Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
CURHAT


__ADS_3

Setelah Friska masuk kamar dan membanting pintu, Queena bergegas membereskan buku-bukunya karena tugas sekolah remaja putri dua belas tahun itu juga sudah selesai.


"Baru diingatkan saja sudah ngambek," Bu Laksmi akhirnya berceletuk dan masih saja membahas tentang Friska tadi.


"Udah nggak usah diungkit-ungkit lagi, Bund!" Sergah Gabriel seraya mengekori Queena yang masuk ke kamarnya. Gabriel juga akan bicara pada putrinya itu.


"Queena!" Panggil Gabriel yang sudah masuk ke kamar dan menutup pintu kamar Queena.


"Apa lagi, Pi! Papi mau ikut menghakimi Queena?" Tanya Queena ketus.


"Kamu ada hubungan apa dengan Franklyn Franklyn itu? Kata Friska dia mergokin kamu diantar pulang oleh Franklyn sampai dua kali!" Tanya Gabriel dengan nada tegas.


"Abang Franklyn itu abangnya Lexi! Jadi setiap-"


"Lexi siapa lagi?" Gabriel menyela penjelasan sang putri.


"Teman baru Queena di kelas. Kebetulan duduknya semeja dengan Queena!" Jelas Queena.


"Laki-laki?" Tanya Gabriel curiga.


"Perempuan, Pi! Namanya saja Lexi, sejak kapan Lexi itu laki-laki!" Queena berdecak sebal sambil mendaratkan bokongnya di atas kasur.


"Jadi Franklyn abangnya Lexi?" Gabriel kembali ke penjelasan Queena di awal.


"Iya, abang Franklyn itu abangnya Lexi dan setiap hari menjemput Lexi pulamg sekolah. Trus Queena ditawari tumpangan, ya Queena terima saja!" Tutur Queena berkata jujur.


"Jadi di dalam mobil itu kita bertiga dan nggak berdua saja seperti tuduhan istrinya Papi tadi!" Lanjut Queena dengan bibir merengut.


"Lalu yang bikin kamu ribut sama Friska itu apa? Kata Bunda, kamu nangis pas tadi sampai rumah," tanya Gabriel selanjutnya pada Queena.


"Itu...." Queena terlihat salah tingkah.


"Itu karena istri Papi godain abang Franklyn!" Queena akhirnya berkata jujur.


"Jadi kamu cemburu, gitu? Kamu suka sama Franklyn menyebalkan itu? Kamu naksir?" Cecar Gabriel penuh rasa geregetan.


"Kok Papi ngatain Abang Franklyn kayak gitu? Abang Franklyn itu baik dan nggak menyebalkan, Pi!"


"Istri Papi itu yang menyebalkan, ganjen, dan kecentilan!" Sergah Queena yang lagi-lagi mengatai Friska.


"Pemuda baik tak akan terang-terangan mengganggu istri orang di depan suaminya! Franklyn itu yang sok kegantengan dan gemar menggoda Friska!" Jawab Gabriel panjang lebar yang langsung membuat Queena merengut.


"Yakin bukan istri Papi yang teelebih dulu godain abang Franklyn?" Tanya Queena yang masih saja berprasangka buruk terhadap Friska.


"Papi kan nggak pernah tahu, istri Papi itu tingkah polahnya bagaimana kalau di sekolah! Bisa saja istri papi itu yang mengarang cerita, sok-sokan digangguin Abang Franklyn, padahal dia juga yang awalnya kegenitan dan cari perhatian minta digangguin!" Lanjut Queena yang langsung membuat Gabriel terdiam. Namun kemudian Gabriel ingat kata-kata Sashi siang tadi.


"Dia Franklyn, Om! Murid baru. Sepertinya memang tertarik pada Friska karena sejak pertama masuk udah liatin Friska terus."


"Sudah cukup! Pokoknya Papi nggak mau kamu dekat-dekat sama Franklyn Franklyn itu! Dia itu bukan pemuda baik-baik!" Gabriel akhirnya mengakhiri perdebatannya dengan Queena dan memberikan nasehat tegas pada putrinya tersebut.


"Abang Franklyn baik, Pi!" Sergah Queena masih keras kepala.


"Dia tidak baik! Titik!" Gabriel menatap tegas pada sang putri. Queena kembali merengut sekarang.


"Jangan dekat-dekat lagi!" Gabriel memperingatkan sekali lagi sebelum pria itu keluar dari kamar Queena.


"Papi jahat!" Ucap Queena setelah pintu kamar tertutup

__ADS_1


****


[Lagi ngapain?] -Friska-


Friska mengirim pesan pada Sashi, tapi tumben sahabat Friska itu lama menjawab, hingga akhirnya ada pesan masuk tapi bukan dari Sashi melainkan dari Abang Jimmy.


Hah?


[Sorry! Aku kehabisan pulsa. Ini pinjem ponselnya Abang Jimmy nggak apa-apa, ya!] -Sashi-


[Iya, nggak apa-apa! Lagi apa, Kamu?] -Friska-


[Lagi ngerjain tugas. Besok tugas matematika dikumpulkan. Jangan lupa kamu kerjain! Aku nggak mau kasih contekan] -Sashi-


[Tugasnya yang mana emang? Tadi aku nggak ikut pelajaran] -Friska-


[Eh, iya! Aku lupa.] -Sashi-


[Jadinya kamu tadi kenapa, Fris? Hamil beneran?] -Sashi-


[Sembarangan! Aku tadi cuma anemia gara-gara hari pertama haid keluar banyak dan kurang makan sayur] -Friska-


[Kok aneh, ya! Kalau udah dijebol emang begitu, ya?] -Sashi-


[Nggak tahu! Coba kamu tanya mama kamu!] -Friska-


[Ngawur! Yang ada aku bakalan dicecar dan kena ceramah!] -Sashi-


[Bagus dong! Biar bukan aku aja yang dicecar, diceramahi sama dipojokin] -Friska-


[Fris, Fris! Ada apa kamu? Siapa yang mojokin kamu? Siapa yang udah bikin kamu nangis begini?] -Sashi-


[Keluarganya Om Briel. Mereka ngungkit-ngungkit soal aku yang cuma numpang di rumah mereka tapi nggak tahu diri dan tak tahu bersyukur] -Friska-


[Udah gitu Queena ngatain aku cewek gampangan cuma gara-gara Franklyn sok pedekate sama aku. Padahal aku juga benci setengah mati sama sultan blasteran pemilik showroom mobil itu!] -Friska-


[Bentar! Aku bingung! Apa hubungannya antara Queena dan Franklyn? Emang Queena kenal sama Franklyn?] -Sashi-


[Kenal, naksir, kepincut, amit-amit deh! Cowok ngeselin kayak gitu aja ditaksir!] -Friska-


[Kenal dimana? Mereka pacaran? Gila, ya! Kalian anak sama mami sambung nggak cuma rebutan bedak sama lipgloss tapi udah rebutan cowok juga] -Sashi-


[Adiknya Franklyn teman sekelasnya Queena. Jadi ya gitu! Queena sering diantar pulang trus mungkin kepincut] -Friska-


[Trus?] -Sashi-


[Nah, asemnya, tadi siang itu pas aku sampai rumah, Franklyn juga pas nganter Queena. Trus si Franklyn sok kenal sok dekat gitu sama aku. Padahal kamu tahu sendiri kalau di sekolah aku ke Franklyn itu bagaimana?] -Friska-


[Queena salah paham dan ngira aku yang godain Franklyn, kegenitan, keganjenan] -Friska-


[Lah, yang keganjenan kan si Franklyn! Jelas-jelas tadi di UKS aja dia terang-terangan minta lampu hijau ke Om Briel buat merestui pedekatenya sama kamu] -Sashi-


[Itulah! Aku juga berusaha jelasin yang itu ke keluarga Om Briel! Tapi baru ngomong satu kata, Queena udah langsung menyela berkalimat-kalimat! Mana kata-katanya Queena pedes banget kayak cewek nggak ada akhlak! Itu Tante Hanna pas hamil Queena ngidam cabenya berapa kilo, coba?] -Friska-


[Ckckck! Yaudah kamu yang sabar, ya, Fris!] -Sashi-


[Iya, ini juga udah coba sabar. Andai aku punya kerjaan part time, udah keluar aku dari rumah ini biar nggak dianggap numpang dan beban terus] -Friska-

__ADS_1


[Lah, kamu kan istrinya Om Briel! Nggak bisa, dong main kabur-kaburan begitu!] -Sashi-


[Bodo amat!] -Friska-


[Jangan gitu, Fris! Sebagai istri itu harus berbakti dan nurut pada suami.] -Sashi-


[Kalau suami aja nggak percaya dan ikut-ikutan mojokin, siapa yang nggak kesal, coba?] -Friska-


[Iya, udah! Coba nanti malam Om Briel kamu bujuk pakai jurus itu. Kali aja dia jadi belain kamu] -Sashi-


[Males! Nanti malam aku mau ngunci pintu kamar! Biar dia tidur sama Queena si anak kesayangannya!] -Friska-


[Kejam!] -Sashi-


[Biarin! Dia yang mulai!] -Friska-


[Iya, udah! Terserah!] -Sashi-


[Ngomong-ngomong soal kerjaan part time, mau jualan online nggak? Ini Mama aku nawarin aku buat ikut masarin sprei buatan temennya. Keuntungannya lumayan, tinggal pajang di medsos saja] -Sashi-


[Kan kamu yang ditawari Mama kamu! Kok malah ngajak-ngajak aku?] -Friska-


[Kan ada istilah, usaha boleh sama tapi rezeki tak pernah sama. Nanti misal hasil jualan kamu lebih banyak ketimbang aku, kan aku tinggal minta traktir semangkuk bakso ke kamu] -Sashi-


[Boleh-boleh! Cuma tinggal iklan aja, kan?] -Friska-


[Iya! Nanti aku masukin grupnya, ya!] -Sashi-


[Iya, sekalian kirim tugas matematikanya,aku mau ngerjain sekarang] -Friska-


[Tumben! Udah tobat? Biasa juga nungguin contekan!] -Sashi-


[Sialan!]-Friska-


[Aduh, kebelet! Aku ke toilet dulu, Bye! Jangan lupa kirim tugasnya!] -Friska-


[Siap, Nyonya Gabriel!] -Sashi-


Friska meletakkan ponselnya begitu saja ke atas meja dan gadis itu segera berlari ke dalam toilet karena sudah sangat kebelet.


Disaat bersamaan, Gabriel masuk ke kamar dan mendapati ponsel Friska yang masih menyala.


Friska bertukar pesan dengan siapa?


Gabriel yang kepo meraih ponsel Friska yang masih menyala dan saat tertera nama Jimmy yang sedang bertukar pesan dengan Friska, hati Gabriel mendadak tersulut emosi.


Friska!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2