Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 89 Kecemburuan Luna


__ADS_3

Lintang memandangi tanah lapang di depannya. Setidaknya ada seratus pesawat tempur yang terparkir di sini. Para pemain pun mulai mengelilingi pesawat tempur masing-masing. Pesawat ini mampu menampung dua orang. Namun, jika sedikit dipaksakan, dapat menampung empat pemain sekaligus. Selain pesawat yang terparkir, ada sekitar lima puluhan pesawat tempur yang mengudara.


Pesawat tempur ini tidak membutuhkan landasan untuk terbang. Cara pesawat ini mendarat maupun mengudara, hampir sama seperti helikopter. Jadi, Lintang tidak membutuhkan tempat yang luas untuk landasan.


“Wow … aku tidak menyangka akan banyak pemain yang membeli pesawat tempur milikmu. Padahal, harga yang Kau pasang cukup tinggi. Mereka sangat berantusias dalam mengikuti perang ini,” ucap Xiao Yi yang sekarang ada di samping Lintang.


Sekarang ini Xiao Yi mengikuti Lintang untuk mengecek persiapan para pemain sebelum berangkat berperang. Satu jam lagi seluruh pesawat tempur yang dimiliki oleh para pemain ini akan berangkat bersama-sama untuk melawan kapal induk musuh yang sekarang masih berada di dekat Planet Mars.


Selain seratus lima puluh pesawat ini, anak buah Seno juga akan ikut dalam peperangan ini. Mereka akan memakai seratus pesawat. Jadi, dalam peperangan kali ini akan ada dua ratus lima puluh pesawat yang dipakai.


Keantusiasan dirasakan oleh para pemain. Baik mereka yang akan berpartisipasi langsung, maupun mereka yang menonton peperangan ini, mereka ingin peperangan ini segera berlangsung. Mereka ingin melihat bagaimana Galaxy Wars memperlihatkan kondisi luar angkasa kepada para pemain.


“Kau bisa berpartisipasi dalam perang kali ini, Xiao Yi. Aku memiliki dua pilihan untukmu. Pertama, Kau bisa menerbangkan pesawatmu sendiri, aku sudah menyediakan satu untukmu. Atau Kau memilih pilihan kedua, Kau berada satu pesawat denganku,” jawab Lintang.


“Sungguh? Apakah aku boleh melakukannya?” tanya Xiao Yi.


“Tentu saja,” jawab Lintang.


“Lintang, Luna juga ingin ikut. Luna ingin ikut dengan, Lintang,” ucap Luna yang juga ada di samping Lintang.


“Aku tidak bisa mengajakmu, Luna. Ini bukan main-main. Kau bisa saja celaka jika ikut,” tolak Lintang.


“Tidak. Luna mau ikut. Pokoknya Luna mau ikut ke mana pun Lintang pergi. Luna tidak mau Lintang tinggal lagi,” ucap Luna kekeuh. Luna lalu memegang sebelah tangan Lintang dan menggoyang-goyangkannya. Luna terus membujuk Lintang agar Lintang mengijinkannya ikut dalam peperangan kali ini.


Lintang sedikit mengerutkan keningnya mendengar perkataan Luna. Mungkin orang lain yang melihat hal ini berpikir bahwa Luna cemburu dengan Xiao Yi. Luna tidak ingin Lintang terlalu dekat dengan Xiao Yi. Memang itu benar, tetapi tidak sepenuhnya benar.


Luna memang cemburu dengan kedekatan Lintang dan Xiao Yi, tetapi kecemburuan itu bukan cemburu seorang ke musuh dalam percuntaannya. Lebih tepatnya, kecemburuan Luna itu seperti seorang anak kecil yang tidak ingin perhatian orang tuanya terbagi. Itulah pandangan Lintang terhadap rasa cemburu yang Luna perlihatkan.

__ADS_1


Lintang ingat dirinya adalah orang pertama yang Luna lihat setelah dia keluar dari dalam tabung. Lalu, Lintang juga yang memberi Luna nama. Mungkin karena itu semua Luna merasa Lintang adalah orang tuanya dan harus mencurahkan semua perhatian padanya. Apalagi, mereka sudah terpisah beberapa hari.


"Luna, tolong dengarkan! Aku bukannya tidak mau mengajakmu. Namun, aku tidak bisa mengajakmu. Ini semua demi keselamatanmu. Aku pergi bukan untuk main-main Luna. Ini adalah tubuh aslimu, jika Kamu terluka atau bahkan sampai mati, aku tidak bisa menyelamatkanmu," ucap Lintang dengan cukup serius.


Sebelumnya Lintang memang sudah meminta Luna untuk masuk ke dalam pod game dan kembali ke Planet Mars dengan karaktet game miliknya. Namun, entah kenapa Luna menolak hal itu. Dia keukeuh ingin kembali ke Planet Mars menggunakan tubuh aslinya. Jadi Lintang bisa mengajak Luna sekarang.


"Lintang sudah tidak menyukai Luna. Lintang pasti mau meninggalkan Luna layaknya keluarga Luna bukan?" Kesedihan tergambar jelas di wajah Luna ketika mengatakan hal ini. Matanya berkaca-kaca. Lintang bahkan sudah melihat air mata di sudut mata Luna.


"Luna, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku benar-benar tidak bisa mengajakmu jika Kamu menggunakan tubuh aslimu ini. Jika Kamu benar-benar ingin ikut, maka masuklah ke dalam pod game, aku akan mengajak karaktet milikmu dalam perang kali ini," tawar Lintang.


"Tidak mau. Luna tidak mau melakukan itu. Lintang sudah jahat kepada Luna. Luna benci Lintang!" teriak Luna yang kemudian berlari meninggalkan Lintang dan Xiao Yi.


Lintang menghembuskan napas panjang dan kemudian menggelengkan kepalanya. Lintang bingung harus bersikap seperti apa ketika menghadapi Luna yang seperti ini. Selama dua puluh tiga tahun ia hidup, Lintang tidak pernah menghadapi masalah yang serumit ini. Mungkin setelah ini Lintang perlu meminta saran kepada tetua keluarganya untuk menghadapi masalah ini.


"Lintang, apa Kau tidak berniat mengejar Luna?" tanya Xiao Yi.


"Baiklah."


...


Dot'ghea baru saja selesai mengawasi teknisi kapal miliknya dalam perbaikan kerusakan kapal. Meski teknisi yang ia bawa tidak bisa sepenuhnya mengatasi semua kerusakan ini, tetapi mereka bisa menahan agar kerusakan kapal mereka tidak menyebar ke mesin yang lain.


"Bagaimana dengan kerusakannya?" tanya Dot'ghea.


"Kapten Dot'ghea, perbaikan yang kami lakukan tidak merubah kerusakan yang ada di kapal ini. Meski kami sudah berusaha, tetapi kerusakan kapal kita semakin parah. Kita memaksakan kapal ini terus berjalan meski terjadi kerusakan parah," jelas Kod'phea.


"Jika kita tidak segera memperbaikinya, maka kapal ini akan berubah jadi rongsokan. Akan sangat disayangkan jika kapal ini berubah menjadi rongsokan. Aku sarankan, kita mematikan semua mesin-mesin ini agar tidak memperparah kerusakan," imbuh Kod'phea.

__ADS_1


Dot'ghea mengerutkan keningnya mendengarkan penjelasan teknisi kapalnya. Dot'ghea tidak bisa semudah itu mematikan seluruh mesin yang ada di kapal ini. Membutuhkan waktu lama untuk mesin-mesin ini hidup kembali setelah dimatikan. Apalagi mesin rusak seperti ini.


Lalu, jika mesin-mesin ini mati, maka kapal Dot'ghea tidak akan lagi memiliki daya dorong. Kapal ini akan melayang bebas di angkasa tanpa bisa diatur pergerakannya. Ada kemungkinan kapal ini akan tertarik oleh gaya gravitasi dari planet di sekitarnya.


Dot'ghea terdiam cukup lama. Cukup sulit baginya mengambil keputusan. Apalagi jika itu harus mematikan seluruh mesin kapal miliknya. Namun, pada akhirnya Dot'ghea mengikuti saran dari teknisknya.


"Kalau begitu, matikan semua mesin. Kalian perbaiki sebisa kalian. Dalam dua atau tiga bulan lagi bantuan akan sampai. Jadi, kita perlu bertahan sampai bantuan datang," ucap Dot'ghea pada akhirnya.


"Baiklah, Kapten Dot'ghea. Kami akan melaksanakan sesuai dengan instruksimu," jawab Kod'phea.


Dot'ghea lalu kembali ke ruang komando. Dot'ghea perlu memberitahu mengenai hal ini kepada anak buahnya agar mereka bisa lebih waspada dalam mengawasi lingkungan sekitar mereka terutama dari musuh yang mungkin bisa menyerang kapan saja. Meski sudah seminggu musuh di planet merah tidak memberikan respon apa pun atas serangan yang sebelumnya Dot'ghea lakukan.


"Kapten Dot'ghea," sapa seluruh anak buah Dot'ghea yang ada di ruang komando.


Dot'ghea lalu mengarahkan pandangannya ke seluruh anak buahnya yang ada di ruang komando. "Lima menit lagi, selain peralatan komunikasi dan beberapa peralatan di ruang komando, seluruh mesin di kapal kita akan dimatikan. Kapal kita akan terbang tanpa arah di ruang angkasa."


"Apa? Kenapa kita melakukan hal itu, Kapten Dot'ghea? Bukankah itu akan membahayakan kita?" tanya Hot'phei.


"Kita tidak memiliki pilihan. Mesin kapal ini mengalami kerusakan yang cukup parah. Jika kita memaksakan diri, maka kapal ini akan menjadi barang rongsokan. Jumlah kapal induk seperti ini yang dikirim oleh ras kita di galaksi ini sangat terbatas. Jadi, kita tidak bisa membiarkan kapal ini berubah menjadi rongsokan," jelas Dot'ghea.


"Lalu, musuh sekarang tidak memberikan perlawanan apa pun setelah serangab kita, bukan? Aku menyimpulkan mereka tidak memiliki sumber daya untuk melawan kita. Jadi, meski mesin kapal kita matikan, kita masih akan tetap aman. Asalkan kita mengawasi semua asteroid dan gaya gravitasi planet lain, maka kita akan baik-baik saja," imbuh Dot'ghea.


"Aku minta kalian tetap waspada selama mesin kapal kita mati. Jangan langsung merasa aman hanya karena musuh tidak menyerang kita," ucap Dot'ghea dengan cukup tegas.


Memang musuh tidak menyerang balik, tetapi itu bukan berarti musuh sama sekali tidak akan menyerang. Ada kemungkinan musuh sedangsedang mempersiapkan serangan sekarang. Dot'ghea ingin anak buahnya selalu waspada.


"Baik. Kami akan melaksanakan perintahmu ini, Kapten Dot'ghea."

__ADS_1


__ADS_2