Gadis SMA Kesayangan Om Duda

Gadis SMA Kesayangan Om Duda
SALAH PAHAM


__ADS_3

Gabriel membuka kasar pintu depan, hingga membuat Bunda Laksmi dan Ayah Yuda yang memang sudah bangun menjadi kaget.


"Ada apa, Briel? Kenapa pagi-pagi sudah membuka pintu sekasar itu?" Tegur Ayah Yuda yang langsung ke depan menghampiri anak dan cucunya.


"Sudah pulang, Queen?" Sapa Bunda Laksmi yang juga sudah menyusul ke depan. Namun Queena tak langsung memeluk sang Oma dan gadis dua belas tahun tersebut malah terlihat merengut.


Ada apa ini?


"Ayah, Bunda! Gabriel mau bicara!" Ucap Gabriel yang sekuat tenaga menekan amarahnya agar tidak bicara ketus pada kedua orang tua kandungnya tersebut.


"Bicara apa?" Tanya Ayah Yuda dan Bunda Laksmi bersamaan. Raut wajah kedua oranh tua Gabriel itu terlihat bingung.


"Ini soal Friska." Ujar Gabriel yang langsung membuat Bunda Laksmi tersentak.


"Kau sudah menemukan Friska, Gabriel?" Tanya Bunda Laksmi penuh harap.


"Lebih tepatnya Queena yang baru saja bertemu dengan Friska, di sebuah panti asuhan dekat objek wisata yang Queena kunjungi," terang Gabriel yang langsung membuat Bunda Laksmi merengkuh kedua pundak Queena.


"Kamu mengajak mami kamu pulang, kan, Queen?" Tanya Bunda Laksmi memastikan. Namun gelengan kepala dari Queen seketika mengubah raut wajah Bunda Laksmi menjadi raut kecewa dan kembali sendu.


"Mami tidak mau pulang, karena kata Mami, Oma dan Opa mau memisahkan Mami dari kedua bayinya serelah lahir nanti," Ucap Queena dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Apa? Kenapa Friska bisa berpikiran seperti itu?" Tanya Ayah Yuda bingung.


"Apa benar, Ayah dan Bunda menganggap Friska sebagai beban selama ini dan hendak memberikan anak-anak Friska yang juga merupakan anak-anak Gabriel pada orang lain setelah lahir?" Cecar Gabriel menatap bergantian pada Bunda Laksmi dan Ayah Yuda yang terlihat bingung.


"Tentu saja itu tidak benar, Gabriel! Kami tak pernah menganggap Friska itu sebagai beban!" Sergah Ayah Yuda menyangkal tuduhan Gabriel.


"Dan lagi, Friska itu sedang mengandung cucu Ayah dan Bunda, jadi mana mungkin kami menganggapnya sebagai beban apalagi berniat memberikannya pada orang lain!" Bu Laksmi menyambung sanggahan dari Papa Yuda.


"Semiskin-miskinnya Bunda, tidak mungkin Bunda akan memberikan cucu kandung Bunda pada orang lain!"


"Tidak akan!" Ujar Bunda Laksmi lagi yang sudah bercucuran airmata.


"Tapi kata Mami Friska, Oma dan Opa mengatakannya secara gamblang di belakang mami Friska. Lalu Mami Friska tak sengaja mendengarnya!" Tutur Queena mengungkapkan apa yang dikatakannya Friska kemarin.


"Mengatakan apa?" Tanya Bunda Laksmi dan Ayah Yuda bingung.


"Mengatakan kalau Oma tu sudah merasa kewalahan dan tak sanggup lagi melihat kehamilan Mami Friska."

__ADS_1


"Lalu kata Mami, Opa memberikan saran pada Oma, agar sedikit bersabar dan menunggu sampai Mami lahiran. Dan nanti setelahnya, Oma dan Opa akan memberikan bayi Mami Friska pada tetangga atau orang lain atau siapa saja yang mau mengadopsi,", tutur Queena panjang lebar yang malah membuat Bunda Laksmi dan Ayah Yuda semakin bingung.


"Oma dan Opa tak pernah berkata seperti itu pada Friska. Kami berani bersumpah!" Ucap Ayah Yuda tegas.


"Seperti yang Queen bilang diawal tadi kalau kata Mami Friska, Oma dan Opa memang tak mengatakannya di depan Mami. Tapi Oma dan Opa mengatakannya di belakang Mami, dan Mami tak sengaja mendengarnya!" Queena mengulangi penjelasannya yang pertama.


Bunda Laksmi saling bertatap pandang dan sepertinya sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Friska pergi hari apa waktu itu, Queen?" Tanya Gabriel pada Queena yang sepertinya masih ingat. Mungkin jika Ayah Yuda dan Bunda Laksmi ingat hari dimana Friska pergi, kedua orang tua Gabriel itu juga akan mengingat apa saja yanh sebenarnya sudah mereka omongkan di belakang Friska.


"Hari Rabu, saat Queen pulang membawakan rujak untuk Mami. Lalu kata Oma, Mami masih tidur karena malamnya habis begadang bantuin Oma," jawab Queena yang ternyata masih ingat.


"Waktu itu!" Cetus Bunda Laksmi tiba-tiba yang sepertinya sudah ingat.


"Waktu kita membahas si Orens, Yah!" Bunda Laksmi menepuk pundak Ayah Yuda dan mengingatkan suaminya tersebut.


"Si Orens?"


"Iya! Kan waktu itu si Orens hamil juga dan Bunda memang mengeluh pada Ayah tentang si Orens yang sedang hamil dan membuat kewalahan karena makannya banyak!" Beber Bunda Laksmi yang langsung membuat ayah Yuda ingat.


"Ayah dan Bunda ngobrol di dapur waktu itu sambil mengemas kue?"


"Tunggu, Gabriel bingung! Si Orens itu siapa?" Gabriel menatap bergantian pada Ayah Yuda dan Bunda Laksmi namun yang menjawab justru Queena yang bibirnya sudah merengut.


"Kucingnya Queena, Pi!"


"Jadi maksudnya yang menjadi beban buat bunda dan membuat kewalahan itu Si Orens dan bukan Friska?" Gabriel memastikan sekali lagi.


"Iya waktu itu Ayah dan Bunda memang sedang membahas si Orens dan bukan Friska, Briel!" Tegas Ayah Yuda.


"Tapi mungkin memang Friska sedang sensitif dan mengira kalau kita sedang membicarakannya, Yah! Apalagi Friska kan juga sedang hamil waktu itu. Jadi wajar dia salah sangka." Pendapat Bunda Laksmi yang tumben memahami sekali perasaan menantunya.


"Iya tapi seharusnya Friska bertanya dulu dan mengkonfirmasi, Bund--'


"Sudah Bunda bilang ibu hamil itu sensitif, Yah! Apalagi kalau di posisi Friska yang sedang banyak pikiran waktu itu karena jauh dari Briel! Ayah mana paham? Ayah saja tak pernah merasakan hamil!" Sergah Bunda Laksmi memotong kalimat Ayah Yuda dan mengomeli suaminya tersebut.


"Oma kok jadi nge-gas belain mami Fris? Sebelum-sebelumnya kan Oma juga suka ngomelin Mami Friska," celetuk Queena yang langsung membuat Ayah Yuda dan Gabriel menahan tawa.


"Ya iya Oma belain! Friska kan menantu Oma dan sedang mengandung kedua cucu Oma!" Jawab Bunda Laksmi mencari pembenaran.

__ADS_1


"Yang mikirin saja sampai sakit berulang kali, Queen!" Timpal Ayah Yuda yang langsung membuat Queena tersenyum tipis.


"Ya wajar, Yah! Bunda kan khawatir dan takut hal-hal buruk terjadi pada menantu serta cucu Bunda!" Sahut Bunda Laksmi sedikit bersungut.


"Berarti fix masalahnya disini hanya salah paham, ya?" Gabriel menengahi perdebatan kedua orangtuanya dan mengambil kesimpulan.


"Iya! Salah paham gara-gara kucing bunting!" Jawab Bunda Laksmi sewot.


"Kucingnya Queena itu yang bunting nggak ada lakinya!" Sambung Bunda Laksmi lagi yang kembali membuat Queena merengut.


"Kok jadi nyalahin Queena?"


"Sudah! Sudah!" Ayah Yuda menengahi perdebatan istri dan cucunya.


"Sekarang kita harus menjelaskan pada Friska tentang kesalahpahaman ini dan menjemputnya pulang." Ujar Ayah Yuda lagi yang langsung membuat semuanya mengangguk setuju.


"Queen, kamu masih ingat dimana Mami Friska tinggal, kan?" Tanya Gabriel memastikan.


"Masih, Pi! Udah Queena kirim ke ponsel Papi alamatnya. Tapi apa Queena boleh ikut jemput Mami, Pi?" Tanya Queena penuh harap.


"Bunda juga mau ikut! Bunda mau menjelaskan sendiri pada Friska agar tak ada lagi salah paham!" Ujar Bunda Laksmi ikut-ikutan.


"Tapi kamu kan baru sampai, Queen! Nanti kalau kamu kelelahan-" Gabriel tak jadi melanjutkan kalimatmya karena Queena sudah merengut.


"Sudah, Briel! Biarkan Queena ikut. Dia nanti kan bisa tidur selama perjalanan," tukas Ayah Yuda memberikan solusi . Gabriel menghela nafas dan segera merangkul Queena..


"Ayo kita jemput Mami!" Ajak Gabriel pada Queena yang langsung membuat gadis itu mengangguk-angguk dan tersenyum.


.


.


.


Maaf membagongkan


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2