Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
IYA ATAU TIDAK?


__ADS_3

"Tidak usah dihiraukan, Queen!" Nasehat Friska pada Queena yang sejak tadi masih bersedih perihal ejekan teman-temannya.


"Semuanya akan menguap pergi seiring berjalannya waktu, Queen!"


"Toh kamu sudah mulai belajar di sekolah baru besok pagi," sambung Friska lagi seraya mengisap punggung Queena yang masih membenamkan kepalanya di pelukan Bunda Laksmi.


"Nah! Bener itu kata mami kamu!"


"Tidak usah dipikirkan dan dihiraukan lagi!"


"Toh kamu juga tidak seperti itu! Kamu gadis baik-baik! Cucunya Oma!" Ujar Bunda Laksmi panjang lebar yang tumben sehati dengan Friska.


"Iya, Oma!"


"Queena kan takut kalau nnati tak lunya teman di sekolah baru," rengut Queena seraya menghapus airmatanya.


"Tu ada teman yang bisa diajak curhat kalau masih nggak punya teman," timpal Gabriel seraya mengendikkan dagunya ke arah Friska.


"Mami Fris?" Queena mengernyitkan kedua alisnya.


"Kan seumuran! Pasti juga nyambung kalau curhat-curhatan atau ghibah bersama!" Ujar Gabriel sok tahu.


"Asal jangan ngajakin mami kamu nyari cowok baru!" Sambung Gabriel lagi yang langsung membuat semuanya tergelak.


"Tidak usah pacaran dulu! Sekolah yang benar, belajar yang rajin!" Nasehat Bunda Laksmi pada Queena.


"Kalau temenan sama cowok?" Tanya Queena seraya mebatal Bunda Laksmi.


"Boleh! Asal tahu batasan dan jangan melakukan hal-hal yang melanggar norma!" Bukan Bunda Laksmi melainkan Gabriel yang menjawab dan menasehati sang putri.


"Papi tak akan melarangmu atau mengekangmu, Queena! Tapi kau pasti sudah bisa mengambil pelajaran setelah kejadian yang menimpamu beberapa hari belakangan. Jadi Papi harap kamj bisa menjadikannya pengalaman agar kamu berhati-hati ke depannya."


"Kamu nggak mau terjatuh di lunang yang sama, kan?" Tutur Gabriel panjang lebar memberikan nasehat bijak pada Queena.


"Iya, Pi! Queena sudah mendapatkan banyak sekali pelajaran," jawab Queena seraya mengangguk-angguk.


"Queena akan lebih berhati-hati dalam berteman mulai sekarang dan akan selalu mendengarkan nasehat Papi, Mami, Oma, serta Opa," sambung Queena lagi yang langsung membuat semuanya mengulas senyum.


"Cucu Oma akhirnya busa berpikir dewasa," puji Bunda Laksmi merasa bangga pada Queena dan kembali memeluk cucunya tersebut.


"Hoek!" Friska tiba-tiba mual dan ustri Gabriel itu buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Kamu kenapa, Fris?" Tanya Gabriel yang langsung menghampiri Friska.

__ADS_1


"Hoek!" Friska mual sekali lagi dan gadis itu langsung berlari ke arah kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Gabriel.


"Mami sakit, Pi?" Tanya Queena khawatir.


"Nggak tahu!" Jawab Gabriel yang bergegas menyusul Friska dan mengusap punggung istrinya tersebut.


"Tadi sudah makan belum?" Tanya Gabriel khawatir masih sambil mengusap-usap punggung Friska yang kini muntah-muntah.


"Sudah. Tapi cuma dikit karena lihat nasi tiba-tiba mual. Padahal kemarin enggak!" Jawab Friska berbisik-bisik pada Gabriel. Gadis itu kembali muntah-muntah lagi.


"Beliin jambu kristal pakai bumbu bangkok, Mas!" Celetuk Friska tiba-tiba pada Gabriel setelah gadis itu selesai muntah-muntah.


"Sekarang?" Gabriel bertanya ragu-ragi karena ini sudah malam.


"Iya sekarang. Tadi Friska lihat penjual jambu kristal pakai bumbu bangkok saat pulang sekolah, dan sekarang Friska pengen," jawab Friska panjang lebar.


"Trus kenapa tadi nggak beli kalau lihat? Kenapa baru bilang sekarang? Yang jual juga pasti sudah tutup!" Cecar Gabriel yang langsung membuat Friska merengut.


"Orang pengennya sekarang bukan tadi siang! Kalau tahu bakalan pengen juga pasti yadi siang Friska bilang," gerutu Friska seraya keluar dari kamar mandi dengan bibir yang masih mengerucut. Gabriel hanya menghela nafas dan mendadak merasa bersalah karena sudah mengomeli Friska. Seharusnya Gabriel maklum tentang bgidamnya Friska yang memang kadang tak bisa ditebak kapan datangnya. Gabriel akan berkeliling sebentar mencari penjual jambu kristal bumbu bangkok. Kalau tidak ketemu Gabriel akan membuat bumbu bangkok sendiri. Di Google pasti ada caranya, kan?


"Friska!" Panggil Bunda Laksmi pada Friska yang baru keluar dari kamar mandi.


"Iya, Bund!"


"Ada apa, Bunda?" Tanya Friska lagi yang sudah duduk di sebelah Bunda Laksmi.


"Pil KB kamu, masih rutin kamu minum, kan?" Tanya Bunda Laksmi memastikan.


"Masih, kok!" Jawab Friska cepat dan berdusta tentu saja.


"Coba Bunda lihat yang bulan ini tinggal berapa?" Tanya Bunda Laksmi lagi yang langsung membuat Friska membelalakkan kedua bola matanya.


Mati kau, Friska!


"Tinggal sepuluh butir! Kan ini tanggal dua puluh, Bunda!" Jawab Friska mengarang indah.


"Iya, Bunda mau lihat kamu minumnya teratur apa tidak!"


"Ada yang kelewat apa tidak."


"Tentu saja tidak, Bund! Kan Friska pasang alarm terus!" Jawab Friska cepat.


"Makanya bunda lihat kemasannya!" Pinta Bunda Laksmi lagi kali ini dengan nada memaksa.

__ADS_1


"Emmmm. Eh."


"Itu, pilnya nyelip dan Friska lupa taruh!" Friska salah tingkah dan memberikan alasan ngawur.


"Lupa tarih bagaimana? Katanya rutin kamu minum?" Sergah Bunda Laksmi yang sudah emosi.


"Siapa yang bilang salah taruh, Bund? Friska bilang pilnya disimpan Mas Briel dan biasanya Friska dikasih satu pas waktunya minum. Jadi Friska nggak tahu Mas Briel nyimpen pilnya dimana," Friska mengarang alasan yang semakin ngawur.


"Tadi kamu bilang salah taruh, sekarang bilang disimpan Briel. Yang benar yang mana, Friska?" Tanya Bunda Laksmi semakin emosi.


"Bunda kenapa teriak-teriak?" Tanya Gabriel yangbsidah mengenakan jaket dan bersiap pergi mencari jambu kristal bumbu bangkok untuk Friska.


"Kamu mau kemana malam-malam begini, Briel?" Tanya Bunda Laksmi menyelidik.


"Mau cari jambu, Bund! Friska ngidam-"


"Eh!" Gabriel menutup mulutnya yang keceplosan.


Benar kata Friska, Gabriel memang ember dan tidak bisa menjaga rahasia. Dasar mulut sialan!


"Friska ngidam?" Bunda Laksmi membelalakkan kedua matanya dan Bunda kandung Gabriel itu terlihat shock.


"Maksud kamu Friska hamil, begitu?" Tanya Bunda Laksmi sekali lagi menatap bergantian pada Gabriel dan Friska.


"Enggak!"


"Iya!"


Friska dan Gabriel menjawab serempak dengan jawaban yang berbeda.


"Iya atau tidak?" Bunda Laksmi bertanya lebih tegas.


"Ini benar-benar sebuah ketidaksengajaan, Bund!" Jawab Gabriel jujur yang langsung membuat Bunda Laksmi tumbang ke atas sofa.


"Bunda!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2