
Mot'dhea lalu memandangi medan perang dengan cermat. Perkataan Mat'chia memang benar, tidak ada satu pun mayat dari musuh di medan perang. Padahal, Mot'dhea yakin bahwa anak buahnya berhasil membunuh ratusan hingga ribuan musuh sekarang.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Bagaimana mungkin mayat mereka menghilang begitu saja? Ini sangat tidak masuk akal. Siapa orang-orang ini?"
Sebanyak apa pun Mot'dhea bertanya, tidak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menatap nanar ke arah mrdan petang di depannya. Para pemain masih dengan penuh semangat berlari menuju ke arah benteng. Meski mereka hanya membuat satu goresan di dinding benteng lalu mati, mereka sama sekali tidak merasa takut.
Setelah memandangi lebih lanjut, justru mereka tersenyum lebar dan tertawa keras ketika berhasil menyerang, meski mati setelahnya. Mush mereka ini tidak ada habisnya. Sementara itu, anak buah Mot'dhea lama-lama akan kelelahan juga jika terus menerus melawan.
Boom. Boom. Boom.
Beberapa suara ledakan terdengar. Itu adalah serangan balasan dari regu Kapten Y. Anak buah Mot'dhea yang ada di dinding, satu persatu terkena serangan. Meskipun belum ada yang mati sampai sekarang, tetapi serangan itu memecah fokus mereka.
Anak buah Mot'dhea perlu menghindari serangan dan juga menyerang kembali para pemain. Ketika ingin membalas serangan ke arah regu Kapten Y, anak buah Mot'dhea sulit melakukan hal itu.
Pasalnya, regu Kapten Y semuanya bersembunyi di antara pemain setelah menyerang. Jika tidak ada serangan balasan, mereka akan kembali menembak lalu bersembunyi lagi. Taktik gerilya yang dilakukan oleh regu Kapten Y ini cukup menyulitkan bagi anak buah Mot'dhea. Mereka tidak terbiasa melawan musuh yang menggunakan taktik seperti ini.
"Sial! Aku tidam bisa membiarkan mereka begitu saja. Fot'nheo, ambilkan senjata milikku. Aku ingin melawan mereka secara langsung. Aku perlu menghabisi musuh kita ini," ucap Mot'dhea sembari mengeratkan giginya. Ia benar-benar geram melihat peperangan yang seperti ini.
"Komandan, apakah tidak masalah jika Kau terjun langsung ke sana? Jumlah musuh sangatlah banyak. Apakah semua akan baik-baik saja?"
Fot'nheo tidak mau Mot'dhea mengalami kejadian buruk ketika bertarung secara langsung dengan musuh. Jumlah musuh saat ini sangatlah banyak, jika Mot'dhea turun langsung maka musuh akan mengeroyoknya.
"Turuti saja perintahku ini, Fot'nheo! Mereka sangatlah lemah. Aku yakin akan baik-baik saja jika aku turun tangan langsung menyerang mereka."
Mendengar bentakan dari Mot'dhea, mau tidak mau Fot'nheo pergi mengambil senjata milik Mot'dhea. Ia berlari cukup cepat menuju ke ruangan Mot'dhea. Di sana, Fot'nheo mengambil sebuah pedang yang cukup besar.
__ADS_1
Pedang ini adalah senjata andalan dari Mot'dhea. Entah sudah berapa banyak nyawa yang hilang diambil oleh pedang ini. Yang jelas, sudah ada puluhan ribu orang yang mati karena pedang ini.
"Ini pedangmu, Komandan," ucap Fot'nheo sembari menyerahkan pedang milik Mot'dhea.
Setelah menerima pedang itu, Mot'dhea langsung melompat turun dari atas tembok benteng. Tembok setiggi sepuluh meter itu bukan apa-apa bagi Mot'dhea. Itu sama sekali tidak memberinya luka.
Justru pemain yang berkumpul di dekat tempat Mot'dhea mendaratlah yanh terpental jauh. Beberapa dari mereka langsung mati, beberapa masih bertahan hidup. Kedatangan Mot'dhea ini membuat para pemain tersenyum lebar.
"Semuanya, bos utama dari musuh sudah muncul. Sekarang kita habisi dia agar perang ini segera selesai," teriak salah seorang pemain.
"Yo ... habisi dia dan akhiri perang ini," jawab pemain lainnya dengan berteriak keras.
Satu persatu pemain yang ada di sana menyerang dengan skill pamungkas yang mereja miliki. Mereka tidak peduli apakah serangan mereka bisa melukai musuh atau tidak. Bagi para pemain, yang terpenting adalah menyerang musuh. Meski mereka hanya mengurangi satu poin saja dari darah musuh, itu tidak masalah.
Tentu saja Mot'dhea tidak mau kalah. Dia lalu mengayunkan pedang miliknya. Setiap kali pedangnya bersentuhan dengan musuh, maka mereka akan mati. Terdapat area dengan diameter enam meter yang menjadikan Mot'dhea sebagai pusatnya dia area pertempuran. Di area tersebut, tidak ada satu pemain pun yang bertahan.
Ini membuat para pemain yang menyerang Mot'dhea, tidak pernah berhenti. Bahkan, semakin banyak saja pemain yang menjalankan misi "bunuh diri" dengab menyerang Mot'dhea. Hal itu membuat Mot'dhea semakin lama semakin terlihat serius.
Para pemain tidak mempedulikan apa pun. Lalu, tidak ada satu pun mayat dari para pemain di sekitar Mot'dhea. Hal ini membuat Mot'dhea mulai merasakan rasa takut untuk pertama kalinya setelah menghadapi musuh ini.
Mot'dhea adalah orang biasa. Dia bukanlah bos atau pun NPC seperti perkiraan para pemain. Tentu saja Mot'dhea memiliki rasa lelah. Bertarung secara terus menerus dengan para pemain semakin lama semakin menguras tenaganya.
"Sial! Jika seperti ini terus, maka staminaku akan habis. Sementara itu, orang-orang ini sama sekali tidak mengenal kata menyerah. Sebanyak apa pun rekan mereka yang aku bunuh, tidak memberikan rasa takut yang aku harapkan," gumam Mot'dhea dalam hati
Sekarang, beberapa pemain yang memiliki senjata api, juga mulai menyerang Mot'dhea. Hal ini membuat Mot'dhea semakin kewalahan. Dirinya memang bisa menangkis beberapa serangan, tetapi masih banyak juga serangan yang mengenainya.
__ADS_1
"Fot'nheo, lindungi aku! Aku perlu kembali ke benteng," teriak Mot'dhea pada akhirnya.
Mot'dhea merasa dirinya perlu mundur sekarang. Ia tidak bisa berlama-lama bertarung melawan orang-orang ini. Mot'dhea baru menyadari bahwa semakin lama tubuhnya terasa lemah. Ia seperti mengalami luka yang cukup besar.
Padahal, tubuhnya baik-baik saja. Tidak ada darah yang mengucut dari tubuhnya. Luka dalam pun tidak ada. Hanya goresan daru senjata lemain saja yang terlihat di kulit Mot'dhea. Ini saja sudah membuat tubuhnya terasa lemah.
"Tentu, Komandan Mot'dhea. Semuanya, bersihkan area yang akan dipakai oleh Komandan Mot'dhea untuk mundur! Jangan biarkan musuh menggangunya!" seru Fot'nheo kepada pasukan lain yang ada di tembok benteng.
"Baiklah."
Melihat Mot'dhea yang berniat mundur, para pemain bertindak semakin beringas. Tentu sja mereka tidak ingin kerja keras mereka hilang begitu saja dengan mundutnya Mot'dhea. Mereka harus menghabisi Mot'dhea apa pun caranya.
"Semuanya fokuskan serangan kalian ke Bos ini. Kita sudah menurunkan darahnya hingga tersisa tujuh puluh persen. Jangan biarkan perjuangan pemain lain menjadi sia-sia. Mereka sudah mengorbankan nyawa untuk menurunkan darah musuh. Jangan menyerah, serang terus."
"Ouh ... serang terus. Jangan berikan dia kesempatan untuk mundur. Kalian yang memegang senjata api, serang bos ini secara langsung. Semua, hiraukan serangan yang berasal dari benteng. Kerahkan semua kekuatan kalian untuk mengalahkan Bos ini."
Teriakan demi teriakan penyemangat terdengar di medan perang. Banyak dari pemain yang memfokuskan serangan mereka kepada Mot'dhea. Jangan mati sebelum mengurangi daerah musuh meski itu hanya satu poin. Itu sudah menjadi jargon para pemain sekarang.
Sementara itu, Lintang yang mendengar bahwa komandan musuh terjun langsung ke medan perang, beralih dari menyerang sisi timur benteng, menuju ke sisi selatan benteng. Ia tidak bisa membiarkan komandan musuh lepas begitu saja.
Lintang memiliki cukup banyak amunisi yang bisa memberikan luka yang cukup besar bagi komandan musuh. Jadi, ia ingin ikut menyerang musuh. Awalnya Lintang mengira tidak akan ada musuh yang akan turun dari benteng, jadi Lintang memilih menyerang sisi timur benteng untuk bisa masuk dan menyerang dari dalam.
Namun, Lintang meremehkan rasa percaya diri yang dimiliki oleh musuh. Komandan musuh meremehkan para pemain dan langsung terjun ke medan perang untuk mengalahkan mereka. Lintang yakin komandan musuh tidak akan pernah mengiria bahwa menghadapi pemain secara langsung sama saja dengan bunuh diri.
"Aku beri nilai sepuluh untuk kebodohan komandan musuh. Sampai sekarang dia masih saja meremehkan pemain gameku. Padahal, dia sudah menerima pukulan keras setelah pemain gameku menyatroni bentengnya dan menguras habis pasokan senjata serta maknannya."
__ADS_1
"Tetapi kebodohan komandan musuh ini memberikan keuntungan besar untukku dan para pemain. Kami tida perlu bersusah payah masuk ke dalam benteng untuk menyerang musuh. Setelah berhasil membunuh komandan musuh, akan sangat mudah untuk menaklukkan benteng."