Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 91 Perang Di Ruang Angkasa (2)


__ADS_3

Dot'ghea memandangi pesawat tempur milik musuh yang sekarang semakin mendekat. Jumlahnya cukup banyak. Dot'ghea hanya memiliki satu buah kesempatan untuk menghancurkan musuh dalam sekali serangan. Jadi, Dot'ghea menunggu kesempatan yang tepat itu.


"Kapten Dot'ghea, sekarang ini energi terakhir yang kita miliki hanya bisa melakukan satu kali tembakan laser. Itu pun hanya dua puluh persen dari kekuatan laser sesungguhnya. Sekarang, laser kita siap ditembakkan," lapor Jat'mhea.


"Bagus tunggu aba-aba dariku untuk melakukan serangan sekaligus," jawab Dot'ghea.


Dot'ghea bisa melihat bahwa musuh sekarang terbang saling berdekatan satu sama lain. Ini akan sangat menguntungkan untuk Dot'ghea. Ketika mereka sudah berada di dalam jarak serang, maka Dot'ghea akan meluncurkan serangannya.


Namun, ketika semakin dekat, tidak semua musuh langsung menyerang. Dot'ghea bisa melihat ada peswat musuh yang diam di tempat dan tidak melaju seperti pesawat lainnya. Mereka nampak tidak memiliki niatan untuk menyerang.


Ketika pesawat yang lain mulai menembaki kapal Dot'ghea, pesawat-pesawat tempur yang tadi tertinggal, tetap tidak melakukan apa pun. Padahal, Dot'ghea berharap mereka menyerang bersamaan agar rencanya bisa terlaksana dengan baik.


"Kapten Dot'ghea, mereka mulai menembaki kapal kita. Kerusakan kapal kita sekarang bertambah lima persen. Apakah kita akan melakukan serangan sekarang?" tanya Hot'phei.


"Tunggu dulu!" perintah Dot'ghea. Dot'ghea masih berharap beberapa pesawat musuh itu ikut bergabung menyerang. Namun, setelah menunggu lama, pesawat-pesawat tempur itu tidak bergerak sedikit pun.


"Kapten Dot'ghea, kerusakan kapal kita telah bertambah sepuluh persen lagi. Sekarang ini, pesawat kita mengalami lebih dari tujuh puluh lima persen kerusakan. Kapten Dot'ghea, kita tidak bisa menunggu lagi. Berikan kami perintah," ucap Hot'phei yang mulai tidak sabaran.


Hot'phei sudah tahu kemungkinan mereka bisa selamat dari pertempuran ini sangalah kecil. Mungkin tidak ada harapan. Namun, Hot'phei tidak ingin mati tanpa melakukan perlawanan. Jika mereka hanya menunggu seperti ini, cepat atau lambat kapal mereka akan meledak oleh serangan musuh.


Pandangan Dot'ghea masih fokus pada beberapa pesawat tempur yang masih diam di tempat. Hal ini membuat Dot'ghea mengerutkan keningnya. Kemungkinan besar musuh sudah menebak bahwa Dot'ghea memiliki rencana lain.


"Luncurkan serangan laser kita!" perintah Dot'ghea.


Sepertinya Dot'ghea tidak bisa menunggu terlalu lama. Seperti kata Hot'phei, Dot'ghea dan pasukannya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Mereka perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi serangan musuh.


"Baiklah, Kapten Dot'ghea. Serangan akan diluncurkan dalam lima, empat, tiga, dua, satu."


Sebuah serangan laser langsung ditembakkan dari kapal Dot'ghea. Laser tersebut mengenai pesawat tempur milik para pemain, tepat di tengah kerumunan. Laser tersebut tidak hanya berhenti di satu target saja, tetapi serangan itu menyebar ke segala arah.


Setelah mengenai satu target, laser tersebut akan terpecah dan menyerang pesawat tempur lainnya. Ledakan demi ledakan pesawat tempur para pemain mulai terjadi. Dalam satu serangan, ada seratus tiga puluh dua pesawat tempur para pemian yang hancur oleh serangan laser.

__ADS_1


Hal ini membuat beberapa pemain yang tersisa, merasakan keringat dingin mengalir di punggung mereka. Awalnya mereka pikir semua ini mudah. Kapal induk milik musuh terlihat sudah rusak. Lalu, ketika mereka menyerang, musuh tidak langsung melawan. Sayangnya, satu serangan perlawanan musuh membuat para pemain tidak berkutik.


"Sial! Aku tidak menyangka musuh memiliki serangan sekuat itu. Perang kali ini tidak seperti perang sebelumnya. Pasukan kita langsung habis dalam satu serangan," ucap slah satu pemain.


"Perkataan mengenai jangan meremehkan musuh selemah apa pun mereka, ternyata benar. Aku kira kapal musuh hanya sebuah rongsokan, tetapi mereka bisa memberikan serangan sekuat ini. Ah ... aku ingin sekali memiliki kapal induk seperti itu."


"Bisakah kita mengalahkan mereka? Satu serangan saja kita tidak berdaya seperti ini. Jika dia menyerang lagi, maka seluruh pasukan akan tersapu habis."


"Pantas saja beberapa pemain berdiam diri di belakang. Aku kira mereka sangat takut dalam menghadapi peperangan ini. Ternyata aku salah, mereka pasti sudah menebak bahwa kejadian seperti ini akan terjadi."


...


"Kapten Dot'ghea, semua energi kita sudah habis. Bahkan, energi terakhir untuk menjalankan mesin juga tidak ada. Semua mesin di kapal kita sudah mati," lapor Jat'mhea.


Dot'ghea tidak menjawab laporan Jat'mhea. Dot'ghea justru memandangi seluruh anak buahnya yang berada di ruang komando. Bisa dibilang ini adalah saat-saat terakhir mereka. Dot'ghea ingin mengingat wajah dari anak buahnya dengan baik.


"Kita sudah berusaha keras. Kalian adalah rekan yang sangat handal. Aku bangga telah menjadi kapten dari orang-orang hebat seperti kalian. Jika kita bisa terlahir kembali, maka aku ingin membali memimpin kalian," ucap Dot'ghea yang memberikan suasana haru di dalam ruang komando.


Mendengar perkataan Dot'ghea yang syarat akan kata-kata perpisahan, semua yang ada di ruang komando menjadi lebih serius lagi. Mereka juga memandangi Dot'ghea dengan tatapan yang serius.


"Aku juga bangga menjadi anak buahmu, Kapten Dot'ghea."


"Aku juga, Kapten Dot'ghea."


Satu persatu mereka yang di ruang komando mulai mengatakan kata-kata perpisahan satu sama lain. Suasana serius yang sebelumnua ada di ruang komando, sekarang berubah menjadi haru.


"Kalau begitu, apakah kalian tidak keberatan jika kalian mati bersamaku?" tanya Dot'ghea.


"Tentu saja tidak, Kapten Dot'ghea. Demi Ras Dodo'phia, aku siap mati. Hidup Ras Dodo'phia!" teriak Hot'phei sembari mengangkat sebelah tangannya.


"Demi Ras Dodo'phia kami siap mati. Hidup Ras Dodo'phia," sahut yang lain.

__ADS_1


"Hahaha ... aku senang memiliki anak buah seperti kalian. Sekarang, pakai baju perang kalian. Kita akan habisi musuh. Bunuh sebanyak mungkin musuh sebelum kalian mati. Demi Ras Dodo'phia."


"Demi Ras Dodo'phia."


...


Lintang yang melihat semua kejadian itu dari jauh. Hampir semua pesawat tempur para pemain yang menyerang, tersapu habis. Untuk Sosirone menghentikan Lintang yang tadi berniat ikut menyerang langsung.


"Sosirone, apakah kita bisa langsung menyerang sekarang?" tanya Lintang.


"Belum. Kita tunggu sebentar lagi. Jika dalam dua puluh menit ke depan musuh tidak melakukan serangan lagi, maka kita akan mulai menyerang. Ini bukanlah saat yang las untuk melakukan serangan."


Sosirone lebih berpengalaman dalam hal ini. Oleh karena itu, Lintang mengikuti perkataan Sosirone dan menunggu lebih lama lagi. Lintang tetap mengawasi keadaan medan perang di depannya.


Pesawat tempur para pemain kembali melakukan serangan. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini para pemain tidak berkumpul di satu titik. Pesawat tempur para pemain mulai berpencar dan menyerang kapal induk milik musuh dari berbagai sudut.


Target serangan dari para pemain adalah bagian yang rusak dari kapal induk milik musuh. Mereka berpikir itu akan memberikan dampak yang lebih besar. Serangan para pemain bisa membantu kerusakan dari kapal induk milik musuh.


Awalnya, semuanya baik-baik saja. Tidak ada lagi serangan laser atau serangan apa pun dari kapal induk milik musuh. Namun, tiba-tiba saja salah satu pesawat tempur para pemain menerima sebuah serangan. Hal itu membuat pesawat tempur itu menjadi oleng dan tidak terkendali. Pada akhirnya pesawat tempur itu menabrak kapal induk milik musuh.


Dari salah satu lubang yang ada di kapal induk milik musuh, beberapa orang yang tubuhnya terselimuti logam, keluar. Mereka terlihat seperti manusia besi yang menjadi salah satu tokoh super hero di jaman dulu. Di belakang baju mereka, terdapat sebuah jet kecil yang membantu pergerakan mereka di ruang angkasa.


"Eh apa itu?" tanya Lintang.


Pesawat tempur milik Lintang telah dilengkapi sebuah kamera. Lintang memperbesar gambar itu agar ia bisa melihat lebih jelas lagi mengenai apa yang terjadi di medan pertempuran. Ia cukup kaget mengetahui musuh memiliki sesuatu yang seperti ini.


"Inilah kenapa aku memintamu untuk menunggu dan tidak gegabah, Lintang." Suara Sosirone kembali terdengar di pesawat tempur milik Lintang. "Jika kita mendesak musuh terlalu jauh, maka mereka tidak akan memedulikan resiko apa pun. Sekarang, mereka akan mempertaruhkan nyawa untuk bisa membunuh kita semua."


Sosirone mulai menjelaskan bahwa yang dipakai oleh musuh saat ini adalah baju tempur ruang angkasa. Dengan memakai baju tempur ini, sesorang bisa bergerak bebas di ruang angkasa dan melakukan serangan. Baju ini bahkan tidak menghambat mereka dalam mengeluarkan kemampuan.


Sayangnya baju tempur ini memiliki kekurangan yang cukup besar. Jika tidak dalam keadaan mendesak, maka baju seperti ini tidak akan pernah dipakai. Siapa pun yang memakai baju tempur memiliki resiko tubuh meledak. Sedikit kesalahan, atau jika musuh sampai menyerang titik energi yang ada di baju ini, maka mereka akan meledak.

__ADS_1


Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa baju ini adalah baju yang dirancang untuk malkukan bom bunuh diri. Ini karena pemakainya akan menyentuhkan diri ke pesawat tempur milik musuh sebelum meledakkan diri. Jika tidak dalam keadaan mendesak, tidak ada satu pun pasukan yang akan memakai baju ini.


"Lintang, sekarang saatnya kita mulai melakukan serangan. Semuanya bersiap, kita akan menyerang sekarang."


__ADS_2