Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
SEHARUSNYA


__ADS_3

"Siang! Friska pulang, Bund!" Sapa Friska seraya mengetuk pintu rumah, lalu gadis itu duduk di bangku teras dan melepas sepatunya.


"Bunda!" Friska mengetuk pintu depan lagi karena tumben Bunda Laksmi tak kunjung membuka pintu depan.


Bunda Laksmi tidur apa, ya?


Friska mencoba untuk membuka gagang pintu depan saja dan rupanya dikunci juga. Gadis itu akhirnya menghela nafas dan kembali duduk di kursi teras, lalu mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa orderan sprei.


Masih tidak ada orderan!


"Huffft! Susahnya, cari uang," gumam Friska yang ganti membuka grup bakul sprei untuk melihat motif baru dan memasang iklan lagi di semua media sosialnya. Gadis itu masih asyik meng-upload beberapa foto saat akhirnya Bunda datang bersama Queena seraya menenteng banyak kantung belanja.


"Fris! Tumben sudah pulang!" Sapa Bunda Laksmi yang langsung membuat Queena buru-buru menyimpan ponselnya.


"Iya, Bund! Guru ada rapat. Jadi pulang cepat!" Jawab Friska seraya meraih kantong belanjaan dari tangan Bunda Laksmi.


"Habos borong belanjaan, Bund?" Tanya Friska berbasa-basi.


"Bahan kue, itu! Tiba-tiba banyak yang order sagu kejunya ibu," jawab Bu Laksmi.


"Beneran? Wah! Banjir orderan!" Friska ikut tersenyum senang. Sementara Bu Laksmi yang sedang membuka pintu depan tak sengaja melihat minuman kekinian yang tadi dibawa Friska.


"Itu yang beli minuman mahal siapa, Fris? Sudah dibilang jangan boros-boros--"


"Itu tadi ditraktir Sashi, Bund! Dia ulang tahun, jadi Friska dibeliin dua," jawab Friska sedikit mengarang.


"Yang satu sudah Friska minum, yang itu jatahnya Queena," lanjut Friska lagi seraya menatap ke arah Queena yang hanya diam sejak tadi dan enggan menatap pada Friska.


"Tumben ingat sama Queena," Bunda Laksmi sedikit menyindir.


"Iya kan Friska cuma berusaha jadi mami sambung yang baik buat Queena." Gumam Friska seraya memainkan tali tas belanjaan yang ia pegang.


"Itu, Queen! Dapat jatah minuman mahal!" Bunda Laksmi ganti berucap pada Queena.


"Kamu minum dulu sana! Sekalian istirahat! Belanjaannya taruh di meja saja!" Lanjut Bunda Laksmi lagi pada sang cucu.


"Makasih!" Ucap Queena masih tanpa menatap pada Friska. Namun hal sederhana itu sudah cukup untuk membuat Friska menyunggingkan sebuah senyuman.


"Sama-sama!" Jawab Friska lirih.


Queena meletakkan belanjaan Bunda Laksmi di meja teras,lalu mengambil minuman yang tadi dibawakan Friska dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara Friska lanjut membantu Bunda Laksmi memasukkan semua belanjaan ke dapur.


"Banyak peer nggak, Fris?" Tanya Bunda Laksmi sembari menata bahan-bahan kue di dapur.

__ADS_1


"Ada dua, Bund! Kenapa?" Friska balik bertanya.


"Kamu kerjakan dulu peer kamu kalau begitu. Biar nanti bisa lanjut bantuin Bunda bikin kue tanpa beban lagi," titah Bunda Laksmi pada menantunya tersebut.


"Oke, Bund! Friska ganti baju dan kerjain peer dulu!" Pamit Friska sebelum kemudian gadis itu keluar dari dapur dan langsung menuju ke kamarnya.


****


Hari sudah beranjak sore dan Gabriel pulang dengan wajah lumayan lesu. Pekerjaan di kantor menumpuk banyak karena beberapa pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Kate terpaksa Gabriel kerjakan setelah bos Gabriel itu pergi tak tahu rimbanya dan tak kembali lagi ke kantor sore ini.


Sepertinya Kate benar-benar ngambek pada Gabriel. Semoga Gabriel tak ditendang dari Steinberg Company setelah ini oleh Kate!


Eh, tapi Gabriel karyawan teladan. Jadi tidak mungkin Kate akan menendangnya, atau jadwal Kate akan berantakan nanti karena tak ada Gabriel di kantor.


Aroma wangi butter langsung menghinggapi indera penciuman Gabriel saat pria itu baru membuka pintu depan. Terdengar suara cekikikan dari dapur yang sepertinya itu adalah suara Friska dan Bunda Laksmi. Apa mereka membuat kue lagi?


"Sudah ada yang matang kuenya, Bund?" Tanya Gabriel saat baru tiba di dapur.


Suara tawa dari Friska langsung lenyap seketika setelah kedatangan Gabriel.


"Baru datang itu salam dulu, Briel! Bukannya langsung tanya kue sudah mateng."


"Kuenya mau dijual!" Omel Bunda Laksmi pada sang putra yang hanya meringis.


"Beli kalau mau! Ini dagangan! Lihat itu, Friska yang ngasih topping sama nata di toples sampai keringetan!" Kelakar Bu Laksmi seraya menunjuk ke arah Friska yang hanya diam merengut.


"Fris! Kenapa hanya diam dan merengut?" Tanya Bu Laksmi penuh selidik.


"Nggak apa-apa, Bund!" Jawab Friska bergumam yang kembali fokus menata kue ke dalam toples. Sekuat tenaga Friska menahan airmatanya agar tak jatuh mengingat siang tadi Gabriel yang hampir menamparnya di mall. Meskipun tidak jadi menampar tapi tetap saja, sikap Gabriel tadi menyakiti Friska.


"Fris, soal siang tadi kamu cuma salah paham," Gabriel akhirnya buka suara dan mendekati Friska. Pria itu juga memegang pundak Friska dan hendak menjelaskan tapi Friska menyentak dengan cepat.


"Kalian habis bertengkar?" Tanya Bunda Laksmi penuh selidik.


"Om Briel kencan sama Tante Kate!" Adu Friska pada Bunda Laksmi mendahului Gabriel.


"Bukan kencan! Tadi itu kami cuma makan siang bersama setelah dari booth pameran di atrium!"


"Kamu harusnya tanya dulu, Fris! Dan tidak asal melabrak Kate seperti tadi!" Sergah Gabriel berusaha meluruskan.


"Friska melabrak Kate?" Bunda Laksmi terlihat shock.


"Bunda juga belain Tante Kate! Tadi Om Briel juga mau nampar Friska pas di mall!" Friska meletakkan toples kue di tangannya dan bangkit berdiri, lalu meninggalkan dapur seraya berurai airmata.

__ADS_1


"Friska!" Gabriel hendak mengejar Friska, tapi dicegah Bu Laksmi.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi, Briel? Jelaskan dulu pada Bunda!" Cecar Bunda Laksmi merasa bingung.


Briel menyugar kasar rambutnya dan duduk di kursi ruang makan lalu menarik nafas frustasi.


"Briel ke mall bersama Kate karena sedang ada pameran di atrium. Lalu kami kelaparan, jadi kami mampir ke foodcourt untuk makan siang. Lali Friska tiba-tiba sudah ada di mall dan tanpa bertanya, Friska langsung menyiram kepala Kate dengan jus jeruk!" Beber Gabriel panjang lebar menceritakan kronologi kejadian siang ini.


"Kate marah?" Tebak Bunda Laksmi cepat.


"Gabriel tidak tahu! Kate langsung pergi dan tidak kembali ke kantor sampai sore," jawab Gabriel seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Friska benar-benar kekanakan! Seharusnya dia bertanya dulu dan tak perlu cemburuan seperti dia itu yang paling cantik saja!"


"Dia saja juga ganjen godain cowok-cowok di sekolahnya! Giliran lihat kamu makan siang dengan bosmu langsung mencak-mencak!" Cerocos Bunda Laksmi panjang lebar.


"Bunda tahu darimana Friska godain cowok-cowok di sekolahnya?" Tanya Gabriel menatap tak senang pada Bunda Laksmi.


"Dari cerita Queena!" Jawab Bunda Laksmi to the point.


"Masih belum terbukti! Tidak usah ikut-ikutan menuduh Friska, Bund!" Sergah Gabriel emosi.


"Bunda kira anaknya udah dewasa, gitu! Udah lurus mikirnya, tapi ternyata masih saja seperti bocah!" Cerocos Bunda Laksmi lagi.


"Ini lagi! Ngemas kue belum selesai sudah ditinggal!"


Gabriel kembali mengusap wajahnya penuh rasa frustasi mendengar cerocosan Bunda Laksmi yang sepertinya tak akan selesai dalam waktu dekat.


"Briel ke kamar dulu, Bund! Mau mandi!" Pamit Gabriel akhirnya hendak keluar dari dapur.


"Habis mandi jangan ngerem di kamar, ngelonin Friska! Nanti kalau Istrimu itu hamil, Bunda yang repot, jantungan, darah tinggi, stroke!"


"Kamu itu yang belajar tahan diri, Briel! Pokoknya jangan sampai Friska hamil!!" Pesan Bunda Laksmi penuh emosi yang hanya membuat Gabriel mendengus dan melanjutkan langkahnya.


Seseorang yang tadi menguping pembicaraan Gabriel dan Bunda Laksmi buru-buru bersembunyi saat Gabriel keluar dari dapur. Gadis itu berjongkok dan bersandar di samping lemari seraya berurai air mata sekarang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2