Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 83 Kerja Sama


__ADS_3

Tanpa menunggu instruksi lain dari Sistem, Lintang langsung mengikuti pemilik Sistem tersebut. Untungnya dia belum pergi terlalu jauh. Jadi, Lintang masih bisa mengejarnya. Namun, semakin lama langkah kaki pemilik Sistem itu semakin cepat. Hal ini membuat Lintang ikut mempercepat langkah kakinya. Bahkan, Lintang sampai berlari untuk mengejarnya.


“Tunggu!” pinta Lintang. Namun, pemilik Sistem itu tidak memedulikan permintaan Lintang, dia masih berlari menjauhi Lintang. “Wait me please! Attends moi s’il te plaît! Espérame por favor!” Lintang sampai mengubah bahasa yang ia pakai ke dalam beberapa bahasa karena ia tidak tahu apakah pemilik Sistem itu tahu apa yang Lintang maksudkan.


Tidak ada perubahan apa pun mengenai keadaan sekarang. Paahal, Lintang tetelah mencoba meminta pemilik Sistem itu berhenti dan menunggunya dalam semua bahasa yang ia tahu. Entah dia tidak mendengar ucapan Lintang, atau memang dia tidak mau berhenti, Lintang tidak tahu.


Lintang melihat orang yang ia kejar sekarang berbelok ke sebuah gang. Lintang kira setelah ini ia akan memiliki kesempatan untuk menyusulnya. Ini karena gang yang di tuju oleh orang yang ia kejar adalah gang buntu. Namun, ketika Lintang berbelok ke sana, tidak ada satu orang pun di sana.


Hal itu membuat Lintang mengerutkan keningnya. Pemilik Sistem ini menghilang cukup cepat. Padahal, jarak mereka tadi sudah cukup dekat. Tidak mungkin orang itu bisa menghilang secepat ini.


Tiba-tiba saja telinga Lintang mendengar sebuah pergerakan dari arah belakangnya. Desisan yang terjadi karena gesekan sebuah beda dengan udara membuat Lintang tahu bahwa dirinya tengah diserang sekarang. Hal itu membuat Lintang langsung menundukkan badannya untuk menghindari serangan tersebut.


Setelah berhasil menghindari serangan, Lintang langsung menggulingkan badannya ke depan untuk membuat jarak antara dirinya dan penyerangnya. Jika Lintang tidak segera berpindah, otomatis ia akan terkena serangan selanjutnya.


Lintang tidak menyangka yang menyerangnya adalah pemilik Sistem yang tadi ia kejar. Di tangannya sekarang sudah ada pedang panjang lurus bermata dua. Jika saja Lintang terlambat menghindar, maka kepala Lintang akan terpenggal oleh pedang itu.


Kemungkinan besar pemilik Sistem ini berbelok ke gang ini untuk mengambil pedang. Ini karena sebelumnya Lintang tidak melihat dia membawa apa pun. Dari gerakannya yang cepat dan posenya dalam memegang pedang, Lintang tahu bahwa orang ini memiliki keahlian bela diri, terutama berpedang.


“Kenapa Kau menyerangku?” tanya Lintang.


Lagi-lagi, pertanyaan Lintang tidak dijawab. Sekarang, Lintang justru melihat orang di depannya ini mengambil kuda-kuda, seolah akan menyerang. Sepertinya orang ini sulit sekali diajak berkomunikasi. Bukannya meluruskan segalanya dengan Lintang, dia justru berniat menghabisi Lintang.


“Wait! Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku yakin ini hanyalah kesalah pahaman. Tunggu jangan menyerang dulu,” ucap Lintang merayu orang di depannya agar menghentikan serangan. Namun, dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang Lintang ucapkan. Hal ini memaksa Lintang mengambil tindakan.

__ADS_1


Jika berkomunikasi dengan mulut tidak didengarkan, maka Lintang akan menggunakan tangannya untuk berkomunikasi. Lintang terus menghindari tebasan pedang dari orang di depannya. Lintang yang juga memakai karakter bersenjata pedang, cukup hafal gerakan-gerakan dari seorang praktisi pedang. Jadi, Lintang cukup mudah menghindari serangan. Apalagi kekuatan tubuh Lintang jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Selama menghindar, Lintang juga mencari kesempatan untuk menyerang. Cukup sulit baginya menyerang orang ini dengan tangan kosong. Tidak ada satu pun teknik tangan kosong yang Lintang kuasai.


“Sepertinya setelah ini aku harus mempelajari bela diri tangan kosong. Jika nanti aku menghadapi musuh dan tidak membawa senjata, maka aku akan merasa sangat kesulitan,” gumam Lintang dalam hati.


Tebasan demi tebasan Lintang hindari. Merunduk, berguling, bahkan hingga salto pun Lintang lakukan untuk menghindari serangan pedang itu. Keadaan seperti ini berlangsung cukup lama, lima menit penuh. Sampai lima menit berlalu pun belum juga terlihat siapa yang akan memenangkan pertarungan ini. Hingga pada akhirnya, Lintang menemukan sebuah cela untuk menyerang.


Lintang dengan sekuat tenaga memukul dada lawannya. Lintang yakin dengan serangannya ini, lawannya ini akan terpukul mundur beberapa langkah. Sangat bagus jika dia mengalami sedikit luka karena pukulan ini. Dengan begitu, Lintang akan memiliki kedudukan yang lebih tinggi di antara mereka, dan bisa mengajaknya bediskusi.


Ketika tangan Lintang bersentuhan dengan dada lawannya, sensasi menyentuh dada bidang yang biasa dimiliki laki-laki, tidak dirasakan oleh Lintang. Yang Lintang rasakan justru sensasi lembut seperti kapas. Lintang sekarang seolah-olah tengah memukul agar-agar yang kenyal.


“Eh … perempuan?” tanya Lintang heran.


Telapak tangan Lintang yang sebelumnya terbuka lebar, tiba-tiba saja refleks berubah menjadi meremas benda kenyal itu. Namun itu tidak berlangsung lama. Ini karena perempuan di depannya langsung menebaskan pedang miliknya ke tangan Lintang. Dengan cepat Lintang menarik tangannya.


Tidak hanya itu saja, kini tudung dan topi yang menutupi kepala perempuan itu, sudah terjatuh. Rambut panjangnya sekarang tergerai dan melambai-lambai tertiup angin. Kacamatanya pun juga hilang entah ke mana. Mata berwarna kecokelatan itu, sekarang terlihat berkaca-kaca. Lintang yakin tidak lama lagi perempuan situ pasti akan menangis.


“Scumbag!” umpat perempuan itu.


“Maafkan aku. Aku sama sekali tidak sengaja. Ini juga salahmu sendiri. Aku sudah mengajakmu berdiskusi, tetapi Kau tidak mau mendengarkan. Kau justru menyerangku setelah kita bertemu. Itu tadi hanya bentuk pembelaan diri yang aku lakukan,” kilah Lintang.


Lintang tahu dirinya salah dengan menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya ia sentuh. Namun, Lintang tidak mau dirinya hanya menjadi pihak yang bersalah dalam hal ini. Perempuan ini yang terlebih dahulu memulai semua ini. Padahal, Lintang sama sekali tidak memiliki niatan untuk melakukan pertarungan.

__ADS_1


“Bastard, Kau masih saja berkilah. Kau mengendap-endap membuntutiku karena ingin melakukan sesuatu yang buruk bukan? Semua laki-laki sama saja mereka hanya ingin mencari kesempatan untuk melecehkan perempuan,” ucap perempuan itu dengan nada tinggi.


“Aku sama sekali tidak memiliki niatan untuk berbuat mesum kepadamu. Ini semua hanya kesalah pahaman. Oke aku memang salah karena sudah membututimu. Namun, aku melakukan hal itu karena aku ingin mengajakmu bekerja sama. Aku sudah berteriak-teriak memintamu berhenti, tetapi Kau masih saja pergi menjauh,” jelas Lintang.


“Bekerja sama denganku? Memangnya siapa Kau ini? Kita tidak saling mengenal. Jadi, apa kerja sama yang bisa kita lakukan? Aku tahu itu semua hanya alasanmu saja untuk mencari kesempatan dalam kesempitan bukan?”


“Sungguh. Aku berani bersumpah bahwa aku tidak memiliki niat jahat kepadamu. Sistem milikku memberi saran agar aku bekerja sama denganmu.”


“Sistem? Apa yang Kau maksud itu?” tanya perempuan itu.


Setelah Lintang mengungkap kata Sistem, perempuan ini langsung memasang wajah sok tidak tahu. Padahal, Lintang sangat yakin perempuan ini tahu apa yang Lintang maksudkan. Lihat saja matanya tidak fokus dan selalu melihat ke kiri dan ke kanan, seolah ingin menghindari pembahasan ini.


“Jangan sok tidak tahu. Aku yakin Kau adalah seorang pemilik Sistem. Sistem milikku sudah memberi tahuku bahwa Kau adalah pemilik Sistem.”


“Eh … Kau juga pemilik Sistem?” tanya perempuan itu seolah baru menyadari seluruh perkataan Lintang. Padahal, Lintang sebelumnya secara tidak langsung sudah mengatakan bahwa ia adalah pemilik Sistem.


“Ya. Aku adalah pemilik Sistem. Kau juga bukan? Apakah Sistem tidak memberi tahumu mengenai hal ini?” tanya Lintang.


Sebelumnya Sistem telah memberitahu Lintang mengenai identitas perempuan ini sebagai pemilik Sistem. Sudah pasti, Sistem dari perempuan ini juga akan memberi tahu mengenai identitas Lintang yang juga pemilik Sistem bukan? Jadi kenapa perempuan ini seolah tidak tahu apa pun?


“Ehm … itu, Sistem milikku tengah dalam mode pembaharuan. Dia sama sekali tidak bisa diajak berkomunikasi sekarang. Jadi, aku tidak tahu bahwa Kau juga adalah seorang pemilik Sistem,” jawab perempuan tersebut.


Lintang bisa melihat rasa bersalah pada wajah perempuan itu. Sepertinya dia mulai sadar bahwa ini adalah sebuah kesalah pahaman. Dia sekarang terlihat bisa diajak berdiskusi. Lintang tidak mensia-siakan kesempatan ini dan mengungkapkan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


“Aku yakin Kau mendapatkan misi untuk menghabisi pemilik Sistem pendukung Ras Mogoley bukan? Aku juga mendapatkan misi yang sama. Jadi, bagaimana jika kita lupakan semua kesalah pahaman ini dan bekerja sama? Dua lebih baik daripada satu bukan? Dengan bekerja sama, kita bisa menyelesaikan misi ini dengan baik. Bagaimana menurutmu?” tanya Lintang.


“Kerja sama ya? Baiklah. Mari kita bekerja sama,” jawab perempuan tersebut.


__ADS_2