
Friska masih di dapur membantu Bunda Laksmi mengemas kue kering yang mereka buat siang tadi.
"Pelan-pelan masukin toplesnya! Jangan sampai patah kuenya, nanti yang pesan kapok nggak mau pesan lagi," titah Bunda Laksmi pada Friska yang sedang menyusun kue ke dalam toples.
"Iya, Bund! Icip satu boleh, kan?" Friska mencomot satu kue dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Friska!" Tegur Bunda Laksmi galak yang langsung membuat Friska nyengir tanpa dosa.
"Satu aja, Bund! Kuenya enak!" Puji Friska masih sambil mengunyah kue di mulutnya.
"Ck! Udah, jangan dicomot-comot terus! Habis nanti!" Ujar Bunda Laksmi bersamaan dengan Gabriel yang baru pulang dari kantor.
"Wah! Lagi buat kue, ya?" Gabriel mencomot tiga kue di loyang tanpa ba bi bu dan langsung menyumpalkannya ke dalam mulut.
"Briel!" Bunda Laksmi refleks memukul punggung putranya tersebut.
"Habis sudah kuenya Bunda kalian comoti begitu!" Gerutu Bunda Laksmi pada Friska dan Gabriel.
"Tester, Bund! Kali aja Bunda salah masukin garam ke adonan. Makanya Briel icip dulu sebelun diicip pelanggan," ujar Gabriel memberikan alasan.
"Halah! Bisa-bisanya kamu saja!" Decak Bunda Laksmi masih kesal.
"Queena mana, Bund?" Tanya Gabriel yang tak melihat sang putri.
"Di kamar! Sejak pulang sekolah mengurung diri. Bunda juga nggak tahu si Queena itu kenapa! Semakin hari kok semakin sering uring-uringan tak jelas tanpa sebab apapun," gerutu Bunda Laksmi mengungkapkan uneg-unegnya.
"Ribut sama Friska lagi?" Tebak Gabriel menerka-nerka.
"Nggak ada! Friska udah bantuin Bunda di dapur sejak pulang sekolah!" Kilah Friska cepat.
"Iya, Friska tadi pulang cepat, makanya Bunda suruh bantuin bikin kue pesanan," terang Bunda Laksmi yang tumben membela Friska.
"Ada yang gosong nggak? Jadi sagu keju negro misalnya," kekeh Gabriel berkelakar yang langsung membuat Friska merengut.
"Yang bagian ngoven Bunda,jadi nggak mungkin gosong!" Sergah Bunda Laksmi menjelaskan.
"Sudah penuh, Bund!" Lapor Friska yang sudah selesai menyusun kue ke dalam toples. Bunda Laksmi memeriksa pekerjaan Friska dan langsung mengulas senyum.
"Kamu sebenernya pinter dan cepat belajar, Fris! Asalkan niat dan nggak banyak main-main!" Ujar Bunda Laksmi yang ebtah sedang memuji atau menyindir Friska.
Namun belakangan ini Friska memang cukup tahu diri saat di rumah dan sebisa mungkin melakukan pekerjaan rumah yang ia bisa agar Bunda Laksmi tak terus-terusan mengomelinya.
Meskipun sebenarnya Friska sudah kebal dengan omelan Bunda Laksmi, tapi kalau dipikir-pikir kadang kata-kata Bunda Laksmi itu nyelekit dan bikin sakit hati.
"Iya, Bund! Friska niat, kok! Asal Bunda juga sabar ngajarin Friska," ucap Friska seraya memainkan kedua telunjuknya.
"Yasudah! Kamu istirahat sana! Katanya tadi belum ngerjain tugas juga. Kerjain dulu sebelum keburu ngantuk nanti," nasehat Bunda Laksmi selanjutnya.
"Baik, Bunda!" Jawab Friska patuh seraya beranjak dari dapur lalu masuk ke kamarnya.
Sekarang tinggal Bunda Laksmi dan Gabriel yang masih sibuk mencomoti kue sisa di loyang.
"Kamu coba ngomong ke Queena sana, Briel! Tanya sebenarnya ada apa, kok sering uring-uringan belakangan ini,' perintah Bunda Laksmi pada Gabriel.
"Iya, Bund!" Jawab Gabriel sedikit malas. Gabriel bangkit dari duduknya dan segera menuju ke kamar Queena untuk menyapa sang putri.
"Queen!" Panggil Gabriel seraya mengetuk pintu kamar Queena. Namun tidak ada jawaban.
"Queen, buka pintunya! Papi mau bicara!" Panggil Gabriel lagi.
"Queena!" Panggil Gabriel sekali lagi karena masih tak ada jawaban dari Queena.
__ADS_1
"Queen,Ppai dobrak pintunya kalau tidak kamu buka-" kalimat Gabriel belum selesai saat pintu kamar Queena akhirnya dibuka dari dalam.
Queena yang cemberut langsung duduk di tepi kasur setelah membuka pintu. Gabriel ikut duduk bersama putrinya tersebut.
"Ada apa lagi? Kenapa cemberut?" Tanya Gabriel seraya merangkul sang putri.
"Nggak apa-apa! Cuma lagi badmood aja!" Jawab Queena terap cemberut.
"Badmood kenapa? Ada yang bully kamu di sekolah? Atau ada masalah sama teman kamu?" Cecar Gabriel khawatir.
"Iya pokoknya badmood aja, Pi!" Jawab Queena seraya meninggikan nada bicaranya.
"PMS?" Tebak Gabriel lagi.
"Ya!" Jawab Queena singkat meskipun sebenarnya Queena rusak sedang PMS. Queena sedang malas dicecar oleh Gabriel karena jika Qjujur tebtang hal yang membuatnya kesal, yang ada sang papi malah akan menceramahi Queena.
"Besok jalan-jalan, yuk! Mumpung weekend" Ajak Gabriel pada sang putri.
"Kemana?" Tanya Queena lirih.
"Queena maunya kemana? Ke pantai? Atau ke gunung?" Gabriel memberikan pilihan.
"Pantai aja. Udah lama Queen nggak ke pantai," jawab Queena mengambil keputusan.
"Baiklah! Besok kita ke pantai."
"Berdua aja, kan? Nggak sama istri Papi?" Tanya Queena lagi memastikan.
"Iya bertiga, Queen! Katanya kamu udah akur sama Mami Friska?" Gabriel mengernyit pada Queena.
"Kata siapa?" Sergah Queena sebal.
"Ck! Masalah kamu sama Mami Friska itu sebenarnya apa? Kenapa kok kayaknya susah sekali akur," tanya Gabriel akhirnya.
"Iya sebelnya itu kenapa? Coba kamu cerita ke Papi! Kamu jelasin, biar Papi juga bisa ngomong ke Mami Friska dan Mami Friska bisa perbaikin sikapnya yang bikin kamu sebel itu."
"Pokoknya Queena sebel aja! Queena nggak suka punya mami sambung yang usianya cuma selisih enam tahu dari Queena!"
"Udah sikapnya kayak bocah, nggak mengayomi, nggak ada dewasa-dewasanya!"
"Kenapa, sih! Dulu Papi harus nikah sama Friska itu dan nggak nikah sama Aunty Kate saja!" Sergah Queena yang akhirnya mengeluarkan semua uneg-uneg di dalam hatinya.
"Kok jadi bawa-bawa Aunty Kate lagi? Papi kan nggak ada hubungan apa-apa sama Aunty Kate!"
"Iya harusnya ada apa-apa! Queena maunya punya mami sambung itu seperti aunty Kate!" Sergah Queena yang sudah sangat cemberut.
"Tapi saat ini mami sambung kamu itu mami Friska! Jadi terima saja suka atau tidak suka!" Gabriel mulai ikut kesal sekarang.
"Lagipula, kalau kamu itu mau sedikit saja akrab dengan mami Friska, kamu bakalan menemukan teman ngobrol yang asyik!"
"Coba buang jauh rasa benci kamu itu ke Mami Friska dan mulailah berteman akrab dengannya!" Cecar Gabriel lagi sebelum kemudian papi Queena itu bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Queen tidak akan berteman akrab dengan seorang mami bocah!" Sergah Queena yang hanya diabaikan oleh Gabriel.
Gabriel juga tidak tahu, kenapa putrinya jadi keras kepala begini.
****
Friska masih diam setelah Gabriel curhat panjang lebar tentang sikap Queena yang banyak berubah belakangan ini.
"Om, Friska boleh tanya satu hal, nggak?" Tanya Friska yang akhirnya buka suara.
__ADS_1
"Tanya aja!" Jawab Gabriel lirih.
"Om kenapa dulu milih nikahin Friska dan bukannya menjadikan Friska sebagai anak angkat Om Briel saja?"
"Sekarang kan kesannya kayak Friska itu yang udah bikin hubungan Om sama Queena jadi renggang," tanya Friska dengan raut wajah sendu.
"Takut khilaf aja," jawab Gabriel seraya tertawa kecil.
"Maksudnya?" Friska mengernyit bingung.
"Iya kan aku jatuh cinta pada pandangan pertama ke kamu, Fris! Kalau kamu aku jadiin anak angkat, trus aku malah khilaf gimana?"
"Jatuh cinta pada pandangan pertama? Emang kapan pandangan pertama kita?" Tanya Friska masih bingung.
"Waktu kamu tanya itu 'Om, butuh sugar baby, nggak?'," jawab Gabriel seraya nenirukan suara Friska saat menawarkan diri kala itu.
Friska langsung salah tingkah mendengar jawaban Gabriel.
"Iya, waktu itu kan iseng, Om! Sashi yang nyuruh," Friska menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tapi baguslah kamu mau aja pas disuruh Sashi. Kita jadi ketemu dan akhirnya nikah, deh!" Gabriel sudah mendekatkan wajahnya ke arah Friska dan sedikit mengerling nakal.
"Om belum mandi," Friska mengingatkan dan menahan dada Gabriel.
"Nggak kamu mandiin," Gabriel smakin genit pada Friska.
"Mesum!"
"Tapi kamu suka, kan?" Goda Gabriel seraya menaikturunkan alisnya.
"Apaan sih!" Friska memukul dada Gabriel dan wajah istri Gabriel itu sudah bersemu merah sekarang
"Ngomong-ngomong, aku punya sesuatu yang baru," Gabriel mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu menunjukkannya pada Friska.
"Ini apa, Om?" Tanya Friska bingung saat melihat bungkusan warna merah bergambar buah stroberi di pojoknya.
"Sarung ajaib!" Jawab Gabriel usil.
"Hah? Buat nyarungin apa?" Tanya Friska polos.
"Nyarungin itu. Biar nggak perlu cabut singkong lagi," jawab Gabriel seraya terkekeh.
"Kapan Om Briel cabut singkong emangnya? Kebun singkong aja nggak punya." Friska bertanya bingung dan Gabriel semakin tergelak.
"Itu kalau kita lagi itu kan pas mau keluar aku cabut. Itu namanya cabut singkong," jelas Gabriel disela-sela gelak tawanya.
"Oh, jadi singkong itu sebutan buat itunya Om Briel? Perasaan bentuknya nggak mirip singkong," Friska menggaruk kepalanya yang tak gatal dan Gabriel malah semakin tergelak dengan kepolosan Friska.
"Cobain, yuk! Hari ini rasa stroberi dulu, besok ganti duren atau pisang," ajak Gabriel selanjutnya.
"Udah kayak pasar buah aja, Om!" Celetuk Friska yang lagi-lagi membuat Gabriel tergelak.
Dasar Friska!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.