
Sudah sejam sejak Dot'ghea memutuskan mematikan mesin kapal miliknya. Sudah sejam pula kapalnya ini hanya melayang di luar angkasa. Dot'ghea masih berada di ruang komando bersama dengan anak buahnya. Dot'ghea ingin mengawasi keadaan sekitar bersama dengan anak buahnya.
"Kapten Dot'ghea, terjadi pergerakan dari planet merah tempat musuh berada. Dari radar yang kita miliki, aku mendeteksi ada sekumpulan benda terbang yang bergerak cepat menuju ke kapal kita," lapor Jat'mhea.
Setelah melaporkan hal itu, Jat'mhea langsung menampilkan penemuan radarnya di layar hologram. Wos'nhio juga ikut mengerjakan tugasnya, sebelum diperintahkan oleh Dot'ghea. Wos'nhio berusaha mengambil gambar dari citra satelit yang kemudian ia tanpilkan di layar hologram.
Dari layar hologram yang ada di ruang komando, semua bisa melihat bahwa sekarang ada ratusan pesawat tempur yang bergerak menuju ke luar angkasa. Beberapa orang di ruang komando terlihat sedikit melebarkan matanya ketika melihat layar hologram. Ini karena mereka cukup mengenali pesawat yang sekarang ini bergerak mendekat ke kapal mereka.
"Bagaimana mungkin ada pesawat kita sebanyak itu?" tanya Hot'phei.
"Apakah musuh mencuri pesawat tempur milik kita?" tanya Jat'mhea.
"Sebenarnya, ini lawan apa kawan? Kapten Dot'ghea, apa yang harus kita lakukan?" tanya Wos'nhio.
"Kalian semua diam. Jangan memperlihatkan ekspresi seperti itu. Seharusnya kalian tenang dan memikirkan hal ini dengan kepala dingin. Kalian sudah melewati cukup banyak pertempuran, tetapi kalian bersikap seperti prajurit yang baru bergabung," ucap Dot'ghea dengan nada yang cukup tinggi.
Dot'ghea sendiri sama kagetnya seperti anak buahnya. Namun, Dot'ghea mencoba memikirkan hal ini dengan kepala dingin. Pesawat tempur yang bergerak menuju ke kapal mereka memang terlihat sangat mirip dengan pesawat tempur milik rasnya. Namun, Dot'ghea melihat sedikit perbedaan di sana.
Nomor seri dari pesawat itu bukanlah nomor seri yang biasa ada di pesawat tempur milik Ras Dodo'phia. Biasanya, nomor serinya merupakan perpaduan antara huruf dan angka yang dipakai Ras Dodo'phia. Namun, huruf dan angka pada pesawat ini sangat berbeda.
Kemungkinan besar musuh telah meniru teknologi pesawat tempur mereka. Ini membuat Dot'ghea sedikit bingung, kapan mereka melakukan hal ini? Di mana pula mereka membuat pesawat tempur sebanyak ini?
Dot'ghea yakin untuk membuat pesawat sebanyak ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Pergerakan pengiriman bahan baku ataupun pembangunan pangkalan untuk membuat pesawat tempur ini, pasti akan menimbulkan keributan yang tidak kecil. Dengan itu semua, sudah pasti Ras Dodo'phia ataupun ras lain di tata surya ini yang menjadi bawahan Ras Mogoley akan mengetahui hal ini bukan?
"Hanya melihat sekilas saja aku sudah tahu itu adalah pesawat tempur milik musuh. Kalian tidak perlu meributkan mengenai alasan pesawat tempur milik musuh sangat mirip dengan pesawat tempur milik kita. Sekarang ini, yang perlu kita lakukan adalah melakukan perlawanan. Kita tidak bisa berdiam diri di sini dan menunggu mereka menghancurkan kapal kita bukan?"
"Maafkan kami, Kapten Dot'ghea."
__ADS_1
"Sekarang, beritahu teknisi untuk menyalakan seluruh mesin pesawat. Kumpulkan energi kita yang tersisa untuk melakukan serangan. Aku tahu dengan keadaan kapal kita yang sekarang, kita tidak akan bisa bertahan dari serangan musuh. Jika seperti itu, kita harus membawa sebanyak mungkin musuh untuk mati bersama dengan kita bukan?"
"Baik, Kapten Dot'ghea. Kami akan melaksanakan perintahmu ini."
...
Jantung Lintang berdebar lebih kencang dari biasanya. Meski Lintang akan melakukan peperangan, tetapi ada rasa gembira tersendiri di dalam dirinya. Kali ini Lintang akan terbang ke luar angkasa. Lintang akan melihat langsung pemandangan dari luar angkasa.
Memang Lintang sudah mengalami perpindahan planet dari Planet Bumi ke Planet Mars. Namun, perpindahan itu dilakukan dengan bantuan Sistem, yang langsung menteleportasikan tubuh Lintang ke Planet Mars. Lintang tidak melihat langsung bagaimana keadaan luar angkasa.
Tidak berbeda dengan Lintang, Xiao Yi juga merasakan hal yang sama. Ini adalah pengalaman pertamanya ke luar angkasa. Jika sebelumnya Xiao Yi menganggap Galaxy Wars hanya sebuah game biasa, tetapi sekarang tidak.
Semua pengalaman pertama yang Xiao Yi lakukan di Planet Mars benar-benar terjadi di dunia nyata. Jadi, Xiao Yi juga ingin melihat langsung keadaan luar angkasa, bukan hanya melalui gambar atau video seperti sebelumnya.
Dua puluh menit kemudian, pesawat tempur mereka sudah meninggalkan atmosfer Planet Mars. Hamparan langit gelap pun tersaji di depan Lintang dan Xiao Yi. Beberapa kerlap kerlip bintang yang berada cukup jauh pun dapat Lintang dan Xiao Yi lihat dengan jelas.
Beberapa asteroid yang tidak terlalu besar terlihat berterbangan di luar angkasa. Lintang bahkan melihat adanya satelit di yang mengikuti pergerakan Planet Mars. Kemungkinan besar itu ada satelit milik manusia Planet Bumi. Seingat Lintang, lima belas tahun lalu proyek pengamatan Planet Mars berjalan dengan lancar.
"Ini karena kita bisa melihat sinar matahari langsung tanpa terlindung dari lapisan atmosfer sebuah planet. Jadi, di sini tidak segelap itu. Apalagi kita ini masih berada di dalam sabuk asteroid, tentunya cahaya di sini masih lebih terang dibandingkan dengan tenpat terjauh dari matahari," jelas Lintang.
"Ya, Kau benar. Di sini ternyata benar-benar indah."
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menikmati keindahan luar angkasa. Kita perlu mengalahkan kapal induk milik musuh," ucap Lintang mengingatkan."
Dari radar yang ada di pesawat tempur miliknya, Lintang sudah menemukan keberadaan kapal induk milik musuh. Mereka semua hanya perlu terbang mengikuti arahan radar. Sepuluh menit kemudian, Lintang bisa melihat keberadaan kapal induk milik musuh.
"Ini ...." Lintang tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Lintang cukup kaget melihat keadaan kapal di depannya. Kapal induk ini sangat berbeda dengan kapal induk yang ada dalam bayangan Lintang. Seharusnya kapal induk ini terlihat kokok, megah, dan canggih. Namun, kapal induk ini terlihat mengalami kerusakan yang cukup parah.
Lintang bisa melihat beberapa bagian kapal yang berlubang, percikan api kecil terlihat di tempat itu. Beberapa bagian kapal juga terlihat penyok. Melihat kapal induk yang seperti ini, Lintang bisa menyimpulkan bahwa kapal induk ini menerima serangan yang cukup besar.
"Sebenarnya apa yang mereka hadapi sehingga kapal induk mereka mengalami hal mengerikan seperti ini?" gumam Lintang.
Lintang tidak bisa memikirkan hal itu lebih lama lagi. Ini karena beberapa pemain sudah tidak sabar untuk menyerang kapal induk milik musuh. Para pemain mulai mempercepat laju pesawat tempur yang mereka kendarai. Lalu, ketika sudah berada di jarak serang, para pemain mulai menembaki kapal induk milik musuh.
Lintang yang akan mengikuti para pemain yang lain, tiba-tiba menerima permintaan sambungan komunikasi dari pesawat tempur lain. Lintang tahu ini adalah panggilan dari anak buah Seno setelah melihat nomor seri dari pesawat tempur tersebut.
"Lintang, jangan terburu-buru untuk menyerang musuh sekarang," ucap Sosirone.
"Eh, memangnya kenapa Rone? Bukankah lebih cepat mengalahkan mereka lebih baik? Lihatlah kapal induk mereka sudah mengalami banyak kerusakan. Kita tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menyerang mereka bukan? Jadi, untuk apa menundanya?"
"Justru karena itu kita tidak bisa gegabah dan menyerang mereka begitu saja," jelas Sosirone.
"Apa maksudmu? Aku jadi bingung?"
Jika musuh dalam keadaan seperti ini, bukannya sangat bagus untuk mereka menyerang? Ini seperti membunuh seseorang yang sudah terluka parah bukan? Akan sangat mudah melakukan hal itu. Tidak ada yang perlu mereka takutkan.
"Apa Kau tahu istilah meski sebuah unta sudah mati, tetapi dia masih meninggalkan bangkai yang besar. Begitu juga dengan kapal induk ini. Meski mereka terlihat tidak berdaya, dan akan mati, belum tentu mereka tidak bisa melakukan apa pun. Aku yakin mereka masih memiliki rencana cadangan yang mungkin bisa mengalahkan kita," jelas Sosirone.
"Lalu bagaimana dengan para pemain yang sekarang sudah telebih dahulu menyerang musuh? Apakah kita perlu menghubungi mereka dan meminta mereka untuk mundur?"
"Itu tidak perlu, Lintang. Biar mereka tetap menyerang. Anggap saja mereka sekarang mengetes kekuatan musuh. Aku berharap musuh tidak memiliki kartu as yang bisa menglahakan kita. Aku harap para pemainmu itu bisa mengalahkan mereka."
"Namun, jika musuh memang memiliki kartu as, aku berharap para oemainmu itu menguras seluruh kartu as mereka. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi kita untuk menghabisi musuh. Lalu, jika sampai para pemainmu mati, itu semua bukanlah masalah besar. Mereka masih bisa hidup kembali."
__ADS_1
Bersamaan dengan Sosirone selesai berbicara, ledakan besar terjadi di dekat kapal induk milik musuh. Seperti dugaan Sosirone, musuh masih memiliki beberapa kartu as di tangan mereka. Saat ini tujuh puluh persen pesawat tempur yang dikemudikan oleh para pemain, hancur tidak bersisa terkena serangan musuh.
Jika saja Lintang tadi tidak mendengarkan perkataan Sosirone, maka pesawat tempur milik Lintang akan berakhir seperti pesawat tempur lainnya. Berperang dengan orang yang lebih berpengalaman memang berbeda. Lintang akan diberi beberapa arahan yang bisa menjadi ilmu baru untuknua dalam berperang di kemudian hari.