Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 96 Agen CIA


__ADS_3

Adam Martin terus mengawasi sebuah rumah di depannya. Sudah tiga hari Adam Martin berada di tempat ini, tetapi ia tidak menemukan adanya aktifitas aktifitas apapun. Adam Martin merupakan salah satu agen CIA yang ditugaskan untuk menyelidiki keberadaan Lintang.


Adam Martin bertugas mengawasi kediaman orang tua Lintang sementara rekannya yang lain mengawasi tempat lain yang mungkin saja menjadi tempat Lintang bersembunyi. Pengawasan yang dilakukan oleh Adam Martin dan Bob Stanley selama tiga hari ini, tidak juga membawakan hasil.


Pintu samping mobil yang Adam Martin tempati pun terbuka. Dari sana ada seorang laki-laki berlulit hitam dengan kepala botak masuk. Di tangannya sudah ada beberapa bungkuasan yang berisi makanan.


"Kau sudah kembali, Bob," ucap Adam Martin kepada rekannya.


"Ya. Ini ayam goreng pesananmu," ucap Bob Stanley sembari menyerahkan satu ember ayam kepada Adam Martin. "Apakah ada informasi baru yang Kau dapat selama aku pergi?"


Adam Martin menggeleng pelan. "Aku tidak menemukan apa pun. Semua sama seperti tiga hari ini. Di rumah itu tidak ada aktifitas apa pun. Sudah tiga hari kita berada di sini, tetapi kita tidak bisa menemukan keberadaan target kita, Lintang Sendira."


"Aku rasa rumah ini adalah rumah kosong, Adam. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa hanya dengan berdiam diri di sini. Sebelumnya kita sudah mengecek menggunakan drone bukan, kita tidak menemukan apa pun. Ketika meretas sistem keamanan rumah ini pun kita juga tidak mendapatkan hasil yang kuta inginkan. Jadi, lebih baik kita menyelinap masuk dan mencari langsung informasi dari dalam rumah ini," saran Bob.


Dalam misi seperti ini, biasanya mereka akan langsung menyelinap masuk ke rumah target. Mereka akan mencari barang-barang milik target untuk mencari tahu kebiasaan target atau mungkin tempat persembunyian mereka dari catatan buku harian, atau yang sejenisnya dari target atau keluarganya.


Namun, kali ini markas pusat CIA justru melarang mereka untuk melakukan penyusupan. Hal ini membuat Adam Martin dan Bob Stanley harus mengawasi dari kejauhan. Pekerjaan mengawasi seperti ini adalah hal yang sangat melelahkan menurut Bob Stanley. Mereka tidak bisa istirahat dengan tenang, mereka harus terus waspada.


Bahkan, Adam Martin dan Bob Stanley tidak bisa mandi dengan mudah. Jika mereka ingin mandi atau sekadar buang hajat, maka mereka hanya bisa melakukannya bergantian. Adam Martin bahkan menggunakan botol bekas hanya untuk menampung air seninya agar tidak perlu pergi jauh dari tempat mereka sekarang.


"Kau benar, Bob. Rumah ini sepertinya tidak ada penghuninya. Jadi, kita bisa masuk ke dalam dan mencari tahu. Mungkin kita bisa menemukan satu dua hal dari rumah target kita ini," jawab Adam Martin.


"Apakah kita akan meminta izin dahulu kepada markas pusat?"


"Jika Kau ingin dimarahi secara langsung, maka aku tidak akan melarangmu untuk melakukan hal itu, Bob. Aku yakin markas tidak akan mempermasalahkan hal ini asalkan kita memberikan mereka informasi yang berguna," jelas Adam Martin.

__ADS_1


"Kalau begitu, malam ini kita akan memulai operasi penyusupan kita. Saat malam hari, daerah sini jauh lebih sunyi daripada di siang hari. Itu adalah waktu yang tepat untuk kita beroprasi."


"Tentu. Kita akan bergerak malam in."


Adam Martin dan Bob Stanley pun memakan makanan masing-masing. Meski sedang makan, pandangan mereka tidak terlepas dari rumah orang tua Lintang. Keduanya tidak mau ketika mereka lengah, mereka akan melewatkan sesuatu yang penting.


"Aku keluar sebentar," ucap Adam Martin yang sudah selesai menghabiskan seluruh ayam di ember miliknya. Di dalam ember itu sekarang hanya tersisa tulang-tulang ayam.


Adam Martin membawa tulang-tulang tersebut ke dekat semak-semak yang tidak jauh dari mobilnya. Setelau sampai di sana, Adam Martin lalu memanggil kucing yang selama tiga hari ini memakan tulang ayam miliknya.


"Come here kitty, I got some chicken's bone for you," ucap Adam Martin sembari menggerak-gerakkan ember yang ia bawa sehingga menghasilakan bunyi gemeletuk.


Tidak lama kemudian, tiga ekor kucing keluar dari dalam semak-semak. Tiga ekor kucing tersebut memiliki warna yang berbeda. Satu memiliki warna putih bersih, satu memiliki warna oranye dengan garis-garis, dan yang terakhir berwarna hitam pekat. Ketika kucing itu pun mendekat ke arah Adam Martin.


Melihat kucing-kucing itu mendekat, Adam Martin mengeluarkan semua tulang ayam dari dalam ember dan membagikannya kepada kucing di depannya. Masih ada satu ayam utuh di dalam ember. Adam Martin pun membagi ayam tersebut menjadi tiga bagian.


Sebuah senyum lebar tercetak nelas di wajah Adam Martin. Keberadaan ketiga kucing ini memberikan hiburan untuk Adam Martin. Inilah yang membuatnya betah berlama-lama di sini. Namun, Adam Martin tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan ketiga kucing ini. Setelah memastikan bahwa mereka memakan ayam pemberiannya, Adam Martin pun kembali ke mobil.


"Jangan khawatir. Besok aku akan kembali lagi ke sini. Besok, aku akan memberikan satu ayam utuh untuk kalian bertiga," ucap Adam Martin sebelum pergi.


Selama berada di dekat Adam Martin, ketiga kucing itu hanya menundukkan kepala mereka. Sekilas ketiga kucing itu terlihat menikmati apa yang ada di depan mereka. Namun, jika diperhatikan lebih lanjut, ketiga kucing itu tidak benar-benar menikmati ayam penberian Adam Martin.


Salah satu dari kucing tersebut justru memutarkan bola matanya, sebagai ejekan kepada Adam Martin. Ayam yang ada di depannya pun hanya di gigit dan di ludahkan ke tanah, tidak ditelan. Ketika Adam Martin pergi, ketiga kucing tersebut langsung memuntahkan apa pun yang tertelan di mulut mereka.


Kucing hitam yang ada di sana bahkan menendang seluruh tulang ayam beserta embernya. Hal itu membuat tulang-tulang ayam beserta embernya terpental cukup jauh sebelum kemudian terbakar habis.

__ADS_1


Adam Martin sama sekali tidak mengetahui kejadian ini. Ia masih menganggap ketiga kucing itu menikmati makanan pemberiannya. Adam Martin bahkan berpikir untuk membelikan makanan kucing besok, karena berpikir memakan ayam akan membuat ketiga kucing itu merasa bosan.


...


Jam menunjukkan pukul satu malam waktu setempat. Adam Martin dan Bob Stanley sudah bersiap untuk menyelinap ke rumah orang tua Lintang. Sekarang, keduanya sudah berpakaian serba hitam dan memakai topeng berwarna hitam untuk menutupi identitas mereka.


Adam Martin dan Bob Stanley saling perpandangan sejenak. Keduanya lalu menganggukkan kepala secara bersamaan. Adam Martin lalu menembakkan sebuah tali ke arah tembok rumah keluarga Lintang. Dengan tali ini, maka mereka bisa dengan mudah melewati tembok setinggi empat meter tersebut.


Namun, apa yang Adam Martin harapkan tidak terjadi. Ujung kail dari tali yang ia tembakkan tidak mengait ke tembok seperti harapan Adam Martin, kail itu justru kembali terjatuh dan hampir mengenai kepala Bob Stanley.


"Adam, apakah Kau bisa melakukannya? Kenapa tali ini justru kembali?" protes Bob Stanley dengan penuh penekanan.


"Maafkan aku, Bob. Mungkin aku sedikit salah dalam memperhitungkan tembakanku. Aku akan mencobanya kembali," ucap Adam Martin.


Setelah menggulung tali miliknya, Adam Martin mencoba kembali mengaitkan tali miliknya. Lagi-lagi tali itu tidak mengait di tembok. Kali ini Bob Stanley lebih siap. Ia sudah mundur lebih dahulu sebelum tali itu terjatuh.


Adam Martin kembali meminta maaf. Ia kembali mencoba menembakkan talinya. Sekali, dua kali, bahkan hingga lima kali percobaan ulang, tali yang ditembakkan oleh Adam Martin sama sekali tidak mengenai target.


"Apakah Kau bisa melakukannya atau tidak? Kenapa dari tadi Kau selalu gagal." Bob Stanley sudah sangat kesal sekarang. Jika Adam Martin gagal sekali atau dua kali, maka Bob Stanley bisa memakluminya. Namun, Adam Martin sudah mencoba tujuh kali dan semuanya gagal.


"Aku sudah berusaha, Bob. Daripada Kau menyalahkan aku terus, lebih baik Kau sendiri yang mencobanya. Aku takin Kau lebih kuat daripada aku."


Tanpa banyak bicara, Bob Stanley pun mengambil alih tali yang Adam Martin pegang. Setelah menggulung tali tersebut, Bob Stanley mencoba menembakkannya ke tembok. Sama seperti Adam Martin, Bob Stanley tidak berhasil mengaitkan tali tersebut berapa kalipun ia mencoba.


"Sudah aku bilang, tidak semudah itu untuk mengaitkan tali ini," ucap Adam Martin.

__ADS_1


"Itu karena kalian saja yang bodoh dan tidak bisa melakukannya dengan benar," sebuah suara asing terdengar di telinga Adam Martin dan Bob Stanley. Keduanya baru menyadari bahwa ada orang lain selain mereka di sini. Adam Martin dan Bob Stanley pun mengeluarkan pistol mereka dan bersiap menembak kapan saja musuh muncul.


"Siapa kalian? Keluarlah!"


__ADS_2