
"Ini kali terakhir kamu menghilang dari kantor tanpa pamit tanpa basa-basi, Briel! Jika terulang lagi, aku tak akan segan-segan memberikan surat peringatan untukmu atau langsung memecatmu!"
"Tak peduli kau itu karyawan teladan atau asistennya Kate!" Ucap Tuan Steinberg panjang lebar memberikan peringatan pada Gabriel.
"Iya, Tuan! Saya mengerti dan saya benar-benar minta maaf atas kesalahan saya hari ini. Saya tak akan mengulanginya lagi," janji Gabriel pada atasannya tersebut. Sebenarnya ini memang bukan pettama kali Gabriel membolos kerja karena Friska.
Sudah beberapa kali Gabriel kabur dari kantor dan berakhir dengan omelan dari pemilik Steinberg Group ini.
"Kau pikir perusahaan ini milikmu? Hingga kau bisa seenakmu pergi tanpa izin," Tuan Steinberg sepertinya masih akan terus mengomel andai ponsel di sakunya tak berdering. Pria tua itu mengangkat telepon dan segera memberikan isyarat pada Gabriel untuk keluar dari ruangannya.
Gabriel menutup pintu ruangan Tuan Steinberg dengan hati-hati lalu lanjut menghela nafas panjang.
"Selamat kau, Briel! Kalau dipecat, bagaiamana kau akan membiayai sekolah Friska dan Queena?" Gabriel bergumam pada dirinya sendiri seraya berjalan menuju ke ruangannya yang masih satu lantai dengan ruangan Tuan Steinberg yang sebenarnya itu adalah ruangan Nona Kate.
Entahlah!
Gabriel bingung!
"Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Segera Gabriel membereskan semua barang-barangnya,menatikan laptop di atas mejanya, lalu sekalian memasukkan berkas yang masih perlu ia kerjaan ke dalam tas kerja. Nanti malam Gabriel akan lembur menyelesaikannya, serelah ia lembur bersama Friska.
Eh, tapi Friska sedang datang bulan!
Sial!
Gabriel terpaksa puasa lagi malam ini padahal baru kemarin berbuka.
Baiklah, tidak apa!
Nanti setelah Friska selesai datang bulan, Gabriel akan minta dobel.
"Briel!" Panggilan Tuan Steinberg bersamaan dengan pintu ruangan Gabriel yang terbuka langsung membuat lamuna pria tiga puluh dua tahun itu buyar.
"Iya, Tuan!" Jawab Gabriel sigap.
"Kau sudah bisa pulang sekarang! Aku ada acara di luar sore ini. Besok jangan lupa datang pagi-pagi karena kita ada meeting pagi dan jangan bolos lagi!" Tuan Steinberg memperingatkan Gabriel sekali lagi.
__ADS_1
"Siap, Tuan! Selamat sore!" Jawab Gabriel seraya mengulas senyum di bibirnya meskipun hatinya sedikit dongkol. Gabriel tetap tersenyum sampai atasannya itu pergi dan kembali menutup pintu.
"Besok jangan terlambat lagi!" Gabriel mencibir-cibir menirukan Tuan Steinberg.
"Memangnya kapan aku pernah terlambat?" Sambung Gabriel lagi seraya berdecak kesal. Gabriel meraih tas kerjanya dan segera menuju ke pintu untuk selanjutnya turun ke bawah dan pulamg menuju rumahnya. Gabriel sudah tak sabar untuk segera mencumbu Friska sekalipun istrinya itu sedang datang bulan. Mulut Friska kan tidak datang bulan, jadi bisalah sedikit membantu Gabriel nanti malam.
****
"Sore, Yah! Kok tumben sepi?" Sapa Gabriel pada Ayah Yuda yang duduk sendirian di teras depan seraya membaca koran.
"Para wanita sedang perang dunia ketiga. Ayah yang waras ngalah aja disini," jawab Ayah Yuda sedikit berkelakar. Gabriel buru-buru masuk ke rumah untuk melihat medan perang. Namun nyatanya di dalam rumah sepi senyap dan tak ada aktivitas apapun. Lalu kemana Bunda Laksmi, Friska, dan Queena?
"Tidak ada siapa-siapa di dalam, Yah? Yang perang pada kemana?" Tanya Gabriel yang sudah kembali ke teras, lalu memilih duduk bersama Ayah Yuda.
"Sudah kembali ke markas masing-masing dan tidur mungkin."
"Ngomong-ngomong, Friska kamu apakan semalam sampai pingsan di sekolah?" Ayah Yudah akhirnya melontarkan pertanyaan pada Gabriel.
"Nggak Gabriel apa-apakan. Cuma itu biasa. Gabriel juga nggak main kasar."
"Sepertinya ada masalah juga antara Queena dan Friska. Tadi mereka debat kusir di dapur dan berakhir dengan Queena yang mengatai Friska ganjen dan genit." Ayah Yuda menceritakan kronologi pertengkaran Queena dan Friska.
"Trus?"
"Friska nangis dan Bundamu mencak-mencak karena migrainnya kambuh," Ayah Yuda sedikit terkekeh.
"Ayah itu tak mengerti dengan kaum wanita yang selalu ribet dan membesar-besarkan hal kecil," sambung Ayah Yuda yang sudah berhenti tertawa.
"Nanti biar Briel yang bicara pada Queena dan Friska, Yah!" Ucap Gabriel seraya memijit kepalanya yang mendadak pusing. Baru mendengar cerita Ayah Yuda saja sudah pusing apa kabar jika Gabriel ada di medan perang tadi. Mungkin akan langsung migrain seperti Bunda Laksmi.
"Kamu ajari Friska itu agar sedikit berpikir dewasa dan mengalah pada Queena, Briel!"
"Maksud Ayah, jika Queena sedang emosi, Friska kan tidak seharusnya ikut emosi dan berteriak-teriak juga, sekalipun Friska adalah pihak yang benar disini.
Queena itu kan baru masuk usia remaja, jadi jiwanya juga masih labil dan gampang tersulut emosinya. Jika emosi dibalas emosi yang ada ya perang seperti tadi," tutur Ayah Yuda panjang lebar memberikan nasehat untuk Gabriel.
__ADS_1
"Iya, Yah! Nanti Gabriel akan menasehati Friska!" Jawab Gabriel sedikit dongkol. Sudah tadi di kantor kena ceramah dari Tuan Steinberg, ini di rumah diceramahi lagi oleh Ayah Yuda.
"Jangan hanya iya iya terus tapi prakteknya nol. Tiap malam yang dipraktekin malah gaya nungging sama gaya katak!" Cibir Ayah Yuda yang sudah melipat korannya, lalu bangkit dari duduk.
"Apaan gaya nungging sama gaya katak, Yah?" Tanya Gabriel pura-pura polos.
"Kura-kura dalam perahu! Pura-pura tidak tahu!" Cibir Ayah Yuda lagi.
"Namanya juga lagi usaha,Yah! Usaha untuk segera memberikan cucu untuk Ayah dan Bunda-"
"Biar sekolah dulu si Friska dan jangan sampai hamil dulu, Briel! Pusing Bunda kalau istrimu itu hamil tapi debat sama Queena saja nggak mau ngalah!" Sahut Bunda Laksmi yang tiba-tiba sudah berkacak pinggang di ambang pintu.
"Iya, Bunda! Iya!" Jawab Gabriel seraya meringis dan menahan kesal di hatinya.
Hamilin istri sendiri nggak boleh juga?
"Gabriel mau mandi dulu kalau begitu." Gabriel ikut bangkit berdiri dan langsung masuk ke rumah, lalu langsung menuju ke kamarnya.
"Fris, aku pulang!" Sapa Gabriel seraya membuka pintu kamar. Friska sedang berbaring di atas tempat tidur seraya membelakangi pintu masuk. Apa istri Gabriel itu tidur?
"Friska!" Gabriel mengitari tempat tidur dan memeriksa Friska yang ternyata memang sedang tidur. Gabriel berjongkok di depan istrinya itu, lalu mengusap lembut wajah Friska yang terlihat tenang dalam tidurnya.
"Cantik!" Puji Gabriel seraya tersenyum sendiri.
"Manis, imut," ujar Gabriel lagi yang tetap mengusap wajah Friska. Gabriel mendekatkan wajahnya ke arah wajah Friska dan bersiap untuk mencium istrinya itu, saat tiba-tiba mata Friska terbuka lebar.
"Om Briel mau apa?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.