
Gabriel turun dari mobil dan berjalan cepat menuju ke UKS sekolah yang berada di sekolah Friska. Bapak satu anak itu tentu saja masih ingat letaknya karena dulu ia juga pernah berswkolah di sekolah ini.
"Friska!" Gabriel langsung mendorong pintu UKS dan merangsek masuk, saat pria itu mendapati Friska yang masih berbaring, namun kedua matanya sudah terbuka.
Friska sudah sadar dari pingsan ternyata.
Ada juga Sashi di ruangan tersebut dan seorang siswa laki-laki yang duduk di pojokan UKS seraya bermain ponsel.
Siapa lagi itu!
Semoga bukan pacar simpanan Friska di sekolah!
Kemarin padahal sudah hampir kencan dengan Jimmy, masa iya sekarang Friska juga punya pacar lain di sekolah?
Udah nggak perawan saja kok centil sekali!
"Eh, Om Briel sudah datang." Sashi yang sudah selesai membantu Friska minum teh hangat segera beranjak dari duduknya untuk memberikan ruang pada suami Friska itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Briel seraya memeriksa suhu tinih Friska. Tidak demam padahal, tapi wajahnya pucat sekali.
"Nggak tahu! Kepala Friska pusing, Om!" Jawab Friska lirih seraya memegangi kepalanya.
"Tadi dia pingsan di pinggir lapangan basket, Om!" Timpal siswa laki-laki di pojokan tadi seolah sedang memberikan info pada Gabriel. Bicara pada orang tua, tapi matanya juga fokus ke ponsel. Dasar tidak sopan!
"Kamu siapa?" Tanya Gabriel tegas pada siswa tak sopan itu.
"Oh, saya Franklyn, Om!" Franklyn bangkit dari duduknya dan memperkenalkan diri pada Om Briel tapi matanya tetap melihat ke ponsel sesekali. Sepertinya sedang main game online.
Dasar bocah jaman now!
"Suruh keluar aja, Om! Friska nggak suka dia disini," rengek Friska pada Gabriel.
"Siapa? Franklyn itu?" Tanya Gabriel lantang. Friska langsung mengangguk, sedangkan Franklyn yang disebut-sebut namanya hanya mengangkat kepalanya.
"Franklyn kenapa, ya, Om?" Tanya pemuda itu cengo.
"Keluar dari sini!" Usir Gabriel kesal pada pemuda gamer sialan bernama Franklyn itu.
"Tapi saya yang sudah menolong Friska, Om! Dan saran saya, sebaiknya Friska itu dibawa ke rumah sakit!"
"Saya bawa mobil dan bisa mengantar Friska ke rumah sakit, Om!" Cerocos Franklyn seolah sedang pamer kalau dia siswa tajir di sekolah ini yang pulang pergi sekolah naik mobil. Memangnya dia pikir Gabriel tadi ke sekolah untuk melihat kondisi Friska naik apa? Odong-odong?
"Udah keluar sana!" Akhirnya Friska ikut-ikutan mengusir Franklyn karena sebal pada wajah pongahnya.
"Nggak ada ucapan terima kasih?" Tanya Franklyn menagih.
"Iya terima kasih!" Friska menyalak kesal.
"Kita teman mulai sekarang, ya!" Franklyn mengulurkan tangannya ke Friska sebagai tanda pertemanan.
"Friska tak langsung menyambut tangan Franklyn dan hanya menatap sebal pada pemuda itu. Sudah kepala rasanya sakit sekali seperti mau pecah, ini cowok sialan juga semakin membuat dongkol saja!
"Iya, kita teman! Pergi sana!" Jawab Friska akhirnya sambil kembali mengusir Franklyn.
"Yess! Salaman dulu, dong!" Franklyn memaksa untuk menyalami tangan Friska.
__ADS_1
"Belum juga lebaran, udah salam-salaman aja!" Celetuk Gabriel seraya berdecak yang malah membuat Sashi yang sejak tadi diam jadi tertawa.
Lucu juga ternyata suami Friska ini meskipun sudah om om!
"Udah buru keluar!" Usir Friska yang terpaksa membalas jabat tangan Franklyn kali ini. Namun sial seribu sial, pemuda yang sepertinya memang mengesalkan sejak lahir itu malah mengecup tangan Friska di depan Gabriel.
Di depan Gabriel yang merupakan suami sah Friska!
Semoga Gabriel tak mencak-mencak setelah ini!
"Apaan cium-cium?" Gertak Gabriel galak seraya menyentak dan memisahkan tangan Franklyn dari tangan Friska.
"Pedekate, Om! Sekalian minta izin dan restu dari Om," jawab Franklyn asal.
"Nggak ada! Friska itu kesini mau sekolah dan mencari ilmu! Bukan mau pacaran sama cowok gamer nggak jelas macam kamu!"
"Keluar sana!" Usir Gabriel galak.
"Hehe! Jangan galak-galak, Om! Nanti cepat tua, lho!" Jawab Franklyn yang langsung membuat Gabriel geram.
"Sialan kamu! Keluar sana!" Gabriel yang sudah benar-benar geregetan menarik Franklyn ke arah pintu UKS.
"Jadi, Om sudah ngasih lampu hijau buat saya pedekate sama Friska, kan?" Tanya Franklyn penuh harap saat pemuda itu akhirnya sudah sampai di luar.
"Nggak ada lampu hijau!" Jawab Gabriel galak seraya membanting pintu UKS. Gabriel kembali menghampiri Friska dan Sashi masih dengan wajah merah padam karena amarah.
"Siapa pemuda sialan tadi, Shi?" Tanya Gabriel pada Sashi masih sambil berusaha menurunkan amarahnya.
"Dia Franklyn, Om! Murid baru. Sepertinya memang tertarik pada Friska karena sejak pertama masuk udah liatin Friska terus," cerita Sashi menjelaskan.
"Apa? Friska nggak ada godain cowok-cowok, kok!" Kilah Friska membela diri.
"Franklyn aja tadi yang sok keganjenan!" Lanjut Friska lagi seraya merengut.
Gabriel menghela nafas panjang sebelum kemudian pria itu duduk di sebelah Friska dan mengusap lembut wajah istrinya yang masih merengut tersebut.
"Masih pusing?" Tanya Gabriel yang nada bicaranya juga sudah berubah lembut.
"Masih," Jawab Friska lirih.
"Di tes aja, Om! Mungkin positif," usul Sashi sedikit berbisik pada Gabriel.
"Apanya yang positif?" Tanya Friska yang ternyata mendengar bisik-bisik Sashi.
"Ya kamu! Kan yang tiap malam dikelonin Om Briel kamu!"
"Eh!" Sashi buru-buru menutup mulutnya yang tak sopan dan ceplas-ceplos.
"Positif hamil maksudnya? Ngaco! Aku aja lagi datang bulan ini!" Cerocos Friska bersungut-sungut pada Sashi lemot.
"Eh, iya! Aku lupa!" Sashi terkikik dan Gabriel ikut tertawa.
"Jadi sedang datang bulan?" Tanya Gabriel selanjutnya setelah tawa pria itu reda. Friska langsung mengangguk.
"Tapi tadi pagi kayakmya belum pas aku olesin salep-"
__ADS_1
"Eheem!" Deheman Sashi memotong kalimat Gabriel.
"Sashi kayaknya cuma jadi obat nyamuk di pembahasan kegiatan suami istri, Om! Berhubung Sashi masih polos, Sashi pamit keluar saja, ya! Takut otak Sashi tercemar dan terkontaminasi," Cerocos Sashi panjang lebar seraya undur diri dan berjalan menuju ke pintu.
"Iya, terima kasih sudah jagain Friska, ya, Shi!" Ujar Gabriel sedikit berseru agar Sashi mendengar.
"Sama-sama, Om!" Jawab Sashi bersamaan dengan suara pintu UKS yang ditutup.
"Tadi pagi belum datang bulan," Gabriel mengulangi kalimatnya.
"Iya baru pas habis pelajaran tadi, Om!"
"Tapi tumben darahnya banyak sekali padahal masih haru pertama. Ini juga berasa kelua-keluar terus dan layaknya roti jepang Friska penuh, Om!" Curhat Friska yang langsung membuat Gabriel mengernyit.
"Kok pakai roti jepang? Kenapa nggak pakai pembalut? Nanti kalau itunya infeksi atau disemutin bagaimana?" Cecar Gabriel yang malah membuat Friska tertawa kecil.
"Apa yang lucu?" Tanya Gabriel tak mengerti. Pria itu hendak memeriksa milik Friska dan sudah bersiap menyingkap rok sang istri demi menyingkirkan si roti jepang.
"Roti jepang itu sebutan buat pembalut, Om! Kalau di sekolah kadang malu nyebut pembalut, jadi diganti roti jepang," terang Friska yang langsung membuat Gabriel semakin mengernyit.
"Aneh-aneh aja! Kenapa bukan roti selai atau roti meses gitu," gumam Gabriel yang bisa saja berkelakar dan membuat Friska kembali tertawa.
"Tembus, Fris!" Lapor Gabriel setelah memeriksa rok Friska.
"Ya ampun! Trus bagaimana, Om?" Friska mulai panik.
"Ya nggak gimana-gimana! Kita ke rumah sakit, ya! Wajah kamu masih pucat dan sepertinya ini haid kamu banyak sekali," ujar Gabriel lagi seraya mencari-cari sesuatu untuk menutupi bokong Friska.
"Kamu nggak bawa jaket?" Tanya Gabriel pada istrinya tersebut.
"Ada di tas," jawab Friska seraya mengendikkan dagunya ke tasnya yang tergeletak di pojokan. Segera Gabriel mengambil jaket Friska dan membalutkannya ke pinggang gadis itu.
Gabriel lanjut menggendong tas Friska, lalu bersiap menggendong istrinya itu keluar dari UKS.
"Harus digendong, ya, Om? Friska jalan aja," usul Friska yang sepertinya enggan digendong Gabriel.
"Takutnya nanti kamu sempoyongan terus jatuh! Udah aku gendong! Sama suami sendiri masa malu?" Goda Gabriel seraya mencolek hidung Friska.
"Kalau nanti diliatin teman-teman?" Cicit Friska yang wajahnya sudah memerah.
"Kan mereka tahunya aku Om kamu. Wajar, dong, seorang Om menggendong keponakannya yang sedang sakit," jelas Gabriel lagi dengan nada santai.
"Yaudah!" Friska langsung mengalungkan kedua lengannya ke lehet Gabriel, lalu Gabriel menggendong istrinya itu keluar dari UKS dan langsung menuju ke mobil Gabriel yang terparkir di halaman depan sekolah.
Gabriel akan membawa Friska ke rumah sakit!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1