik angkot, Pi?" Tanya Queena sebelum gadis itu menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Nanti berangkat bareng papi! Sekalian papi mau belanja bahan kue,"jawab Gabriel yang malah sudah menyelesaikan sarapannya.
"Ini Friska udah nggak boleh ke sekolah, Mas?" Gantian Friska yang melontarkan pertanyaan pada Gabriel.
"Di rumah saja, Fris! Kan tinggal nunggu hasil ujian juga. Memang ada agenda apa lagi di sekolah kamu?" Bukan Gabriel, melaonkan Bunda Laksmi yang mebjawab pertanyaan Friska.
"Ada info tentang tes masuk universitas, Bund! Trus tentang acara perpisahan juga."
"Tapi Friska dirumah saja seperti kata Bunda," jawab Friska dengan nada sendu. Rasanya mustahil juga bagi Friska untuk melanjutkan kuliah setelah nanti lulus SMA. Friska saja sudah hamil sekarang dan nanti setelah lulus SMA bisa dipastikan kalau Friska akan sibuk mengurus bayi dan jadi ibu rumah tangga.
Tak akan ada waktu menikmati masa remaja seperti Sashi atau Queena.
"Nanti kamu bisa lanjut kuliah kalau kedua adeknya Queena sudah lulus ASI. Tak pernah ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, ya!" Hibur Gabriel seraya merangkul pundak Friska.
"Kedua?" Queena dan Bunda Laksmi bertanya serempak.
"Friska mengandung calon bayi kembar. Memangnya Gabriel belum cerita?" Gabriel menatap bergantian pada Queena dan Bunda Laksmi.
"Ya ampun ya ampun ya ampun!" Queena langsung heboh dan menghampiri Friska lalu memeluk mami sambungnya tersebut.
"Queena bakal punya dua adik, Mi!" Sorak Queena yang sepertinya bahagia sekali. Sementara Bunda Laksmi hanya mengulas senyum meskipun raut bahagia terlihat jelas di wajah mertua Friska tersebut.
"Dua-duanya tumbuh dan berkembang, kan, Briel? Sudah berapa kali kamu bawa Friska ke dokter?" Cecar Bunda Laksmi pada Gabriel.
"Sudah dua kali, Bund! Tapi baru kemarin ketahuan kalau bayinya kembar dan kata dokter keduanya berkembang baik," jelas Gabriel yang langsung membuat Bunda Laksmi mengangguk dan bernafas lega.
"Jangan terlalu capek, Fris! Resiko lebih tinggi kalau hamil kembar," pesan Bunda Laksmi yang memang sudah berpengalaman hamil anak kembar.
__ADS_1
"Iya, Bunda!" Jawab Friska seraya mengangguk patuh. Friska baru saja melanjutkan sarapannya, saat tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi?" Gumam Bunda Laksmi bersamaan dengan Gabriel yang sudah berjalan ke arah pintu depan untuk melihat siapa yang datang.
Bunda Laksmi mengikuti langkah Gabriel dan saat pintu baru dibuka, dua orang polisi sudah berdiri di depan pintu rumah.
"Selamat pagi!" Sapa salah satu dari polisi.
"Selamat pagi! Kami mencari Gabriel Ferdinand."
"Saya sendiri, Pak! Ada apa, ya?" Jawab Gabriel cepat meminta penjelasan.
"Anda kami tahan atas dugaan kasus penganiayaan, Pak Gabriel!" Ucap polisi seraya mengeluarkan nirgol dan langsung memasangnya du tangan Gabriel.
"Penganiayaan apa maksudnya, Pak! Anak saya tidak menganiaya siapapun!" Sergah Bunda Laksmi dengan nada bicara meninggi
"Ini surat penangkapannya, Bu!" Polisi menyerahkan secarik kertas pada Bunda Laksmi.
"Korban sekarang dirawat di rumah sakit dan tak sadarkan diri!" Jelas polisi lagi.
"Saya tidak menganiaya siapapun, Pak! Bapak salah orang!" Teriak Gabriel berontak.
"Pak! Suami saya mau dibawa kemana?"
"Papi!" Queena dan Friska ikut menahan langkah polisi yang hendak membawa Gabriel. Namun semuanya sia-sia karena Gabriel akhirnya tetap dibawa oleh dua polisi tadi masum ke dalam mobil, lalu meninggalkan rumah Bunda Laksmi.
"Oma! Kenapa Papi dibawa polisi?" Tanya Queena pada Bunda Laksmi yang masih terdia. Menatap secarik kertas dj tangannya. Friska mengambil kertas yang metupakan salinan suratbpenangkapan Gabriel tersebut. Ada lampiran foto saat kejadoan penganiayaan.
"Ini pasti salah paham! Mas Briel memukuli Franklyn untuk membela diri!" Gumam Friska dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jadi Franklyn keparat itu yang sudah melaporkan Papi ke polisi?" Tanya Queena ikut membaca surat di tangan Friska.
"Telepon opa kamu, Queen! Kita harus ke kantor polisi," perintah Bunda Laksmi pada Queena dengan tatapan mata kosong.
"Bunda!" Friska sudah memeluk Bunda Laksmi dan berusaha menguatkan ibu mertuanya yang begitu shock tersebut. Sementara Queena langsung menghubungi Ayah Yuda yang tadi memang pergi pagi-pagi buta.
****
Bunda Laksmi dan Ayah Yuda meninggalkan kantor polisi dengan langkah gontai setelah negosiasi dengan pihak kepolisian gagal. Video yang menjadi bukti penganiayaan benar-benar memojokkan posisi Gabriel karena jelas sekali kalau Franklyn yang sudah terkapar masih dipukuli oleh Gabriel secara membabi buta. Dan kabarnya kini Franklyn sedang dirawat di rumah sakit karena mengalami gegar otak.
"Kita dapat uang sebanyak itu darimana, Yah?" Tanya Bunda Laksmi dengan raut sendu.
Pihak pelapor memang menawarkan negosiasi agar keluarga Gabriel membayar sejumlah uang yang jumlahnya tidak sedikit lalu Gabriel akan dibebaskan. Tapi tentu saja Bunda Laksmi dan Ayah Yuda tak bisa menyanggupi karena merrka memang tak punya uang sebanyak itu. Belum lagi Gabriel yang baru saja dipecat dari Steinberg Company membuat semuanya kian terasa rumit.
"Kita akan mencari barang bukti lain untuk membebaskan Gabriel, Bund!" Ujar Ayah Yuda menenangkan sang istri.
"Friska kemarin ada disana dan menyaksikan pergelutann itu! Apa kesaksian Friska bisa jadi bukti?" Tanya Bunda Laksmi penuh harap.
"Ayah tidak tahu! Kita haris mencari pengacara, tapi mau dibayar pakai apa? Pengeluaran bulan ini sudah lumayan banyak!" Ayah Yuda tampak berpikir keras dan sepertinya memang tak banyak solusi yang bisa mereka lakukan saat ini.
Entahlah!
Semuanya buntu!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.