
Queena masih celingukan di depan sekolah menunggu angkot lewat, saat sebuah mobil sport warna hitam berhenti di depan gadis itu.
Kaca jendela depan di buka dan seseorang yang duduk di balik kemudi langsung membuat Queena mengulas senyum.
"Abang Franklyn!" Gumam Queena masih sambil tersenyum.
"Tapi Lexi kan tidak masuk, Bang!"lanjut Queena mengingatkan Franklyn.
"Iya, Lexi sakit tadi," ujar Franklyn membenarkan.
"Trus ini mau jemput siapa?" Tanya Queena kepo.
Dan sedikit berharap sebenarnya.
Mungkinkah Abang Franklyn mau menjemput Queena?
Ya ampun!
Ya ampun!
"Jemput kamu," jawab Franklyn sesuai harapan Queena.
"Ayo masuk!" Ajak Franklyn selanjutnya seraya mengendikkan dagu ke jok di sebelahnya.
Queena tak membuang waktu dan segera masuk ke dalam mobil Franklyn.
"Laper, nggak? Kita mampir makan sebentar, ya!" Tawar Franklyn setelah mobil melaju meninggalkan sekolah. Queena yang ditanya, kangsung menjawab iya tanpa sedikitpun ragu.
"Mau makan apa?" Tanya Franklyn lagi.
"Terserah Abang saja! Queena apa aja doyan, kok!" Jawab Queena yang tak berhenti mengulas senyum.
"Baiklah!" Franklyn akhirnya mengemudikan mobilnya masuk ke sebuah restoran cepat saji.
****
"Lexi sakit apa, Bang?" Tanya Queena membuka obrolan sekaligus berbasa-basi.
"Sakit manja!" Jawab Franklyn asal sekaligus terkekeh.
"Serius, Bang!" Queena memukul lengan Franklyn yang duduk di sebelahnya.
"Iya, serius! Cuma flu aja tapi manjanya luar biasa," jelas Franklyn kembali terkekeh sebelum kemudian pemuda itu menyuapkan nasi dan potongan ayam ke dalam mulutnya.
"Abang Franklyn ngajak Queena makan berdua di resto begini,nggak ada yang marah?" Tanya Queena lagi berbasa-basi.
__ADS_1
"Siapa yang marah?" Franklyn menyedot minuman colanya.
"Pacar abang," sahut Queena menerka-nerka.
"Masih jomblo dan sedang berusaha pedekate ini," jawab Franklyn terang-terangan yang langsung membuat wajah Queena bersemu merah.
Ya ampun!
Maksudnya pedekate bagaimana?
Pedekate pada Queena, begitu?
"Sekalian aku mau tanya sama kamu, Queen,"
"Tanya apa?" Sergah Queena tak sabar. Wajah gadis dua belas tahun itu sudah berbinar tak sabar.
"Kamu punya nomor kontaknya Friska, nggak? Kalian kan tinggal serumah."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, seperti itulah gambaran hati Queena saat ini saat Franklyn malah bertanya mengenai nomor kontak Friska dan bukan nomor kontak Queena sendiri.
"Queen! Halo! Kok bengong?" Franklyn menggerakkan tangannya di depan wajah Queena yang terlihat melamun.
Atau shock lebih tepatnya!
"Nggak bengong, kok!" Nada bicara Queen sudah berubah ketus sekarang.
"Nggak ada!" Jawab Queena cepat dengan nada sedikit galak. Queena sedang kesal sekarang.
"Weiits! Biasa aja, Queen! Kok tiba-tiba nge-gas?" Tanya Franklyn heran.
Astaga!
Apa semua pria memang tak peka seperti Franklyn ini?
"Udah, ah! Aku mau pulang!" Queena sudah bangkit berdiri dan meraih tasnya.
"Makanan kamu belum habis, Queen! Nanti pulangnya aku antar!" Seru Franklyn yang hanya diabaikan oleh Queena.
"Queen!" Panggil Franklyn lagi, namun Queena tetap acuh dan gadis itu sudah menghilang di pintu utama resto.
Dasar gadis aneh!
****
"Sedikit-sedikit naburin kejunya, Fris! Jangan barbar begitu!" Tegur Bunda Laksmi pada Friska yang tengah membantunya membuat kue kering sagu keju.
__ADS_1
"Kan makin banyak makin enak, Bund!" Jawab Friska melontarkan alasan.
"Iya, tapi nanti yang di belakang nggak kebagian topping, jadi plontos!" Terang Bunda Laksmi yang malah membuat Friska tergelak.
"Apa yang lucu, Fris? Kok ngakak begitu?" Tanya Bunda Laksmi menatap heran pada Friska.
"Si plontos, Bund! Mengingatkan Friska pada sesuatu," jawab Friska seraya nyengir.
"Ck! Pikiranmu itu!" Bunda Laksmi mengacak rambut Friska yang masih lanjut memberikan topping keju pada kue sagu keju yang sudah dicetak.
"Ngomong-ngomong, Queena belum pulang, Bund? Ada ekstrakurikuler?" Tanya Friska selanjutnya mengalihkan pembicaraan.
"Katanya tadi begitu," ujar Bunda Laksmi bersamaan dengan Queena yang ternyata sudah tiba di rumah.
Panjang umur sekali!
"Sudah pulang, Queen!" Sapa Bunda Laksmi pada Queena yang terlihat merengut.
"Kenapa merengut begitu?" Tanya Bunda Laksmi lagi.
Queena tak menjawab dan hanya mendelik ke arah Friska, sebelum kemudian gadis dua belas tahun itu masuk ke kamarnya.
"Friska salah apalagi, Bund? Perasaan Friska nggak tanya apa-apa," gumam Friska merasa bingung karena tadi Queena tiba-tiba menatapnya dengan penuh kebencian.
"Nggak tahu! Anak itu jadi sering uring-uringan belakangan ini," Bunda Laksmi juga tak habis pikir.
"PMS mungkin, Bund," Pendapat Friska menerka-nerka.
"Oh iya! Ngomong-ngomong soal PMS, haid kamu masih teratur, kan Fris? Obat yang bunda kasih juga rajin kamu minum, kan?" Cecar Bunda Laksmi pada sang menantu.
"Iya, Bund! Yang bulan ini baru selesai dua hari lalu," terang Friska yang langsung membuat Bunda Laksmi bernafas lega.
"Pokoknya dijaga terus! Jangan hamil dulu sebelum lulus!" Ujar Bunda Laksmi lagi sebelum wanita paruh baya itu bangkit berdiri dan membawa loyang kue ke depan oven.
"Sekalian yang dua loyang bawa kemari, Fris! Sudah selesai yang ngasih topping, kan?" Lanjut Bunda Laksmi memberikan perintah pada Friska.
"Sedikit lagi, Bund!" Jawab Friska seraya menaburkan keju ke dua kue terakhir di loyang.
"Pas! Yes!" Gumam Friska saat melihat parutan keju yang juga sudah habis. Friska membawa dua loyang kue ke depan oven sesuai perintah dari Bunda Laksmi.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.