Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 40 Bendera Merah


__ADS_3

Aura keputus asaan begitu kental di benteng Ras Dodo'phia. Kehilangan Mot'dhea benar-benar memberikan pukulan besar untuk mereka. Apalagi, para pemain tidak terkihat menunjukkan tanda akan mengentikan serangan mereka.


Ini sudah tujuh jam semenjak para kematian Mot'dhea. Itu berarti, mereka sudah berperang sama sepuluh jam tanpa henti. Meski para pemain yang menyerang benteng mereka tidak banyak daripada sebelumnya, tetapi jumlah mereka tidak ada habisnya.


Rasa lelah sudah menyerang mereka. Keakurasian mereka dalam menembak juga menurun derastis. Jika para pemain berhasil membobol benteng mereka, maka Ras Dodo'phia yang tersisa bisa mati dalam hitungan jam.


"Mat'chia, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Fot'nheo.


"Aku tidak tahu. Aku juga bingung. Aku ini sama sekali tidak memahami peperangan, jadi kenapa kalian malah menanyakan ini kepadaku?" Suara Mat'chia terdengar parau. Ia terlalu banyak menangis sebelum ini.


"Bagaimanapun juga, Kau adalah orang yang memiliki kedudukan tertinggi di benteng ini setelah Mot'dhea. Sekarang Mot'dhea sudah tidak ada. Jadi, berikan kami perintah."


"Jika saja kita memiliki pesawat tempur, maka orang-orang itu tidak akan bisa membuat kita sampai seperti ini. Mot'dhea juga tidak akan mati."


Sebelumnya, Ras Mogoley sudah menyelidiki tata surya di mana Planet Bumi berada. Mereka menganggap tata surya ini adalah tata surya yang lemah. Hanya ada satu planet dengan makhluk hidup yang memiliki kecerdasan. Meski begitu, kekuatan mereka tidaklah besar.


Oleh karena itu, Ras Dodo'phia yang ditugaskan oleh Ras Mogoley untuk mengeksploitasi tata surya ini, tidak dibekali dengan persenjataan yang besar. Jumlah pasukan yang bisa bertarung sangat sedikit.


Lalu, mereka juga tidak memiliki trasportasi apa pun selain trasportasi darat. Sebelumnya mereka hanya di turunkan dengan pesawat tempur di Planet Mars dan ditinggalkan begitu saja. Jika dilihat dari sudut pandang lain, Ras Dodo'phia bukan sepenuhnya ras yang mendukung Ras Mogoley. Mereka justru terlihat seperti tawanan yabg dipaksa bekerja.


Seperti kata Mat'chia, jika sekarang mereka memiliki pesawat tempur, mereka tidak akan terpojokkan seperti sekarang ini. Mereka bisa menggunakan pesawat itu untuk menyerang para pemain. Kalaupun mereka tidak bisa mengalahkan para pemain, Ras Dodo'phia masih bisa memanfaatkan pesawat itu untuk kabur.


Alasan dasar kenapa mereka tidak diberi pesawat adalah ketakutan dari Ras Mogoley akan kemungkinan Ras Dodo'phia membawa kabur sumber daya yang sudah mereka ambil. Meski kemungkinan itu terjadi sangat kecil, bahkan tidak mungkin, Ras Mogoley tetap tidak mau mengambil resiko.


"Apa kita menyerah saja?" tanya Fot'nheo.


Beberapa pasang mata langsung menatap tajam ke arah Fot'nheo. Mereka seolah menolak usulan yang diberikan oleh Fot'nheo tersebut.


"Fot'nheo, ras kita tidak mengenal yang namanya menyerah. Lebih mulia mati di medan perang daripada mati karena menyerah begitu saja. Kita adalah pejuang, jangan menjadi pengecut seperti itu. Aku heran, kenapa Kau bisa terpilih menjadi seorang prajurit Dodo'phia."

__ADS_1


"Aku bukan pengecut. Tetapi ini adalah jalan terbaik untuk kita. Pilihan kita hanya dua, pertama bertahan di sini, nantinya kita akan mati di tangan musuh atau mati kelaparan, kedua kita menyerah dan menunggu bantuan datang. Bukankah kita sudah meminta bantuan kepada pos yang ada di tata surya lain? Paling cepat mereka akan sampai di sini satu bulan lagi. Paling lambat dua bulan."


"Jika bantuan datang, kita pasi bisa terselamatkan. Jadi, kalian pilih mana, menyerah tapi memiliki kesempatan hidup tinggi, atau bertahan yang nantinya akan mati dengan cara yang belum kita ketahui."


Ucapan Fot'nheo ada benarnya. Pasokan makanan mereka sudah sangat menipis. Dengan peperangan seperti ini, mereka perlu sering mengisi tenaga dengan makan. Namun, makanan mereka tidaklah banyak. Ada kemungkinan mereka bisa bertahan dari gempuran para pemain. Namun, itu tidak akan menjamin mereka tidak akan mati karena kelaparan.


"Kau benar, Fot'nheo. Menyerah bukan berarti kalah. Kalau begitu, kita menyerah dari perang ini. Perintahkan prajurit yang ada di atas tembok benteng untuk mengibarkan bendera merah. Aku yakin musuh pasti akan mengerti maksud kita," perintah Mat'chia.


"Baiklah, Mat'chia. Kami akan melaksanakan perintahmu itu."


...


Serangan dari musuh yang sudah tidak seintens sebelumnya menbuat beberapa pemain sedikit lebih santai dalam menyerang musuh. Ini karena banyak dari pemain yang berlevel tinggi, mati karena Mot'dhea yang meledakkan diri.


Mereka hanya tinggal menunggu lima jam untuk pemain level tinggi itu bangkit. Lalu, mereka juga perlu menunggu pemain itu berjalan ke benteng musuh. Jika saja mereka memiliki tugu kebangkitan di sini, maka para pemain tidak perlu berjalan jauh untuk berperang.


Untungnya di jalur dari Star City menuju benteng musuh, sudah tidak banyak monster yang berkumpul. Mereka kabur dari pemain yang berlalu lalang di jalur tersebut selama peperangan ini.


"Aku tidak tahu. Sependek pengetahuanku, jika ada pihak yang menyerah, maka mereka akan mengibarkan bendera berwarna putih. Game ini pasti dibuat dengan tetap menggunakan prinsip-prinsip dasar seperti itu."


"Aku pernah membaca bahwa di Iran, jika bendera merah dikibarkan, maka akan ada peperangab yang besar. Itu seperti bentuk pembalas dendaman karena ada pihak mereka yang dibunuh. Kalian tahu bukan bahwa komandan musuh, mati bunuh diri. Aku yakin musuh sekarang akan berperang dengan kekuatan penuh."


"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Yang ada di sini hanya pemain level rendah yang berharap mendapatkan poin kontribusi. Kita jelas tidak akan bisa mengalahkan musuh."


"Minta semuanya untuk mundur. Kita perlu menunggu pasukan utama kita bangkit. Paling lama tujuh hingga delapan jam lagi pasukan kita akan berkumpul. Sekarang, kita perlu mengumpulkan tenaga."


"Perkataanmu ada benarnya, kawan. Beberapa dari kita bisa kembali ke Star City untuk mengisi persediaan. Beberapa juga akan tetap berkumpul di sini untuk memantau keadaan musuh. Lalu, kita bisa log out dari game secara bergantian, agar ketika perang besar terjadi, kita tidak dikeluarkan secara paksa dari game."


"Bagus-bagus. Aku sudah mengirimkan rencana ini di ruang obrolan para pemain. Aku yakin semuanya akan segera mengetahui rencana ini."

__ADS_1


Kesalah pahaman mengenai arti dari bendera membuat dua kubu yang seharusnya mengakhiri perang, justru terlihat memperburuk suasana. Para pemain berpikir bahwa musuh akan menyerang mereka secara habis-habisan. Sementara itu, Ras Dodo'phia menganggap bahwa ini adalah tanda menyerah dari mereka.


"Mat'chia, musuh sekarang mundur. Mereka berhenti satu kilometer dari benteng kita. Apa yang harus kita lakukan Mat'chia?"


"Mungkinkah mereka menjadikan kita tawanan di dalam benteng? Kita sudah mengibarkan bendera merah bukan? Jadi, kemungkinan mereka mundur untuk menjaga kita."


Mat'chia sekarang memandang ke arah medan perang. Tidak ada satu pun mayat musuh di medan perang. Yang terlihat hanyalah beberapa lubang karena serangan senjata ali dari Ras Dodo'phia. Lalu, di tempat Mot'dhea mati, terdapat lubang yang mirip kawah akibat ledakan tubuh Mot'dhea.


Mat'chia tidak bisa mengalihkan pandangannya begitu saja dari kawah tersebut. Ia seakan melihat Mot'dhea berdiri di tengah kawah dan melambai ke arah Mat'chia. Seringai khas yang biasa Mot'dhea tunjukkan juga Mat'chia lihat di wajah Mot'dhea. Ini baru beberapa jam setelah Mot'dhea mati, tetapi Mat'chia sudah sangat merindukannya.


"Sepertinya begitu, Mat'chia."


"Selagi musuh mundur, segera obati prajurit yang terluka. Lalu, urus semua yang mati sesuai dengan tradisi kita."


"Baiklah, Mat'chia."


Prajurit Dodo'phia lalu melaksanakan perintah Mat'chia. Mereka mengobati rekan mereka yang terluka. Untuk rekan mereka yang gugur, para prajurit itu membawa mereka ke ruang kremasi. Abu ini nantinya akan dibawa kembali ke planet di mana Ras Dodo'phia tinggal dan dimakamkan di sana.


"Mat'chia, ada perubahan di kamp musuh," lapor salah stu prajurit ketika Mat'chia menghadiri upacara penghormatan untuk prajurit yang gugur.


"Ada perubahan apa?"


"Beberapa orang dari musuh menghilang begitu saja. Namun, masih ada musuh yang berjaga di kamp mereka. Jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya. Aku perkirakan hanya ada lima puluh ribu musuh yang tersisa."


"Apakah mereka pergi kembali ke benteng ras mereka?"


"Sepertinya tidak, Mat'chia. Mereka menghilang begitu saja. Aku memantau musuh dari teropong, setengah dari mereka yang tersisa menghilang begitu saja. Cara mereka menghilang hampir sama dengan cara menghilangnya mayat rekan mereka."


"Benarkah? Apakah mereka mati sekarang? Kalau begitu, mungkinkah kita memiliki kesempatan untuk menyerang mereka lagi?"

__ADS_1


"Aku rasa itu bisa saja terjadi, Mat'chia. Tidak hanya kita yang melemah, mereka juga melemah. Aku rasa, ini adalah kesempatan yang bagus untuk membalas dendam. Dua orang yang kita tahan itu sudah mati karena tidak kuat menahan siksaan. Sekarang, kita bisa mencoba menginterogasi yang lain jika kita berhasil mengalahkan mereka. Kita bisa merebut pasokan makanan serta senjata. Aku yakin, kita bisa melakukannya."


"Baguslah. Perintahkan prajurit untuk bersiap. Semuanya harus beristirahat dan mengumpulkan tenaga mereka. Enam jam lagi, kita akan langsung membunuh mereka secara langsung. Kita tidak perlu lagi bertahan di dalam benteng untuk melawan lima puluh ribu orang."


__ADS_2