
"Sakit?" Tanya Gabriel yang sudah mulai menggerakkan pinggulnya secara intens.
"Dikit," jawab Friska lirih sebelum kemudian istri Gabriel itu menutup mulutnya sendiri memakai telapak tangan. Friska sedang meredam des*hannya sendiri agar tak terdengar dari luar.
"Sepertinya kita harus menyewa kamar hotel agar kau bebas berteriak," Gabriel sedikit menggoda Friska yang raut wajahnya tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.
"Emmmmhhh!" Friska menggeram, menahan rasa hangat dan nikmat yang baru saja Gabriel berikan.
"Sedikit ngos-ngosan," ucap Gabriel yang sudah berganti posisi menjadi di belakang Friska. Pasangan suami istri itu masih sama-sama naked, dan kini Gabriel sedang mendekap Friska dari belakang.
"Mau lagi?" Tanya Gabriel yang tangannya sudah kembali memainkan puncak dari gundukan kenyal Friska. Sedangkan Friska sendirian masih sibuk menarik selimut untuk menutupi tubuhnya serta tubuh Gabriel.
"Udah, Mas! Geli!" Friska sedikit menggeliat dan kembali melenguh karena permainan jari Gabriel di puncak gunung kembarnya.
"Kau masih bergairah!" Bisik Gabriel seraya mencium leher Friska, lalu meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
"Enggak!" Kilah Friska yang masih menggeliat.
"Iya! Lihat ini! Ujungnya masih mengeras." Gabriel membimbing tangan Friska untuk menyentuh dan memainkan puncak pay*daranya sendiri. Rasanya benar-benar aneh.
"Masih tegang dan mengeras, kan? Kau masih menginginkannya," ujar Gabriel lagi sok tahu.
__ADS_1
"Enggak, Mas! Ini kan mengeras gara-gara Mas pegang dan Mas mainkan sejak tadi. Jadinya ya begitu," wajah Friska sudah kembali bersemu merah.
"Hmmm, begitu, ya?" Gabriel sedikit menurunkan selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya, lalu pria itu meraih satu kaki Friska dan mengangkatnya.
"Mas mau ngapa-" Friska belum menyelesaikan kalimatnya saat Gabriel sudah kembali menyentak masuk ke dalam miliknya.
Sebuah lenguhan langsung lolos dari bibir Friska yang sepertinya menikmati sekali.
"Semakin terasa menjepit pakai posisi ini," Gabriel menggeram dan tangannya sudah aktif memainkan kedua buah dada Friska.
"Ini mau berapa ronde lagi, Mas?" Tanya Friska di sela-sela lenguhannya karena Gabriel yang sudah mulai bergerak perlahan tetapi pasti.
"Ini yang terakhir," bisik Gabriel seraya mengendus aroma tubuh Friska melalui tengkuk istrinya tersebut. Tak lupa, Gabriel juga kembali menambahkan beberapa tanda kepemilikan di tengkuk dan leher Friska.
"Mereka menendang," ucap Friska memberitahu Gabriel yang masih bergerak dengan intens di posisi spooning.
"Ya! Tendangannya kuat sekali. Sepertinya ini Gabriel junior," ujar Gabriel menerka-nerka dan Friska hanya tertawa kecil.
"Ngantuk, Mas! Masih lamakah?" Keluh Friska yang sudah menguap lebar.
"Masa ngantuk?" Tanya Gabriel heran.
__ADS_1
"Iya ini mata Friska tinggal lima watt," ujar Friska sedikit lebay.
"Iya, aku selesaikan sekarang biar kamu bisa segera bobok, ya!" Gabriel mempercepat gerakannya sambil bibirnya tak berhenti mencecap area tengkuk Friska.
"Sedikit lagi!"
Tangan Friska merem*s sprei saat merasakan milik Gabriel yang berkedut dan akhirnya menyemburkan sesuatu yang terasa hangat ke dalam rahimnya.
Gabriel mengecup puncak kepala Friska dan mengeratkan dekapannya pada istri kecilnya yang tercinta tersebut.
"I love you, Friska!" Bisik Gabriel mesra.
"I love you too, Mas Briel sayang!" Balas Friska sebelum kemudian istri Gabriel itu memejamkan kedua matanya karena sudah sangat mengantuk.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.