
Lintang memandangi tiga puluh ribu anak buah Seno yang sekarang sudah berbaris rapi di depannya. Hari ini adalah hari di mana peperangan itu terjadi. Sekarang, Lintang hanya tinggal menunggu musuh untuk memasuki Planet Mars. Jika mereka masuk, Lintang akan langsung mengirim pasukan di depannya itu untuk menghadapi musuh
Tiga puluh ribu pasukan hanyalah sebagian besar anak buah Seno yang bergabung dalam perang. Kebanyakan dari mereka sendiri adalah anak buah Momoy, dan juga anak buah yang Jasmine kumpulkan selama beberapa ratus tahun terakhir.
Lintang sendiri belum yakin sepenuhnya apakah pasukan sebanyak ini bisa membantunya dalam menghadapi musuh atau tidak. Sampai sekarang, ia belum tahu berapa jumlah musuh yang akan menyerang.
Tujuan perang kali ini adalah menghancurkan sebanyak mungkin pesawat tempur musuh. Tanpa pesawat tempur itu, para pemain bisa menghancurkan musuh, sebanyak apa pun itu.
“Lintang, semua pasukan sudah berkumpul. Sekarang, kita tinggal menunggu kemunculan musuh. Kami siap untuk berangkat kapan pun musuh datang,” lapor Azkareia, yang sekarang ini menjadi komandan dari seluruh pasukan.
Lintang mengangguk pelan. “Ya, kita hanya tinggal menunggu. Dalam beberapa jam lagi, kita akan mengetahui di mana musuh berada. Setelah kita tahu koordinat pastinya, kita akan langsung terbang ke sana dan bersiap menghadapi musuh,” jawab Lintang.
Satu menit menunggu, terasa satu jam untuk Lintang. Kewaspadaan Lintang meningkat selama ia menunggu. Waktu semakin berlalu, tiga jam kemudian, salah seorang anak buah Seno mendatangi Lintang dan Azkareia. Sepertinya ada sesuatu yang akan dilaporkan olehnya.
“Azkareia, musuh sudah memasuki atmosfer planet ini. Dari perkiraanku, mereka akan mendarat seratus lima puluh kilometer dari tempat kita berada,” lapornya.
Orang ini adalah Exroz Buzre, anak buah Seno yang bisa mendetksi keberadaan benda yang letaknya cukup jauh. Pendengaran Exroz Buzre lebih tajam dari pendengaran seluruh orang yang ada di sini. Ini karena pendengaran tajam adalah kemampuan khusus yang dimiliki oleh ras Exroz Buzre. Jadi, setajam apa pun pendengaran orang lain, mereka tidak akan bisa mengalahkan Exroz Buzre.
“Eh … seratus lima puluh kilometer dari sini? Apa Kamu yakin Exroz?” tanya Lintang.
“Ya, seratus lima puluh kilometer arah barat daya dari tempat kita berada.”
“Hahaha,” tawa Lintang terdengar di sana. “Aku tidak menyangka mereka akan mendarat di tempat yang sedekat ini dengan kita. Apakah mereka pikir kita tidak akan bisa mendeteksi kedatangan mereka, sehingga mereka berani mendarat sedekat ini?”
Seratus lima puluh kilometer terdengar cukup jauh. Jika Lintang mengerahkan para pemain untuk datang ke titik itu, maka mereka akan membutuhkan lima hingga enam jam, karena mereka perlu membereskan beberapa monster yang mungkin saja menghadang.
Namun, yang ikut dalam perang kali ini bukanlah para pemain, melainkan anak buah Seno. Tentunya kecepatan mereka untuk sampai di tempat musuh akan mendarat, jauh lebih cepat daripada para pemain.
Sebelumnya Lintang sudah bertanya kepada Azkareia mengenai kecepatan rata-rata terbang dari seluruh pasukan. Jika mereka terbang dengan kekuatan penuh, mereka bisa memiliki kecepatan terbang 800 hingga 900km/jam. Itu adalah kecepatan terbang mereka yang tidak bersayap. Namun, mereka yang tubuh aslinya memiliki sayap, memiliki kecepatan terbang yang berbeda.
Mereka yang memiliki sayap memiliki kecepatan tercepat 1.300 hingga 1.500km/jam. Tubuh asli mereka pun cukup besar. Jadi, Lintang dan pasukannya bisa sampai di titik pendaratan hanya dalam beberapa menit saja.
__ADS_1
“Kalau begitu, minta semuanya bersiap. Kita akan berangkat sekarang. Lebih cepat kita sampai di sana, lebih baik. Kita perlu memberikan mereka sebuah kejutan,” ucap Lintang.
Persiapan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama. Kurang dari satu menit, seluruh pasukan sudah berada di udara. Ini karena sebelumnya Lintang sudah membagi pasukannya, sehingga persiapannya tidak terlalu lama. Saat ini seluruh pasukan sudah berada di punggung burung-burung besar. Menurut Lintang, lebih praktis menggunakan cara yang seperti ini, daripada semuanya terbang sendiri-sendiri.
Kemunculan burung-burung besar ini memberi kejutan kepada para pemain. Selama ini, mereka tidak pernah melihat burung sebesar ini. Di Planet Mars sendiri, tidak ada satu pun monster yang terbang. Selama ini hanya monster darat saja yang ada di Planet Mars.
Banyak dari pemain yang langsung naik ke kendaraan masing-masing dan berusaha mengejar burung-burung itu. Kemunculan mereka yang sangat dekat dengan kota, membuat para pemain ingin tahu mengenai asal usul burung-burung itu. Mereka juga mulai menyalakan mode siaran langsung untuk meraup pundi-pundi uang. Sayangnya, kecepatan kendaraan para pemain tidak bisa menyamai kecepatan terbang pasukan Lintang. Meski begitu, para pemain masih bersemangat untuk mengejarnya.
Sepuluh menit kemudian, Lintang dan yang lainnya telah sampai. Bersamaan dengan kedatangan mereka, Lintang bisa melihat pesawat tempur musuh muncul dari langit. Lintang langsung menghitung jumlah pesawat tempur musuh. Satu, dua, tiga, … , empat puluh delapan, empat puluh sembilan, lima puluh.
Lima puluh pesawat tempur musuh. Lintang lalu melihat ke arah pasukan yang sudah ia kumpulkan. Tiga puluh ribu pasukan, mereka terbagi lagi menjadi tim kecil berisikan enam orang, satu berbentuk burung dan lima lainnya masih dalam wujud manusia mereka. Ini berarti, ada lima ribu tim di sisi Lintang, sementara musuh hanya ada lima puluh saja.
Rasanya Lintang ingin tertawa melihat perbedaan ini. Lintang melakukan persiapan yang sangat besar, karena mengira musuh juga membawa banyak pasukan. Namun, musuh yang muncul hanyalah berjumlah lima puluh pesawat tempur?
Meski pasukan Lintang terlihat lebih unggul daripada musuh, tetapi Lintang tidak mau menganggap bahwa dirinya akan menang dengan mudah. Lintang tidak tahu apakah teknologi musuh lebih unggul, ataukah kekuatan anak buah Seno yang lebih unggul. Semua itu akan terlihat ketika kedua belah pihak melakukan kontak langsung.
Selain itu, Lintang juga yakin bahwa pasukannya akan ada yang menjadi korban dalam perang kali ini. Oleh karena itu, Lintang tidak bisa bersantai dan merasa senang meski jumlah pasukannya lebih banyak.
[Baik, Host.]
Meski para pemain tidak ikut dalam perang kali ini, namun Lintang ingin mereka melihat langsung bagaimana perang ini terjadi. Mungkin ini bisa menjadi pembelajaran untuk semua pemainnya dalam perang-perang yang akan datang.
“Semuanya serang,” perintah Lintang.
Pasukan Lintang pun langsung membuka diri. Mereka langsung mengepung musuh sehingga musuh tidak bisa kabur begitu saja. Tanpa menunggu aba-aba dari Lintang, mereka langsung melakukan serangan.
Langit cerah Planet Mars sekarang dipenuhi dengan cahaya-cahaya berkilauan. Dari jauh, itu nampak seperti pesta kembang api yang cukup meriah. Namun, itu semua adalah bentuk serangan yang dilakukan oleh anak buah Seno. Serangan elemen yang mereka keluarkan, langsung mengenai pesawat tempur musuh.
Beberapa pesawat tempur musuh akan langsung meledak karena terlambat menghindari serangan beruntun. Namun, masih ada yang lolos dari serangan ini. Mereka pun melakukan serangan balasan dengan menembak ke arah anak buah Seno. Pesawat tempur musuh itu berhasil menjatuhkan beberapa anak buah Seno.
Lintang melihat semua itu dengan raut wajah yang sangat serius. Korban dari peperangan ini mulai berjatuhan. Pasukannya sekarang semakin mendesak musuh. Dari serangan pertama ini, pesawat tempur musuh yang tersisa adalah lima belas pesawat, kurang dari setengah jumlah awal.
__ADS_1
Lalu, dari dari pasukan Lintang, ada sepuluh tim yang berkurang. Entah mereka masih hidup atau tidak, Lintang tidak tahu. Mereka sekarang terjatuh di bawah area peperangan. Lintang sudah mengirim beberapa tim untuk mencari keberadaan mereka dan melihat apakah mereka selamat atau tidak.
“Azka, tolong selesaikan ini dengan cepat. Aku tidak ingin perang ini berlanjut lebih lama lagi. Akan banyak orang yang menjadi korban jika itu terjadi. Lalu, sisakan satu buah pesawat tempur utuh, milik musuh.”
“Baiklah Lintang. Aku akan menyampaikan perintahmu ini kepada seluruh pasukan.”
Mendengar perintah Azkareia, seluruh pasukan sudah tidak lagi menahan diri. Mereka langsung memborbardir musuh dengan kekuatan penuh mereka. Satu pesawat bisa menerima ratusan hingga ribuan serangan. Tentu saja pesawat tempur musuh tidak bisa menahan semua serangan itu.
“Azka, hitung jumlah mereka yang terluka ataupun gugur dalam perang kali ini. Jika ada yang gugur, kita akan berikan di penghormatan sebelum dikebumikan.”
“Tentu Lintang, aku akan melakukannya.”
Perang ini berlangsung tidak terlalu lama. Hanya lima hingga delapan menit saja. Namun, dampak perang ini kepada para pemain cukup hebat. Mereka semua melihat bagaimana peperangan ini berlangsung. Beberapa orang bahkan ikut membagikan video tersebut kepada yang lain.
[Wow, itu perang yang luar biasa. Perang meski singkat, tetapi perangnya sangat keren. Ini adalah perang yang dilakukan oleh mereka yang berlevel tinggi. Mereka bahkan memiliki tunggangan burung raksasa. Aku juga mau memilikinya.]
[Tahu apa Kau. Itu bukan burung sembarangan, Kau tidak akan pernah bisa memilikinya. Aku melihat sendiri bagaimana pasukan ini berkumpul tidak jauh dari Star City. Burung-burung yang kalian lihat sebelumnya memiliki bentuk seperti manusia. Entah mereka tergolong sebagai beastman atau tidak, tetapi sangat keren sekali jika memiliki karakter yang bisa terbang seperti itu.]
[Aku justru menantikan pesawat tempur muncul untuk menjadi kendaraan para pemain. Kalian semua pasti sudah melihat pesawat tempur itu bukan? Meski mereka kalah dalam perang dan tidak bisa menunjukkan kekuatan mereka sepenuhnya, tetapi memiliki pesawat tempur seperti itu lebih bagus bukan?]
[Untung saja aku belum membeli kendaraan apa pun. Jadi, aku memiliki cukup banyak uang untuk membeli pesawat itu. Semoga saja harganya terjangkau.]
[Game Developer keluarkan pesawatnya.]
[Game Developer keluarkan pesawatnya. +1]
[Game Developer keluarkan pesawatnya. +2]
…
[Game Developer keluarkan pesawatnya. +23.562]
__ADS_1