Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
LEMBUR?


__ADS_3

"Om, Kita tadi tidak jadi membelikan es krim untuk Queena?" Tanya Friska mengingatkan Gabriel saat motor Gabriel berhenti di lampu merah.


"Oh, iya!" Gabriel mengetuk keningnya sendiri karena lupa. Semua gara-gara Jimmy genit yang sok-sokan perhatian pada Friska tadi!


Huh!


Gabriel merasa cemburu lagi sekarang!


"Nanti kita belikan martabak manis saja untuk Queena!" Putus Gabriel akhirnya.


"Kan sakit gigi, Om! Kok dibelikan yang manis-manis?" Tanya Friska lagi yang masih ingat saja karangan Gabriel soal Queena yang sakit gigi. Padahal Queena tak benar-benar sakit gigi.


"Martabak telur kalau begitu," sahut Gabriel setelah mendengus kesal. Gabriel masih kesal pada Jimmy!


"Friska boleh minta martabak manis rasa coklat keju pisang, Om?" Tanya Friska lagi dengan nada yang terdengar merayu.


"Memangnya belum kenyang? Kan tadi sidah makan dua cup es krim ditambah croffle," Gabriel balik bertanya heran.


"Belum, Om! Friska kan makannya banyak," jawab Friska seraya meringis.


"Kalau aku ajak lembur sampai pagi kuat juga berarti?" Tanya Gabriel usil seraya mengusap tangan Friska yang melingkar di pinggangnya.


"Lembur ngerjain pekerjaan Om, maksudnya? Peer Friska juga belum Friska kerjain, Om! Nanti kita kerjakan bareng-bareng sambil makan martabak manis, ya!" Cerocos Friska yang benar-benar membuat Gabriel ingin garuk-garuk aspal.


Bukan lembur itu, Friska!


Lembur yang lain!


"Peernya dikit, kan? Nanti habis ngerjain peer lanjut lembur yang lain, ya!" Ujar Gabriel lagi yang tentu saja malah membuat Friska bingung.


"Lembur yang lain? Maksudnya lembur apa?" Tanya Friska bingung.


"Nanti aku ajari, ya!" Gabriel kembali mengusap tangan Friska bersamaan dengan lampu yang akhirnya berubah hijau. Lama sekali lampu lalu lintas ini. Apa rusak atau disabotase?


"Beliin martabak manis dulu, ya, Om!" Pinta Friska lagi.


"Iya!" Jawab Gabriel santai seraya membelokkan motornya kesebuah gerobak martabak yang kebetulan mereka lewati.


****


Gabriel membuka pintu kamar Queena perlahan dan putrinya itu memang sudah terlelap seperti kata Bunda Laksmi tadi.


Padahal Gabriel pulangnya juga belum terlalu malam, tapi tumben Queena sudah tidur. Mungkin kelelahan mengerjakan tugas.

__ADS_1


Gabriel mendekat ke arah tempat tidur Queena dan membenarkan selimut sang putri. Gabriel juga mengambil bingkai foto yang kini tengah dipeluk Queena. Ada foto Hana di bingkai foto tersebut yang langsung membuat Gabriel menghela nafas dan duduk di tepi tempat tidur Queena.


"Hai! Bagaimana kabarmu, Sayang?" Gabriel mengusap foto Hana sambil menyapanya. Cinta Gabriel pada Hana memang datang terlambat. Mungkin hal itulah yang membuat Gabriel memilih sendiri selama enam tahun kemarin setelah kepergian Hana. Masih ada sesal di hati Gabriel karena dulu dirinya yang hanya menjadikan Hana ssbagai pelarian atas cintanya yang tak pernah sampai pada Ayunda.


"Bang, ini Ayunda. Pacar Brian," ucap Gabrian yang langsung membuat Gabriel mendongakkan wajahnya dan merasa terkejut. Pun dengan Ayunda yang terlihat terkejut saat mendapati wajah Gabriel yang ternyata serupa dengan Gabrian.


"Dor! Kaget, ya?" Goda Gabrian yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Ayunda.


"Eh." Ayunda sedikit tersentak sebelum kemudian gadis itu mengulas senyum.


"Kalian kembar, ya?" Tanya Ayunda menatap bergantian pada Gabriel dan Gabrian.


"Iya! Hanya selisih lima menit kata bunda. Kaget, ya?" Goda Gabrian lagi.


"Iya, nggak nyangka aja," gumam Ayunda seraya tersenyum.


"Tapi bisa bedain, kan?" Gantian Gabriel yang bertanya pada Ayunda.


"Bisalah, Bang! Brian kan lebih ganteng dari Abang!" Bukan Ayunda, melainkan Gabrian yang menjawab pertanyaan Gabriel dengan nada sombong.


"Pacarmu masih bingung!" Ucap Gabriel seraya bangkit dari duduknya dan memasukkan buku ke dalam tas.


"Aku duluan!" Pamit Gabriel selanjutnya seraya berlalu meninggalkan Gabrian dan Ayunda. Hati Gabriel sedang sakit dan serasa diiris sembilu karena gadis yang sejak lama ia sukai ternyata malah jadian dengan adiknya sendiri.


"Briel! Ikut hang out sore nanti, yuk!" Ajak seorang teman Gabriseraya menepuk punggung pemuda itu.


"Hang out kemana?" Tanya Gabriel yang tumben merasa tertarik. Biasanya Gabriel selalu menghindari keluar malam meskipun sebenarnya Bunda Laksmi dan Ayah Yuda tak mempermasalahkannya asal Gabriel pulang sebelum tengah malam.


"Bersenang-senang pokoknya! Ikut, ya!"


Gabriel langsung mengangguk tanpa pikir panjang.


"Okelah! Jangan lupa menjemputku nanti!" Pesan Gabriel.


Dua pemuda itu melakukan tos sebelum berpisah dan berjanji untuk kembali bertemu malam nanti.


****


"Coba ini!" Teman Gabriel menyodorkan segelas minuman berwarna bening ke hadapan Gabriel yang hanya mdlamun sejak tadi, seolah tak merasa terganggu dengan dentuman musik di dalam.kelab malam yang begitu memekakkan telinga.


"Ini apa? Air mineral?" Kelakar Gabriel yang langsung menenggak cairan di gelas tadi dalam sekali teguk. Tenggorokan Gabriel langsng terasa terbakar sekarang.


Teman-teman Gabriel sontak tergelak melihat Gabriel yang memang baru pertama menenggak cairan laknat tersebut.

__ADS_1


"Enak, kan! Tambah lagi!" Teman-teman Gabriel menuang minuman keras lagi ke gelas Gabriel.


"Sudah!" Tolak Gabriel yang langsung merasakan pusing di kepalanya.


Sial!


"Dasar baj*ngan!" Teriakan seorang gadis yang sepertinya sedang bertengkar dengan pacarnya membuat perhatian Gabriel sedikit teralihkan.


"Pergi jauh dan jangan menampakkan lagi wajah brengsekmu itu di depanku! Pengkhianat!" Umpat gadis itu seraya menyebtaj berulang kali tangan seorang pria yang terus saja mengejarnya. Gabriel bangkit dari duduknya dan menghampiri pria brengsek tak tahu diri itu.


"Jangan mengganggunya lagi!" Gertak Gabriel seraya mendelik ke arah pria brengsek tadi.


"Kau siapa memangnya?" Tanya pria itu meremehkan.


"Aku pacar barunya!" Jawab Gabriel yang sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul pria brengsek itu.


"Ck!" Pria itu hanya berdecak dan segera berbalik meninggalkan Gabriel dan gadis tadi.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Gabriel pada gadis bergaun kunyit tadi.


"Ya. Aku baik-baik saja," jawab Gadis tersebut.


"Ngomong-ngomong, aku Briel!" Gabriel memperkenalkan diri sambil sedikit sempoyongan.


"Hana!" Jawab gadis tadi yang ternyata bernama Hana.


"Sedang apa disini?" Gabriel sudah kembali duduk bersama Hana dan menyodorkan minuman pada gadis itu.


"Menghilangkan stress," jawab Hana sebelum meneguk minuman yang disodorkan Gabriel. Dua orang itu langsung terlibat obrolan karena merasa nyambung. Dan mereka juga terus minum tanpa peduli sudah habis berapa gelas.


Menjelang tengah malam, Gabriel dan Hana meninggalkan kelab malam naik taksi dan entah menuju kemana.


.


.


.


Maaf baru UP.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2