Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 37 Perang Pertama (2)


__ADS_3

Dua jam kemudian, benteng musuh sudah terlihat jelas. Kedatangan ratusan ribu pemain membuat Mot'dhea yang tengah mengobrol dengan Mat'chia tergopoh-gopoh menuju ke arah dinding benteng.


Sejauh mata memandang, hanya ada pemain yang terlihat. Mereka berasal dari beberapa ras yang berbeda. Hal ini membuat Mot'dhea mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa kelima ras ini sekarang berkumpul menjadi satu. Lalu, jumlah mereka pun cukup banyak.


Sebelumnya, Mot'dhea mengira hanya ada Ras Natra dan Ras Elf saja yang ada di sini. Meski kaget dengan kemunculan mereka, Mot'dhea tidak terlalu memikirkan bal itu. Ini karena planet tempat tinggal Ras Natra dan Ras Elf masih berada di galaksi yang sama.


Sedangkan ras lainnya, mereka berasal dari galaksi yang berbeda. Jadi, bagaimana bisa mereka bersatu di tempat yang sama. Lalu, bagaiamana bisa keberadaan ratusan ribu orang luput dari pengawasannya selama berada di planet ini.


"Mot'dhea, apakah kita bisa mengalahkan mereka?" tanya Mat'chia yang sekarang sudah berada di samping Mot'dhea.


"Jumlah mereka memang lebih banyak dari kita. Namun, kekuatan kita jauh lebih besar dari mereka. Jadi, aku yakin kita bisa bisa mengalahkan mereka."


"Meskipun senjata kita dimiliki mereka? Senjata kita sangatlah terbatas Mot'dhea. Aku hitung, hanya ada sepuluh persen pasukan kita yang memegang senjata. Apa Kau yakin kita masih bisa menang?"


Mat'chia ragu mereka bisa menang melawan musuh. Jumlah mereka puluhan kali lebih banyak dari pasukan yang ada. Ras Dodo'phia hanya membawa sepuluh ribu orang dalam misi mengambilan sunber daya di planet ini. Lalu, hanya empat ribu di antara mereka yang merupakan pihak militer. Sisanya hanyalah penambang atau pun peneliti.


Empat ribu melawan ratusan ribu? Bagaimana bisa mereka melakukannya? Jika saja mereka masih memiliki pasokan senjata, maka pekerja yang lain bisa membantu para penjaga berperang melawan musuh. Tapi sekarang, senjata mereka sudah hilang. Makanan mereka pun sangat menipis.


"Ingat, kita sekarang berada di dalam benteng. Akan sangat sulit bagi mereka memasuki benteng ini. Jadi Kau tidak perlu khawatir Mat'chia. Semua akan baik-baik saja. Kita bisa menghabisi mereka dalam waktu sekejap."


"Aku harap semua akan sesuai dengan harapanmu. Jangan lagi lengah mengenai hal ini Mot'dhea. Jika Kau tidak sungguh-sungguh, maka nyawa kita taruhannya."


"Aku tahu itu Mat'chia. Tentu saja aku tidak akan bermain-main jika menyangkut nyawa kita. Bagaimanapun juga, aku belum sepenuhnya memilikimu. Jadi, aku tidak akan membiarkan mereka mengambil nyawa kita."


...

__ADS_1


"Sial! Kenapa lubang yang sebelumnya ada di sini, sekarang menghilang," umpat Genta. Ia sekarang sudah berada di lokasi di mana lubang yang sebelumnya mereka pakai berada. Namun, sekarang Genta tidak menemukan lubang itu.


"Apakah pihak musuh sudah menutup lubang ini?" tanya Martin.


"Tidak orang waras yang membiarkan jalan rahasia miliknya diketahui oleh musuh. Pilihannya hanyalah menghancurkan jalan rahasia itu, atau membunuh orang yang mengetahui jalan rahasia itu. Namun, pihak musuh jelas tidak membunuh kita. Ini berarti musuh sudah menutup jalan rahasia tersebut," ucap Kapten Y.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Daniel.


Lintang yang tidak berada jauh dari para tentara ini, mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Ia hanya tersenyum mendengar diskusi mereka. Sebelumnya Lintang memang sudah meminta Rarae untuk membuat jalan rahasia. Namun, jalan itu sudah ditutup setelah para pemain kembali.


Sebelumnya Lintang sudah memberikan bantuan kepada para pemain. Sekarang, ia ingin para pemain berjuang sendiri melawan musuh dengan mengandalkan apa yang mereka punya, dan apa yang ada di lapangan.


"Lebih baik kita serang langsung saja. Dengan senjata yang kalian punya, akan cukup mudah mengalahkan musuh bukan? Kalian tinggal meminta pemain yang lain menyerang secara langsung sementara kalian menyerang dari belakang," usul Lintang yang sekarang ikut bergabung dalam pembicaraan para tentara.


"Lihatlah, semua pemain yang berkumpul di sini sedang menunggu ada yang memulai serangan. Pihak musuh nampaknya tidak akan keluar dari dalam benteng. Merek akan memanfaatkan tembok tinggi itu sebagai tempat pertahanan. Jika kita tidak bergerak, maka kita akan membuang-buang waktu saja," imbuh Lintang.


Lintang tidak peduli apakah para tentara ini menyukainya atau tidak. Lintang hanya ingin ada seseorang yang memancing para pemain untuk mengambil inisiatif menyerang musuh. Ia ingin perang ini segera selesai.


"Kamu ada benarnya juga. Kita tidak akan mati di sini, tetapi tidak dengan musuh. Jadi, jika kita bisa mengabisi musuh dengan cepat, mati sekali tidak akan mengubah apa pun. Sekarang ini, moral para pemain sedang tinggi-tingginya. Kita harus memanfaatkan hal ini untuk menyerang."


Setelah berucap demikian, Kapten Y bergerak menuju batu besar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia lalu naik ke atas batu itu dan memandang ke arah para pemain. Kapten Y lalu menembakkan senjatanya ke udara untuk menarik perhatian para pemain. Apa yang ia lakukan itu ternyata berhasil membuat para pemain memandang ke arahnya.


"Saudara-saudaraku sekalian. Sekarang ini, musuh sudah ada di depan mata kita. Namun, mereka nampaknya tidak berani keluar dari benteng dan bertarung secara langsung dengan kita. Kita, perlu menyelamatkan rekan kita yang sedang mereka tawan. Kita perlu membalaskan penderitaan mereka."


"Oleh karena itu, kita serang dan hancurkan saja musuh. Meski musuh lebih kuat, kita jauh lebih banyak. Mati satu tumbuh seribu. Sekarang kita mati, nanti kita akan bangkit dan membalaskan dendam. Jadi, apakah kalian semua bersedia untuk berjuang hingga mati untuk menghabisi musuh?"

__ADS_1


Orasi singkat dari Kapten Y itu nampaknya berhasil mengobarkan semangat berperang dari para pemain. Ini adalah pemain yang Lintang cari. Sebenarnya, Lintang bisa saja melakukan itu sendiri, tetapi ia lebih suka jika para pemain yang melakukannya.


Beberapa pemain terlihat menaiki batu besar tempat Kapten Y berada. Nampaknya mereka tidak mau kalah dengan Kapten Y. Satu persatu mereka meneriakkan orasi pembakar semangat. Orang-orang itu adalah pemimpin dari beberapa serikat yang sudah terbentuk di dalam game. Mereka tidak mau kalah dalam memperebutkan kontribusi.


Setelah orasi selama lima brlas menit, semuanya langsung bersiap untuk melakukan serangan. Para pemain membagi diri menjadi tiga kelompok besar. Mereka akan menyerang dari arah selatan, timur, dan barat dari benteng musuh. Dengan begini, fokus musuh akan terpecahkan.


Lalu, regu dari Kapten Y akan menyerang dari sisi selatan. Mereka ingin Kapten Y mengalihkan perhatian musuh agar pemain dari sisi timur dan barat bisa menghancurkan pertahanan musuh.


Mendengar pembagian tugas dadakan itu, Lintang sangat senang. Tidak semua pemainnya egois. Meski mereka mengharapkan kontribusi yang besar, tetapi mereka tahu tanpa kerja sama yang baik, mereka tidak akan memenangkan peperangan ini.


Lintang sendiri memiliki menyerang dari arah timur. Dengan adanya Kapten Y, sisi barat dan timur tidak akan seketat itu penjagaannya. Apalagi para pemain hanya menggunakan senjata tajam. Lintang ingin menyusup di antara para pemain dan menyerang mereka dengan senjata api. Serangan tiba-tiba darinya pasti akan memberikan pukulan yanh besar kepada musuh.


Dalam waktu cepat, para pemain bergerak membagi diri menjadi tiga kelompok besar. Mereka berlari menuju ke arah benteng dengan mengacungkan senjata. Pihak musuh yang melihat hal itu tidak tinggal diam. Mereka mulai menembaki para pemain yang mendekat ke arah benteng.


Satu persatu pemain yang berada di depan mati di bawah guyuran tembakan musuh. Namun, kematian rekan mereka tidak membuat para pemain patah semangay. Mereka justru mempercepat langkah kaki mereka untuk segera menyerang musuh.


Hal ini membuat bulu kuduk mereka yang berada di atas tembok benteng, berdiri. Mereka tidam menyangka akan menghadapi musuh yang sama sekali tidak takut akan kematian. Bahkan kematian rekan mereka justru menanmbah semangat mereka.


"Sial!" umpat Mot'dhea dengan cukup keras. "Bagaimana mungkin mereka masih saja berniat menyerang? Lihatlah, banyak rekan mereka yang sudah mati setelah mendapat tembakkan. Namun, mereka masih saja menyerang."


Musuh yang paling mengerikkan menurut Mot'dhea bukanlah musuh yang jauh lebih kuat dari kita, tetapi mereka yang tidak takut mati. Mot'dhea sekarang benar-benar merasakan sendiri bagaimana mengerikannya musuh yang sekarang ia hadapi.


Mereka tidak kenal rasa takut. Tetap maju meski nyawa mereka melayang. Beberapa dari mereka berhasil lolos dari tembakan. Sekarang, mereka menyerang tembok benteng. Rupanya para pemain berniat merusak tembok itu atau mungkin melubanginya?


"Mot'dhea, lihatlah. Tidak ada mayat dari musuh di medan perang. Setelah mati, mayat mereka menghilang begitu saja," ucap Mat'chia.

__ADS_1


__ADS_2