Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
PIL APA?


__ADS_3

"Om kenapa tangannya usil, sih?"


"Nanti Friska laporin ke polisi, lho!" Ancam Friska seraya meraih handuknya yang sudah kemana-mana dan dengan cepat memakainya kembali. Gadis itu mengabaikan tatapan aneh Gabriel kepadanya.


"Om lihat apa?" Tanya Friska menahan malu.


"Lihatin istriku, emang nggak boleh?" Gabriel sudah melangkah maju dan menghampiri Friska yang kini beringsut mundur. Friska terus melangkah mundur menghindari Gabriel yang semakin mendekat ke arahnya.


"Om-" Friska mengangkat kedua tangannya di depan dada dan menahan tubuh Gabriel agar tak semakin mendekat. Gadis itu juga memejamkan mata.


Mau mundur lagi juga sudah tidak bisa karena ada lemari di belakang Friska.


"Friska," panggil Gabriel lembut seraya meraih dagu Friska.


"Friska belum siap, Om!" Cicit Friska yang masih memejamkan matanya.


"Friska masih mau sekolah," cicit Friska lagi.


"Memangnya siapa yang menyuruhmu keluar dari sekolah?" Gabriel terkekeh.


"Om Briel! Kalau Om sama Friska itu, nanti Friska hamil-"


"Eh, tapi kata Bunda kalau minum obat itu Friska nggak akan hamil," celetuk Friska tiba-tiba yang kini sudah membuka kedua matanya.


"Obat itu apa?" Tanya Gabriel seraya mengernyit.


"Nggak tahu. Tadi Friska dikasih sama Bunda dan kata Bunda harus diminum teratur biar Friska nggak hamil. Nggak boleh lupa pokoknya," cerita Friska yang semakin membuat Gabriel bertanya-tanya.


"Kamu simpan pilnya?" Tanya Gabriel penuh selidik.


"Ya!" Friska sedikit mendorong Gabriel, lalu membenarkan handuknya yang sedikit turun dan berlari ke meja rias untuk mengambil sebuah blister obat. Gadis itu lanjut menunjukkannya pada Gabriel.


"Ini!"


Gabriel yang baru melihat bagian belakang blister obat tersebut langsung tahu itu obat apa.


"Sudah minum?" Tanya Gabriel memastikan.


"Belum! Kan Friska dan Om Briel belum itu. Setahu Friska kalau belum itu nggak bakal hamil juga meskipun nggak minum pil," ungkap Friska yang langsung membuat Gabriel mengangguk.


"Pinter!" Gabriel mengusap puncak kepala Friska.


"Udah, pilnya nggak usah kamu minum!" Gabriel membuang pil kontrasepsi tadi ke tempat sampah.


"Nanti Bunda marah, Om!" Friska hendak mengambilnya kembali namun dicegah oleh Gabriel.


"Bunda nggak akan marah kalau Bunda nggak tahu. Jangan bilang-bilang pilnya aku buang. Bilang saja udah kamu minum!" Pesan Gabriel pada Friska.


"Bohong berarti?" Kikik Friska yang kembali membenarkan handuknya yang nyaris melorot.


Ck!

__ADS_1


Gabriel sudah sangat gemas dan ingin menyingkirkan handuk itu segera, lalu mencecap setiap inchi tubuh Friska.


Sial!


"Om, kok bengong?" Teguran Friska langsung menyentak lamunan Gabriel.


"Enggak, kok! Mau mandi lagi, nggak?" Tanya Gabriel modus.


"Udah mandi masa mandi lagi?" Jawab Friska dengan ekpresi wajah lucu yang selalu bisa membuat Gabriel mengulas senyum.


"Biar makin wangi, to!" Ujar Gabriel masih modus.


"Tapi bukannya Om mau mandi?".


"Mandi bareng kamu," jawab Gabriel to the point yang langsung membuat Friska memekik.


"Apa?"


"Jangan teriak-teriak, ih!" Gabriel buru-buru membungkam mulut Friska.


"Om tadi ngomong apa? Mau mandi bareng Friska?" Friska menatap horor ke arah Gabriel.


"Iya apa masalahnya? Kan kita suami istri!" Jawab Gabriel mencari pembenaran.


"Tapi Friska kan malu, Om!" Cicit Friska yang wajahnya sudah bersemu merah.


Lagi!


"Mandi bareng, ya!" Bujuk Gabriel yang masih menggenggam tangan Friska.


"Mandi aja, kan? Nanti nggak lanjut itu?" Tanya Friska malu-malu.


"Enggak! Mandi aja!" Jawab Gabriel meyakinkan Friska yang akhirnya mengangguk.


"Jangan aneh-aneh, ya, Om! Friska kan masih kecil." Pinta Friska saat Gabriel menggandengnya masuk ke dalam kamar mandi. Tangan Friska yang lain sibuk memegangi handuk yang membalut tubuhnya.


"Apanya yang kecil?" Goda Gabriel berkelakar.


"Ya Friska!" Jawab Friska seraya merengut.


"Iya!" Kini Gabriel dan Friska sudah berada di dalam kamar mandi. Segera Gabriel menanggalkan bajunya satu persatu dan menyisakan boxer saja yang membalut bagian bawah tubuhnya.


"Kenapa merem-merem, Fris?" Tegur Gabriel seraya merengkuh kedua pundak Friska.


"Om nggak pakai baju soalnya." Jawab Friska mencicit sekaligus menahan malu.


"Iya kan mau mandi. Mana ada orang mandi pakai baju lengkap?" Gabriel terkekeh geli.


"Friska keluar aja, Om!" ujar Friska yang sudah malu setengah mati. Friska masih tak berani membuka matanya.


"Tadi katanya mau menemani mandi?" Nada bicara Gabriel sudah berubah menggoda.

__ADS_1


"Iya itu tadi. Sekarang Friska kedinginan dan mau pakai baju."


"Friska tadi juga udah mandi," Friska kembali mencari alasan.


"Kamu bantuin aku bentar nanti baru kamu boleh keluar, ya!" Gabriel akhirnya tak tahan lagi.


"Bantuin apa?" Suara tercekat di tenggorokan saat Gabriel sudah membawa tangannya ke sesuatu yang menonjol di dalam boxer pria itu.


"Om-" Friska merapatkan pejaman matanya.


"Nggak akan nggigit. Pegang dari dalam!" Gabriel membimbing tangan Friska masuk ke dalam boxernya lalu menyentuh sesuatu yang sudah terasa tegang di dalam sana.


"Kenapa besar sekali?" Gumam Friska yang tangannya masih meraba-raba milik Gabriel. Sementara Gabriel sudah memejamkan mata dan menikmati sentuhan tangan Friska yang sepertinya masih malu-malu.


"Om-" Friska membuka matanya sedikit dan mengintip pada Gabriel yang sepertinya menikmati sekali yang kini dilakukan Friska .


"Om, udah belum?" Tanya Friska yang tangannya masih memegang-megang milik Gabriel.


"Belum."


"Iya begitu! Gerakkan naik turun!" Gabriel membimbing tangan Friska agar bergerak ke atas dan ke bawah. Gabriel juga sudah menurunkan boxernya agar tak mengganggu pergerakan Friska.


"Hah!" Friska terlonjak kaget dan kembali merem saat melihat benda tegak panjang yang menyembul dari dalam boxer Gabriel.


"Terus, Fris!" Gabriel memberikan aba-aba pada tangan Friska agar bergerak lebih cepat. Bahkan pria itu juga menggenggam tangan Friska yang sedang menggenggam miliknya lalu menggerakkannya dengan cepat secara berulang-ulang.


"Arrgh!" Setelah sekitar sepuluh menit, Gabriel mulai mengerang.


"Om, tangan Friska pegel," keluh Friska yang tangannya masih dibimbing oleh Gabriel untuk....


"Arrrgh! Iya!" Erangan panjang Gabriel bersamaan dengan sesuatu yang tiba-tiba menyembur keluar membuat Friska kaget.


Friska mematung seraya membelalakkan kedua matanya saat akhirnya ia melihat milik Gabriel yang masih tegak dan terpampang nyata.


Jadi,


Itu adalah....


"Ada apa?" Tanya Gabriel pada Friska yang terlihat bengong.


"Itu milik Om? Kenapa bentuknya begitu?"


.


.


.


Trus maunya begimana?


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2