
Lintang menarik napas panjang. Ia lalu melihat ke sekelilingnya. Sudah ada lima puluh orang anak buah Seno yang menemaninya di ruangan tempat tabung-tabung itu berada. Lalu, masih ada seratus orang lagi di tangga luar. Jika nanti terjadi sesuatu, mereka bisa bergerak cepat membantu Lintang mengatasi masalah.
Lintang lalu memandang ke sebelahnya, di mana Momoy dan Azkarea berada. Melihat mereka menganggukkan kepala, Lintang lalu mengambil satu langkah lebih dekat ke arah tabung yang berisikan makhluk hidup.
Cukup banyak tombol yang berada di dekat tabung. Dengan mengandalkan pengetahuan yang diberikan oleh Sistem, Lintang mulai menjalankan tangannya untuk menekan tombol yang ada di sana. Tidak lama kemudian, terdengar suara gemuruh dari dalam tabung. Hal itu membuat Lintang melompat mundur.
Sementara itu, yang lainnya bersiap dengan senjata masing-masing. Meski mereka tidak langsung menghunuskan senjata masing-masing, tetapi mereka sudah bersiap memegang senjata mereka. Beberapa bahkan sudah memasang pose siap bertarung.
Sedikit demi sedikit cairan yang ada di dalam tabung menurun jumlahnya. Tidak hanya itu, terdapat kabut berwarna kehijauan yang muncul bersamaan dengan berkuranganya air di dalam tabung. Hal itu membuat jarak pandang Lintang terhadap area di sekitarnya, menurun. Selain suara napas, Lintang tidak mendengar pergerakan lain di ruangan tersebut. Ini membuat Lintang merasa cemas. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.
Tidak lama kemudian, Lintang mendengar pergerakan dari arah tabung. Itu terdengar seperti seseorang yang baru menginjakkan kaki di lantai dan melangkah ke arah Lintang. Perlahan kabut hijau yang sebelumnya menutupi pandangan Lintang, menghilang. Sekarang, Lintang bisa melihat sosok di depannya dengan sangat jelas.
Ada sosok perempuan cantik berdiri di dekat tabung. Dia memiliki tinggi seratus tujuh puluh lima sentimeter, sepuluh sentimeter lebih pendek dari tubuh asli Lintang. Perempuan itu memiliki rambut lurus sepunggung berwarna cokelat dengan warna mata berwarna hijau kebiruan. Kulitnya mirip dengan kulit orang kaukasian.
Mata Lintang tidak bisa lepas dari sosok perempuan itu. Ini karena perempuan itu sama sekali tidak memakai sehelai benang. Bagi Lintang, ini adalah kali pertama melihat perempuan telanjang secara langsung. Perempuan itu juga memperlihatkan ekspresi lugu, yang terlihat sangat imut bagi Lintang.
Semua kombinasi itu membuat jiwa laki-laki Lintang, yang selama ini tertidur, bangkit begitu saja. Adik kecilnya tidak mau kalah dalam menunjukkan semangatnya. Sekarang, adik kecilnya juga ikut berdiri. Sayangnya ia memakai celana, sehingga yang terlihat hanyalah tenda kecil di antara kedua kaki Lintang.
Meski ini hanya karakter milik Lintang, dan bukan tubuh aslinya, tetapi Lintang bisa merasakan semua perubahan yang ada dalam dirinya, sama persis dengan tubuh aslinya. Bukankah ini adalah salah satu alasan Galaxy Wars menjadi tempat menjalin kasih di antara pasangan muda mudi. Sekarang, Lintang merasakan sendiri bagaimana kesenangan para pemain yang menjalin kasih di dalam game.
Lintang bersyukur sebelum ini dirinya sudah “mengusir” Dolan dan Noval. Jika mereka masih berada di sini, sudah pasti mereka akan menangkap sosok perempuan ini dalam siaran langsung. Jika itu terjadi, Lintang tidak bisa membanyangkan betapa senangnya para laki-laki melihat tubuh perempuan ini.
Jika itu terjadi, siaran langsung itu akan dikecam. Tidak hanya itu, Galaxy Wars sebagai sumber semua ini, juga terkena imbas akan masalah ini. Mereka akan menganggap Galaxy Wars adalah sebuah game yang harus diberikan tagar erotica di dalamnya.
“Lintang, sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Momoy.
Suara Momoy itu menyadarkan Lintang akan keadaannya yang sekarang. Lintang segera menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Lintang mencoba sebisa mungkin mengalihkan fokusnya dari bagian tubuh kepala ke bawah milik perempuan di depannya. Lintang perlu benar-benar fokus memikirkan langkah selanjutnya yang perlu ia ambil.
__ADS_1
“Aku rasa dia sama sekali tidak menjadi ancaman,” jawab Lintang.
Perempuan di depannya ini masih memandangi Lintang dengan ekspresi lugunya. Sesekali perempuan itu akan mengedipkan matanya, ataupun memiringkan matanya. Ia nampak bingung dengan apa yang terjadi.
Meski ada banyak orang yang mengelilingnya, Lintang sadar fokus perempuan ini hanya kepadanya. Tidak sekalipun perempuan itu sekadar melirik ke arah yang lainnya. Mungkin ini karena Lintang adalah satu-satunya manusia yang ada di sini. Mereka berdua adalah orang yang memiliki kekerabatan paling dekat di antara yang lainnya.
“Apakah Kamu mengerti apa yang aku ucapkan?” tanya Lintang. Lagi-lagi perempuan itu tidak memberi respon. Dia hanya memasang ekspresi bingung dengan tetap memandang Lintang.
[Host, Ras Loexvres Drozxuo di depanmu ini, sama sekali tidak memahami apa yang Kamu ucapkan. Dari analisa yang sudah Sistem lakukan, perempuan ini berada dalam tabung ini sejak dia masih bayi. Jadi, dia sekarang sama saja seperti bayi manusia yang baru lahir. Pengetahuannya sangat minim, apalagi kemampuan berbahasa.]
“Kenapa Kamu tidak memberitahuku sedari tadi, Sistem?”
Sebelumnya Lintang memang menyimpulkan bahwa perempuan ini tidak akan menjadi ancaman untuk mereka. Namun, Lintang masih mewaspadai perempuan ini. Sekarang, setelah mendengar ucapan Sistem, Lintang tidak perlu lagi merasa waspada di depan perempuan ini. Dia terlihat sangat lugu dan tidak tahu apa-apa, seperti bayi yang baru lahir.
[Itu karena Sistem perlu melakukan analisis yang sedikit lama dari biasanya. Jadi, Sistem baru bisa memberi informasi kepada Host sekarang.]
[Tidak. Sistem tidak akan memberikan hadiah apa pun kepada Host. Ras Loexvres Drozxuo adalah leluhur Host. Jadi, untuk apa Sistem memberikan hadiah setelah Host bertemu dengan leluhurnya? Apa pun kemampuan hebat yang dimiliki oleh Ras Loexvres Drozxuo, nantinya bisa dimiliki oleh manusia jika mereka memiliki tubuh yang kuat yang bisa menampung kekuatan itu. Jadi, Sistem tidak perlu memberi hadiah apa pun kepada Host.]
Mata Lintang langsung berbinar mendengar hal itu. Meski tidak secara langsung, tetapi Sistem sudah memberikan Lintang informasi bahwa Ras Loexvres Drozxuo memiliki kekuatan khusus. Mungkin ini yang disebut sebagai kemampuan khas suatu ras.
Sebagai keturunan dari Ras Loexvres Drozxuo, tentu saja manusia memiliki kesempatan untuk mendapatkan kemampuan khas tersebut. Mereka hanya perlu memperkuat diri untuk bisa mengimbangi besarnya kemampuan khas tersebut. Mungkin teknologi yang ada di reruntuhan ini bisa membantu manusia memiliki tubuh kuat.
[Sistem menyarankan Host untuk membuat hubungan baik dengan perempuan ini. Sedikit banyak dia nanti akan membantu Host dalam menguasai kemampuan baru itu, jika nanti kemampuan itu terbangkitkan.]
Lintang mengangguk pelan. Ia lalu berjalan mendekati perempuan itu. Lintang sama sekali tidak melihat sikap defensif ditunjukkan oleh perempuan itu. Sepertinya dia tidak merasa takut didekati Lintang. Pandangannya masih tetap mengikuti Lintang dengan ekspresi polosnya.
Lintang lalu mengambil sebuah kain dan menutupi tubuh telanjang perempuan itu. Lintang masih perlu memfokuskan pikirannya kepadah hal yang lain. Jika perempuan ini masih telanjang, maka fokus Lintang akan terpecahkan kepada yang lain.
__ADS_1
"Namaku Lintang, siapa Kamu?" tanya Lintang sembari menunjuk dirinya sendiri. "Lintang," ulang Lintang.
Perempuan itu terlihat membuka mulutnya. Namun, tidak ada suara yang muncul. Mungkin karena dia sudah lama tidak berbicara jadi dia mengalami kesulitan. Atau mungkin dia sama sekali tidak bisa berbicara?
"Li-Lintang," ucap perempuan itu pada akhirnya dengan suara yang sedikit terbata-bata. Rupanya perempuan ini bisa bicara. Mungkin ini adalah kali pertama dia berbicara. Jika begitu, Lintang akan mengajarinya berbicara hingga dia mahir.
"Sepertinya Kamu tidak memiliki nama. Kalau begitu, aku akan memanggilmu dengan nama Luna. Ya, mulai sekarang Kamu akan aku panggil dengan nama Luna. Kamu terlihat tenang dan polos seperti rembulan."
Perempuan tersebut memiringkan kepalanya sembari beberapa kali mengedipkan matanya. Nampaknya dia tidak mengerti maksud perkataan Lintang. Mungkin juga dia bingung untuk meniru ucapan Lintang. Ini karena kata yang Lintang ucapkan cukup panjang dan cepat.
"Luna, Lintang. Luna, Lintang," ucap Lintang beberapa kali sembari menunjuk dirinya dan Luna secara bergantian.
Mungkin seperti ini juga yang dirasakan oleh Jane ketika mengajari Tarzan berbicara. Apalagi yang Lintang ajak bicara ini seseorang yang sama sekali tidak memiliki interaksi dengan siapa pun selama berada di dalam tabung.
"L-Luna."
"Ya, namamu sekarang Luna. Kamu Luna."
"Kamu Luna?"
"Tidak, tidak, tidak. Kamu Luna, aku Lintang. Kamu Luna, aku Lintang."
"Aku Luna, Kamu Lintang."
"Ya benar," ucap Lintang dengan sebuah senyum lebar. Ia tidak menyangka mengajari seseorang berbicara seperti ini bisa membuat dirinya sesenang ini. Terutama ketika yang Lintang ajari bisa menangkap apa yang ia ajari dengan cepat.
"Aku Luna, Kamu Lintang."
__ADS_1