
Tebasan demi tebasan energi dilakukan oleh Dot'ghea bersama dengan anak buahnya. Mereka menyerang pesawat tempur para pemain sembari terus terbang mendekat. Para pemain tidak tinggal diam, mereka juga menembaki Dot'ghea beserta anak buahnya.
Namun, tidak semua orang terkena tembakan. Gerakan dari anak buah Dot'ghea cukup gesit. Empat ribuan prajurit sekaligus dua ratus teknisi semua keluar dari kapal untuk menyerang para pemain. Hal ini membuat para pemain yang merada di garis depan peperangan, menjadi kewalahan.
Satu persatu pesawat tempur para pemain yang tersisa, meledak. Sebelum pesawat tempur mereka tersapu habis, pesawat tempur Lintang dan yang lain sampai di medan perang. Lintang dan yang lain mulai menembaki Dot'ghea beserta anak buahnya.
Karena ini adalah kali pertama Lintang mengendalikan pesawat tempur seperti ini, cukup sulit bagi Lintang melakukan manuver-manuver cantik untuk menghindari serangan musuh. Meski begitu, pesawat tempur Lintang yang berada di tengah-tengah tidak terlalu banyak menerima serangan.
Sementara itu, anak buah Seno yang Lintang ajak dalam perang kali ini, melakukan beberapa manuver cantik. Mereka menghindari tebasan-tebasan dari musuh dengan gerakan yang sangat kecil. Dari jauh, Lintang mengira pesawat tempur mereka terkena serangan, tetapi tidak. Jarak serangan musuh dengan pesawat tempur anak buah Seno hanylah beberapa sentimeter saja.
Tembakan yang dilakukan oleh anak buah Seno juga sangat efektif. Targetbyang mereka pilih, serta tipe tembakannya pun sangat efektif membunuh cukup banyak musuh. Satu tembakan berhasil membunuh puluhan anak buah Dot'ghea.
Meskipun anak buah Dot'ghea adalah prajurit elit dari Ras Dodo'phia, tetapi mereka sekarang berperang di ruang angkasa. Selain itu, yang mereka hadapi adalah pesawat tempur. Apalagi, yang mengendalikannya adalah orang berpengalaman. Semua itu tidak membuat anak buah Dot'ghea menjadi unggul.
"Inilah perang sesungguhnya. Ini adalah cara yang tepat untuk mengendalikan pesawat tempur," ucap salah satu pemain yang masih bertahan.
Pesawat tempur para pemain yang masih bertahan, sekarang mulai mundur dan menyerang dari balik barisan pesawat tempur anak buah Seno. Dengan begini, keamanan mereka masih bisa terjaga. Para pemain juga bisa menyerang musuh dengan tenang.
Setelah melihat cara anak buah Seno dalam mengatasi musuh, Lintang mencoba menirunya. Lintang mulai menangkap tipe tembakan seperti apa yang sesuai untuk ia lakukan. Lagi-lagi Lintang merasakan betapa menyenangkannya berperang dibawah bimbingan orang yang sudah berpengalaman. Semua akan terasa lebih mudah. Ilmu peperangan yang Lintang miliki juga semakin bertambah.
"Ayo kita tiru serangan mereka, aku tidak mau kita juga tertinggal jauh. Bagaimanapun juga, musuh ini adalah ladang EXP yang perlu kita panen. Jumlah pemain yang mengikuti perang ini tidaklah banyak. Lalu, jumlah musuh ada ribuan. Aku pasti bisa meningkatkan levelku lebih banyak lagi."
Peperangan itu semakin memanas. Sekarang, jarak antara pasukan Dot'ghea dengab pesawat tempur pasukan Lintang semakin mendekat. Beberapa orang pasukan Dot'ghea berhasil menyentuh pesawat tempur pasukan Lintang. Setelah berhasil menyentuh, pasukan itu langsung meledakkan diri.
"Jangan menyerah. Serang semua musuh dengan semua yang kalian miliki. Bahkan jika kalian harus meledakan diri sekalipun. Demi Ras Dodo'phia," teriak Dot'ghea memberi semangat di saluran komunikasi pasukannya.
"Demi Ras Dodo'phia," sahut anak buah Dot'ghea.
Lintang baru melihat pasukan bunuh diri yang sesungguhnya. Mereka sama sekali tidak ragu untuk meledakkan diri agar musuh bisa mati bersama dengan mereka. Jika dipikirkan lebih jauh, baju tempur yang dikenakan oleh pasukan Dot'ghea lebih cocok dipakai oleh para pemain. Dengan begitu, pasukan Lintang akan jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
__ADS_1
Jika mereka tidak bisa mengalahkan musuh dengan cara biasa, maka mereka bisa mati bersama dengan musuh. Meledakkan diri bersama. Lagi pula, para pemain bisa terlahir kembali. Jadi, semua akan baik-baik saja.
Para pemain hanya mengalami kerugian berkurangnya EXP mereka, serta perlu memperbaiki peralatan yang ikut meledak bersama dengan mereka. Jika dibandingkan dengan kerugian musuh, kerugian ini bisa dibilang tidak ada artinya.
Komentar demi komentar dari pemain lainnya yang tidak ikut dalam peperangan, mulai memenuhi siaran langsung resmi dari Galaxy Wars. Mereka tidak menyangka bahwa peperangan di ruang angkasa akan sekeren ini.
[Jika saja aku memiliki uang lebih, maka aku akan membeli pesawat tempur dan mengikuti peperangan seperti ini. Ini sangat keren. Bagaimana bisa mereka menjual pesawat tempur itu dengan harga mahal? Padahal aku ingin ikut.]
[Musuh yang kita hadapi memang sangat mengerikkan. Jika mereka tidak bisa mengalahkan kita, maka mereka akan memilih bunuh diri. Apakah kalian ingat dalam perang perebutan benteng, salah seorang pemimpin musuh memilih meledakkan diri di tengah-tengah kerumunan para pemain. Langsung saja para pemain banyak yang mati. Sekarang, mereka kembali melakukan yang sama.]
[Jika meledakkan diri bisa membuatku membunuh banyak musuh, maka aku tidak keberatan melakukannya. Dalam membunuh musuh, pasti kita akan mendapatkan EXP. Mungkin saja EXP kita yang hilang akan terbayarkan dengan EXP yang kita dapat dari musuh yang kita bunuh. Sayangnya kita tidak bisa melakukannya.]
...
Pasukan Dot'ghea mulai berkurang derastis. Pasukan yang awalnya berjumlah empat ribu lebih, sekarang tinggal dua ribu kurang. Dalam setengah jam berperang, Lintang dan pasukannya berhasil membunuh dua ribu lebih musuh.
Di pihak Lintang sendiri, jumlah pesawat tempur yang tersisa hanya belasan saja. Itu semua adalah pesawat tempur yang dikendalikan oleh anak buah Seno. Tidak ada pemain yang tersisa di sini. Kerusakan pesawat tempur mereka pun mulai terlihat.
Pesawat tempur Lintang saja sudah mengalami kerusakan lima puluh persen. Serangan yang Lintang lakukan tidak sekuat sebelumnya. Mereka juga semakin terdesak sekarang. Jika Lintang dan yang lainnya gagal dalam menghalau pasukan Dot'ghea, maka mereka akan menyerang langsung Planet Mars.
Lintang sendiri tidak yakin apakah para pemain bisa mengalahkan pasukan Dot'ghea yang memakai baju tempur seperti ini. Yang Lintang takutkan adalah, ketika masuk ke Planet Mars, pasukan Dot'ghea memiliki mendarat di tempat yang berbeda. Jika itu terjadi, maka akan sulit bagi Lintang menghabisi mereka semua.
Untuk mendapatkan teknologi kapal induk milik musuh, Lintang perlu mengalahkan semua musuh tanpa tersisa. Jikalau ada musuh yang hidup sekalipun, Lintang harus menahan mereka semua.
"Aku harus menghabisi mereka semua. Aku tidak bisa membiarkan teknologi kapal induk ini lepas dari genggamanku," gumam Lintang.
Harapan tidak selamanya sama dengan kenyataan. Begitu pula yang terjadi sekarang. Melihat pesawat tempur pasukan Lintang semakin sedikit, serangan musuh semakin ganas daripada sebelumnya. Mereka berusaha keras meledakkan pesawat tempur pasukan Lintang.
Ketegangan semakin terasa jelas di medan pertenpuran. Satu persatu anak buah Dot'ghea gugur. Begitu pula dengan pesawat tempur pasukan Lintang, satu persatu pesawat tempur mereka diledakkan oleh musuh.
__ADS_1
"Apakah aku akan kalah dalam pertempuran ini?" tanya Lintang pada dirinya sendiri.
"Lintang, jangan berputus asa. Kita masih memiliki kesempatan. Jika Kau berputus asa, maka seberapa keras Kau mencoba lagi nanti, Kau akan berpikir semuanya akan gagal. Pasti ada cara lain setelah ini."
Xiao Yi yang satu pesawat dengan Lintang, mencoba menghibur Lintang. Xiao Yi tidak bisa membiarkan Lintang bersedih. Mungkin, karena ini adalah kali pernah Lintang mengalami kekalahan, Lintang jadi berputus asa. Sekarang, Xiao Yi perlu meningkatkan rasa percaya diri Lintang agar Lintang bisa menghadapi kegagalan ini dengan baik.
"Kau benar Xiao Yi. Aku tidak bisa berputus asa seperti ini. Pasti akan ada jalan untuk mengatasi semua ini. Jika aku tidak bisa memikirkan solusinya, masih ada tetua keluargaku yang akan membantuku memikirkan hal ini. Ini semua belum berakhir. Kekalahan bukanlah akhir segalanya."
"Bagus. Tetaplah bersemangat!"
Sayangnya dukungan yang diberikan oleh Xiao Yi kepada Lintang tidak bisa langsung mengubah keadaan. Pasukan Lintang masih tetap terdesak. Sekarang, yang tersisa hanyalah tiga buah pesawat tempur. Salah satunya adalah pesawat tempur Lintang.
Sementara musuh, mereka masih ada seribu lima ratus pasukan. Dengan perbandingan kekuatan yang seperti ini, sudah jelas Lintang akan kalah. Seberapa keras mereka mencoba, pada akhirnya tiga pesawat tempur yang tersisa itu, meledak.
"Sekarang, kita hancurkan musuh yang ada di planet merah ini. Kita tidak akan menyerah sebelum semua musuh hancur. Demi Ras Dodo'phia," teriak Dot'ghea melalui sambungan panggilan mereka.
"Demi Ras Dodo'phia."
[Kita kalah? Bagaimana mungkin mereka kalah? Semua lakukan sesuatu. Mereka sekarang bergerak ke Planet Mars. Kita akan berperang sekarang ini.]
[Baguslah jika mereka menuju ke Planet Mars, aku siap bertempur melawan mereka. Berani sekali dia meledakkan pesawat tempur adik perempuanku. Sekarang dia menangis dan mengadu kepada orang tuaku. Mereka pikir aku yang merundung adikku. Aku harus membalaskan dendam atas ketidak adilan ini.]
[Ayo kita berperang. Aku sudah menghubungi semua temanku dan meminta mereka semua online. Jangan lewatkan pertempuran besar ini. Mari berjuang bersama.]
[Mari berjuang bersama +1]
...
[Mari berjuang bersama +5982191]
__ADS_1