Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 94 Kekesalan Dot'ghea


__ADS_3

"Luna? Bagaimana bisa Luna masih tertinggal di Planet Mars? Bukankah yang lain sudah kembali ke Planet Bumi?" tanya Lintang ke semua orang yang ada di ruang ini.


Lintang mengesampingkan fakta bahwa Luna memiliki kekuatan yang cukup besar, yang bisa menandingi musuh. Fokus Lintang hanyalah pada fakta bahwa Luna masih menggunakan tubuh aslinya, dan dia sekarang berada di tengah medan perang.


"Kami tidak tahu. Aku kira semua orang sudah kembali ke sini. Aku sudah mengecek semua tempat, tetapi aku tidak menemukan keberadaan Luna. Jadi, aku kira dia sudah kembali bersama yang lain," jawab Seno.


"Aku harus kembali ke Planet Mars dan melihat keadaan Luna. Pasti Luna sangat sedih ditinggal sendirian di Planet Mars."


Sebelum ia pergi berperang, Luna marah kepada Lintang. Luna marah karena Lintang tidak mengajaknya berperang. Lalu sekarang, Luna ditinggal sendirian di Planet Mars. Lintang yakin Luna akan merasa sangat sedih sekarang. Kemungkinan dia akan menganggap Lintang sudah menelantarkannya.


"Tunggu dulu, Lintang. Kamu tidak perlu terburu-buru kembali ke Planet Mars. Luna bisa mnagatasi semuanya. Lihatlah dia sudah membunuh pasukan musuh yang lainnya. Sekarang yang tersisa hanyalah komandan musuh saja," ucap Andi.


Namun, Lintang tidak memedulikan ucapan Andi. Lintang keukeuh untuk tetap kembali ke Planet Mars sekarang. "Sistem, bawa aku ke Planet Mars," pinta Lintang.


[Tentu, Host.]


Sebelum yang lain kembali ikut melarang Lintang pergi, tubuh Lintang sudah menghilang dari ruangan itu. Sistem telah mengirimkan tubuhnya langsung ke Planet Mars. Tubuh Lintang muncul di atas tembok batas kota. Lintang sekarang melihat secara langsung medan perang antara para pemain dengan prajurit Ras Dodo'phia.


Lintang bisa mendengar teriakan para pemain yang merasa senang bahwa musuh sudah terbunuh dengan cepat. Lintang juga mendengar beberapa orang justru mengeluh peperangan ini selesai lebih cepat. Ini karena mereka belum melakukan kontribusi apa pun dalam perang kali ini.


"Aku yakin yang menyerang tadi adalah anak buah Walikota Star. Dia pasti berpikir bahwa kita, para pemain, tidak bisa menghabisi musuh. Jadi, dia mengirim anak buahnya ini," ucap salah seorang pemain.


"Serangan tadi sagatlah keren. Set, set, set semua musuh langsung mati. Aku ingin memiliki kekuatan seperti itu. Apakah ada yang bisa memberitahuku bagaimana caranya agar aku memiliki kekuatan sebesar itu?" tanya pemain lainnya.


"Perang akan berakhir. Bagaimana dengan poin kontribusi kita? Apakah serikat kita lebih unggul dari yang lain?"

__ADS_1


Teriakan demi teriakan para pemain terdengar jelas di telinga Lintang. Akan tetapi, fokus Lintang tidaklah kepada para pemain. Lintang masih fokus ke arah Luna dan Dot'ghea yang sekarang masih melayang di langit.


Lintang bisa melihat ekspresi kemarahan tergambar jelas di wajah Luna. Sementara itu, Dot'ghea sudah membuka penutup wajah dari baju tempur miliknya. Lintang bisa melihat ketakutan tergambar jelas di wajah Dot'ghea. Keringat pun membasahi keningnya.


"Maafkan aku, Nona. Kalau boleh tahu, kenapa Nona menghabisi anak buahku?" tanya Dot'ghea dengan sangat sopan. Dot'ghea tahu bahwa kekuatan Luna sangat jauh di atasnya. Jika Dot'ghea ingin hidup, maka ia harus bersikap sopan kepada Luna. Jika perlu, Dot'ghea akan menjilat Luna agar Luna memiliki kesan yang baik terhadapnya.


Dengan kekuatan yang sebesar itu, Dot'ghea bisa menebak bahwa Luna berasal dari ras tinggat tinggi, atau mungkin di atasnya lagi. Dari semua genius ras lain yang pernah Dot'ghea temui, tidak ada yang memiliki kekuatan sebesar Luna.


Dot'ghea pernah mendengar rumor dari Jenderal Kog'vhio bahwa orang terlemah dari Ras Mogoley, masih jauh lebih kuat daripada genius yang berasal dari ras tingkat tinggi. Mungkin saja Luna ini berasal dari ras yang setara dengan Ras Mogoley. Apakah dia berasal dari Ras Hujole?


"Kau dan anak buahmu sudah mengganggu waktu tidurku. Aku sangat marah kepada mereka yang mengganggu waktu tidurku," jawab Luna.


Setelah Luna berpisah dengan Lintang, Luna terus menangis di salah satu ruang bawah tanah yang ada di kastil Lintang. Karena terlalu lama menangis, Luna akhirnya tertidur. Namun, karena ada keributan yang diakibatkan oleh serangan Dot'ghea dan anak buahnya, waktu tidurtidur Luna terganggu.


"Kau juga sudah membunuh Lintang, orang yang aku sayangi. Jadi, aku akan menghabisi Kau dan anak buahmu. Karena Kau adalah pemimpin mereka, maka aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu," jelas Luna.


Seketika itu juga Luna sadar bahwa dirinya tidak merasakan keberadaan Lintang di dekat Planet Mars. Itu berarti, Lintang sudah terbunuh dalam perang, dan orang-orang yang menyerang para pemain adalah pelaku pembunuhan Lintang.


Meski Luna tahu bahwa Lintang tidak benar-benar mati, tetapi Luna merasakan kemarahan yang tidak terkontrol ketika mengetahuinya. Oleh karena itu, Luna langsung mengahbisi mereka semua dan menyisakan Dot'ghea.


"Maafkan, aku Nona. Aku tidak tahu kalau Nona tinggal bersama dengan orang-orang lemah ini. Jika saja aku tahu bahwa Nona adalah orang di balik kemunculan orang-orang ini, maka aku tidak akan menyerang mereka."


Dot'ghea hanya bisa mengatakan kebohongan ini kepada Luna. Jika Dot'ghea mengatakan hal yang sebenarnya, maka Luna akan langsung menghanisinya dengan cara yang kejam. Apalagi Luna sudah berniat menyiksanya.


Dot'ghea menyalahkan semua kesialan yang ia alami ini kepada Mot'dhea yang sudah gugur. Dot'ghea menganggap Mot'dhea sengaja menyembunyikan fakta bahwa ada sosok yang sangat kuat di planet merah ini. Jika Dot'ghea tahu mengenai keberadaan Luna, sudah pasti Dot'ghea tidak akan menyerang.

__ADS_1


"Aku tidak peduli semua omong kosongmu. Kau harus mati. Orang-orang yang Kau panggil lemah ini, adalah orang-orang yang sangat berharga untuk Lintang. Dia ingin melindungi mereka semua. Jadi, aku tidak akan membiarkan Kau membunuh mereka," ucap Luna dingin, sangat berbeda dengan Luna yang selama ini Lintang kenal.


Setelah berucap demikian, Luna menggerakkan tubuhnya. Dengan cepat Luna sudah berada di depan Dot'ghea. Tangan Luna sekarang sudah mencengkeram kepala Dot'ghea. Jika ada seseorang yang berada di dekat keduanya, pasti mereka akan mendengar suara gemertak yang berasal dari kepala Dot'ghea.


Diperlakukan seperti ini, tentu saja Dot'ghea berusaha melawan. Dot'ghea ingin melepaskan tangan Luna yang mencengkeram kepala. Atau mungkin Dot'ghea bisa melakukan peledakan diri agar dirinya bisa meledak bersama dengan Luna.


Sayangnya apa yang Dot'ghea harapkan itu tidak terjadi. Dot'ghea sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Bahkan hanya sekadar menggerakkan ujung jarinya pun tidak bisa. Cengkeraman Luna di kepalanya seolah menguras semua tenaga Dot'ghea. Tidak hanya itu, kemampuan Dot'ghea lainnya pun seakan sudah tersegel dan tidak bisa digunakan.


"Jadi seperti kekuatan sebenarnya dari seseorang yang berasal dari ras yang lebih tinggi dari ras tingkat tinggi. Kenapa alam semesta sangat tidak adil? Kenapa ada orang yang memiliki kekuatan sebesar ini?" raung Dot'ghea dalam hati.


"Bahkan untuk berbicara saja aku tidak mampu melakukannya. Teknik apa yang dipakai perempuan ini sehingga membuatku menjadi seperti ini?"


"Aku akan memberikanmu kepada Lintang sebagai hadiah. Aku yakin Lintang akan senang dengan hadiahku ini," ucap Luna.


Luna lalu membawa Dot'ghea bersamanya. Luna ingin mengurung Dot'ghea di penjara bawah tanah. Jika nanti Lintang kembali, Luna akan menyerahkan Dot'ghea sebagai hadiah. Namun, ketika Luna melewati tembok pembatas kota, ia merasakan keberadan Lintang di sana. Luna pun mengubah rencananya dan memilih mendatangi Lintang.


Ketika mendarat di depan Lintang, Luna langsung melemparkan tubuh Dot'ghea begitu saja. Luna tidak peduli apakah hal itu menyakiti tubuh Dot'ghea atau tidak. Sekarang, Luna berjalan mendekat ke arah Lintang dan memeluknya.


Ekspresi kemarahan yang sebelumnya Luna perlihatkan, sekarang sudah tergantikan dengan ekspresi kesedihan. Bahkan, air mata sekarang sudah mengalir di pipi Luna. Luna yang sekarang benar-benar berbeda dengan Luna yang menghadapi Dot'ghea. Jika Lintang tidak melihat secara langsung, maka Lintang tidak akan percaya Luna bisa seperti ini.


"Lintang, Luna sangat sedih setelah mengetahui kematian Lintang. Huhuhu ... Luna pikir Luna tidak akan pernah lagi melihat Lintang. Apalagi setelah orang jelek dan menyeramkan ini menyerang, itu membuat Luna sangat takut Lintang. Lintang hukum dia Lintang. Dia sudah membuatku ketakutan," adu Luna.


Dot'ghea yang mendengar Luna mengadu kepada Lintang, mengalami serangan batin yang cukup kuat dari Luna. Luna memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan mudahnya Luna mengalahkan Dot'ghea. Namun, di depan Lintang, Luna seolah menjadi gadisemah yang butuh perlindungan. Apalagi perkataan Luna yang mengatakan bahwa dia ketakutan melihat Dot'ghea.


"Sial!" umpat Dot'ghea dalam hati. "Dasar iblis bermuka dua. Kau bertidak seolah takut denganku, tapi faktanya Kau bisa mengalahkan aku dan seluruh anak buahku, tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun. Ini adalah penghinaan terbesar bagiku."

__ADS_1


Meski ia merasa terinjak-injak, meski Luna menghinanya, Dot'ghea tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Perbedaan kekuatan antara ia dan Luna sangatlah besar. Jadi, Dot'ghea hanya bisa menerima nasibnya yang cukup tragis ini.


"Mot'dhea, jika kita dipertemukan di alam setelah kematian, maka aku akan menghajarmu hingga Kau mengalami kematian kedua. Kau sudah menjebakku untuk melawan monster seperti ini."


__ADS_2