Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
MAU KEMANA?


__ADS_3

Friska turun dari angkutan umum di depan jalan masuk kompleks seraya merengut seperti biasa. Gadis itu menghela nafas seraya menggerutu sebal saat menatap pada jalan menuju ke rumah Oma Laksmi yang berjarak tiga ratus meter dari depan kompleks.


"Nggak ada yang berniat ngasih tumpangan, gitu? Atau nyediain eskalator biar aku nggak perlu jalan kaki tiap hari," gerutu Friska kesal. Baru berjalan seratus meter, Friska berhenti sebentar dan mengusap peluh di dahinya. Cuaca hari ini memang lumayan panas hingga aspal di depan Friska menimbulkan fatamorgana sebuah genangan air.


"Berendam air dingin kayaknya enak. Tapi nggak ada bathtube di kamar mandi Om Briel. Bunda punya ember besar, nggak, ya?" Friska kembali berguman dan membayangkan dirinya berendam di air dingin saat siang terik begini.


Huh!


Friska segera kembali berjalan dan mempercepat langkahnya, saat sebuah mobil berwarna kuning terang yang membuat mata silau lewat di samping Friska.


Wusss!


Angin dari mobil langsung membuat rambut Friska beterbangan.


Dasar mobil kuning menyebalkan! Nawarin tumpangan enggak, ninggalin angin doang!


Friska menggerutu dalam hati dan terus melanjutkan langkahnya saat mobil kuning tadi berhenti tepat di depan rumah Bunda Laksmi.


Hah!


Apa itu Om Briel yang membeli mobil baru?


Atau itu pacarnya....


"Queena!"


Friska memekik tak percaya saat melihat Queena turun dari mobil kuning tadi, lalu melambaikan tangan ke pengemudi mobil.


Queena punya sugar daddy!


Bahaya ini!


Friska berhenti sejenak dan menunggu mobil tadi putar balik. Friska mendadak penasaran dengan sugar daddy-nya Queena. Sekalian nanti Friska akan lapor ke Gabriel!


Mobil kuning sudah putar balik dan Queena dada dada sekali lagi pada sang pengemudi. Sementara Friska masih di posisinya semula dan bersiap melihat si pengemudi mobil kuning tadi. Namun mobil tiba-tiba melambat, saat lewat di samping Friska. Mobil juga mendadak berhenti.


Ya ampun!


Apa pengemudinya tahu, kalau Friska sedang memata-matainya?


Kaca jendela depan diturunkan oleh sang pengemudi, dan Friska benar-benar ingin mengumpat saat melihat Sultan blasteran yang ternyata adalah pengemudi mobil kuning tadi.


"Kau Friska, kan?" Sapa Franklyn seraya mengarahkan telunjuknya ke arah Friska.


"Rumahmu disini juga?" Tanya pemuda itu lagi.


"Siapa, Bang?" Kali ini yang bersuara ganti seorang gadis remaja yang sepertinya seusia dengan Queena. Gadis itu juga mengenakan seragam SMP.


"Teman Abang di sekolah!" Pamer Franklyn pada sang adik yang langsung membuat Friska memutar bola matanya.


"Maaf, kita bukan teman!" Sanggah Friska yang langsung berlalu pergi meninggalkan mobil kuning si sultan blasteran.


Sementara Lexi langsung tergelak melihat sang Abang ditolak cewek.


"Seumur-umur, baru kali ini lihat cewek ketus begitu ke abang." Ledek Lexi yang masih terus tergelak.

__ADS_1


"Diam kamu, Dek!"


"Dia itu belum tahu saja pesona seorang Franklyn!"


"Kalau sudah tahu, pasti klepek-klepek!" Sergah Franklyn penuh kepongahan.


"Uang jajan Lexi satu minggu buat abang semua kalau abang berhasil jadian sama cewek ketus itu!" Tantang Lexi pada sang Abang.


"Abang tak akan hanya sekedar jadian dengannya. Abang juga akan-" Franklyn membisikkan sesuatu pada Lexi.


"Gila!" Gumam Lexi setelah tahu rencana sang abang.


"Dia akan jadi milik Abang!" Ucap Franklyn lagi penuh percaya diri.


"Terserah!" Sahut Lexi sebelum kemudian mobil kuning itu kembali melaju pergi meninggalkan kompleks perumahan.


****


Friska baru selesai mandi sore, saat ponselnya di atas nakas menyala. Sepertinya ada pesan masuk.


[Kirim alamat rumah, Fris! Jadi nonton sama Abang Jimmy, nggak?] -Sashi-


"Ya ampun! Lupa!" Friska menepuk keningnya sendiri karena lupa mengirimkan alamat rumahnya pada Sashi. Segera Friska menulis balasan dan menulis nama kompleks perumahan tempatnya tinggal.


[DI DEPAN KOMPLEKS SAJA NUNGGUNYA!!!] -Friska-


Sengaja Friska tulis pakai huruf kapital semua agar Sashi ingat.


[Capslock jebol? Aku juga ingat! Nggak usah lebay begitu!] -Sashi-


Apa?


Friska memekik kaget dan buru-buru ganti baju, saat terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Friska!" Itu suara Bunda Laksmi.


Aduh!


Friska kembali meraih jubah mandinya, untuk menutupi baju yang ia kenakan. Gadis itu lanjut membuka pintu.


"Iya, Bund!" Jawab Friska yang hanya menampakkan kepalanya saja ke luar kamar.


"Kamu udah selesai belum yang mandi? Mandi aja kok tahunan!" Omel Bunda Laksmi seperti biasa.


Baiklah! Yang ini Friska sudah kebal!


"Dikit lagi," jawab Friska seraya meringis.


"Bunda sama Ayah mau melayat ke rumah teman ayah. Nanti kamu bereskan dapur, ya! Semua masakan juga sudah matang! Pokoknya jangan lupa beresin dapur, dan jangan tidur!" Pesan Bunda Laksmi tegas.


"Iya, Bund!" Jawab Friska seraya bersorak dalam hati. Akhirnya Friska bisa pergi tanpa harus main kucing-kucingan.


"Jangan lupa!" Pesan Bunda Laksmi sekali lagi.


"Iya, Bunda!" Jawab Friska sedikit lebay.

__ADS_1


"Bunda pergi dulu!" Bunda Laksmi mengulurkan tangannya dan Friska segera mencium punggung tangan mertuanya tersebut.


"Hati-hati, Bunda! Bye!" Friska melambaikan tangan dengan lebay, lalu kembali menutup pintu. Gadis itu lanjut berdandan dan bersiap untuk pergi nonton bersama Abang Jimmy.


Setelah sekitar sepuluh menit bersiap-siap, Friska keluar dari kamar dan memantau situasi.


Sepi!


Sepertinya Queena sedang di kamar!


Friska keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan, lalu berjalan mengendap-endap melintasi ruang tengah, ruang tamu dan keluar lewat pintu depan.


Yess!


Friska berhasil keluar tanpa ada yang melihat, dan gadis itu segera mempercepat langkahnya ke depan kompleks.


Semoga Abang Jimmy belum datang!


Semoga belum datang!


"Yah, udah datang!" Gumam Friska saat sudah hampir sampai di mulut gang.


"Bang Jimmy!" Panggil Friska pada abang kandung Sashi tersebut.


"Hai! Sudah siap?" Sapa Jimmy seraya tersenyum ke arah Friska.


"Iya, sudah! Abang Jimmy udah dari tadi, ya?" Tanya Friska pura-pura merasa bersalah.


"Nggak, kok! Baru aja!" Jawab Jimmy santai seraya memakaikan helm ke kepala Friska.


"Friska bisa!" Ucap Friska saat Jimmy hendak mengaitkan tali helm Friska. Namun Jimmy menolak dan lanjut memasangkan tali helm tersebut. Disaat bersamaan, sebuah mobil minibus warna hitam melintas dan masuk ke dalam kompleks perumahan.


Tunggu!


Friska kenal mobil tadi.


Mobil hitam tadi berhenti di pinggir jalan dan Friska tentu saja langsung gelagapan. Gadis itu naik ke atas motor Jimmy dengan cepat hingga motor sedikit oleng karena Jimmy belum siap menahan beban.


"Bentar, Fris! Tali helm kamu belum pas," ujar Jimmy pada Friska yang mengajaknya buru-buru.


Sedangkan pengemudi mobil minibus hitam tadi sudah turun dan menghampiri Friska serta Jimmy.


"Friska! Kamu mau kemana?"


.


.


.


😆😆😆😆😆


Oo, kamu ketahuan!


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2