
Friska masih gemetar di sudut kamarnya, saat tiba-tiba ponsel di genggamannya berdering. Nama Om Briel tertera di layar ponsel.
"Halo, Om!"
"Aku di depan kost kamu, Fris! Buka pintunya!"
"I-iya, Om!" Friska bergegas bangkit berdiri, lalu menyingkirkan lemari dan meja yang menghalangi pintu. Gadis itu juga mengintip sejenak lewat jendela untuk memastikan dan bebar saja, Gabriel memang sudah berdiri di depan pintu kost Friska.
"Om!" Friska langsung menghambur ke pelukan Gabriel setelah membuka pintu. Gadis itu masih gemetaran.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Gabriel khawatir. Friska yang masih berada di pelukan Gabriel haya mengangguk-angguk.
"Kamu bereskan dulu barang-barang kamu, lalu kita pergi dari sini, ya!" Ujar Gabriel lagi dan Friska kembali mengangguk. Friska bergegas meraih tas sekolahnya, lalu memasukkan semua buku-bukunya. Setelah itu, Friska lanjut mengambil koper kecil untuk tempat baju-bajunya. Selang lima belas menit, Friska sudah siap pergi.
"Kita akan kemana, Om?" Tanya Friska saat ia dan Gabriel melangkah menuju ke mobil Gabriel. Suasana di depan kost-an Friska benar-benar kacau meskipun orang-irang yang tadi membuat rusuh sudah tak terlihat lagi. Namun Friska masih tetao ketakuran dan tak mau lagi tinggal di kost-an itu.
"Kamu masuk saja dulu, ya!" Jawab Gabriel seraya membukakan pintu mobil untuk Friska.
Friska tak bertanya lagi dan segera masuk, lalu duduk di samping pintu pengemudi. Gabriel sudah menyusul masuk dan terlihat berpikir beberapa saat sebelum akhirnya pria itu melajukan mobilnya dan meninggalkan kost-an Friska.
"Fris, kamu punya paman atau Om, tidak? Mungkin adik atau kakak dari Papa kamu," tanya Gabriel pada Friska yang sejak tadi hanya diam.
"Nggak ada, Om! Papa anak tunggal seperti Friska. Mama saja yang punya seorang kakak, tapi sudah meninggal juga," cerita Friska dengan raut sendu.
"Friska sebatang kara," lanjut Friska lagi semakin sendu. Gabriel buru-buru meraih tangan gadis delapan belas tahun tersebut dan menggenggammya dengan erat.
"Jangan bilang seperti itu lagi! Ada aku yang akan menjagamu mulai sekarang, Fris!" Hibur Gabriel seraya mengusap tangan Friska yang masih ia genggam.
"Apa kita akan menikah malam ini, Om?" Tanya Friska tiba-tiba yang tak langsung dijawab oleh Gabriel.
Gabriel sebenarnya sedang bimbang. Ia tidak bisa langsung membawa Friska pulang tanpa status appaun karena Bunda pasti akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Membawa Friska ke penginapan atau hotel, lalu meninggalkannya sendirian juga bukan ide bagus karena gadis ini masih terlihat trauma dan ketakutan. Satu-satunya jalan keluar hanyalah memperjelas statusnya lalu membawanya pulang ke rumah.
Tapi sekarang sudah lewat tengah malam. Siapa yang akan menikahkan Gabriel dan Friska tengah malam begini?
"Kita menginap di hotel dulu malam ini, ya!" Putus Gabriel akhirnya seraya menbelokkan mobilnya ke sebuah hotel melati di pinggir jalan.
"Ke hotel? Om mau apa?" Tanya Friska yang yang langsung menatap awas pada Gabriel.
"Jangan berprasangka buruk dulu, Fris! Aku akan menyewa dua kamar dan aku juga tak akan berbuat apa-apa ke kamu!" Ujar Gabriel berusaha meyakinkan Friska yang masih menatap curiga ke arahnya.
"Hanya sampai kantor agama buka besok pagi," ujar Gabriel lagi yang sudah memarkirkan mobilnya.
"Maksudnya besok Om mau menikahi Friska?" Tanya Friska merasa ragu.
"Aku tidak mau kamu terlunta-lunta sendirian, Fris! Aku mau kamu tetap bisa melanjutkan sekolah kamu dan tinggal dengan nyaman di rumahku tanpa rasa takut dan khawatir lagi," jawab Gabriel yang sorot matanya terlihat tulus.
"Tapi Friska belum tahu bagaimana caranya menjadi istri, Om!" Cicit Friska seraya menundukkan wajah dan memainkan kedua telunjuknya.
"Nanti kau bisa belajar pelan-pelan!" Ucap Gabriel menenangkan Friska.
"Ayo turun dulu!" Ajak Gabriel yang sudah membuka pintu mobil. Friska akhirnya menurut dan ikut turun, lalu mengekori Gabriel masuk ke dalam hotel. Namun sial seribu sial, saat mereka berdua baru masuk ke lobi utama hotel, rupanaya sudah banyak petigas yang melakukan inspeksi mendadak di hotel.
Sial!
__ADS_1
Gabriel tak melihat mobil petugas di depan tadi!
Apa ini sebuah jebakan?
"Selamat malam!" Sapa seorang petugas pada Gabriel dan Friska.
"Malam, Pak!" Jawab Gabriel seraya merutuki kebodohannya sendiri. Sementara Friska sudah beringsut mundur dan bersembunyi di balik punggung Gabriel.
"Ini putrinya?" Tanya petugas lagi memastikan.
"Iya-" jawab Gabriel seraya meringis.
"Kartu identitas!" Petugas menengadahkan tangan dan meminta kartu identitas Gabriel serta Friska. Petugas tadi sontak tertawa mengejek.
"Delapan belas tahun dan tiga puluh dua tahun."
"Sudah bisa bikin anak di usia tiga belas tahun, ya?" Ejek petugas yang langsung membuat Gabriel salah tingkah.
"Sebenarnya ini keponakan saya, Pak!" Gabriel mencari alasan.
"Membawa keponakan malam-malam ke hotel melati mau apa memangnya?"
"Iya, kami kemalaman dan mau istirahat dulu! Rumah kami di luar kota-"
Petugas kembali melohat ke kartu identitas Gabriel.
"Alamat ini hanya sepuluh menit dari sini. Memangnya mau membawa gadis ini keluar kota mana?"
"Kamu juga! Masih muda, masa depan masih panjang tapi mau saja jadi wanita simpanan! Mau jadi apa nanti?" Petugas ganti mencecar Friska yang ketakutan dan hampir menangis.
"Pak, jangan memarahinya! Dia calon istri saya dan dia yatim piatu!" Sergah Gabriel lantang dan tegas.
"Calon istri?"
"Iya kami mau menikah sebenarnya tapi berhubung ini sudah malam-" Gabriel tak jadi melanjutkan kalimatnya karena mendengar petugas tadi yang sedang menghubungi temannya dan menyuruh membawa orang yang akan menikah Gabriel dan Friska.
Apa?
"Kamu bilang dia calon istri kamu, kan?" Tanya petugas memastikan.
"I-iya benar. Tapi-"
Beberapa orang sudah menghampiri Gabriel, Friska, dan petugas tadi.
"Mana yang mau dinikahkan?"
"Ini mereka berdua!"
"Aduh!" Gabriel menepuk keningnya sendiri denagn hal konyol yang akan ia alami malam ini.
"Om," Friska semakin mendekat ke arah Gabriel saking bingungnya dengan apa yang akan terjadi.
"Pak, apa kami harus menikah sekarang?" Tanya Gabriel hendak membuat negosiasi.
__ADS_1
"Iya sekarang! Agar kau tak lari dari tanggung jawab dan tak membuat dosa. Sudah membawa anak gadis tengah malam ke hotel, mau apa memangnya kalau bukan berbuat dosa?" Cecar petugas tadi.
Setelah gagal bernegosiasi, malam itu akhirnya Gabriel mengucapkan janji pernikahannya dengan Friska di depan para petugas, dan sah menjadi suami Friska Agustina. Benar-benar menjadi pengalaman paling konyol dalam hidup Gabriel.
Namun hikmah baiknya, Gabriel sudah bisa membawa Friska pulang sekarang karena status mereka sudah sah sebagai suami istri.
"Besok langsung urus surat-suratnya ke kantor agama, ya!" Pesan petugas sekali lagi.
"Iya, Pak! Kami akan mengurus secepatnya." Jawab Gabriel seraya menutup pintu kamar hotel.
Friska sudah duduk di tepi tempat tidur dan gadis itu hanya menundukkan wajahnya sejak tadi. Mungkin Friska masih shock dengan pernikahan dadakan mereka malam ini.
"Fris," Gabriel bersimpuh di depan Friska yang langsung beringsut mundur.
"Om, Friska belum..."
"Belum siap." Terbata-bata Friska berucap pada Gabriel.
"Iya sudah! Kamu tidur aja dan aku tak akan berbuat apa-apa!" Janji Gabriel seraya mengangkat satu tangannya demi membuat Friska percaya.
"Benar?" Friska masih belum percaya.
"Iya, benar!"
"Aku nanti tidur di sana!" Gabriel menunjuk ke arah sofa si sudut ruangan.
"Emang muat! Kan sofanya kecil," tanya Friska ragu.
"Tidurnya sambil duduk," jawab Gabriel sedikit mempraktekkan yang langsung membuat Friska tertawa kecil. Hati Gabriel benar-benar lega karena Friska akhirnya bisa terbawa.
"Kita suami istri sekarang, Om?" Tanya Friska lagi yang langsung membuat Gabriel mengangguk.
"Masih kaget, ya?" Tanya Gabriel.
Gantian Friska yang mengangguk.
"Sama!" Ujar Gabriel seraya tertawa kecil. Friska ikut tertawa juga.
"Sudah, bobok! Besok kita pulang ke rumah Bunda!" Pungkas Gabriel seraya bangkit berdiri dan mengusap kepala Friska. Hanya hal sederhana tapi sukses membuat wajah Friska bersemu merah.
Gabriel sudah menuju ke sofa dan mengambil posisi tidur yang terlihat menyiksa. Sementara Friska segera merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan menarik selimut.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Maaf UP nya berantakan.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1