
Tentu saja Lintang tidak mau itu terjadi. Manusia di Planet Bumi masih belum sekuat itu. Jika Ras Dodo'phia mendatangi Planet Bumi sekarang, sudah jelas seluruh penghuni Bumi tidak akan bisa bertahan. Kemungkinan mereka menjadi punah sangat besar.
"Lebih baik aku sekarang menghubungi Kakek Seno. Aku harus menanyakan kepadanya mengrnai keturunan dari para pemilik sistem. Apakah mereka setuju bergabung menjadi pemain game milikku atau tidak," gumam Lintang.
Tanpa menunggu lama, Lintang langsung pergi menuju ke tempat Seno berada. Rumah Seno yang berada di dalam dimensi, terlihat ramai ketika Lintang datang ke sana. Banyak wajah-wajah baru yang Lintang linhat di sana. Meski begitu, mereka nampak tidak asing bagi Lintang. Mungkin karena wajah mereka memiliki kemiripan dengan keluarganya jadi Lintang merasa tidak asing dengan mereka.
Selain itu, beberapa orang yang ada di sini merupakan orang ternama. Ada yang merupakan pebisnis hebat, pemilik tambang minyak terkaya, pemilik perusahaan pemuat pesawat dan lain sebagainya. Wajah orang-orang itu sudah cukup banyak bermunculan di layar televisi
"Om Lintang," sapa Diana Druze.
Diana Druze langsung menghampiri Lintang. Di belakangnya, beberapa orang mengikuti langkah Diana Druze menuju ke arah Lintang. Sesampainya di dekat Lintang, Diana Druze langsung memeluk erat Lintang. Jika saja Lintang tidak tahu bahwa ia dan Diana Druze memiliki hubungan darah, maka pikiran Lintang akan berlarian ke mana-mana.
"Kenapa Kamu ada di sini?" tanya Lintang setelah Diana Druze melepaskan pelukannya. "Lalu, kenapa sekarang banyak orang yang berkumpul di sini?"
Setidaknya ada seratus orang lebih yang berkumpul di depan rumah Seno. Beberapa dari mereka membakar sosis dan sate untuk dikmati bersama, beberapa membentuk lingkaran kecil dan mengobrol bersama. Pasti ada alasan kenapa orang sebanyak ini berkumpul di sini.
"Om Lintang lupa ya? Hari ini kan perkumpulan keluarga kita diadakan. Aku baru saja akan memanggil Om Lintang untuk hadir. Namun, Om Lintang sudah datang kemari."
Kesibukan Lintang melatih diri dan memberi misi bagi para pemain agar level mereka meningkat membuat Lintang lupa akan perkumpulan keluarga Sendira. "Maaf. Aku hampir melupakannya."
"Om Lintang terlalu fokus mengurusi game sehingga melupakan perkumpulan keluarga. Itu semua nggak masalah. Toh Om Lintang sudah ada di sini bukan? Sekarang, aku akan menemani Om Lintang berkenalan dengan yang lainnya."
Diana Druze langsung melingkarkan tangannya di lengan Lintang. Ia lalu mulai memperkenalkan Lintang ke seluruh keluarga yang hadir di sini. Cukup banyak orang yang Diana Druze kenalkan. Jika Lintang tidak memiliki ingatan yang bagus, maka Lintang sudah pasti akan melupakan semua nama anggota keluarganya.
__ADS_1
"Wow. Aku tidak menyangka ternyata aku memiliki keluarga sebesar ini," gumam Lintang.
Setidaknya ada enam ratus lebih anggota keluarga Sendira. Seno dan Dina memiliki delapan anak, lalu Seno dan Miranda memiliki sepuluh anak. Anak-anak mereka rata-rata memiliki lima hingga delalan orang anak. Lalu, beberapa dari cucu Seno juga sudah memiliki anak.
Jika anak-anak Seno disebut sebagai generasi pertama Keluarga Sendira, bisa dibilang yang hadir di sini adalah mereka dari generasi pertama hingga generasi ke lima. Oleh karena itu jumlahnya sudah sangat banyak. Dari enam ratus orang yang ada, itu belum termasuk para menantu yang menjadi bagian keluarga Sendira. Jika semua dihitung, maka ada seribu orang Keluarga Sendira yang ada di sini.
"Ini hanya sebagian saja, Om. Beberapa dari mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka untuk datang kemari."
"Namun, jumlah ini sudah sangat banyak. Apakah keluarga lain juga memiliki jumlah yang banyak seperti ini?" tanya Lintang penasaran.
"Tentu saja. Keluarga lain yang leluhur mereka adalah pemilik sistem, memiliki anggota yang tidak kalah banyakanya. Keluarga ayahku, Keluarga Druze misalnya, kami memiliki dua ribu anggota keluarga, belum termasuk menantunya. Namun, beberapa dari kita masih bersilang satu sama lain. Seperti aku yang tergabung dengan Keluarga Druze serta Keluarga Sendira. Jika ditotal, semua keturunan pemilik sistem yang masih hidup, berjumlah seratus enam puluh ribu orang."
"Banyak sekali!" seru Lintang. "Jika aku bisa membuat mereka begabung menjadi pemain, maka aku akan memiliki puluhan ribu pemain elit. Sekarang, apakah Kamu tahu di mana Kakek Seno berada?" tanya Lintang.
Sebelumnya Diana Druze memang sudah mengatakan bahwa dia dan beberapa sepupunya akan bergabung menjadi pemain. Namun, jumlah mereka yang bergabung tidaklah banyak. Mereka tidak memberikan perubahan besar terhadap kekuatan para pemain secara keseluruhan. Jika Seno memeberikan perintah, setidaknya ada setengah dari anggota Keluarga Sendira yang mau bergabung menjadi pemain game miliknya.
Seno baru saja kembali ke dimensi miliknya ketika Lintang mencarinya. Seakan tahu bahwa Lintang ingin membicarakan hal yang cukup serius, Seno mengajak Lintang menuju ke salah satu kebun sayuran miliknya.
"Jadi, apa yang Kamu inginkan?" tanya Seno tanpa basa basi.
Lintang langsung mengutarakan apa yang ia inginkan kepada Seno. Ia juga meminta bantuan Seno untuk kembali mempromosikan game miliknya agar pemainnya bisa bertambah. Lintang bahkan mengatakan ingin mendapatkan pemain elit yang di dunia nyata merupakan seorang tentara.
"Kamu tidak perlu memikirkan mengenai keluarga pemilik sistem. Setelah aku memberi tahu mereka mengenai game milikmu, mereka langsung mengirim keturunannya untuk begabung menjadi pemain. Sama seperti Keluarga Sendira, aku juga sudah meminta mereka bergabung menjadi pemain di game milikmu. Hanya saja, sebagian dari mereka memegang tanggung jawab jabatan. Jadi, mereka tidam bisa melepaskannya begitu saja."
__ADS_1
"Tunggulah satu bulan lagi, akan banyak keturunan pemilik sistem yang bergabung. Saat ini Kamu hanya bisa bersabar dan menunggu. Lalu, untuk promosi, aku sudah melakukannya. Aku bahkan mewajibkan karyawanku untuk bermain dalam game milikmu delapan jam sehari di waktu mereka tidur. Meski begitu, aku tetap akan mempromosikan game milikmu."
"Terima kasih, Kakek."
Lintang tidak menyangka Seno sampai mewajibkan karyawannya untuk bermain game Galaxy Wars selama delapan jam sehari. Pasti untuk membuat para karyawannya melakukan hal itu, Seno mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
"Namun, apakah semua itu tidak bisa dipercepat, Kakek? Aku membutuhkan satu juta pemain berlevel seratus dalam waktu tiga minggu. Dari perhitunganku melihat garafik kenaikan level para pemain, akan sangat sulit untuk mereka menaikkan level sebanyak itu. Apalagi harus satu juta pemain."
Jika hanya beberapa ratus ribu saja, Lintang yakin itu masih mungkin. Namun, satu juta pemain tidaklah sedikit. Lintang khawatir sampai batas waktu berakhir, ia tidak memiliki pemain berlevel seratus sebanyak itu.
"Ada uang ada semangat. Cara mengatasi itu sangat mudah, Lintang. Aku akan menyumbang tiga ribu triliun rupiah sebagai hadiah. Setiap orang yang mencapai level seratus dalam sepuluh hari, pasti akan mendapatkan tiga puluh juta rupiah. Aku yakin dengan uang sebanyak ini, mereka akan tertarik untuk menaikkan level. Lalu, setelah ini aku akan memberi tahu Om Andi. Aku yakin dia juga akan menyumbang beberapa uangnya sebagai hadiah penyemangat," ucap Seno santau.
Cara Seno mengatakan menyumbang tiga ribu triliun sangatlah enteng. Seno seakan menganggap tiga ribu triliun rupiah sebagai tiga ribu rupiah saja. Ia seperti tidak menganggap bahwa tiga ribu triliun asalah jumlah yang banyak.
Lintang tahu bahwa nilai uang sekarang ini banyak mengalami penurunan. Meski begitu, tiga ribu triliun masihlah angka yang cukup besar. Lintang sendiri saja tidak memiliki uang sebanyak itu. Dari bagi hasil penjualan item game, uang Lintang yang terkumpul barulah beberapa miliar rupiah saja.
"Apa itu tidak terlalu banyak, Kakek?"
"Itu adalah angka yang kecil. Jika dibandingkan dengan kekayaan keluarga kita, itu tidak ada seper sepeuluhnya. Lalu, jika dibandingkan dengan kekayaan Keluarga Prayudi itu tidak ada seper seratus dari kekayaan mereka. Jadi, jangan kaget jika Kamu melihat kami mengeluarkan uang sebanyak ini. Perusahaan milikku sudah sangat banyak, dan aku mengumpulkan kekayaan ini selama ratusan tahun. Jika tidak dimanfaatkan untuk persiapan perang, untuk apa aku mengumpulkan uang sebanyak ini. Toh keturunanku sudah bisa mencari uang sendiri."
"Kalau begitu, aku berterima kasih kepada Kakek mengenai hal ini. Namun, aku rasa terlalu banyak jika kita memberikan tiga puluh juta untuk para pemain. Lebih baik, aku memberikan mereka item game saja yang nilainya tidak lebih dari dua puluh juta rupiah. Dengan begitu, jika suatu saat nanti aku memiliki misi untuk meningkatkan level para pemain, aku tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak sebagai pancubgan penyemangat," jelas Lintang.
Meski keluarganya kaya raya, tetapi Lintang tidak mau menghabiskan kekayaan mereka begitu saja. Sebisa mungkin Lintang ingin para pemain meningkatkan level mereka karena keinginan mereka sendiri, bukan karena hadiah yang ia janjikan.
__ADS_1