Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
ADA APA?


__ADS_3

Gabriel masih berputar-putar di rumah sakit mencari keberadaan Friska, saat akhirnya pria itu melihat Friska yang sedang di rangkul oleh Sashi. Namun wajah gadis delapan belas tahun itu terlihat sembab dan ia juga masih menangis sesenggukan.


Apa yang sudah terjadi?


"Friska," panggil Gabriel seraya mendekat ke arah dia remaja yang masih saling merangkul tadi.


"Eh, Om sugar daddy!" Sapa Sashi saat melihat Gabriel datang.


"Briel! Bukan sugar daddy!" Gabriel memperkenalkan dirinya sendiri pada Sashi yang langsung membulatkan bibirnya.


"Friska kenapa?" Tanya Gabriel selanjutnya.


"Kedua orang tua Friska baru saja meninggal, Om!" Jawab Sashi sembari mengeratkan rangkulannya pada Friska yang semakin menangis tergugy.


"Udah, Fris! Masih ada aku sahabat kamu," ucap Sashi menenangkan Friska sekaligus menghibur sahabatnya tersebut.


Namun bukannya tenang, tangis Friska malah semakin keras sekarang.


"Aku harus bagaimana sekarang, Shi! Aku nggak punya siapa-siapa lagi!"


"Kamu masih punya aku, Fris! Jangan bilang begitu, dong!" Sashi sidah ikut berkaca-kaca dan dua gadis remaja itu kini berpelukan erat.


"Sudah, Fris! Ikhlas!"


"Mama dan Papa kamu sudah berjuang, tapi ini juga sudah takdir!"


"Ikhlas, ya!" Sashi menyeka airmata Friska, meskipun gadis itu sebenarnya juga tengah berurai airmata.


Gabriel hanya diam menyaksikan Friska yang begitu kehilangan. Enam tahun yang lalu Gabriel juga pernah di posisi Friska saat ia kehilangan sekaligus dua orang yang ia cintai, Hana dan calon anak keduanya yang tak bisa diselamatkan.


"Kamu yang tabah, ya, Fris!" Ucap Gabriel akhirnya seraya mengusap lembut punggung Friska. Gadis itu masih sesenggukan. Namun saat brankar yang membawa jenazah kedua orang tuanya didorong keluar dari kamar perawat, Friska buru-buru menghapus airmatanya dan mengikuti jenazah kedua orang tuanya. Sashi dan Gabriel ikut mengekor dan mengikuti Friska.


****


Mendung sudah menggantung saat acara pemakaman kedua orang tua Friska selesai. Para pelayat sudah meninggalkan pemakaman dan kini hanya ada Friska yang masih bersimpuh di samping makam kedua orang tuanya. Sashi juga masih belum beranjak dari samping Friska dan tetap setia mendampingi sahabatnya itu sejak tadi. Sedangkan Gabriel yang tadi mengikuti prosesi pemakaman dari awal sampai selesai, memilih berdiri di kejauhan. Gabriel bahkan belum kenal dengan Friska maupun keluarganya. Namun entah mengapa, hati Gabriel ikut merasakan kesedihan yang kini dirasakan oleh Friska.


Gabriel membuka ponselnya yang sejak tadi ia abaikan saat ratusan pesan masuk ke ponselnya.


Sial!


Tuan Steinberg berulang kali menelepon Gabriel sejak tadi. Ada juga Bunda Laksmi yang pasti mengimrl.karena Gabriel lupa menjemput Queena.


Gabriel kembali menatap pada Fruska yang masih bersimpuh dan menangis di samping makam kedua orangtuanya. Gabriel tahu kalau Friska kini sebatang kara. Pasti berat bagi hadis delapan belas tahun itu menjalani semuanya.


Ponsel Gabriel kembali berbunyi. Ada nama Tuan Steinberg yang tertera di layar.


"Halo, Selamat siang, Tuan!" Sapa Gabriel sesopan mungkin.

__ADS_1


"Briel, kau dimana? Ada meeting penting siang ini dan kau melewatkannya."


"Ah, iya! Saya minta maaf, Tuan! Orang tua teman saya meninggal dunia. Jadi yadi saya melayat sebentar dan tak sempat berpamitan. Ini saya sedang dalam perjalanan kembali ke kantor," tutur Gabriel mencari alasan.


"Cepatlah kembali! Ada meeting lagi tiga puluh menit dan aku tak mau kau melewatkannya lagi!"


"Siap, Tuan Steinberg! Saya ke kantor sekarang." Pungkas Gabriel sebelum menutup telepon.


Gabriel memilih bergegas saja menuju ke kantor dan berjanji dalam hati kalai ia akan menemui Friska lagi nanti. Gabriel hanya ingin memastikan kalau gadis itu cukup punya sandang, pangan, dan papan setelah kepergian orang tuanya.


Tapi sebentar!


Gabriel jadi ingat pada Friska yang siang tadi menawarkan diri pada Gabriel untuk menjadi sugar baby. Apa itu artinya Friska sedang butuh uang?


Apa itu ada hubungannya dengan biaya perawatan kedua orangtuanya?


Ah, nanti saja Gabriel mencari tahu.


Sekarang Gabriel harus kembali ke kantor sebelum Tuan Steinberg memecatnya.


****


"Anak koruptor!"


Friska baru menyusuri lorong sekolah beberapa langkah saat ssudahada seorang siswa yang melemparnya dengan gumpalan kertas.


Lanjut beberapa langkah, Fruska melohat beberapa siswa yang berbisik-bisik sambil sesekali menatap aneh ke arahnya.


"Shi! Kamu temenan sama anaknya koruptor begitu, kecipratan hasil pencucian uang juga nggak? Awas diciduk polisi, lho!" Celetuk seorang siswa yang langsung membuat Friska menghentikan langkahnya. Ini hanti pertama Friska kembali ke sekolah setelah dua hari gadis itu mengambil izin karena berkabung. Namun baru sampai di sekolah, Friska malah sudah disambut oleh cibiran dari teman-temannya.


"Heh! Jaga itu mulut!" Gertak Sashi galak pada siswa yang melontarkan pertanyaan tadi.


"Shi, jangan dekat-dekat!" Ucap Friska seraya menjaga jarak dari Sashi.


"Kenapa, Fris?" Tanya Sashi bingung.


"Nanti kamu dicibir juga oleh mereka."


"Udah jangan dekat-dekat aku lagi!" Ujar Friska sebelum gadis itu pergi meninggalkan Sashi yang hanya melongo.


"Tuh, udah disuruh jauh-jauh, yaudah jauh-jauh, Shi! Ketimbang kena ciduk polisi!" Seru para siswa yang langsung membuat Sashi mendelik ke arah mereka semua. Sashi bergegas menyusul Friska yang sudah menghilang di ujung lorong sekolah.


Friska sudah duduk di bangku paling pojok saat Sashi tiba di kelas. Segeralah Sashi mendekati sahabatnya tersebut.


"Fris-"


"Kamu duduk sama yang lain saja, Shi!" Usir Friska pada Sashi.

__ADS_1


"Tapi aku maunya duduk sama kamu! Kita kan sahabatan!"


"Tapi aku anak koruptor, Shi! Kamu lihat sendiri tadi semuanya mencibir dan mengejekku." Kedua mata Friska mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak mau kamu ikut diejek, dicibir dan dijauhi," lanjut Friska lagi.


"Aku nggak peduli! Kamu tetep teman dan sahabat aku, Fris!" Sashi malah sudah mendekap dan memeluk Friska sekarang. Sepertinya sahabat Friska itu memang keras kepala!


****


Gabriel masih celingukan mencari keberadaan Friska atau Sashi di antara para siswa yang keluar dari gerbang sekolah. Cukup lama Gabriel mencari, hingga akhirnya pria itu melihat Sashi yang keluar sendirian seraya memegangi tali tas yang tersampir di kedua pundaknya.


"Sashi!" Panggil Gabriel yang langsung membuat Sashi menoleh.


"Om su-"


"Eh, Om Briel maksudnya," Sashi meringis karena hampir salah sebut.


"Friska mana? Masih belum masuk?" Tanya Gabriel to the point. Ini memang sudah sepekan sejak keoergian kedua orang tua Friska. Dan Gabriel baru sempat mencari gadis itu lagi karena seoekan kemarin Gabriel harus mendampingi Tuan Steinberg ke luar kota.


"Kemarin sudah masuk, Om! Tapi hari ini Friska sakit. Jadi tidak masuk sekolah," Terang Sashi pada Gabriel.


"Sakit apa?" Tanya Gabriel khawatir.


"Demam. Sepertinya karena banyak pikiran. Udah anaknya masih berduka, eh di sekolah masih dicibir-cibir karena mendiang kedua orang tua Friska terjerat kasus korupsi."


"Ditambah Friska yang mau cari pekerjaan buat biaya sekolah tapi nggak dapat-dapat. Udah deh." Sashi mengendikkan kedua bahunya dan merasa prihatin dengan hidup Friska yang sedang banyak cobaan.


"Om ada pekerjaan untuk Friska, nggak?" Tanya Sashi tiba-tiba yang tentu saja membuat Gabriel bingung.


"Pekerjaan apa?"


"Yang enak kerjanya tapi gaji gede, Om! Kan Friska harus bayar kost dan sekolah. Friska nggak mau tinggal di rumah Sashi soalnya. Takut merepotkan kata Friska," ujar Sashi lagi memaparkan kondisi Friska.


"Memang rumah kedua orang tua Friska dimana? Kenapa nggak tinggal disana?"


"Disita, Om. Semua harta dan rumah orang tua Friska disita, jadi Friska nggak punya apa-apa lagi sekarang," jawab Sashi lirih yang langsung membuat Gabriel kaget.


Jadi, selain sebatang kara, Friska juga tak punya tempat tinggal dan terancam dikeluarkan dari sekolah karena tidak bisa membayar biaya sekolah?


Kenapa nasibmu malang sekali, Friska?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2