
"Beritahu alamat rumah Franklyn!" Gabriel berteriak marah di seberang telepon.
"Enggak!" Jawab Friska tegas.
"Pulang, Mas! Tidak usah cari masalah!" Perintah Friska pada Gabriel yang sepertinya masih dipenuhi amarah.
"Aku tidak akan pulang sebelum memberikan pelajaran pada Franklyn!"
"Perut Friska sakit, Mas!" Keluh Friska akhirnya yang masih berbaring di kamarnya. Meskipun sebenarnya sakit di perut Friska sudah mendingan.
"Sakit sekali? Apa kamu tadi lari-lari? Aku pulang sekarang lalu kita langsung ke dokter, ya!"
Tuut! Tuut!
Telepon terputus begitu saja dan akhirnya Friska bisa menarik nafas lega sekarang.
Tok tok tok!
Ketukan di pintu membuat Friska tersentak yang baru menarik nafas lega tersentak kaget. Friska turun perlahan dari atas tempat tidur dan segera membuka pintu.
"Queena!" Gumam Friska saat mendapati Queena berdiri di depan kamarnya.
"Mami baik-baik saja?" Tanya Queena yang wajahnya terlihat khawatir.
"Iya! Apa Bunda memanggil?" Tanya Friska khawatir.
"Tidak! Bunda masih sibuk di dapur," jawab Queena seraya menundukkan wajahnya.
"Queena hanya mau bilang terima kasih dan minta maaf atas semua sikap Queena pada mami selama ini," lanjut Queena sedikit canggung.
Friska tersenyum simpul.
"Iya."
"Akhirnya kamu tahu bagaimana sebenarnya Franklyn itu, kan?"
"Iya, Mi! Queena benar-benar menyesal karena waktu itu sudah menuduh mami yang bukan-bukan."
"Maaf!" Ucap Queena sekali lagi.
"Iya, udah Mami maafin." Friska sedikit canggung saat menyebut kata mami yang merujuk pada dirinya sendiri. Delapan belas tahun dan sudah jadi mami untuk Queena yang berusia dua belas tahun. Kalau dipikir-pikir lucu juga.
"Kenapa mami tersenyum sendiri?" Tanya Queena bingung."
"Hah?" Friska langsung salah tingkah.
"Nggak apa-apa! Berasa aneh saja kamu panggil mami. Jadi berasa tua," kekeh Friska seraya tergelak.
"Trus Queena harus panggil apa? Nggak mungkin panggil Kak, kan?" Queena ikut-ikutan tergelak.
"Yaudah panggil mami aja nggak apa-apa. Nanti lama-lama juga terbiasa," putus Friska akhirnya.
Queena langsung menghambur ke pelukan Friska dan dua gadis yang hanya selisih enam tahun tersebut sekarang berpelukan erat.
"Eheem! Udah rukun?" Tanya Gabriel yang rupanya sudah tiba di rumah.
"Papi! Kok udah balik?" Tanya Queen yang sudah melepaskan pelukan Friska.
"Mau nglabrak tapi nggak tahu rumahnya," cibir Friska seraya tertawa kecil.
__ADS_1
"Lah!" Queena ikut tertawa sekarang.
"Jelas-jelas kamu yang nyuruh pulang, Fris!" Geram Gabriel yang sudah melingkarkan lengannya ke pinggang Friska.
"Masih sakit? Ayo ke dokter!" Bisik Gabriel lembut seraya mengusap perut Friska.
"Udah sembuh!" Friska meringis pada Gabriel.
"Masuk kamar sana, Pi! Mesra-mesraan kok disini!" Gerutu Queena seraya berlalu ke arah dapur untuk lanjut membantu Bunda Laksmi.
"Queen kamu mau punya-"
"Mas!" Friska menginjak kaki Gabriel dengan cepat.
"Waduuuh! Sakit, Sayang!" Ringis Gabriel lebay.
"Makanya jangan ember!" Sungut Friska pada Gabriel.
"Iya, maaf!" Gabriel menciumi wajah Friska karena gemas.
"Eheem!" Deheman dari Ayah Yuda yang baru tiba di rumah membuat Friska dan Gabriel kaget.
"Ayah, sudah pulang?" Sapa Friska yang buru-buru melepaskan pelukam Gabriel. Berbeda dengan Gabriel yang langsung menepuk dahinya karena lupa menjemput Ayah Yuda ke stasiun.
Sudah sepekan terakhir Ayah Yuda ada kepentingan di luar kota dan malam ini ayah kandung Gabriel itu baru pulang.
"Ayah pulang naik apa? Maaf, Briel lupa jemput!" Ringis Gabriel minta maaf pada Ayah Yuda.
"Yaiya lupa! Sibuk bucinin Friska begitu!" Cibir Ayah Yuda yang langsung berlalu menuju ke dapur untuk melihat produksi kue.
"Opa sudah pulang?" Sapa Queena yang langsung memeluk Ayah Yuda.
"Lancar orderan kuenya?" Tanya Ayah Yuda seraya memeluk erat sang cucu.
"Kan udah ada tambahan tenaga dari Gabriel, Bund! Friska biar fokus belajar dulu sampai ujian!" Ujar Gabriel yang sudah ikut menyusul ke dapur. Friska ikut ke dapur juga dan membantu Queena mencetak adonan setelah terlebih dahulu mencuci tangan.
"Iya! Besok ada tambahan tenaga dari Ayah juga. Jadi semakin banyak bala bantuan," kekeh Bunda Laksmi yang langsung ditimpali oleh gelak tawa anggota keluarga lain.
"Orderan sprei kamu bagaimana, Fris? Lancar juga?" Ayah Yuda ganti bertanya pada Friska.
"Iya, Yah! Hasilnya sudah lumayan-"
"Ditabung, Fris! Jangan foya-foya jangan kebanyakan jajan!" Bunda Laksmi menyela sekaligus memberikan nasehat.
"Iya, Bunda! Ini juga Friska tabung, kok! Untuk nanti beli perlengkapan ba-" Friska tak jadi melanjutkan kalimatnya karena hampir keceplosan.
"Perlengkapan apa?" Bunda Laksmi mengernyit curiga.
"Perlengkapan bakingnya Bunda yang belum lengkap!" Jawab Friska cepat seraya meringis dan sedikit salah tingkah.
"Kok jadi bawa-bawa perlengkapan bakingnya Bunda? Itu kan urusannya Bunda! Uang kamu ya kamu pakai buat kebutuhan kamu sendiri dan nggak usah mikirin peralatan baking Bunda!"
"Kok aneh!" Cerocos Bunda Laksmi yang langsung mendapat teguran dari Queena.
"Oma ini! Dikasih perhatian sama anak mantu kok malah ngedumel! Bilang makasih, kek! Apa, kek! Ketus aja kata-katanya!" Cerocos Queena mengomeli Bunda Laksmi.
"Ck! Sekarang dibelain, ya!" Cibir Bunda Laksmi pada Queena.
"Maminya Queena! Ya Queena belain!" Celetuk Queena seraya merangkul pundak Friska.
__ADS_1
"Udah rukun ceritanya? Opa ketinggalan cerita apa, ya?" Tanya Ayah Yuda penasaran.
"Ketinggalan banyak, Yah!" Celetuk Gabriel cepat.
"Trus siapa ini yang mau cerita ke Ayah?" Tanya Ayah Yuda selanjutnya.
"Udah nggak usah dibahas! Penting Queena dan Mami Fris udah rukun sekarang!" Pungkas Queena sebelum kemudian semuanya kembali fokus ke produksi kue.
****
"Queena!" Panggil Lexi pada Queena yang baru tiba di sekolah.
Queena hanya acuh dan memilih duduk di bangku lain yang jauh dari Lexi.
"Queen! Kok duduk disini?" Tanya Lexi yang sudah menghampiri Queena.
"Suka-suka akulah!" Jawab Queena ketus.
"Kamu kenapa, sih? Kok ketus begitu?" Lexi ikut-ikutan bertanya dengan nada ketus.
"Nggak kenapa-kenapa! Malas aja punya teman yang ngajakin masuk lubang buaya!" Jawab Queena seraya memalingkan wajahnya dari Lexi.
"Kamu aja yang norak dan kampungan! Diajak enak sama Abang Franklyn malah teriak-teriak!" Cibir Lexi pada Queena.
"Kamu itu yang murahan dan abang kamu yang brengsek!" Queena balik memaki Lexi.
"Jaga mulut kamu itu!" Lexi menuding marah pada Queena.
"Makanya jauh-jauh sana dan nggak usah lagi sok dekat!" Usir Queena galak.
"Dasar norak!" Cibir Lexi sekali lagi sebelum gadis itu berlalu pergi. Queena tak menyahut dan hanya mendengus kesal.
****
Queena baru keluar dari kelas, saat beberapa siswa menatapnya dengan tatapan aneh, lalu beberapa dari mereka saling berbisik-bisik seolah sedang membicarakan Queena.
Ada apa?
"Queen, kamu dipanggil guru BK!" Ucao seorang siswi yang menghampiri Queena. Dan saat itulah, ekor mata Queena tak sengaja melihat foto dirinya yang tertempel di dinding sekolah. Foto saat malam sialan itu dimana ia hampir diperkosa oleh Franklyn, namun di foto itu malah ditulis "Open BO"
Queena mengambil foto itu dengan cepat dan membelalak tak percaya. Siapa orang jahat yang sudah menuduhnya sekeji ini?
"Ternyata diam-diam murahan!" Cibir seorang siswa yang melintas di dekat Queena.
"Perjam berapa, Queen?" Timpal siswa lain meledek Queena yang langsung mengambil semua foto dirinya yang tersebar hampir di seantero sekolah.
"Queena Alesha!" Panggil seorang guru BK saat Queena masih sibuk memunguti fotonya.
"Iya, Pak!"
"Ikut ke ruang BK!" Titah guru itu tegas dan Queena hanya bisa menurut pasrah. Queena yakin Lexi yang melakukan semua ini. Gadis itu ternyata sangat jahat! Seharusnya sudah sejak lama Queena menjauhi Lexi seperti nasehat papi.
Ya, andai Queena mendengarkan Papi Gabriel sejak lama!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.