
"Kejadiannya di sebelah mana?" Tanya Sashi yang nenghubungi Friska via video call. Tadinya Friska memang curhat pada Sashi perihal penangkapan Gabriel. Lalu sahabat Friska itu langsung menghubungi Friska via video call.
"Di dekat bangku taman depan sekolah itu, Shi! Mana ada CCTV disitu yang bisa jadi bukti lain."
"Aku juga nggak nyangka kalau semuanya bakal jadi rumit begini," cerita Friska yang sudah sesenggukan pada Sashi.
"Fris, Fris! Jangan nangis, dong! Jangan stress! Ingat kedua bayi kamu yang di dalam!"
"Peluk jauh, Friska Cayang! Puk puk puk!" Sashibterus bercerocos demi menghibur Friska agar berhenti menangis.
"Apa aku ini memang pembawa sial untuk keluarganya Mas Briel, Shi?" Tanya Friska tiba-tiba yang mulai berpikiran macam-macam.
"Kenapa jadi ngomong begitu! Jelas-jelas kamu itu bawa hoki, Fris! Lihatlah sekarang usaha kuenya Bunda mertuamu! Sukses dan banyak yang pesan. Itu semua kan berkat promosi dari kamu!" Tukas Sashi panjang lebar memberikan semangat pada Friska
"Tapi semenjak aku datang ke rumah ini, selalu ada saja masalah yang menghampiri keluar Mas Briel!"
"Mas Briel dipecat dari Steinberg Company, Queen yang hampir diperkosa Franklyn, Bunda ngomel-ngomel terus dan migrainnya sering kambuh, lalu sekarang Mas Briel masuk penjara, Shi!" Curhat Friska yang kembali menangis dan bercucuran airmata.
"Itu semua memang udah suratan takdir, Fris! Hidup pasti banyak masalah! Karena kalau banyak masakan namanya katering!" Sashi sedikit berkelakar agar Friska tertawa. Namun nyatanya Friska tetap tidak tertawa dan sahabat Sashi itu masih berlinang airmata.
"Kamu yang sabar ya, Fris! Semua badai ini pasti akan cepat berlalu!" Ujar Sashi lagi menatap prihatin ke arah Friska.
"Iya, Shi!"
"Jangan banyak pikiran! Jangan lupa makan juga, inget yang di dalam perut. Kalau kamu ada ngidam atau pengen apa, kamu hubungin aku aja. Nanti aku cariin," pesan Sashi panjang lebar merasa iba pada Friska yang hidupnya kerap dirundung masalah.
"Iya, Shi. Makasih banyak! Aku lagi nggak pengen apa-apa sekarang dan aku nggak mau ngrepotin kamu," jawab Friska yang masih terus menghapus airmatanya.
"Kayak sama siapa saja, Fris! Kita kan sahabat forever! Jadi nggak usah sungkan, oke!" Ucap Sashi sekali lagi dan Friska hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
"Aku tutup dulu teleponnya, ya, Shi! Aku harus bantuin Bunda mengemas kue." Pamit Friska selanjutnya pada Sashi.
"Oke! Nanti kalau ada sisa atau yang gosong-gosong lempar kesini saja kuenya, Fris! Perut Sashi siap menampung!" Pesan Sashi sedikit berkelakar.
"Bisa diatur yang itu!" Jawab Friska yang akhirnya bisa tersenyum meskipun hatinya masih merasa sedih.
"Oke, Bye!" Pungkas Sashi seraya melambaikan tangan ke arah Friska.
Fris membalas lambaian tangan Sashi dan sambungan video call pun terputus. Friska pergi ke kamar mandi sebentar untuk mencuci muka, lalu hadis itu juga membenarkan ikatan rambutnya dan keluar dari kamar.
"Bunda merasa sudah nggak sanggup, Yah! Menghadapi hamilnya itu!" Sebuah kalimat yang dilontarkan Bunda Laksmi membuat Friska berhenti sejenak dan memasang pendengaran baik-baik.
__ADS_1
Apa Bunda Laksmi sedang membicarakan Friska?
"Udah lakinya nggak ada! Malah hamil lagi! Merepotkan sekali!"
"Kalau diusir saja bagaimana?" Bunda Laksmi sepertinya sedang meminta pendapat Ayah Yuda.
Lakinya nggak ada?
Apa ini benar merujuk pada Friska?
Bunda Laksmi mau mengusir Friska dari rumah.
"Nanti Queena nangis kejer, Bund! Kan dia sama Queena sudah mulai dekat juga." Pendapat Ayah Yuda.
"Trus bagaimana! Masa iya harus digugurin itu kehamilannya? Mana bisa? Kalau cuma dibiarin juga nanti beranak malah nambah banyak, nambah repot. Stress Bunda!" Ujar Bunda Laksmi lagi yang langsung membuat kaki Friska gemetar. Friska mengusap perutnya sendiri yang belakangan sudah sedikit mengalami perubahan bentuk.
"Bunda mau membunuh calon bayi Friska?" gumam Friska yang benar-benar shock dengan kalimat Bunda Laksmi.
"Nanti kalau sudah lahir kita tawarkan ke tetangga atau siapa gitu biar diadopsi," usul Ayah Yuda akhirnya memberikan solusi.
"Yasudah! Bunda sabar-sabarin dulu sementara ini," jawab Bunda Laksmi yang kembali mencetak adonan kue kering ke atas loyang.
"Diberikan ke orang?"
"Meeiow!"
Suara kucing Queena yang tak sengaja tersenggol kakinya Friska langsung menyentak lamunan Friska.
Friska menatap linglung pada kucing berwarna orens tersebut dan pada sekitarnya, membayangkan dirinya yang akan terpisah jauh dari anak-anaknya setelah lahir nanti.
Tidak!
Friska tidak mau!
Friska tidak mau berpisah dari kedua bayinya. Jika Bunda Laksmi memang sudah keberatan menampung Friska dan merasa terbebani, Friska akan pergi saja dari rumah agar tidak menjadi beban bagi keluarga Ferdinand lagi.
Friska mengunci pintu kamar dan menatap pada jendela kamar yang pernah ia pakai untuk menyelinap keluar saat hendak menyelamatkan Queena. Mungkin memang sekarang saatnya Friska pergi dari rumah ini dan dari keluarga ini.
****
"Meeiow!" Suara kucing Queena yang masuk ke dapur langsung membuat Bunda Laksmi berdecak.
__ADS_1
"Panjang umur kamu, Kucing! Baru juga diomongin sudah datang saja!" Kekeh Ayah Yuda yang segera mengambil makanan kucing dari dalam lemari lalu memberikannya pada kucing berwarna orens tersebut.
"Jadi boros makannya gara-gara bunting!" Omel Bunda Laksmi.
"Sudah jangan ngomel terus, Bund! Friska juga kan lagi hamil cucu kita," nasehat Ayah Yuda pada bunda Laksmi.
"Yang itu beda cerita." Sahut Bunda Laksmi seraya mengangkat kue yang sudah matang dari dalam oven.
"Friska mana, ya? Kok tumben belum keluar dari kamar. Biasanya sudah bantu kemas-kemas," gumam Bunda Laksmi bertanya pada Ayah Yuda.
"Mungkin masih lelah, Bund! Biar ayah yang bantu kemas." Tukas Ayah Yuda.
"Tadi malam kan juga anaknya sudah bunda ajak lembur sampai jam dua," sambung Ayah Yuda lagi.
"Bunda nggak ngajak! Friska saja yang keras kepala dan memaksa menemani. Katanya insomnia dan nggak bisa tidur."
"Padahal sudah berulang kali Bunda nasehati agar jangan banyak pikiran. Persoalan Gabriel nanti pasti ada jalan keluar, entah bagaimana caranya." Bunda Laksmi mendes*h pasrah.
"Susah memang berurusan dengan orang berduit yang punya kuasa. Gabriel juga sudah pasrah dan minta kita tak usah menyewa pengacara." Tutur Bunda Laksmi merasa bingung dengan kasus yang menimpa Gabriel.
"Semoga segera ada jalan keluar dan penyelesaian atas semua masalah ini, Bund!" Ayah Yuda menepuk pundak Bunda Laksmi.
"Tahun ini memang banyak ujian untuk keluarga kita. Tapi jangan lupakan rezeki berlimpah dari usaha kue Bunda yang sekarang laris manis," ujar Ayah Yuda panjang lebar.
"Iya, Yah! Bunda rasa ini berkah dari kehamilan Friska." Pendapat Bunda Laksmi.
"Makanya jangan diomeli terus anaknya, Bund!" Nasehat Ayah Yida pada sang istri.
"Ayah kan juga kadang ngomeli Friska! Jangan nyalahin Bunda saja, dong!" Protes Bunda Laksmi.
"Iya, iya! Ayah jemput Queena dulu. Ada yang perlu dibeli tidak? Biar sekalian ayah belikan," tawar Ayah Yuda sebelum beranjak pergi.
"Toples sama mentega, Yah!" Jawab Bunda Laksmi.
"Oke! Ayah pergi dulu!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.