
"Adakah di antara kalian yang bisa menjelaskan mengenai hal ini? Kenapa gudang senjata dan juga gudang makanan kita menjadi kosong?" tanya Mot'dhea dengan nada dingin.
Tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Mot'dhea. Mereka hanya diam dan menundukkan kepala, berusaha sebisa mungkin menurunkan keberadaan mereka di depan Mot'dhea. Jika Mot'dhea sampai menargetkan salah satu di antara mereka, maka riwayat orang itu akan habis sudah.
"Kenapa kalian diam saja? Jawab!" bentak Mot'dhea. "Fot'nheo, sekarang jelaskan padaku mengenai semua ini? Kenapa bisa pasokan senjata dan maknanan kita habis tidak bersisa?"
Sekarang, mau tidak mau Fot'nheo harus menjawab pertanyaan Mot'dhea. Fot'nheo merupakan kaki tangan Mot'dhea. Jadi, jika terjadi sesuatu, Fot'nheo adalah orang pertama yang akan Mot'dhea tanyai.
"Maaf, Komandan. Aku sendiri juga tidak mengetahui hal ini. Salah seorang anak buahku melaporkan mengenai hilangnya makanan dan senjata yang kita miliki. Dari lima gudang makanan yang ada empat di antaranya sudah tidak bersisa. Lalu, senjata yang ada di tiga gudang senjata kita, tidak ada yang tersisa. Hanya senjata yang dibawa oleh penjaga saja yang tersisa," jelas Fot'nheo yang masih tidak berani melihat ke arah Mot'dhea.
"Bedebah. Menjaga gudang senjata seperti ini saja kalian tidak becus. Apa saja yang kalian lakukan sehingga membiarkan kita kehilangan banyak sumber daya seperti ini," bentak Mot'dhea sekali lagi.
"Mot'dhea, sudahlah. Tidak ada gunanya Kau memarahi mereka. Semua senjata dan makanan itu tidak akan kembali. Lagi pula, ini semua adalah salahmu. Bukankah aku sudah puluhan kali memintamu serius dalam melakukan patroli? Namun, Kau menyepelehkan hal itu."
"Sekarang lihatlah, kita kehilangan banyak sumber daya. Pasokan makanan kita habis. Dengan pasokan yang tersisa, kita hanya bisa bertahan selama dua bulan saja. Kiriman makanan baru akan datang sepuluh bulan lagi."
"Daripada Kau terus memarahi mereka, lebih baik Kau sekarang mencari solusi. Sekarang, dengan hilangnya senjata serta makanan kita, membuktikan bahwa ada makhluk lain yang memiliki kecerdasan di planet ini. Dengan senjata kita yanh sekarang, serta senjata kita yang dimiliki musuh, akan sangat berbahaya bagi kita sekarang."
"Lebih baik, sekarang Kau kerahkan pasukanmu untuk mengejar musuh. Membawa barang sebanyak itu pasti membuat kecepatan mereka berkurang. Aku yakin kita masih memiliki kesempatan mengambil kembali apa yang menjadi milik kita."
Ucapan Mat'chia yang cukup panjang itu, menyadarkan Mot'dhea akan bahaya yang mungkin saja akan mereka hadapi. Mot'dhea tidak peduli jika Mat'chia menyalahkannya. Namun, seperti kata Mat'chia, lebih baik mereka mencari solusi sekarang.
Ras Dodo'phia memanglah ras yang cukup ahli dalam pertarungan jarak dekat. Namun, kekuatan mereka akan sangat berkurang dengan hilangnya senjata mereka. Terutama pasokan makanan. Jika pasokan makanan mereka dirusak musuh, meski mereka bisa merebut senjata mereka sekali pun, Mot'dhea yakin mereka tidak akan bisa hidup lama di sini.
Mot'dhea lalu menarik napas panjang untuk memenangkan diri. Sebagai komandan yang memiliki wewenang penuh, Mot'dhea perlu berpikir dengan tenang untuk bisa mencari solusi dari permasalahan ini.
"Fot'nheo, Lot'yhou, Sot'mhou, Got'cheu, kalian bawalah pasukan dan pergi ke empat penjuru mata angin. Aku ingin kalian mencari keberadaan musuh kita. Xot'rhio, aku ingin Kau menggrlrdah seluruh benteng milik kita. Cari tahu bagaimana musuh bisa masuk ke benteng kita tanpa ada yang mengetahui."
__ADS_1
"Baik, Komandan Mot'dhea."
Mendengar perintah Mot'dhea, semua pasukan yang ada di sana langsung bergegas pergi. Setidaknya Mot'dhea memeberikan mereka alasan untuk tidak berada di ruangan yang sama untuk sekarang. Mereka akan memperlama pencarian penyusup itu agar mereka tidak lagi dimarahi oleh Mot'dhea.
"Mat'chia, maafkan aku. Karena kesombonganku, kita kehilangan cukul banyak sumber daya. Jika saja aku mengikuti ucapanmu untuk melakukan patroli dengan sungguh-sungguh, maka kejadian seperti ini tidak akan terjadi."
"Tidak ada gunanya Kau meminta maaf kepadaku. Semua itu tidak akan mengubah keadaan. Aku ingin Kau membereskan semua permasalahan ini untuk menebus kesalahanmu. Aku harap, kejadian ini memberimu pelajaran untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas."
"Baiklah. Aku akan memperbaiki kesalahan ini. Siapa pun itu yang sudah mengambil sumber daya milik kita, tidak akan aku maafkan. Jika aku berhasil menangkap mereka, maka aku akan menyiksa mereka hingga mereka akan memohon untuk segera dibunuh," ucap Mot'dhea dengan nada dingin.
Keadaan Mot'dhea yang penuh dengan amarah, sangat berbeda dengan keadaan Kapten Y dan yang lainnya. Saat ini mereka sudah kembali ke kota oara oemain tinggal. Kapten Y sudah berada di depan kastil, hendak melaporkan misi yang sudah ia jalankan kepada Walikota Star.
Martin, Daniel, Genta, dan yang lainnya juga mengikuti Kapten Y menuju ke Kastil Walikota Star. Mereka cukup penasaran ingin melihat isi dari kastil yang terlihat megah dari luar. Mereka juga ingin melihat Walikota Star secara langsung.
Karena Kapten Y sudah pernah berkunjung ke kastil, cukup mudah bagi mereka untuk masuk. Penjaga yang ada di gerbang, masihlah orang yang sama dengan yang memanggil Kapten Y. Hal itu membuat beberapa pemain yang sedari tadi menunggu di depan gerbang, mulai membicarakan mengenai hal ini.
"Eh ... bagaimana bisa mereka masuk begitu saja ke kastil. Kita sudah menunggu sangat lama di sini. Namun, para penjaga tidak mengijinkan kita masuk, tetapi mereka bisa masuk begitu saja."
"Ya. Itu bis saja terjadi. Kalau begitu, setelah ini kita perlu mencegat mereka. Aku ingin tahu bagaimana bisa mereka mendapatkan misi dari Walikota Star, sementara kita tidak."
"Ya. Kamu benar."
...
"Jadi, kalian sudah menyelesaikan misi pencarian informasi musuh?" tanya Lintang yang sekarang menyambut kedatangan Kapten Y dan regunya.
Sebelumnya Lintang akan membuat akun miliknya dan memulai program memperkuat diri. Namun, Sistem mengingatkan padanya bahwa tidak lama lagi Kapten Y dan regunya akan menyelesaikan misi dan menemui Lintang.
__ADS_1
Jadi, daripada Lintang harus keluar dari game dengan mode bermain dan kembali masuk ke dalam game dengan mode developer, lebih baik Lintang menyelesaikan ini telebih dahulu. Dengan begitu, Lintang bisa menaikkan levelnya tanpa ada gangguan.
"Ya, Walikota Star. Kami sudah mendapatkan cukup banyak informasi mengenai musuh. Meski informasi ini belum lengkap, tetapi informasi ini sangat membantu kita untuk mengalahkan musuh," jawab Kapten Y.
"Level terlemah dari musuh adalah level 45. Lalu, sejauh ini level tertinggi dari musuh yang kami ketahui adalah level 53. Kami tidak bertemu dengan komandan musuh. Dari perkiraan, komandan musuh berada di level 70 hingga level 80. Itu hanyalah perkiraan kasar kami, Walikota Star."
"Lalu, kami juga mengosongkan persediaan makanan serta senjata dari musuh. Dengan begini, kekuatan musuh akan semakin berkurang."
"Mendapat senjata musuh? Apakah kalian mengambil senjata yang dimiliki oleh musuh?" tanya Lintang dengan ekspresi kaget.
Sebenarnya, Lintang sudah tahu mengenai hal ini. Sebelum ini Sistem sudah memberitahunya dan mengabarkan berita baik ini. Hanya saja, Lintang perlu berpura-pura kaget untuk menghayati perannya sebagai Walikota Star.
"Ya. Itu benar, Walikota Star. Kami mengosongkan persediaan senjata serta makanan milik musuh."
"Kalau begitu, keluarkan satu senjata untuk setiap jenisnya. Lalu, sisanya bisa kalian miliki. Tenang saja, aku akan memberikan hadiah sepadan dengan senjata kalian itu," pinta Lintang.
Sebelumnya, Sistem sudah memberi tahu Lintang untuk meminta satu senhata untuk setiap jenisnya. Senjata-senjata tersebut nantinya akan dijadikan contoh dasar untuk membuat senjata baru. Kemungkinan, akan senjata baru yang bisa dipakai oleh para pemain nantinya.
Sebentar lagi perang akan dimulai. Jadi, keberadaan senjata baru ini akan sangat membantu para pemainnya dalam menghadapi perang. Beberapa pemain Lintang bisa menggunakan senjata api di dunia nyata. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berasal dari Amerika Serikat atau orang-orang yang menyukai olahraga menembak.
Dengan adanya senjata ini, maka para pemainnya tidam perlu berlatih keras dalam menggunakan senjata tajam. Namun, senjata yang lebih mirip senjata api ini, hanya akan menjadi senjata pelengkap saja. Senjata utama dari para pemain tetaplah senjata tajam.
"Kami boleh memiliki sisanya?" tanya Kapten Y ingin memastikan.
Sebelumnya, Kapten Y berniat menyerahkan seluruh senjata yang ia rebut dari musuh kepada Walikota Star. Meski itu bukanlah kewajiban, tetapi kebiasaannya di militer tidak bisa semudah itu Kapten Y hilangkan.
Sekarang, jika Walikota Star mengizinkan mereka memiliki senjata ini, maka semuanya akan lebih baik. Kapten Y bisa membagi senjata ini dengan tentara lain yang juga dikirim menjalankan misi memainkan game ini. Dengan begitu, para tentara yang ada di game akan jauh lebih kuat, meskipun mereka cukup terlambat masuk.
__ADS_1
"Ya. Aku hanya membutuhkan satu senjata untuk setiap jenisnya. Aku akan mempelajari senjata itu dan memproduksinya secara masal. Untuk sisanya, kalian bisa mengatur sendiri pembagiannya."
[Selamat Anda telah menyelesaikan misi pengumpulan informasi. Selamat Anda mendalatkan 30.000 poin kotribusi. Selamat Anda mendapatkan tambahan 30.000 poin kontribusi karena sudah melemahkan kekuatan musuh. Selamat Anda mendapatkan 20.000 EXP. Selamat Anda telah naik level.]