Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
TITIK TERANG


__ADS_3

Sashi masih berdiri di dekat pos satpam di depan sekolah seraya melamun dan sesekali mengedarkan pandangannya ke jalan, menunggu Abang Jimmy datang. Saat mendongak ke atas tatapan mata Sashi tertumbuk pada kamera CCTV di atas pos satpam yang sepertinya masih baru.


Tapi sejak kapan ada CCTV di atas pos satpam sekolah?


Perasaan dulu tidak ada!


Sashi menatap ke arah CCTV lalu ganti ke bangku taman dimana Friska pernah diganggu oleh Franklyn dan berakhir dengan Om Briel yang masuk penjara. Berulang-ulang Sashi memperhatikan arah CCTV tersebut dan sepertinya memang mengarah ke bangku taman yang sekarang masih diduduki oleh beberapa siswa yang juga menunggu jemputan.


Tunggu!


Saat perkelahian Franklyn dan Om Briel bulan kemarin CCTV itu sudah ada belum, ya?


Sashi membatin dan mencoba menerka-nerka.


Sashi akhirnya mengayunkan langkahnya ke pos satpam untuk menemui satpam sekolah sekaligus bertanya sejak kapan ada CCTV di atas pos satpam.


"Siang, Pak!" Sapa Sashi pada pak Satpam.


"Siang! Belum dijemput?" Pak satpam berbasa-basi pada Sashi.


"Belum, Pak! Sepertinya abang saya lupa jemput," Sashi sedikit berkelakar.


"Ngomong-ngomong, sejak kapan bapak punya mata ketiga?" Tanya Sashi seraya menunjuk ke CCTV di atas pos satpam.


"Sudah sekitar dua bulan! Tidak sadar kalau selama ini diawasi, ya!" Kelakar pak Satpam yang malah mengajak Sashi bercanda.


"Udah lama juga! Kok nggak nyadar, ya?" Sashi menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ada apa?" Tanya Pak Satpam penuh selidik.


"Bisa lihat rekaman bulan kemarin tidak, Pak?" Tanya Sashi dengan nada sedikit merayu.


"Mau memata-matai siapa?" Tanya pak Satpam penuh selidik.


"Mau mencari barang bukti sebenarnya, Pak!" Jawab Sashi jujur seraya menyelidik.


"Bapak tahu teman saya yang sering pulang bareng itu, kan?"


"Si Friska?" Tebak pak satpam cepat.


"Nah itu!"


"Udah lama nggak kelihatan anaknya. Kamu umpetin dimana?" tanya Pak Satpam lagi menyelidik.


"Saya kantongin, Pak! Mau lihat?" Sashi menjawab dengan candaan dan Pak Satpam tertawa kecil.


"Ehem!" Sashi berdehem sebelun lanjut bertanya.


"Jadi begini, Pak! Om nya Friska baru saja dituduh melakukan penganiayaan pada sultan blasteran--"

__ADS_1


"Sultan blasteran?" Pak Satpam mengernyit bingung.


"Franklyn, Pak!" Sashi mengoreksi.


"Oh, yang video itu, ya? Jadi itu omnya Friska?" Tanya Pak Satpam yang ternyata up to date.


"Nah itu! Itu videonya sudah diedit, Pak! Om nya Friska jadi dipenjara sekarang karena fitnah itu!" Cerita Sashi sedikit lebay.


"Jadi kamu mau membebaskan Om-nya Friska begitu?" Tebak Pak Satpam.


"Iya kalau bisa kenapa enggak, Pak? Friska kan yatim piatu dan omnya itu tulang punggung keluarga. Masa iya Bapak nggak iba?" Nada bicara Sashi masih lebay.


"Memang kejadiannya itu di sibelah mana? Yakin terekam CCTV?" Tanya Pak Satpam seraya mengendikkan dagunya ke arah CCTV.


"Ya coba dilihat dulu, Pak! Toh bapak juga nggak 24 jam melototin CCTV, kan?" Ujar Sashi yang selalu punya alasan.


"Iya! Iya! Ayo masuk!" Pak satpam mengajak Sashi masuk ke dalam kantor satpam. Ada satu layar monitor kecil yang menunjukkan gambar dari CCTV di atas pos satpam.


"Tanggal berapa kejadiannya?" Tanya pak Satpam.


"Berapa ya?" Sashi tampak mengingat-ingat sebelum kemudian gadis itu membuka ponselnya dan membuka riwayat chatnya bersama Friska.


"Tanggal dua puluh bulan kemarin, Pak!" Ujar Sashi cepat setelah melihat riwayat chatnya.


"Siang, ya?" Pak satpam mempercepat rekaman CCTV. Hingga kemudian terlihat mobil hitam Franklyn yang berhenti di dekat bangku taman.


"Pak bisa agak digedein videonya?" Tanya Sashi yang matanya hampir juling melihat video rekaman yang terlihat jauh dan kecil. Pak Satpam sedikit membesarkan gambar di video.


Namun sesaat kemudian, terlihat Franklyn yang memaksa Friska untuk masuk ke mobilnya.


"Dia mau nyulik Friska, ya?" Celetuk Pak Satpam yang turut menyaksikan video tersebut. Sashi tak menjawab dan masih fokus melihat video.


Saat Franklyn hampir berhasil memaksa Friska masuk ke mobil, seseorang terlihat datang menarik Franklyn lalu terjadilah adu jotos.


"Itu pasti om Briel!" Gumam Sashi lagi penuh keyakinan. Jelas sudah, kalau Om Briel benar-benar hanya ingin menyelamatkan Friska dan tak ada maksud menganiaya Franklyn!


"Pak! Saya bisa minta videonya ini?" Ujar Sashi pada Pak Satpam yang langsung terbengong-bengong.


"Rekam saja pakai ponsel!" Pak Satpam memberikan sebuah ide, setelah kebingungan beberapa saat.


"Iya, juga, ya!"


"Tapi apa kelihatan, Pak?" Tanya Sashi ragu. Sashi mulai merekam gambar kecil nan buram tersebut memakai ponsel saat tiba-tiba ponsel gadis itu berdering.


"Halo, Bang!" Sapa Sashi pada seseorang di seberang telepon yang ternyata Abang Jimmy.


"Kamu dimana? Kok nggak ada di depan sekolah? Udah pulang?"


"Abang tahu cara ngambil potongan video di rekaman CCTV?" Tanya Sashi tak nyambung dengan pertanyaan abang Jimmy.

__ADS_1


"Mau ngambil video apa memangnya?"


"Video kebenaran tentang kasus Om Briel, Bang!" Jawab Sashi lebay.


"Memang kamu dimana sekarang?"


"Pos satpam! Abang kesini, gih!" Perintah Sashi pada Abang Jimmy.


Tak berselang lama, Abang Jimmy sudah menyusul Sashi masuk ke dalam pos satpam.


****


Queena keluar dari sekolah masih tanoa semangat. Sudah sebulan lebih setrlah kaburnya Friska dari rumah dan belum ada kabar mengenai keberadaan Friska. Bunda Laksmi bahkan sudah dua kali jatuh sakit karena memikirkan Friska yang tengah mengandung tapi malah pergi dari rumah dan sekarang entah berada di mana.


"Mami Fris kemana, sih?" Gumam Queena dengan raut sendu. Queena duduk di halte depan sekolah sembari menunggu angkutan umum yang biasa ia naiki melintas. Gadis itu masih tenggelam dalam lamunannya, saat sebuah mobil berhenti di depan halte.


Queena tak terlalu memperhatikan, sampai seseorang yang keluar dari dalam mobil membuat Queena buru-buru bangkit dari duduknya.


"Lexi?" Queena menatap tak percaya pada Lexi yang terlihat berantakan.


"Ayo ikut!" Perintah Lexi seraya berusaha meraih tangan Queena. Namun Queena cepat-cepat menyentak tangan mantan temannya tersebut.


"Nggak mau!"


"Ayo aku antar pulang!" Paksa Lexi sambil terus berusaha meraih lengan Queena yang terus beringsut mundur.


"Aku bisa pulang sendiri." Queena kembali menyentak tangan Lexi yang berhasil mencekalnya.


Queena bergegas pergi dari halte dan meninggalkan Lexi yang entah mengapa tiba-tiba memaksa Queena untuk ikut dengannya.


"Queena! Jangan kabur kamu!" Gertak Lexi yang sudah kembali naik mobil, lalu mengikuti Queena yang berlari di sepanjang trotoar demi menghindari Lexi. Sepertinya Lexi juga bersama seseorang di dalam mobilnya. Mungkinkah itu pacar Lexi? Atau jangan-jangan itu Si Franklyn baj*ngan yang hendak memperkosa Queena lagi.


Queena terus berlari saat kemudian gadis itu malah tersandung dan jatuh tersungkur.


"Aduh!" Queena mengaduh dan berusaha bangun. Namun mobil Lexi sudah berhenti di dekatnya. Dan tepat saat pintu mobil dibuka, sebuah truk kontainer yang hilang kendali tiba-tiba melibas mobil warna merah Lexi tadi hingga terseret belasan meter, tepat di depan Queena.


Queena yang masih terduduk di tempatnya membelalak tak percaya dan merasa shock karena kejadiannya begitu cepat dan tepat di depan matanya. Tapi Queena sama sekali tak terluka apalagi tersenggol truk yang kini sudah berhenti setelah menabrak beberapa mobil, termasuk mobil Lexi dan terakhir menabrak tiang jembatan penyeberangan orang.


Queena masih mematung di tempatnya saat orang-orang berlarian ke lokasi kecelakaan beruntun tersebut, sebelum kemudian semua hal di sekitar Queena jadi gelap dan Queena jatuh pingsan di trotoar jalan.


.


.


.


Auto mbayangin film Final Destination 🙈🙈


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2