
Ruang pertama yang Lintang masuki di dalam reruntuhan ini tidak telah luas. Ini lebih pantas disebut sebagai lorong daripada sebuah ruangan. Di dalamnya, masih ada beberapa pintu lain yang menghubungkan ruang yang berbeda. Selain penerangan, tidak ada yang bisa Lintang temukan di lorong ini.
Lintang pun masuk semakin dalam di lorong ini. Semakin ke dalam, Lintang bisa mendengar samar-samar percakapan antara dua orang. Tanpa mengenal suaranya pun, Lintang sudah bisa menebak siapa mereka. Satu-satunya rombongan lain selain rombongan Lintang adalah rombongan Dolan dan Noval.
"Sudah aku bilang, Dolan, kita tidak bisa mengangkat benda itu. Kita sudah mengangkatnya berkali-kali, tetapi benda itu tidak mau bergerak sedikit pun."
"Aku tidak mau menyerah begitu sana, Noval!" seru Dolan. "Aku yakin aku bisa mengangkat brnda ini. Bagaimana bisa benda sekecil ini tidak bisa aku gerakan. Ini sangat tidak mungkin terjadi."
Semakin lama percakapan antara Dolan dan Noval terdengar jelas oleh Lintang. Entah apa yang mereka perdebatan, yang jelas keduanya tengah membicarakan mengenai sesuatu benda yang sangat sulit diangkat.
Ketika sampai di ruangan pertama di lorong ini, Lintang melihat keberadaan keduanya. Noval tengah duduk di atas sebuah meja, dan Dolan sedang mengangkat sebuah benda yang ukurannya tidak lebih besar dari bola tenis, ketika Lintang datang. Bola yang Dolan ambil itu berada di atas sebuah tugu batu dengan tinggi satu meter. Sekilas bola itu nampak seperti berlian.
Secara refleks Lintang melihat ke arah Rarae dan melihat responnya. Seperti yang Lintang harapkan, mata Rarae berbinar melihat benda itu. Lintang bahkan berani bersumpah bahwa Rarae ingin sekali berlari dan mengambil bola itu. Namun, Rarae rupanya menahan diri.
"Eh, ada yang datang? Bagaimana mungkin kalian bisa datang secepat ini?" tanya Noval yang melihat keberadaan Lintang dan yang lain.
"Kami berada di dekat sini. Jadi, kami bisa sampai lebih awal," kilah Lintang.
Menurut Noval, pemain lain baru akan datang besok sore paling cepat, atau bahkan besok malam. Namun, sekarang ini baru satu jam sejak Dolan dan Noval menutup siaran langsung mereka, bagaimana bisa ada pemain lain yang datang secepat ini?
Meski mereka berada di dekat sini sekali pun ketika misi penelusuran reruntuhan diberikan, tidak mungkin juga mereka sampai di ruangan ini dalam waktu satu jam. Itu sangat mustahil. Jika ada pemain lain seperti ini, keuntungan Dolan dan Noval yang menjadi penemu reruntuhan ini, akan hilang.
"Tidak mungkin juga bisa secepat ini, bukan?"
"Hey anak muda, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Asalkan Kamu memiliki kekuatan lebih, semua bisa dilakukan dengan baik," jawab Momoy.
__ADS_1
Jawaban Momoy itu membuat Dolan dan Noval menyadari bahwa Lintang tidak datang sendirian. Ada tiga orang perempuan yang datang bersamanya. Mereka memiliki wajah yang sangat cantik. Meski mereka tidak memakai baju yang terbuka, tetapi Dolan dan Noval tahu bahwa mereka memiliki tubuh yang seksi. Lalu yang terpenting adalah tubuh ketiganya benar-benar mirip manusia. Tidak ada telinga yang runcing ataupun bentuk tubuh aneh khas para pemain.
Tunggu! Tubuh yang bukan seperti pemain pada umumnya? Kenapa mereka bertiga bisa memiliki tubuh seperti manusia Bumi? Apakah mereka ini ada hubungannya dengan pemilik reruntuhan ini?
Selama ini memang ini kerabat Lintang, maupun monster-monster bawahan Seno, mereka semua yang berada di Planet Mars dengan tubuh manusianya, disamarkan oleh Lintang. Mereka terkadang memakai jubah dan topeng, atau bahkan memakai riasan agar terlihat berbeda dari wajah aslinya. Jadi, para pemain tidak pernah melihat adanya orang lain yang wajah dan bentuk tubuhnya benar-benar seperti manusia Planet Bumi.
"Apakah kalian bertiga pemilik reruntuhan ini? Dan Kamu, kenapa Kamu bisa bersama dengan mereka?" tanya Dolan. Sekarang ini, Dolan berhenti mengurusi bola yang sebelumnya ia pegang. Ia beralih memegang senjatanya. Bukan tidak mungkin bahwa dirinya dan Noval akan diserang setelah ini. Dolan sangat tahu bahwa harta membawa bencana dan perpecahan.
"Wow, wow, wow. Tenanglah dulu!"
Baru kali ini Lintang langsung ditodong senjata seperti ini. Lintang tahu bahwa kedua pemain ini mewaspadai dirinya. Meski Lintang sudah menyiapkan arena bertarung, bukan berarti pertarungan di luar arena itu tidak terjadi. Pertarungan antar pemain tetap saja terjadi jika ada keuntungan yang dilibatkan didalamnya. Seperti sekarang ini.
"Aku sama sekali tidak berniat mengambil sesuatu yang sudah menjadi milik kalian. Aku hanya ingin mencari teknologi yang ditinggalkan oleh Ras Loexvres Drozxuo di reruntuhan ini. Aku ingin menyerahkan teknologi itu kepada Walikota Star," imbuh Lintang.
"Mencari teknologi di reruntuhan ini dan menyerahkannya kepada Walikota Star? Untuk apa juga Kamu melakukan itu?" tanya Dolan.
Informasi semacam ini belum menyebar di seluruh pemain. Bahkan, tidak ada satu pun yang tahu mengenai hal ini. Jadi, Lintang perlu menginformasikan mengenai hal ini kepada Dolan dan Noval dengan harapan mereka akan menyebarkan informasi ini. Lalu, jika mereka menemukan teknologi baru di reruntuhan ini, mereka akan menyerahkannya kepada Lintang.
"Benarkah? Kami bisa mendapatkan salinan teknologi baru itu setelah diproduksi masal?" tanya Dolan.
"Tentu saja! Aku sama sekali tidak membohongi kalian. Apa kalian pernah melihat Serikat TNI? Mereka awalnya memiliki senjata api lebih dulu daripada pemain lain bukan? Itu karena merekalah yang menemukan teknologi senjata tersebut dan menyerahkannya kepada Walikota Star."
Lintang lalu melirik ke arah bola berlian yang sebelumnya akan diambil oleh Dolan. "Apa kalian berniat mengambil bola itu? Apakah aku boleh melihatnya?" tanya Lintang.
"Ah, tentu. Kamu boleh melihatnya. Benda itu meskipun memiliki ukuran yang kecil, tetapi sangat sulit untuk diambil. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengambilnya, tetapi tida ada perubahan apa pun," jawab Dolan.
__ADS_1
Sekarang Dolan sudah menurunkan senjatanya. Kewaspadaan Dolan terhadap rombongan Lintang sudah menurun sekarang. Jadi, Dolan dengan mudahnya mengizinkan Lintang melihat benda yang sebelumnya ingin ia ambil. Lagi pula, benda itu cukup sulit diambil. Dolan tidak percaya Lintang bisa mengambilnya dengan mudah.
"Momoy, apakah Kamu tahu bagaimana mengambil benda ini?" tanya Lintang. Daripada membuang-buang tenaganya, lebih baik Lintang terlebih dahulu bertanya kepada Momoy. Mungkin saja Momoy tahu cara mengambil benda ini tanpa menguras tenaga.
"Gunakan saja darahmu untuk mengambilnya. Ini adalah kunci masuk menuju bagian dalam reruntuhan ini. Tidak mungkin bukan Kamu akan selalu melukai diri hanya untuk membuka pintu? Kita tidak tahu ada berapa pintu yang memerlukan darahmu untuk bisa dibuka bukan?"
Lintang langsung mengikuti saran Momoy. Ia meneteskan darahnya dan kemudian mencoba mengangkat bola berlian itu. Benar saja, bola itu sekarang sudah terangkat dengan mudahnya. Lintang bahkan merasa benda ini memiliki berat seperti secuil kapas, sangat ringan.
"Sial!" umpat Dolan. "Kenapa pula aku tidak berpikir sejauh itu. Sekarang aku gagal mendapatkan kunci dari pintu yang ada di sini."
"Tenang saja anak muda. Kunci seperti ini masih ada banyak. Kamu tinggal mencarinya di ruangan lain. Aku rasa Kamu akan menemukannya nanti," jawab Momoy.
"Ayo Lintang kita ke ruangan lain. Tidak ada benda berharga lain di sini. Kemungkinan besar di lantai teratas ini hanya ada kunci-kunci seperti itu. Jika Kamu ingin mencari teknologi yang ditinggalkan oleh Ras Loexvres Drozxuo, aku ras itu akan ada di ruangan bagian bawah," ajak Momoy.
"Nona, Kamu tahu banyak mengenai reruntuhan ini rupanya. Apakah Kamu memiliki hubungan dengan reruntuhan ini?" tanya Dolan.
"Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan reruntuhan ini. Hanya saja, pengetahuan yang diturunkan oleh leluhurku membuat aku memiliki pengetahuan yang lebih banyak mengenai reruntuhan ini," jelas Momoy.
Kebingungan tercetak jelas di wajah Dolan dan Noval. Leluhur? Kenapa perempuan bernama Momoy di depan mereka ini membicarakan leluhurnya? Apakah dia NPC pada game ini? Namun, Dolan dan Noval segera menepis pemikiran itu. NPC di game ini hanyalah mereka para mentor, penjaga toko dan kedai saja. Selain mereka, Dolan dan Noval tidak pernah bertemu dengan NPC lain. Apakah dia ada hubungannya dengan Walikota Star yang sulit ditemuu itu?
"Ehm ... apakah kami bisa ikut dengan kalian menelusuri reruntuhan ini?" tanya Noval. Siapa pun mereka, rombongan ini memiliki pengetahuan lebih banyak mengenai reruntuhan ini. Menurut Noval, akan lebih menguntungkan jika ia dan Dolan bergabung dengan mereka untuk melakukan penelusuran.
"Silahkan saja. Tetapi kami tidak akan menjamin keselamatan kalian jika nanti ada bahaya."
"Itu tidak masalah. Kami akan mengatasi bahaya yang menyerang. Jika perlu, aku akan melindungi kalian."
__ADS_1
Momoy hanya mengangkat sebelah alisnya setelah mendengar pernyataan Noval. Memlindungi rombongannya? Itu sangat mustahil terjadi. Jika ada bahaya yang mennyerang, sudah pasti Dolan dan Noval-lah yang perlu dilindungi.