
Dua bulan kemudian..
"Kita mau kemana, Pi?" Tanya Queena pada Gabriel yang duduk di belakang kemudi. Pagi ini tiba-tiba Gabriel meminta semuanya untuk berpakaian rapi, lalu mengajak pergi naik mobil.
"Nanti juga tahu. Nggak jauh, kok dari rumah," jawab Gabriel seraya membelokkan mobil di tikungan selanjutnya. Mobil berhenti di depan sebuah ruko yang sepertinya baru selesai direnovasi.
"Sudah sampai. Ayo turun!" Ajak Gabriel seraya membuka sabuk pengamannya. Gabriel membukakan pintu dimana Friska duduk, lalu membantu istrinya tersebut untuk turun.
"Awas pelan-pelan!" Gabriel menuntun dan membimbing Friska agar melangkah perlahan. Perut Friska yang kini sudah membesar kadang memang membuat Friska kesulitan bergerak.
"Ini ruko siapa, Mas?" Tanya Friska seraya menunjuk ke ruko warna hijau dan kuning di depan mereka. Queena, Ayah Yuda dan Bunda Laksmi juga terlihat bertanya-tanya.
"Ruko kita!" Jawab Gabriel sedikig lebay.
"Bentar, ya!" Gabriel memberi kode pada Queena agar menggantikannya menggandeng Friska. Setelah Queena berdiri di samping Friska dan memegangi lengan mami sambungnya tersebut, Gabriel membuka pintu dua petak ruko tadi.
"Taraaa! Yang sebelah sini buat toko kuenya Bunda, yang lebih kecil ini buat tokonya Friska."
"Friska?" Friska menunjuk ke arah dirinya sendiri sambil membulatkan bola matanya.
"Ini kamu kontrak atau bagaimana, Briel?" Tanya Bunda Laksmi bingung.
"Briel beli, Bund! Pakai uang pesangon dari kantor ditambah tabungan Briel. Belum lunas, sih! Tapi nanti kita lunasin pelan-pelan."
"Usaha kue Bunda kan udah banyak pelanggannya dan udah banyak yang nanyain toko offline-nya. Kalau produksi di rumah juga terbatas, karena dapur di rumah kan nggak terlalu luas."
"Makanya Briel belikan ruko, agar produksinya bisa bertambah dan tempatnya juga lega. Nanti Bunda bisa cari karyawan juga, biar Bunda, Ayah dan Queena tidak keteteran menangani orderan," jelas Gabriel panjang lebar yang langsung membuat Bunda Laksmi berkaca-kaca. Wanita paruh baya tersebut langsung memeluk Gabriel dengan erat.
"Bunda benar-benar tak menyangka kamu sudah berpikir sejauh ini, Briel!"
"Maaf karena Bunda mengomelimu sewaktu kamu dipecat dari Steinberg Company waktu itu." Bunda Laksmi menangkup wajah sang putra.
"Briel udah nggak usah cari kerja sekarang, Bund! Briel bantuin Bunda bikin kue saja," kekeh Gabriel yang langsung membuat Bunda Laksmi tertawa masih sembari menangis haru.
"Hebat kamu, Briel! Sudah berpikir jauh ke depan!" Ayah Yuda turut menepuk punggung Gabriel dan merasa bangga.
"Bundamu yang merintis hari ini, Queena dan adik-adiknya kelak yang akan melanjutkan usaha ini," sambung Ayah Yuda lagi.
"Aamiin! Semoga lancar terus ke depannya, Ayah!"
"Penting ada bagian marketing yang luar biasa ini!" Gabriel menunjuk kd arah Friska.
"Apa, sih, Mas! Friska kan cuma promo iseng-iseng. Kue Bunda emang enak,jadi banyak pelanggan yang nyantol," ucap Friska merendah.
__ADS_1
"Tetap saja! Semuanya berkat tangan iseng kamu ini, Fris!" Bunda Laksmi sudah merangkul Friska dengan bangga.
"Trus ini toko Mami Fris mau diisi apa, Pi?" Tanya Queena penasaran karena ruangannya masih kosong.
"Jualan sprei! Nanti Mami kamu biar bisa nyetok sendiri sekalian buka toko offline," terang Gabriel seraya merangkul Friska.
"Tapi nanti misalnya kamu mau lanjut kuliah, aku usahakan biayanya setelah si kembar lulus ASI eksklusif," janji Gabriel yang justru membuat Friska menggeleng.
"Friska nggak usah kuliah, Mas! Friska mau belajar cara manajemen toko biar uangnya bisa muter," jawab Friska menatap bersungguh-sungguh pada Gabriel.
"Gabriel ahlinya kalau yang itu! Nanti diajarin gratis, Fris! Dapat bonus juga!" Celetuk Ayah Yuda yang langsung membuat semuanya tertawa.
"Yakin nggak mau kuliah?" Tanya Gabriel sekali lagi.
"Sekarang masih yakin. Nggak tahu kalau nanti si kembar udah besar," jawab Friska sambil mengusap perutnya sendiri. Gabriel ikut mengusap-usap perut Friska sambil menciuminya sesekali.
"Kapan lahir, Anak-anaknya Papi?"
"Nanti waktunya lahir juga lahir, Briel! Udah tinggal menghitung hari itu!" Bunda Laksmi
"Aduh!" Friska tiba-tiba mengaduh sambil memegangi perutnya.
"Mami mau lahiran?" Tanya Queena yang langsung memapah tubuh Friska.
"Yang ini lebih sakit, Bund!"
"Trus itu apa?" Friska menunjuk ke cairan yang merembes dari pangkal pahanya.
"Ketuban!" Jawab Gabriel dan Bunda Laksmi serempak.
"Cepat ke rumah sakit, Briel!" Ayah Yuda memberikan komando dan semuanya langsung bergegas membawa Friska masuk ke dalam mobil, lalu meluncur ke rumah sakit terdekat.
****
Bunda Laksmi dan Ayah Yuda menggendong dua bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan oleh Friska beberapa jam yang lalu.
Friska sendiri masih terbaring di atas bed perawatan sambil sesekali menahan perih setelah dengan terpaksa menjalani proses persalinan secara cesar karena pembukaan yang tak kunjung bertambah dan air ketuban yang nyaris habis.
"Seperti Briel dan Brian dulu, ya, Yah!" Ujar Bunda Laksmi yang bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum sejak kedua cucu laki-lakinya lahir ke dunia dalam kondisi sehat, lengkap, dan tak kurang satu apapun.
"Iya! Dulu mereka juga kecil begini," jawab Ayah Yuda seraya menimang-nimang salah satu cucu kembarnya.
"Ulu ulu! Gemes banget sama pipinya!", Queena sejak tadi mondar-mandir menghampiri Ayah Yuda dan Bunda Laksmi berganti-gantian karena merasa gemas pada kedua adiknya.
__ADS_1
"Bedainnya bagaimana, Oma?" Tanya Queena yang sepertinya masih bingung.
"Ini ada tahi lalat kecil di atas bibirnya. Yang itu nggak ada," terang Bunda Laksmi yang langsung membuat Queena mengangguk.
"Queen boleh gendong, Oma?" Tanya Queena selanjutnya yang sudah benar-benar gemas.
"Boleh! Tapi pelan-pelan, ya!" Bunda Laksmi membantu Queena yang masih kaku menggendong salah satu bayi kembar Friska.
"Tangannya jangan kaku, Queen!" Komentar Gabriel pada tangan Queena yang terlihat kaku seperti membawa bendera pusaka saja.
"Iya, masih grogi, Pi!" Jawab Queena seraya terkekeh.
"ini sudah bener belum, Oma?" tanya Queena selanjutnya yang akhirnya berhasil menggendong salah satu adik kembarnya.
"Iya, sudah! Sudah bisa jadi kakak yang baik!" Puji Bunda Laksmi pada sang cucu. Queena segera membawa bayi di gendongannya mendekat ke arah Friska.
"Pipi dan bibirnya mirip mami," lapor Queena yang hanya membuat Friska mengulas senyum tipis. Friska ingin tertawa sebenarnya, tapi jahitan di perut Friska akan langsung meronta kalau Friska tertawa.
"Terima kasih, ya, Mi! Karena sudah bertaruh nyawa dan melahirkan dua adik Queena yang lucu dan ganteng ini," ucap Queena menatap tulus pada Friska yang hanya mengangguk samar.
"Sudah siapin nama?" Tanya Ayah Yuda selanjutnya pada Friska dan Briel yang terlihat bingung. Pencarian nama untuk bayi kembar mereka masih belum menemukan titik terang.
"Masih bingung, Yah!" Gabriel menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Queen boleh kasih saran nama, nggak, Pi?" Tanya Queena penuh harap.
"Kamu ada ide?" Gabriel balik bertanya pada Queena yang langsung mengangguk.
"Keandra dan Leandra."
"Nanti bisa dipanggil Bayi Kean dan bayi Lean," usul Queena menatap bergantian pada Friska dan Gabriel.
"Namanya bagus, Mas! Kita pakai nama pemberian Queena saja," ucap Friska akhirnya yang langsung membuat Gabriel mengangguk dan tersenyum.
"Welcome to the world, Baby Kean dan Baby Lean!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.