Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 41 Misi baru


__ADS_3

"Bisa istirahat setelah perang panjang memang menyenangkan. Sedikit lagi para pemain akan memenangkan peperangan ini," gumam Lintang yang tengah beristirahat di antara para pemain. Dalam perang ini, Lintang hampir saja mati ketika komandan musuh meledakkan diri. Untungnya, Lintang berhasil menyelamatkan diri.


"Sistem, perlihatkan panel milikku," pinta Lintang.


[Tentu, Host.]


[Nama Host : Lintang Cahya Sendira]


[Umur : 23 Tahun]


[Kekuatan : 12 (+6)]


[Stamina : 13(+5)]


[Kelincahan : 15 (+5)]


[Pertahanan : 12 (+7)]


[Poin Game : 5.751.897]


[Jumlah pemain : 1.536.506]


[Level tertinggi pemain : 40]


[Ras pemain : 5]


"Jumlah pemain sudah cukup banyak sekarang. Karena adanya perang ini, pemainku bertambah lebih dari dua ratus orang. Banyaknya pemain membuatku memiliki banyak poin game. Ini nanti akan cukup untuk membuat bangunan baru. Lalu, jika nanti di markas musuh ada teknologi baru, itu akan menjadi senjata baru untuk persiapan perang besar."


Ketika Lintang trngah sibuk dengan panel sistem miliknya, sebuah teriakan dari beberapa oemain membuatnya mengalihkan pandangan. Di sana, Lintang melihat musuh keluar dari dalam benteng. Mereka mengendarai mobil milik mereka dan bergerak cepat ke arah oara oemain.


"Ini gawat, pemain terkuat di sini hanyalah level dua puluh, yang lainnya belum kembali dari kematian mereka. Dan sekarang musuh sudah menyerang dengan kekuatan penuh. Jika begini, aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menyerang musuh."

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Lintang mengeluarkan roket peluncur miliknya. Daya ledak dari roket ini hampir sama dengan ledakan yang dihasilkan oleh Mot'dhea ketika meledakkan diri. Lintang tidak memakainya dalam perang sebelumnya karena daya serangnya itu.


Senjata di sini tidak mengenal baik lawan maupun kawan. Jadi, jika Lintang menggunakannya, maka akan banyak pemain yang mati karena serangan Lintang. Sekarang, karena musuh datang menyerang, Lintang menggunakan senjata terkuat ini. Tidak ada satu pun pemain di sekitar musuh. Jadi, Lintang bisa menyerang musuh dengan sekuat tenaga tanpa perlu menahan lagi.


Boom. Boom. Boom.


Ledakan yang cukup keras berhasil menghancurkan beberapa kendaraan musuh. Mendengar ledakan itu, para pemain mulai tersadar akan apa yang sedang terjadi.


"Sial. Mereka menyerang lebih awal. Padahal, pemain kita yang berlevel tinggi, belum semuanya kembali ke dalam game."


"Sudah jangan mengeluh. Kita perlu membunuh musuh-musuh ini. Bagaimanapun juga, mereka adalah tambang poin kontribusi dan juga EXP. Apa kau melihat hadiah yang bisa kita tukarkan, aku tidak mau melewatkan hadiah sebagus itu. Lihat saja pemain yang membawa rudal itu, dia pasti mendapatkan poin yang cukup banyak. Sejak perang dimulai, aku lihat dia sudah membunuh banyak musuh."


"Kau benar. Lagi pula, beberapa pemain elit sudah bangkit dari kematian mereka. Sekarang, mereka bergegas menuju kemari untuk membantu kita. Jadi, bertahanlah selama yang kalian bisa."


Para pemain pun tidak mau kalah dari Lintang dalam menyerang musuh. Mereka mulai bergerak menyerang musuh yang datang. Ada hampir tiga ribu prajurit musuh yang datang ke arah para pemain. Namun, serangan dari Lintang membantu mengurangi jumlah tersebut.


"Berengsek. Ternyata mereka masih memiliki roket peluncur. Dia dengan cepat menyerang prajurit kita. Cepat atau lambat, mereka akan mati. Fot'nheo, perintahkan seluruh prajurit untuk mempercepat laju kendaraan mereka. Kita perlu membunuh musuh kita yang satu itu. Jika dia tidak segera diatasi, maka kita akan mati sebelum mencapai musuh," jelas Mat'chia.


Sebagai komandan baru di benteng, Mat'chia perlu ikut terjun langsung dalam peperangan ini. Keputusan Mat'chia adalah penentu langkah selanjutnya. Jadi, Mat'chia perlu ikut terjun ke medan perang.


Sayangnya, Lintang tidak membiarkan hal itu terjadi. Lintang lalu menembakkan rudal miliknya. Satu demi satu rudal iu ditembakkan oleh Lintang. Itu membuat jumlah musuh berkurang cukup banyak.


"Sial. Musuh yang satu itu menembaki kita tanpa henti. Prajurit yang ada di depan semuanya sudah mati. Kalao begini, kita harus mengeluarkan seluruh kemampuan kita."


Saling tembak senjata api pun dimulai. Di pihak Ras Dodo'phia, ada sekitar lima puluhan orang saja yang memegang senjata. Sementara itu, di pihak para pemain, ada sekitar tiga puluhan yang memegang senjata.


Lintang hanya perlu membunuh semua yang memegang senjata. Sisanya, biar para pemain yang lain yang menghadapi. Dengan beberapa kali tembakan, Lintang akhirnya bisa membunuh lima puluh orang orang musuh yang membawa senjata itu. Tidak hanya itu, senjata yang mereka pihak musuh bawa pun juga ikut meledak.


"Ayo semuanya serang musuh itu." Teriak salah satu pemain.


"Wah pemain level tinggi sudah ada yang kembali. Kita bisa melakukan ini. Semuanya, serang bersama-sama."

__ADS_1


Satu persatu pemain dengan level tiga puluh ke atas, mulai kembali ke medan perang. Serangan yang mereka berikan, cukup ampuh mempercepat turunnya darah musuh. Hal ini membuat Ras Dodo'phia yang sebelumya berpikir bahwa mereka bisa memenangkan perang ini, kembali merasa putus asa.


"Apa-apaan ini. Kenapa musuh jumlahnya semakin banyak lagi? Padahal sebelum ini jumlah musuh tidak terlalu banyak. Lalu, bagaimana mungkin ada orang yang berwajah sama di antara para musuh. Aku yakin aku sudah membunuh orang itu. Tapi kenapa dia kembali?"


Salah satu prajurit Dodo'phia melihat munculnya pemain yang sebelumnya ia lawan dan gugur di medan perang, kembali berkumpul dengan pasukan musuh. Ini sangat tidak masuk akal menurutnya.


Tidak hanya satu orang prajurit saja yang melihat keanehan itu, semua yang ada di sana juga melihatnya. Meski jumlah pemain yang tadi menyerang benteng mereka cukup banyak, mereka masih bisa mengenali beberapa pemain yang sudah mereka bunuh.


Kejadian ini membuat mereka merasa semakin putus asa. Ini karena mereka tahu bahwa musuh yang mereka hadapi ini, memiliki kemampuan terlahir kembali. Ada banyak cara untuk memiliki tubuh yang bisa terlahir kembali, tetapi itu membutuhkan sumber daya yang besar. Apalagi untuk diberikan kepada bergitu banyak prajurit.


"Semuanya, mundur!" perintah Mat'chia.


Namun, Mat'chia sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu. Hal ini karena para pemain sudah mengepungnya. Mereka kembali menggunakan taktik yang sama dengan taktik yang mereka gunakan melawan Mot'dhea.


Dengan cepat dari Mat'chia dan prajuritnya menurun. Dalam waktu kurang dari setengah jam, seluruh pasukan Mat'chia gugur mengikuti jejeak komandan mereka, Mot'dhea. Melihat prajurit utama musuh gugur, para pemain langsung bergegas menuju benteng.


Prajurit Dodo'phia yang tersisa di benteng, tidak bisa menahan kebrutalan para pemain dalam memanen poin kotribusi serta EXP. Dalam waktu setengah jam, tidak ada lagi Ras Dodo'phia yang tersisa di sana.


[Ding]


[Selamat, Host telah berhasil menyelesaikan misi penghancuran ras lain di Planet Mars. Selamat, Host telah mendapatkan +10.000 poin game, 1 tugu kelahiran kembali, 1 peta baru.]


[Ding]


[Misi telah dibuat.]


[Ding]


[Host, jumlah pemain milik Host saat ini masihlah sangat lemah. Maka dari itu Host perlu memperkuat mereka. Host, miliki 100.000 pemain berlevel 60.]


[Batas waktu : 7 hari]

__ADS_1


[Hadiah : +50.000 poin game, produksi masal kendaraan untuk mobilitas pemain]


[Hukuman : -120.000 poin game]


__ADS_2