
“Kenapa pintu ini tidak juga bisa terbuka. Padahal aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku. Aku juga sudah menyerangnya dengan kekuatan penuh. Namun, pintu ini tetap tidak bergerak bahkan tidak ada goresan sedikit pun,” keluh Dolan.
“Mungkinkah pintu ini hanya bisa dibuka dengan menggunakan sebuah mekanisme? Kita tidak akan bisa membukanya dengan cara kekerasan.”
“Itu mungkin juga terjadi. Itu berarti kita perlu mencari mekanisme untuk membuka pintu ini. Karena di dalam bangunan ini tidak ada monster, maka kita akan berpencar untuk mencari mekanisme yang bisa membuka pintu ini.”
“Baiklah.”
Keduanya pun mulai berpencar. Selama mencari mekanisme membuka pintu, pikiran Noval tidak pernah terlepas dari pintu yang tadi diserang Dolan. Dengan kekuatan Dolan yang sudah berada di atas level 80, serangannya jelas akan menimbulkan bekas goresan ketika menyerang. Baju zirah berlevel 90 ke atas pun masih memiliki goresan.
Namun, pintu tadi tidak. Ini berarti bahan yang dipakai dalam membuat pintu itu adalah bahan yang cukup kuat. Noval pun berpikir bahwa baju zirah ataupun tameng yang dibuat dengan menggunakan logam dari pintu itu jelas akan membuat para pemain menjadi lebih kuat dan tidak mudah terluka.
“Aku harap aku bisa menemukan logam seperti itu di dalam reruntuhan. Dengan begitu, aku bisa membuat baju zirah yang tidak mudah untuk ditembus,” gumam Noval.
Sudah satu jam lebih Dolan dan Noval mencari keberadaan mekanisme untuk membuka pintu. Namun, mereka tidak juga berhasil menemukan keberadaan mekanisme tersebut. Beberapa dari penonton siaran langsung mereka juga banyak yang memberi saran, tetapi tidak ada perubahan yang terjadi.
Hal itu membuat Dolan dan Noval sedikit frustrasi karena hal itu. Sekarang ini, cukup banyak pemain yang bergerak mendatangi tempat mereka. Di sini tidak hanya ada satu misi saja, melainkan dua misi. Misi pembersihan monster dan misi penelusuran reruntuhan.
Besok Sore Dolan dan Noval bisa menebak akan ada banyak pemain yang berkumpul di sini. Ketika mereka datang, keuntungan Dolan dan Noval sebagai penemu reruntuhan ini akan menghilang. Mereka akan bersaing dengan yang lain dari nol.
“Apa yang harus kita lakukan, Noval? Dari tadi kita tidak bisa menemukan keberadaan mekanisme untuk membuka pintu ini. Semua tembok sudah kita raba, semua pilar pun juga tidak tertinggal. Namun, kita tidak juga menemukan keberadaan mekanisme untuk membuka pintu ini,” keluh Dolan.
“Lebih baik kita beristirahat dulu di sini. Kita akan makan siang terlebih dahulu. Aku ingat kita belum makan siang bukan. Setelah makan siang, barulah kita memikirkan kembali apa yang harus kita lakukan.”
“Baiklah.”
Tidak ada yang bisa Dolan dan Noval lakukan sekarang. Mereka lalu mempersiapkan beberapa bahan untuk dimasak menjadi makan siang. Ketika memotong daging dan hendak mensatenya, Dolan tanpa sengaja menggores tangannya hingga berdarah. Refleks Dolan mengibaskan tangannya untuk mengurangi sedikit rasa sakit di ujung jarinya.
__ADS_1
Tanpa sengaja satu tetes darah dari Dolan terciprat dan menempel di pintu. Hal itu membuat pintu yang sebelumnya tidak bisa bergerak, perlahan mulai bergerak. Suara gemuruh akibat terbukanya mekanisme dari pintu membuat Dolan dan Noval menoleh dengan cepat ke arah sumber suara.
“Kenapa pintunya tiba-tiba terbuka? Tadi kita sudah mencari mekanisme dari pintu ini, tetapi tidak berhasil menemukannya. Sekarang, tiba-tiba saja pintu ini terbuka dengan sendirinya. Noval, apa Kamu melakukan sesuatu yang membuat pintu ini terbuka?”
Noval menggeleng pelan. “Aku tidak melakukan apa pun. Daripada memikirkan bagaimana pintu ini bisa terbuka, lebih baik kita segera masuk. Mungkin pintu ini hanya akan terbuka sebentar saja. Jadi, kita harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sangat baik.”
Tanpa memedulikan perlengkapan mereka yang masih berserakan, Dolan dan Noval bergegas menuju ke arah pintu. Selama mereka masih membawa senjata, maka mereka tidak perlu membawa yang lain. Ketika pintu sudah terbuka dan cukup untuk keduanya lewati, Dolan dan Noval langsung masuk ke dalam.
Awalnya Dolan dan Noval mengira ada ruangan di balik pintu tersebut. Namun, yang mereka lihat justru tangga yang membawa mereka turun. Tidak ada penerangan di tangga itu. Satu-satunya penerangan yang ada hanyalah cahaya dari pintu di belakang mereka, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Ini karena pintu tersebut sekarang kembali menutup.
Jika saja ini di dunia nyata, maka Dolan dan Noval pasti sudah cemas dengan tertutupnya pintu itu. Mereka pasti akan kebingungan memikirkan cara keluar dari sini. Namun, bagi Dolan dan Noval, ini hanyalah sebuah game. Jika mereka tidak bisa keluar, mereka tinggal bunuh diri dan tubuh mereka akan kembali lahir di kota terdekat. Jadi, keduanya bisa menelusuri tempat ini tanpa memedulikan bahaya yang ada.
Bersamaan dengan tertutupnya pintu, ruangan yang tadinya gelap gulita, sekarang menjadi terang. Terdapat sebuah benda berpedar yang menempel di dinding sebagai penerangan. Mungkin ini adalah mekanisme lain dari reruntuhan ini. Jika pintu terbuka, maka tidak akan ada penerangan, tetapi jika pintu tertutup, maka penerangan yang ada di sini akan menyala.
Dolan dan Noval pun menelusuri tangga tersebut. Di kanan kiri dinding tangga, terdapat begitu banyak relief yang tidak dipahami oleh Dolan dan Noval. Pengetahuan keduanya pada bidang ini sangat minim. Namun, salah seorang penonton siaran langsung yang sebelumnya mengaku sebagai mahasiswa arkeologi, kembali memberikan komentar.
[Demi Tuhan, ini hanya sebuah game. Kenapa Kau mengatakan seolah ini adalah peradaban yang cocok untuk dipelajari. Pasti developer game hanya membuat tempat ini secara asal. Aku yakin mereka membandingkannya dengan peradaban yang ada di dunia nyata. Jadi, untuk apa membuang waktu dengan mempelajari relief di reruntuhan ini?]
[Hey Kau yang di atas, jangan mengatakan hal yang seperti itu. Apa Kau lupa bahwa game Galaxy Wars bisa memberikan keajaiban? Seseorang yang bermain game ini bisa mengalami kenaikan kekuatan. Jadi, mungkin saja reruntuhan ini bisa memberi sesuatu. Lalu, yang membuang-membuang waktunya adalah orang lain, bukan dirimu. Jadi, jangan ikut campur urusan orang lain.]
[Ya itu benar. Kawan, setengah jam lagi aku akan berangkat menuju ke reruntuhan. Jika ada dari kalian yang ingin berangkat bersama, aku akan menunggu kalian di pintu gerbang selatan dari Star City.]
[Aku ikut. Aku tidak mau ketinggalan dari Dolan dan Noval. Mereka sudah masuk ke dalam reruntuhan. Sekarang kita harus menyusul mereka.
Dolan dan Noval hanya membaca sekilas percakapan itu. Tetapi, setelah membaca komentar salah satu penonton yang mengatakan bahwa Galaxy Wars adalah game yang bisa memberikan keajaiban, Dolan dan Noval langsung saling pandang. Mereka seolah berkomunikasi hanya dengan saling pandang.
"Kawan-kawan semua, sepertinya kami harus mengakhiri siaran langsung kali ini. Kami perlu fokus untuk menelusuri reruntuhan ini," ucap Dolan.
__ADS_1
"Sampai bertemu di lain kesempatan," imbuh Noval.
Ucapan penutup itu membuat semua yang menonton protes kepada Dolan dan Noval. Sekarang ini, ada enam juta orang yang menonton siaran langsung ini. Dua pertiga dari mereka, bersama-sama menuliskan komentar protes kepada Dolan dan Noval. Karena banyak dan cepatnya komentar bertambah, tidak ada satu pun komentar yang bisa dibaca dengan jelas. Itu karena komentar yang lama akan tertutup dengan komentar yang baru.
Dolan dan Noval tidak memedulikan protes tersebut. Mereka memilih kembali naik ke atas, dan merekam relief yang ada di dinding secara menyeluruh dan detail. Tanpa mengatakan apa pun, keduanya seolah setuju untuk melakukan hal ini. Meski sekarang mereka tidak memahami relief ini, mereka masih bisa mempelajari relief yang ada di sini setelah keluar nanti.
Tidak lama kemudian, Dolan dan Noval sampai di pintu lain yang ada di samping tangga. Sama seperti pintu sebelumnya, pintu ini cukup sulit untuk dibuka. Hal itu membuat Noval mengarahkan pandangannya ke arah Dolan.
"Apa yang tadi Kamu lakukan sehingga pintu di atas bisa terbuka? Aku yakin aku tidak melakukan apa pun. Jadi, itu pasti Kamu yang membuat pintu bisa terbuka."
"Aku sendiri juga tidak tahu, Noval. Kamu tadi juga melihatnya sendiri, bukan? Aku hanya mempersiapkan makanan bersamamu. Tidak ada yang aku lakukan selain itu."
"Coba ingat kembali, aku yakin ada sesuatu yang Kamu lewatkan."
"Tanganku tadi sedikit berdarah ketika memotong daging. Selain itu tidak ada hal lain yang terjadi."
"Berdarah? Apakah mungkin pintu ini hanya bisa terbuka jika kita memberikan darah?"
"Mungkin saja itu terjadi."
Noval lalu membuka penyimpanan miliknya. Dari dalam sana, Noval mengambil sebuah vial berisikan darah monster. Kemudian, Noval menyiramkannya ke arah pintu. Namun, setelah menunggu cukup lama, tidak ada perubahan apa pun di pintu itu.
"Apakah mungkin bukan darah? Apakah mungkin ada hal lain yang tidak kita ketahui yang bisa membuka pintu ini?" tanya Noval.
"Mungkin pintu ini tidak bisa dibuka dengan sembarang darah," ucap Dolan yang sekarang sudah menempelkan tangannya ke pintu.
Rupanya selagi menunggu reaksi setelah Noval menyiram darah, Dolan sudah melukai tangannya. Seketika darah Dolan menyentuh pintu, suara gemuruh yang menandakan mekanisme pintu bekerja, mulai terdengar.
__ADS_1
"Apa aku bilang. Hanya darah tertentu yang bisa dipakai," ucap Dolan sembari menunjukkan seringai lebar.