
“Kalian semua sudah siap? Sebentar lagi kita akan mulai memasuki tempat musuh. Jadi, kita perlu berhati-hati, jangan sampai musuh mengetahui keberadaan kita,” ucap Kapten Y. Mereka baru saja kembali ke dalam game setelah beristirahat di luar. Keberadaan batas waktu bermain game membuat mereka tidak bisa menjalankan misi secara terus menerus.
“Semuanya sudah siap, Kapten,” jawab Genta.
Setelah mendapatkan jawaban dari anak buahnya, Kapten Y mengangguk pelan. “Bagus. Kita akan berpencar setelah ini. Buat tim berisikan dua orang seperti yang biasa kita lakukan. Ingat ini adalah misi untuk mencari informasi. Jadi, usahakan jangan sampai ada kontak langsung dengan musuh. Kekuatan kita di sini terbatas. Jangan sampai kalian mati.”
“Siap laksanakan, Kapten.”
Regu sepuluh orang itu langsung berpencar membentuk regu kecil berisikan dua orang. Mereka lalu berjalan menuju ke arah yang berbeda. Kebetulan tempat mereka berada sekarang adalah malam hari. Jadi, mereka bisa bersembunyi di antara gelapnya malam. Apalagi, tidak banyak penerangan di sekitar area markas musuh. Hanya markas musuh saja yang memiliki beberapa pencahayaan. Hal ini lebih mempermudah mereka menyusup ke area musuh.
Martin, yang sekarang satu regu dengan Genta, mengendap-endap di antara gelapnya malam. Meskipun mereka tidak terlihat oleh musuh, tetapi langkah kaki mereka bisa saja terdengar oleh musuh. Jadi, Martin dan Genta masih perlu menjaga langkah kaki mereka.
“PHD, aku rasa aku melihat sebuah lubang di depan kita. Apakah Kamu mau mengeceknya?” tanya Genta.
“Ish … jangan memanggilku seperti itu. Aku bukan layanan pesan antar pizza. Jika Kamu memanggilku seperti itu, semuanya terdengar aneh,” protes Martin.
“Tetapi itu memang nama game yang Kamu pilih bukan, Pendekar Hebat Donghua, PHD. Tidak ada salahnya jika aku memanggilmu seperti itu. Jadi bagaimana? Apakah kita akan mengecek lubang tersebut?” tanya Genta sekali lagi.
Sepertinya pemilihan nama di dalam game membuat Martin mendapatkan julukan baru. Nama di dalam game ini sudah tidak lagi bisa diubah. Jadi, mau tidak mau Martin harus menerima panggilan baru oleh rekan-rekannya ini.
Martin hanya berharap nama panggilan baru itu hanya berhenti di rekan satu timnya saja. Ia tidak mau tentara yang lain memanggilnya dengan panggilan PHD atau bahkan 14045. Itu pasti akan membuat Martin sangat malu.
“Baiklah. Kita akan mengeceknya. Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu di sana.”
Martin dan Genta lalu mendekat dan melihat langsung sesuatu yang Genta perkirakan sebagai lubang. Ternyata pandangan Genta tidak salah. Di sana memang ada sebuah lubang. Lubang tersebut cukup landai, tidak curam seperti lubang pada umumnya. Martin yakin bahwa mereka cukup mudah masuk atau pun keluar dari lubang ini.
__ADS_1
“Apakah Kamu ingin masuk ke dalam? Mungkin saja ini adalah jalan rahasia yang bisa membawa kita masuk ke markas musuh. Kamu tahu, dengan kekuatan kita yang sekarang, akan sangat sulit untuk menyusup ke markas musuh bukan?” tanya Martin.
Sebelumnya, Martin melihat markas musuh dibangun selayaknya sebuah benteng. Ada tembok yang memiliki tinggi setidaknya lima meter yang mengelilingi markas musuh. Mereka tidak memiliki peralatan untuk memanjat tembok.
Kalau pun mereka bisa memanjat tembok itu, keberadaan mereka jelas cepat diketahui oleh musuh. Seluruh tembok terdapat penerangan yang cukup. Jadi, mereka tidak bisa bersembunyi di gelapnya malam.
“Baiklah. Kita akan masuk. Jika ini bisa membawa kita masuk ke markas musuh, itu malah lebih bagus lagi. Kita perlu menyelediki dulu mengenai arah dari lubang ini. Nanti, kita akan memberitahu Kapten Y setelah melakukan penyelidikan.”
Keduanya pun memasuki lubang itu tanpa ada kesulitan sama sekali. Setelah sampai di dasar lubang, Martin langsung mengeluarkan sesuatu dari penyimpanan miliknya. Itu adalah sebuah batuan yang ia temukan ketika melakukan perjalanan menuju ke markas musuh. Batu ini bisa mengeluarkan cahaya meskipun tidak terlalu terang.
Dengan bantuan batu yang bisa mengeluarkan cahaya itu, Martin bisa melihat lebih jelas di dasar lubang yang gelap ini. Lubang ini cukup besar menurut Martin. Lubang ini memiliki lebar dua hingga tiga meter dan memilki ketinggian lima meter.
“Lihatlah, PHD. Di sini ternyata ada jalur bawah tanah. Aku rasa ini memang jalan rahasia yang bisa membawa kita menuju ke markas musuh.”
“Keberadaan lubang ini sangat mudah ditemukan, Gen. Jadi, aku rasa ini belum tentu adalah jalan rahasia menuju markas musuh. Bisa saja ini adalah sarang dari monster. Jadi, jangan kendorkan kewaspadaanmu.”
“Tentu saja kanan. Kebaikan selalu digambarkan dengan tangan kanan. Lalu, kanan juga adalah arah dari markas musuh. Jadi, kita perlu menuju ke arah kanan.”
“Baiklah. Aku akan mengikuti ucapanmu.”
Keduanya lalu berjalan dengan penuh kewaspadaan. Namun, setelah lima menit berjalan, mereka tidak menemukan keadaan monster. Hal ini membuat Martin dan Genta sedikit menurunkan kewaspadaan mereka.
Jalur bawah tanah ini juga tidak terlalu membingungkan. Meskipun banyak belokan, tanjakkan, dan turunan, tidak ada cabang di jalur bawah tanah ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya sampai di ujung jalur. Mereka melihat cahaya masuk dari ujung jalur.
Penemuan ini membuat Martin dan Genta berhenti. Mereka tidak langsung keluar dari jalur ini. Keduanya tahu bahwa di sekitar mereka berada, sumber cahaya yang ada hanyalah markas musuh. Sudah pasti ujung dari jalur ini adalah markas musuh. Jadi, mereka tidak langsung keluar dari sini.
__ADS_1
Martin dan Genta mendengar samar-samar pembicaraan beberapa orang. Ini berarti, ketika keluar dari jalur bawah tanah ini, mereka akan berhadapan langsung dengan musuh. Dengan mereka berdua, maka kemungkinan untuk bisa selamat sangatlah kecil.
“Sebaiknya kita hubungi Kapten Y. Ini adalah jalur teraman untuk menyusup ke markas musuh. Setelah kita berkumpul dengan Kapten Y dan yang lain, barulah kita akan menyusun rencana penyusupan,” ucap Genta.
“Aku sudah mengirim pesan kepada Kapten Y. Kita akan bertemu dengan mereka di pintu masuk lubang. Meskipun jalur ini tidak membingungkan, sebaiknya kita berkumpul dengan Kapten Y dan yang lain. Lebih aman mendiskusikan rencana kita di sana daripada di sini.”
…
“Aku tidak menyangka kalian berdua akan menemukan jalur rahasia seperti ini. Yang lain tidak mendapatkan apa pun setelah berkeliling di sekitar sini,” ucap Kapten Y,
“Kapten Y, jangan membuat kami terlihat buruk. Meskipun kami tidak menemukan jalur rahasia seperti PHD dan Genta, tetapi kami mengamati musuh dengan baik. Dari pengamatan kami, musuh tidak benar-benar berjaga di atas pagar pembatas. Hanya saja, pencahayaan di tembok akan membuat siapa pun yang berada di sana cepat diketahui,” ucap Daniel.
“Iya itu benar, Kapten. Jika nanti pasukan para pemain datang menyergap musuh, lebih baik itu dilakukan di malam hari. Pergerakan kita yang cukup banyak, tidak akan diketahui oleh musuh. Kita bisa menyerang musuh, di saat mereka tidak siap dengan serangan kita.”
“Ya, aku tahu. Kalian juga berkontribusi dalam misi kali ini. Sekarang, jangan banyak bicara lagi. Kita perlu melihat langsung markas musuh. Jika kita hanya memberikan informasi mengenai penjagaan yang tidak terlalu ketat kepada Walikota Star, maka kita hanya akan mempermalukan diri.”
“Bagaimana mungkin tim elit seperti kita hanya memberikan informasi recehan seperti itu? Kita harus memberikan informasi mengenai kekuatan musuh kepada Walikota Star. Setidaknya kita perlu tahu berapa level terendah pasukan musuh bukan?”
“Jadi, apa rencanamu, Kapten Y?” tanya Martin.
“Tidak ada rencana. Kita akan langsung masuk ke markas musuh. Di sana nanti kita akan berpencar. Aku yakin akan ada bangunan atau sesuatu yang bisa kita pakai untuk bersembunyi. Sebisa mungkin kita tidak terlihat oleh musuh.”
“Jika nanti musuh mengetahui keberadaan salah satu di antara kalian, maka lawan saja musuh itu. Kalian mati pun tidak akan menjadi masalah besar. Setidaknya, kita bisa hidup kembali setelah dua belas jam. Tingkatkan potensi kalian selama bertarung dengan mempertaruhkan nyawa,” jelas Kapten Y.
Kapten Y yakin hanya melalui pertarungan yang mempertaruhkan nyawa potensi seseorang bisa keluar sepenuhnya. Selama ini, mereka terlalu terbiasa menggunakan senjata api. Mungkin potensi mereka dalam menggunakan senjata tajam akan keluar setelah menyelesaikan misi ini.
__ADS_1
“Siap! Laksanakan, Kapten.”