
Kenapa kita harus memainkan game seperti ini sih? Game ini bukan game yang membantu kita menjadi lebih kuat. Jadi, untuk apa Jenderal Hartono meminta kita memainkan game ini,” keluh salah seorang pemain yang baru masuk ke dalam game.
Dia adalah salah satu tentara yang ditugaskan untuk memainkan Galaxy Wars. Namun, tidak seperti tentara yang lain, penugasannya terbilang cukup mendadak. Jika tentara yang lains sudah diberi tahu mengenai hal ini sejak beberapa hari yang lalu, maka dia baru ditugaskan hari ini juga untuk segera memasuki game.
“Sudahlah, Martin. Jangan terlalu banyak protes seperti itu. Ini adalah perintah dari Jenderal Hartono langsung. Aku yakin ada alasan kenapa kita diminta untuk memainkan game ini. Apa Kamu pikir kita memainkan game ini benar-benar hanya untuk bermain?” tanya Genta.
“Hey! Jangan memanggil nama asliku di sini. Panggil aku dengan IGN (in game name/nama dalam game) milikku.”
“Ck.” Daniel mendecakkan lidahnya setelah mendengar perkataan seorang tentara dengan nama asli Martin itu. “Martin, Kamu mengeluh karena kita ditugaskan memainkan game ini. Namun, di antara kami semua, hanya kamu saja yang memiliki IGN aneh layaknya pecinta game pada umumnya. Aku rasa, Kamu menyatakan protes seperti ini karena Kamu tidak ingin terlihat menikmati permainan,”
Tentara yang lain pun ikut menganggukkan kepala. Kebanyakan tentara yang memainkan Galaxy Wars memakai nama asli mereka sebagai IGN. Meski mereka memakai nama samaran pun, nama itu masih terdengar wajar.
Namun, ini sangat berbeda dengan IGN yang dipakai oleh Martin. Namanya bukan hanya cukup panjang, tetapi juga sangat tidak normal. Beberapa tentara yang menjadi rekan Martin, sangat enggan memanggil Martin dengan IGN yang dia miliki.
“Ini adalah nama yang bagus. Aku rasa kalian iri padaku. Kalian lupa untuk membuat nama keren sebagai IGN kalian. Apa salahnya dengan IGN Pendekar Hebat Donghua. Ini adalah nama yang sangat keren.”
“Ya, ya, ya. Namamu yang paling keren di antara kami semua. Kalau begitu, mulai sekarang Kamu akan kami panggil dengan nama PHD.”
“Itu ide yang bagus, Niel. Kodemu sekarang adalah 14045. Hahaha ….”
Tawa Genta itu diikuti oleh beberapa tentara yang lain. Mereka menertawakan IGN milik Martin yang jika disingkat seperti nama layanan pesan antar dari sebuah merek pizza ternama. Candaan mereka tentu saja tidak bisa diterima oleh Martin. Sekarang, Martin terlihat akan protes kepada rekannya yang lain. Namun, sebelum dia bisa melakukannya, Yusuf yang memiliki IGN Kapten Y, memotong ucapan Martin.
“Sudah bercandanya. Jenderal Hartono mengirim kira ke sini tidak untuk bermain. Aku diberi tahu bahwa apa yang kita lakukan di sini sama saja dengan menjalankan sebuah misi. Kalian tidak bisa mengesampingkannya begitu saja. Akan ada penilaian performa kalian.”
“Jika kalian ingin mendapatkan nilai yang bagus agar dipermudah dalam naik pangkat, maka mainkan game ini dengan sungguh-sungguh. Kita memang sebagai bawahan tidak tahu apa pun mengenai alasan kenapa kita sebagai tim mata-mata elit, harus memainkan game ini. Seperti kata Genta tadi, semua ini pasti ada alasannya,” jelas Kapten Y.
“Siap! Kami mengerti, Kapten.”
“Sekarang, kalian datangi pusat pelatihan sesuai dengan ras yang kalian pilih. Kita akan mempelajari skill dasar terlebih dahulu sebelum kemudian membentuk regu untuk naik level bersama-sama. Aku dengar ada tim dari kesatuan lain di sini. Kita tidak boleh kalah dari mereka.”
__ADS_1
“Siap! Kami akan melaksanakannya, Kapten.”
Setelah mendapatkan perintah dari Kapten Y, para tentara itu berpencar dan menuju ke pusat pelatihan ras masing-masing. Sebelumnya, Kapten Y sudah diberi gambaran apa yang harus mereka lakukan setelah memasuki game. Jadi, meski sebagian besar tentara tidak terlalu memahami game MMORPG, mereka masih tahu apa yang harus mereka lakukan.
Sepuluh jam kemudian, Kapten Y kembali berkumpul dengan anak buahnya. Kali ini mereka sudah mencapai level 10. Mereka tengah berdiskusi di salah satu kamar hotel yang sudah mereka sewa. Raut wajah tentara tersebut terlihat sangat serius sekarang.
Sebelum ini, mereka pikir ini hanya permainan semata. Namun, setelah melawan cukup banyak monster, para tentara ini tahu bahwa ini bukan hanya sebuah permainan. Mereka yang sudah memiliki pengalaman besar dalam bertarung, jelas bisa membedakan hal ini.
“Game ini terasa sangat nyata. Aku seperti melakukan pertarungan sungguhan tadi. Ini tidak seperti beberapa game MMORPG yang sebelumnya aku mainkan. Pada game yang lain, hanya kontrol tangan kitalah yang menentukan pergerakan karakter.”
“Namun, game berbeda dengan yang lain. Aku bisa menggunakan pikiranku untuk melakukan pertarungan. Aku rasa tubuh asliku berada dalam keadaan tidur ketika memainkan game ini. Meski pod game memungkinkan kita melakukan hal ini, tetapi setahuku kita masih sadar ketika memainkan game lain.” jelas Martin.
“Sekarang kalian sudah yakin bukan, bahwa perintah dari Jenderal Hartono bukan perintah biasa?” tanya Kapten Y.
“Iya, benar Kapten. Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Daniel.
“Ucapan PHD ada benarnya. Negara kita tidak dalam masa peperangan. Mungkin Jenderal Hartono ingin melatih kita untuk terjun langsung dalam perang. Bagaimanapun juga, game ini terasa sangat nyata. Aku rasa peperangan di dalam game ini juga akan sangat nyata. Ini kesempatan bagus bagi kita untuk melatih diri di peperangan ini,” jelas Daniel.
“Jika kita ingin terlibat lebih jauh, kita perlu menemui penguasa di kota ini. Kita harus menemui walikota untuk meminta informasi mengenai musuh. Jika kita tahu siapa musuh kita, di mana mereka berada, kita bisa menyusun rencana untuk mengalahkan musuh.”
“Itu memang benar, Kapten. Namun, bagaimana caranya agar kita bisa bertemu dengan walikota? Di sini cukup banyak pemain yang ingin menemui walikota, mereka berkumpul di depan kastil untuk bisa melakukan hal itu. Namun, dari yang aku dengar, pemain yang berkerumun di depan kastil, justru ditangkap dan dipenjara selama sepuluh jam oleh para penjaga. Kita tidak bisa dipenjara begitu saja,” jelas Martin.
Ucapan Martin ini ada benarnya. Mereka tidak bisa menemui walikota. Meski mereka ini adalah tim mata-mata elite yang dilatih untuk menyusup ke markas musuh, tetapi mereka masih perlu informasi dasar mengenai musuh mereka. Lokasi musuh saja mereka tidak tahu. Jadi, bagaimana bisa mereka menyusup dan mencari tahu informasi lain mengenai musuh?
“Kita akan memikirkan cara untuk melakukan hal itu. Setelah ini, kita naikkan dulu level kita sampai batas waktu bermain kita habis. Masih ada lima jam lebih untuk memainkan game ini. Jika nanti kita tidak bisa mencari cara menemui walikota, maka kita akan mencari tahu besok,” ucap Kapten Y.
Yang lain menganggukkan kepala, menyetujui perintah dari Kapten Y. Tidak ada salahnya bagi mereka untuk meningkatkan level. Dengan level yang tinggi, maka kesempatan mereka untuk ikut berpartisipasi dalam perang, semakin besar.
Tidak lama kemudian, pintu kamar yang mereka tempati di ketuk dari luar. Sepuluh orang tentara yang ada di sana saling pandang mendengar ketukan hal itu. Mereka ingin tahu kenapa ada yang mengetuk pintu kamar mereka sekarang.
__ADS_1
“Apakah ada yang memberitahu seseorang bahwa kita melakukan pertemuan di sini?” tanya Kapten Y.
Mungkin saja anggota timnya ada yang berkenalan dengan pemain lain di dalam game. Lalu, mereka mengatakan bahwa mereka akan berada di kamar hotel ini. Jika memang ada anggota timnya yang membocorkan keberadaan mereka, maka Kapten Y akan memberi mereka hukuman.
Memang dalam pertemuan mereka di sini tidak ada pembicaraan yang bersifat sangat rahasia. Namun, jika mereka sudah pernah membocorkan lokasi pertemuan mereka kepada orang lain, maka hal itu bisa terulang di lain hari. Ini sama saja dengan tindakan penghianatan.
“Tidak, Kapten. Kita semua baru bermain di sini. Semua orang tahu, meski kita hanya memainkan sebuah game, tetapi ini adalah misi langsung dari Jenderal Hartono. Sudah jelas ini adalah misi penting. Kami tidak akan membocorkan informasi apa pun ketika menjalankan misi,” jawab Genta.
“Itu benar, Kapten. Meski aku sudah berkenalan dengan beberapa pemain lain, aku tidak akan membocorkan lokasi pertemuan kita,” sahut Martin.
“Lalu, kenapa ada yang mengetuk pintu kamar kita? Belum ada satu jam kita di sini. Bukankah kita menyewa kamar ini untuk satu hari penuh? Apakah ini semua dikarenakan kita menempati kamar ini untuk sepuluh orang?” tanya Kapten Y.
“Kita akan tahu jika kita membuka pintunya, Kapten. Siapa pun itu yang datang, pasti memiliki keperluan dengan salah satu di antara kita.”
“Baiklah. Kita buka pintunya.”
Di depan pintu, sekarang sudah ada dua orang laki-laki dengan telinga kelinci yang berpakaian rapi. Pakaian yang mereka pakai menandakan bahwa keduanya berasal dari tim patroli kota. Hal ini membuat mereka yang ada di sana bertanya-tanya, kenapa para penjaga datang kemari? Apakah mereka sudah membuat kesalahan?
“Ada perlu apa ya?” tanya Kapten Y.
“Apakah Anda Kapten Y?”
“Ya. Ada apa?” tanya Kapten Y sekali lagi.
“Mari ikut kami. Walikota Star ingin menemui Anda di kastilnya.”
“Walikota Star?”
“Ya.”
__ADS_1
Jawaban dari penjaga itu membuat Kapten Y tertegun. Sebelum ini mereka membicarakan bagaimana caranya agar mereka bisa bertemu dengan Walikota Star. Namun, tiba-tiba saja sekarang Kapten Y diundang oleh Walikota Star untuk menemuinya di kastil.