Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 51 Pasukan Dot'ghea


__ADS_3

"Hot'phei, berapa lama kuta akan sampai ke tujuan?" tanya Dot'ghea yang duduk di kursi kapten.


"Dengan kecepatan sekarang, kita masih membutuhkan waktu satu bulan untuk sampai di tempat Mot'dhea berada. Itu pun jika kita tidak bertemu dengan monster luar angkasa."


Di alam semesta ini, kehidupan tidak hanya ada di planet-planet saja. Di luar planet lebih tepatnya di luar angkasa, terdapat monster luar angkasa. Mereka hidup dengan mengkonsumsi energi yang ada di luar angkasa.


Meski begitu, itu tidak memberikan jaminan bahwa monster luar angkasa tidak akan mengganggu makhluk hidup lain. Monster ruang angkasa akan menyerang siapa pun yang masuk ke wilayah kekuasaannya.


Monster luar angkasa biasa hidup di ruang antar galaksi dan juga antar tata surya. Jadi, ada kemungkinan perjalanan pasukan Dot'ghea ini akan terganggu jika mereka bertemu dengan monster ruang angkasa.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan monster luar angkasa. Pesawat kita ini memiliki persenjataan yang lengkap. Asalkan kita tidak bertemu monster luar angkasa tingkat ksatria maka perjalanan kita akan baik-baik saja," jelas Dot'ghea.


"Namun, perjalanan ini lama sekali. Satu bulan hanya diam di sini dan tidak melakukan apa pun. Mot'dhea pemalas itu sangat tidak becus. Dia hanya tahu bagaimana bermain dengan perempuan saja. Mot'dhea sama sekali tidak serius dalam menjalankan tugasnya."


Dot'ghea sebenarnya di tugaskan di pangkalan militer pasukan Ras Dodo'phia yang ada di Galaksi Bima Sakti. Kehidupan Dot'ghea di pangkalan terbilang cukup nyaman. Namun, semua itu terusik dengan panggilan dari Mot'dhea yang meminta bantuan. Tentu saja Dot'ghea merasa kesal karena waktunya suda terganggu.


"Kehilangan bahan makanan dan dikepung musuh, Mot'dhea koyol sekali ketika mengatakan hal itu. Mana ada musuh dengan jumlah besar yang muncul di tata surya kecil itu. Jika pun ada, mereka tidak akan sampai mengancam keselamatan pasukannya. Jadi, kenapa Mot'dhea sampai meminta bantuan."


"Anda benar, Kapten Dot'ghea. Mot'dhea sangat konyol meminta bantuan ke pangkalan. Di galaksi ini, tidak ada ras yang memiliki kekuatan besar. Semua ras di sini sangat lemah. Ini adalah alasan Ras Mogoley meminta ras kita untuk mengambil sumber daya di sini. Aku rasa Mot'dhea hanya membual saja dengan laporannya itu," ucap Hot'phei, orang kepercayaan Dot'ghea.


"Jika di sana tidak ada ancaman apa pun, maka Mot'dhea akan mendapatkan hukuman berat dari atasan. Berbohong untuk urusan seserius itu tidak akan mudah untuk dimaafkan. Hot'phei, apakah pangkalan memberi kita intruksi lain?"


"Sejauh ini pangkalan belum menghubungi kita lagi, Kapten Dot'ghea. Namun, ada hal yang sedikit aneh."


"Memangnya apa yang aneh, Hot'phei?" tanya Dot'ghea penasaran. Bagaimanapun juga, Dot'ghea adalah kapten di kapal ruang angkasa ini. Jika terjadi sesuatu yang buruk, Dot'ghea memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikannya. Jadi, Dot'ghea perlu mengetahui segala sesuatu yang terjadi.


"Selama beberapa hari terakhir kita sulit menghubungi Mot'dhea. Bisa dibilang, permintaan sambungan kita tidak ada yang merespon. Namun, kemarin kita terhubung dengan benteng tempat Mot'dhea berada. Ada yang menjawab sabungan komunikasi kita dengan bahasa yang cukup aneh."


"Kapten Dot'ghea, aku rasa ucapa Mot'dhea mengenai benteng mereka yang dikepung musuh kemungkinan ada benarnya. Mungkin saja selama kita tidak bisa menghubungi mereka, Mot'dhea tengah berperang dengan musuh. Dengan dijawabnya sambungan komunikasi kita, aku rasa Mot'dhea telah kalah dalam perang."


"Bicara apa Kau ini. Hot'phei, Kau ini berasal dari Ras Dodo'phia, Kau juga sudah menjadi anak buahku cukup lama. Tentu sana Kau tahu bagaimama kekuatan kita bukan? Kau juga tahu bahwa di galaksi ini tidak ada ras kuat. Jadi, jangan mengatakan seusatu yang tidak mungkin terjadi."


Menurut Dot'ghea, sangat tidak mungkin Mot'dhea kalah dalam perang. Lawan yang dihadapi Mot'dhea hanya memiliki kekuatan seperti semut yang bisa diinjak-injak kapan pun juga. Jikalau pun ada ras kuat di galaksi ini, pasti petinggi dari Ras Dodo'phia suah merasakan keberadaannya. Mereka pasti akan mengurusi ras kuat itu agar tidak mengganggu rencana mereka.

__ADS_1


"Mot'dhea tidak mungkin kalah. Aku rasa alat komunikasi Mot'dhea tengah rusak. Jadi, dia tidak bisa kita hubungi. Lalu, Mot'dhea hanya ingin mendapatkan tambahan senjata serta makanan untuk anak buahnya. Jadi, jangan bicara sembarangan soal Mot'dhea yang kalah dalam perang."


"Jika memang ada ras lain di tempat Mot'dhea, kita pasti bisa menghadapinya. Di pesawat ini, ada tiga lima ribu prajurit, dan semuanya adalah prajurit elit. Persenjataan kita juga baik. Siapa pun musuh kita, kita pasti bisa menghadapinya."


Pasukan milik Dot'ghea tentu saja lebih kuat daripada pasukan Mot'dhea. Satu orang prajurit bawahan Dot'ghea setara dengan kekuatan tiga prajurit milik Mot'dhea. Jadi, lima ribu prajurit yang Dot'ghea bawa ini, setara denga lima belas ribu prajurit milik Mot'dhea.


Lalu, senjata milik Dot'ghea juga jauh lebih bagus daripada senjata prajurit milik Mot'dhea. Di kapal luar angkasa ini, juga ada pesawat tempur yang membantu meningkatkan kekuatan prajurit milik Dot'ghea. Dengan semua itu, Dot'ghea yakin dirinya akan baik-baik saja sekalipun ada ras lain yang cukup kuat di planet tempat Mot'dhea berada. Dot'ghea sangat percaya diri dengan hal ini.


"Maafkan kelancanganku, Kapten Dot'ghea. Aku tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi."


"Baguslah. Sekarang kembalilah ke posmu. Awasi area sekitar kita. Meski pesawat kita ini memiliki senjata untuk melindungi diri, tetapi jika bisa kita harus menghindari konflik langsung dengan monster luar angkasa. Kita perlu menghemat energi dari pesawat ini."


Satu hari kemudian, sirine berbunyi nyari di kapal luar angkasa milik Dot'ghea. Sirine tersebut merupakan pertanda bahwa kapal milik mereka tengah di serang. Hal itu membuat Dot'ghea yang sebelumnya masih tidur, segera memakai pakaiannya dan bergegas menuju ke ruang komando.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Dot'ghea ketika sampai di ruang komando.


Anak buah Dot'ghea yang lain terlihat sibuk dengan layar hologram di depan mereka. Berbagai data yang berbeda terlihat di layar hologram tersebut. Ketika Dot'ghea datang, Hot'phei yang sedari tadi sudah ada di ruang komando, mendekat ke arah Dot'ghea dan melaporkan mengenai keadaan sekarang.


"Bagaimana dengan kondisi kapal kita saat ini?"


"Barier energi masih bisa mengatasi serangan musuh. Kerusakan kapal kurang dari satu persen, Kapten Dot'ghea," lapor anak buah Dot'ghea yang lain.


"Jat'mhea, isi energi dari meriam kita. Serangan langsung ke monster luar angkasa level kapten itu. Dengan kita membunuhnya, maka melima monster yang lain pasti akan lari."


"Baik, Kapten Dot'ghea. Meriam siap ditembakkan dalam dua puluh detik."


"Rot'sheo, serang titik lemah dari monster luar angkasa level kapten itu. Buat dia tetap berada di tempat agar kita mudah dalam menghabisinya."


"Baik, Kapten Dot'ghea."


"Kapten, energi meriam sudah terisi penuh. Aku hanya tinggal menunggu perintahmu untuk menyerang."


"Baiklah, serang sekarang."

__ADS_1


"Mengunci target, target sudah terkunci. Serangan akan dimulai dalam tiga, dua, satu."


Boom.


Meriam yang ditembakan oleh Jat'mhea berhasil mengenai monster luar angkasa itu tepat di bagian lerutnya. Mereka yang ada di dalam kapal mengira serangan meriam ini bisa membunuh monster level kapten itu. Sebelum-sebelumnya monster di level yang sama, terbunuh hanya dengan satu serangan meriam saja.


Namun, monster luar angkasa yang satu ini tidak langsung mati begitu saja. Bahkan, tidak ada luka serius yang diderita monster tersebut setelah menerima tembakan meriam dari kapal perang luar angkasa milik Dot'ghea.


"Kapten Dot'ghea, target masih hidup. Tidak ada luka sedikit pun yang diterita oleh target," lapor Hot'phei.


"Tidak ada luka sedikit pun?" Dot'ghea cukup kaget serangan kali ini gagal melukai musuh. Meski begitu, Dot'ghea tidak memikirkan hal itu terlalu lama. Sebagai kapten dari kapal ini, Dot'ghea memiliki kewajiban untuk memikirkan rencana selanjutanya dengan cepat dalam lerang seperti ini.


"Kalau begitu, siapkan laser milik kita. Sementara laser kita mengisi energi, tetap serang monster itu dengan meriam. Pantau terus pernggunaan energi kita."


"Baik, Kapten Dot'ghea."


Ledakan demi ledakan meriam mengenai monster luar angkasa itu. Kelima monster luar angkasa level prajurit, sudah mati terkena serangan yang bertubi-tubi. Namun, monster luar angkasa level kapten masih terlihat baik-baik saja.


"Kapten Dot'ghea, energi untuk laser sudah terisi penuh. Laser sudah siap ditembakkan," lapor Jat'mhea.


"Bagus. Segera kunci target dan lepaskan tembakan laser."


"Baik, Kapten Dot'ghea."


Serangan laser dari kapal perang itu terlihat menyilaukan. Laser itu langsung menembus badan dari monster luar angkasa level kapten tersebut. Serangan laser tersebut cukup kuat sehingga tidak ada yang tersisa dari monster tersebut.


Setelah musuh yang mereka lawan sudah musnah, Dot'ghea terlihat berpikir keras. Hal itu membuat dahinya berkerut cukup dalam. Dot'ghea tengah memikirkan lawannya yang baru saja ia hadapi.


Monster luar angkasa level kapten tadi lebih kuat daripada monster di level yang sama. Biasanya, monster dengan bakat besar seperti ini memiliki pelindung yang levelnya jauh di atasnya. Itu berarti, di dekat sini ada monster level ksatria atau bahkan level komandan yang menjadi pelindung dari monster tadi.


"Aku harap monster yang aku bunuh tadi bukanlah monster jenius dari monster luar angkasa. Jika demikian, maka kapal perangku ini berada dalam bahaya," gumam Dot'ghea.


"Wos'nhio, naikkan kecepatan kapal kita hingga level tertinggi. Kita harus pergi sesegera mungkin dari tempat ini."

__ADS_1


__ADS_2