
Dengan berlindung di antara tubuh pemain, Lintang berhasil menghindari serangan dari musuh yang ada di atas tembok. Lintang cukup lincah dalam bergerak mendekati Mot'dhea. Delapan menit kemudian, Lintang bersiap melakukan serangannya.
Lintang tidak langsung menggunakan senjata api miliknya, ia tetap mengandalkan pedang miliknya. Hal ini karena belum saatnya Lintang menggunakan senjata api tersebut. Dengan pedang sebagai kamuflase, Lintang masih bisa menyerang Mot'dhea.
Sesekali Lintang akan mengayunkan pedang miliknya ke arah Mot'dhea. Lalu, Lintang akan melopat mudur menghindari serangan musuh. Ia akan kembali bersembunyi di antara lara pemain dan melemparkan granat miliknya.
Taktik gerilya yang Lintang lakukan ini mampu membuatnya bertahan lebih lama dalam menghadapi Mot'dhea. Beberapa pemain yang memiliki level cukup tinggi, juga mulai menggunakan taktik gerilya yang sama seperti Lintang.
Meski mereka tidak memiliki granat, tetapi taktik ini membantu mereka menyerang Mot'dhea dengan skill pamungkas yang mereka miliki. Para pemain akan mundur jika skill mereka dalam masa jeda. Lalu, jika jeda itu selesai, mereka akan kembali maju dan melayangkan beberapa serangan.
Serangan bertubi-tubi dari para pemain itu membuat Mot'dhea semakin melemah. Tidak hanya itu, amarah dari Mot'dhea juga naik. Hal ini karena ada pemain yang hanya berlevel 5 berhasil memukul pantatnya dengan keras menggunakan pedang.
Saat itu Mot'dhea berkonsentrasi menghindari serangan pemain lain. Mot'dhea memang tahu ada pemain dengan kekuatan rendah hendak menyerangnya. Namun, Mot'dhea percaya pemain tersebut akan segera mati setelah menerima serangan anak buahnya.
Sayangnya yang Mot'dhea harapkan tidak terjadi. Pemain tersebut berhasil memukul pantat Mot'dhea. Tidak hanya sekali, tetapi dua kali. Ini adalah penghinaan besar bagi seorang komandan seperti Mot'dhea. Apalagi, ini dilakukan di depan anak buahnya. Setelah pertempuran ini berakhir, wibawa Mot'dhea pasti akan menurun.
"Hahaha ... siapa bilang pemain level rendah tidak bisa menyerang bos dengan level 70. Lihalatlah! Aku berhasil melakukannya bukan? Dolan, aku sudah membalaskan dendammu dengan memukul pantat cecunguk ini. Kemampuan ini cukup hebat. Aku akan menamainya tebasan pantat sakti," ucap salah satu pemain yang berhasil menyerang Mot'dhea.
Pemain itu tidak bertahan lama. Ini karena Mot'dhea langsung memenggal kepalanya setelah ia selesai berbicara. Meski begitu, Mot'dhea merasa telinganya masih bisa mendengar perkataan pemain tadi. Pukulan pantat sakti, pukulan pantat, pantatnya sudah dipukul oleh musuh yang sangat lemah.
"Bangsat! Aku tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja. Berani-beraninya kalian menghinaku, Mot'dhea. Rasakan ini pembalasanku."
Kemarahan Mot'dhea membuatnya mengeluarkan kekuatan lebih besar daripada sebelumnya. Sekarang ini tebasan yang Mot'dhea lakukan jauh lebih cepat dari sebelumnya. Selain itu, energi yang keluar bersamaan dengan tebasan pedang Mot'dhea juga terasa lebih besar dari sebelumnya.
Sekarang, lingkaran kosong yang mengelilingi Mot'dhea tidak lagi memiliki diameter enam metrr, tetapi dua belas meter. Hal ini membuat para pemain tidak semudah itu mendekat ke arah Mot'dhea. Sekarang mereka hanya mengandalkan beberapa Elf maupun Beastman yang bisa melakukan serangan jarak jauh.
__ADS_1
"Sial! Kemarahan membuat serangan komandan musuh ini berubah polanya. Serangannya juva jauh lebih kuat. Meski begitu, energi yang dia habiskan juga akan semakin banyak. Jika para pemain masih bisa bertahan dan terus menyerang, maka komandan musuh ini pasti bisa dikalahkan," gumam Lintang.
Saat ini Lintang mulai menjauhi komandan musuh. Dirinya adalah penyerang jarak dekat. Jika Lintang tidak menjauh, cepat atau lambat Mot'dhea akan memenggal kepalanya. Hal ini mrmbuat Lintang mengganti senjata yang ia pakai. Pedang miliknya tidak terlalu berguna sekarang. Saatnya senjata api miliknya unjuk gigi.
Boom. Boom.
Tembakan demi tembakan mengarah kepada Mot'dhea sekarang. Beberapa tentara yang masih selamat, sekarang memusatkan serangan mereka kepada Mot'dhea dengan senjata api mereka.
Amarah yang menyelimuti Mot'dhea, membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Mot'dhea hanya ingin membunuh sebanyak mungkin pemain untuk membalaskan penghinaan yang ia alami. Hal itu membuat Mot'dhea tidak menyadari bahwa tubuhnya semakin lemah.
Empat puluh persen, tiga puluh persen, darah Mot'dhea semakin lama semakin menurun. Fot'nheo yang berada di atas tembok benteng, bisa melihat dengan jelas bahwa Mot'dhea semakin melemah. Serangannya tidak lagi secepat dan sekuat sebelumnya.
"Komandan! Mundurlah, Komandan! Keadaanmu sangat berbahaya sekarang," teriak Fot'nheo.
Fot'nheo beberapa kali berteriak, agar Mot'dhea tersadar dengan keadaannya yang sekarang. Namun, suara ledakan serta teriakan dari beberapa pemain, berhasil mengalahkan suara milik Fot'nheo.
Sepuluh persen. Ketika darahnya tersisa sepuluh persen, Mot'dhea baru menyadari keadaannya. Mot'dhea lalu mengedarkan pandangannya, ia berusaha mencari rute terbaik untuknya mundur ke benteng.
Sayangnya dirinya sudah terkepung semarang. Meski Mot'dhea berhasil keluar dari kepungan para pemain, ia yakin ini tidak akan bertahan lama. Ada beberapa orang yang masih memegang senjata api. Mot'dhea yakin jika dirinya melompat di antara pemain, maka tubuhnya akan menjadi sasaran empuk dari senjata ali para pemain.
"Sial! Apakah aku akan mati di sini? Sial, sial, sial. Aku bahkan belum memenangkan hati Mat'chia. Sekarang, aku harus gugur dalam perang. Jika aku bisa terlahir kembali, aku harap aku bisa lebih serius dalam menjalankan sesuatu dan tidak lagi meremehkan orang lain," gumam Mot'dhea dalam hati.
Kemungkinan dirinya bisa selamat cukuplah kecil. Hal ini membuat Mot'dhea berpikir untuk meledakkan diri. Toh dirinya juga akan mati. Jadi, ia akan membawa sebanyak mungkin musuh bersama dirinya.
"Mat'chia, aku mencintaimu. Jika kita bisa terlahir kembali, aku mohon terimalah cintaku," teriak Mot'dhea cukup keras.
__ADS_1
Semua yang ada di medan perang bisa mendengar pernyataan cinta dari Mot'dhea ini. Para pemain yang lebih dari tujuh puluh persen adalah laki-laki, mengagumi Mot'dhea karena masih memikirkan untuk menyatakan cintanya sebelum mati.
Setelah berucap demikian, Mot'dhea langsung berlari menjauhi benteng. Ia tidak mau ketika meledakkan diri nanti, akan merusak tembok benteng. Itu adalah pertahanan satu-satunya yanh dimiliki oleh rasnya. Jadi, Mot'dhea tidak mau merusaknya.
Setelah merasa cukup jauh, Mot'dhea langsung meledakakn diri di tengah-tengah pemain. Ledakan dari tubuh Mot'dhea cukuplah besar. Para pemain yang berada di radius seratus meter dari Mot'dhea, mati tidak bersisa.
Lebih dari seratus ribu pemain mati karena ledakan itu. Mungkin Mot'dhea berpikir bahwa kematiannya yang ditukar dengan kematian lebih dari seratus ribu musuh, adalah sepadan. Namun, jika Mot'dhea tahu bahwa dua belas jam setelah ini, orang yang dia kira sudah ia bunuh hidul kembali, pasti Mot'dhea akan marah besar. Mungkin Mot'dhea akan bangkit kembali dan mengumpat kepada Lintang karena membuat para pemain bisa hidup kembali.
"Yahoo ... kita berhasil mengalahkan komandan musuh," teriak salah satu pemain karena senang.
Teriakan demi teriakan kemenangan mulai digaungkan oleh para pemain. Padahal, mereka belum sepenuhnya memenangkan peperangan ini. Masih ada anak buah Mot'dhea di benteng. Setelah mereka mengalahkan semua yang ada di benteng, barulah mereka bisa dinyatakan menang dalam peranh kali ini.
"Sekarang kita serang benteng musuh. Komandan mereka sudah mati. Kita kuasai benteng mereka dan buat kota baru untuk para pemain."
"Ouuhh ...."
Jika para pemain merasa senang dengan kematian Mot'dhea, maka anak buah Mot'dhea merasa sangat terpukul. Komandan mereka, orang yang terkuat di benteng mereka, sudah mati di meledakkan diri. Musuh berhasil membuatnya melakukan ini.
Kebingungan terlihat jelas di wajah mereka yang masih hidup. Mereka bingung harus melakukan apa setelah ini. Orang sekuat Mot'dhea saja bisa mati di tangan musuh. Bagaimana bisa mereka memenangkan peperangan ini?
"Komandan Mot'dhea. Kenapa bisa Komandan Mot'dhea mati begitu saja?"
"Apa yang harus kita lakukan setelah ini? Musuh tidak berhenti menyerang kita. Kita sudah bertempur empat jam lebih. Apakah mereka tidak mengenal kata lelah? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Tidak ada yang bisa menglahkan mereka."
Ratapan kesedihan mulai terdengar di atas tembok benteng. Moral Ras Dodo'phia yang sebelumnya tinggi, sekarang turun derastis. Pilar kekuatan mereka sudah mati sekarang.
__ADS_1
Sementara itu, Mat'chia yang berada di ruangannya, tidak bisa berhenti menangis. Ia tidak menyangka Mot'dhea yang sering menggodanya, sekarang sudah mati. Tidak akan ada lagi Mot'dhea yang mendatanginya dan meminta tidur bersama. Tidak ada lagi racauan dari Mot'dhea yang menyebalkan.
"Bodoh. Mot'dhea bodoh. Kau bilang Kau bisa mengatasi semua ini. Tetapi kenapa Kau malah mati duluan," isak Mat'chia.