Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 44 Ke Jepang


__ADS_3

Sekarang ini, Lintang tengah berada di depan sebuah dojo karate yang ada di Jepang. Ini adalah salah satu dojo yang masih bertahan selama lebih dari seratus tahun. Lintang mengetahui dojo ini ketika dirinya tengah berlibur ke Jepang.


Semenjak mendapatkan misi dari Sistem, Lintang sudah memutuskan untuk menambahkan dojo ini sebagai salah satu targetnya. Memang Lintang bisa saja mencari pemain yang memiliki teknik bela diri dari Indonesia sendiri, seperti Keluarga Prayudi misalnya. Namun, Lintang ingin memiliki beragam teknik sesegera mungkin.


Teknik bertarung yang sudah turun temurun diajarkan di Keluarga Prayudi hanyalah satu teknik saja. Lalu, bela yang ada di Indonesia hampir sama dengan teknik milik Keluarga Prayudi. Ini karena dasar mereka adalah bela diri silat. Jika Lintang ingin lebih beragam, ia perlu mencari bela diri dari negara lain untuk pelengkap.


"Sumimasen(1), apakah ada orang di sini?" tanya Lintang setelah memasuki halaman dojo.


Tidak lama kemudian, Lintang mendengar suara langkah kaki dari dalam dojo. Ia melihat seorang laki-laki yang usianya beberapa tahun lebih muda daripada Lintang. Mungkin umurnya baru sembilan belas atau dua puluh tahun.


Laki-laki itu memakai baju karate. Sabuk hitam pun terlihat berada di pingganya. Tubuh laki-laki itu juga penuh dengan keringat. Sepertinya dia selesai berlatih karate.


"Kamu mencari siapa?" tanya laki-laki tersebut. Dia melihat Lintang dari ujung kaki hingga ujung kepala, seolah telah menilai Lintang.


"Aku mencari pemilik dari dojo ini. Apakah Watanabe-san ada di sini?" tanya Lintang.


Setelah Lintang mencari tahu, dojo ini adalah dojo yang dikelola oleh Keluarga Watanabe secara turun temurun. Jadi, pemilik dari dojo ini jelas memiliki nama Watanabe sebagai nama belakangnya.


"Aku adalah pengelola dojo ini. Namaku, Yuta Watanabe," jawab laki-laki di depan Lintang.


Lintang sendiri cukup kaget mendengar hal itu. Laki-laki ini cukup mudah untuk menjadi pengelola dojo. Lintang kira, pengelola dojo ini adalah seseorang yang berumur tiga puluh tahunan. Namun, pada kenyataannya pengelolanya masih sangat muda.


"Aku tahu Kamu pasti tidak percaya dengan ini. Namun, aku menerima dojo ini dari mendiang kakekku. Kedua orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Lalu, pamanku yang lain tidak ada yang berminat mengelola dojo ini. Jadi, aku yang mengelolanya."


"Ah seperti itu rupanya. Namaku Lintang Sendira."


"Jadi, apa perlu apa Kamu mencariku?" tanya Yuta.


"Aku ingin melakukan kerja sama dengan dojo milikmu. Apakah Kamu ada waktu untuk membicarakan hal ini? Maaf, aku datang kemari tanpa membuat janji sebelumnya."

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku masih ada waktu untuk mengobrol denganmu. Murid dojo ini baru akan datang sore nanti. Jadi, aku masih memiliki banyak waktu luang. Silahkan masuk."


Yuta membawa Lintang masuk ke dalam dojo. Mereka melewati beberapa koridor hingga berhenti di salah satu ruangan yang ada di sana. Yuta meminta Lintang menunggu di sana sembari dirinya membersihkan diri.


Tidak lama setelah kepergian Yuta, seseorang membuka pintu ruangan di mana Lintang berada. Yang datang adalah seorang perempuan yang terlihat berumur tujuh belas atau delapan belas tahun. Perempuan tersebut membawa nampan yang berisikan minuman.


"Sendira-san, silahkan diminum ochanya. Onii-chan(2) sendang mandi sekarang. Jadi, mohon tunggulah sebentar."


"Arigatou(3), Watanabe-san," ucap Lintang sembari sedikit membungkukkan badannya. Ini karena adik dari Yuta juga melakukan hal sama kepadanya. Jadi, akan sangat tidak sopan jima Lintang hanya diam saja.


Sembari menunggu, Lintang mengamati bangunan dari rumah Keluarga Watanabe ini. Bangunan tradisional rumaj Jepang memang cukup nyaman untuk ditinggali. Entah karena rumah ini hampir seluruhnya terbuat dari kayu, atau karena memang suasana yang tenang di sini, Lintang merasa sangat nyaman di sini.


"Sistem, bisakah Kamu membuat bangunan seperti ini di dalam game? Aku ingin memiliki bangunan dengan gaya rumah tradisional Jepang seperti ini. Bisakah Kamu melakukannya?" tanya Lintang dalam hati.


[Itu sangat mudah, Host. Asalkan poin game milikmu cukup, Sistem bisa membuat bangunan sesuai dengan keinginan Host. Namun, jika Host ingin berbagai macam bangunan ada di dalam game, bukankah lebih baik mengandalkan para pemain untuk membangun sendiri rumah mereka? Asalkan ada bahan, Sistem yakin para pemain bisa melakukannya.]


"Sekarang ini Kakek Seno juga mulai berhasil menanam tanaman di Planet Mars. Aku yakin dalam waktu dekat kita bisa menanam pohon-pohon untuk menghijaukan planet merah itu. Lalu, jika pohon itu sudah besar, kita bisa memanennya untuk kelola. Untuk sekarang, aku bisa meminta beberapa pohon yang dimiliki oleh Kakek Seno di dimensinya, sebagai bahan pembuatan bangunan."


Lintang tahu bahwa tidak semua orang suka dengan peperangan. Jika dia memberikan kenyamanan seperti adanya dunia lain kepada para pemain yang tidak suka bertarung, maka Lintang bisa mengajak lebih banyak orang menjadi pemain game miliknya.


Awalnya mungkin mereka tidak mau bertarung, tetapi semakin lama rasa kepemilikan mereka terhadap Planet Mars pasti akan mengubah pemikiran banyak orang. Mereka pasti akan memilih untuk ikut bertarung jika terjadi peperangan.


Ketika Lintang akan kembali melanjutkan obrolannya dengan Sistem, pintu ruangan di mana ia berada kembali terbuka. Kali ini, Yuta sudah berganti pakaian, dia telihat jauh lebih segar sekarang.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu terlalu lama, Sendira-san."


"Itu tidak masalah, Watanabe-san."


"Jadi, kerja sama apa yang ingin Kamu buat dengan dojo milik keluargaku ini? Dojo kami bukanlah dojo yang besar. Murid yang ada di sini pun tidak terlalu banyak. Aku penasaran saja dengan pilihanmu."

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu bermain game milikku."


"Bermain game? Apa Kamu bercanda? Kamu datang kemari hanya ingin mengajakku bermain game?"


Yuta melihat bahwa Lintang bukanlah asli dari Jepang. Meski Lintang cukup fasih dalam berbahasa Jepang, tetapi aksennya tidak seperti orang lokal. Lalu, penampilan Lintang sendiri menunjukkan bahwa dia seperti seseorang yang berasal dari Asia Tenggara. Jadi, kenapa Lintang jauh-jauh datang ke Jepang hanya untuk mengajaknya bermain game?


"Ya. Game milikku ini berbada dengan game pada umumnya. Apa yang Kamu lakukan di dalam game, akan terasa seperti melakukan sesuatu di dunia nyata. Kamu bisa melatih kemampuan bela diri milikmu di dalam game. Akan banyak lawan kuat yang bisa Kau tantang. Dengan begitu, aku rasa kemampuanmu akan semakin berkembang."


"Kamu juga bisa mengajarkan teknik bela diri milik Keluarga Watanabe di dalam game milikku. Dengan begitu, Kamu bisa memiliki cukup banyak murid Watanabe-san."


"Kamu jangan macam-macam denganku, Sendira-san. Teknik bela diri milik keluargaku tidak bisa semudah itu diajarkan kepada orang asing. Jika mereka ingin belajar teknik bela diri milik keluargaku, maka mereka harus datang sendiri ke sini."


Lintang tahu bahwa tidak akan mudah untuk mengajak mereka para praktisi bela diri, untuk bermain di game miliknya. Meski bermain game sudah menjadi salah satu cabang olahraga, tetapi mereka yang merupakan praktisi beladiri menganggap itu sebagai permainan belaka dan bukan olahraga.


"Jangan menolakku secara langsung seperti itu, Watanabe-san. Kamu belum merasakan sendiri game milikku. Cobalah untuk bergabung dalam game milikku, rasakan sendiri apa yang bisa Kamu lakukan di sana."


"Lalu, aku mengundangmu untuk menjadi pemain tidak gratis. Akan ada kompensasi yang aku berikan kepadamu. Namun, aku hanya membutuhkan satu bulan dari waktumu. Selama satu bulan, Kamu harus bermain di dalam game milikku setidaknya delapan jam sehari. Kamu bisa memakai waktu tidurmu untuk bermain game, Watanabe-san."


"Jadi, Kamu tidak akan dirugikan dalam transaksi ini, Watanabe-san. Waktu belatihmu tidak akan terganggu, dan Kamu juga akan mendapatkan bayaran atas semua ini. Hanya satu bulan saja."


Lintang memilih menggunakan cara seperti ini untuk menarik minat mereka yang berkecimpung di dunia bela diri. Uang yang akan Lintang berikan kepada mereka nominalnya tidaklah kecil. Apalagi waktu mereka tidak akan terlalu terganggu ketika melaksanakan kerjasama dari Lintang. Sudah pasti banyak praktisi bela diri yang akan tergiur dengan tawaran ini.


"Aku tidak akan memintamu untuk menjawabnya sekarang juga, Watanabe-san. Kamu bisa menghubungiku nanti jika Kamu sudah membuat keputusan. Aku hanya akan menunggumu selama tiga hari saja. Setelah tiga hari dan Kamu tidak segera membuat keputusan, maka aku menganggap Kamu menolak tawaran kerja sama dariku."


"Di Jepang, dojo yang masih berdiri dan mengajarkan bela diri tidak hanya dojo keluargamu saja, Watanabe-san. Masih ada dojo lain yang pasti menerima tawaranku itu."


(1) Permisi


(2) Kakak laki-laki

__ADS_1


__ADS_2