Galaxy Wars : Solar System Defender

Galaxy Wars : Solar System Defender
GW 67 Penyesalan Jasmine


__ADS_3

“Lintang, Lintang, apakah Kamu melihat itu? Aku membunuh monster lebih banyak daripada Jasmine,” ucap Momoy yang baru saja kembali.


Momoy tidak kembali dengan tangan kosong, di tangannya sudah ada mayat dari monster yang memiliki bentuk seperti sapi. Ukurannya pun lima kali lipat dari sapi pada umumnya. Mungkin sapi dengan ukuran itu bisa memberi makan orang satu kampung dalam waktu seminggu.


“Siapa bilang Kamu membunuh lebih banyak dariku. Aku yakin jumlah monster yang aku bunuh lebih banyak darimu. Aku unggul lima ekor monster darimu,” ucap Jasmine dengan seringai lebar.


“Itu tidak mungkin. Aku lebih unggul darimu.”


“Akui saja Momoy, kekuatanku lebih besar daripada dirimu. Beberapa belas tahun belakangan, Kamu lebih sibuk mengurusi dunia fashion. Sementara aku, aku lebih fokus n bermain bersama para tentara yang berlatih di dimensi Bos Seno. Tentu saja aku lebih unggul darimu," ucap Jasmine menyombongkan diri.


"Sudah-sudah, jangan lagi bertengkar. Kalian berdua hebat bisa mengalahkan semua monster dalam waktu cepat. Kalian tidak perlu pengakuan dari orang lain."


Lintang merasa ia perlu menengahi perselisihan antara Momoy dan Jasmine. Jika dibiarkan saja, maka keduanya akan terus menerus berdebat. Lintang masih perlu melakukan kegiatan lain, ia tidak mau waktunya habis hanya untuk mendengar perdebatan mereka.


"Sekarang kita perlu melihat ke dalam reruntuhan. Masih banyak yang perlu kita telusuri di sana," jawab Lintang.


Sebelum menaiki gunung tempat reruntuhan itu berada, Lintang terlebih dahulu menyiapkan tugu kelahiran, kedai, toko senjata, serta toko ramuan di kaki gunung. Dengan begitu, para pemain bisa merasa lebih aman dan tidak perlu takut untuk kehilangan waktu mereka ketika mati.


Untuk misi pembasmian monster di sekitar sini, yang sudah Lintang berikan kepada para pemain, itu masih berlaku. Hanya saja, para pemain perlu membasmi monster pada radius lima hingga enam kilometer dari kota kecil di kaki gunung.


Lintang dan yang lain sampai di atas gunung jauh lebih cepat. Ini karena Momoy sudah membawa mereka naik di belakang punggungnya. Lintang lalu mengamati bangunan mirip kuil di depannya. Tidak ada ukiran khusus yang bisa Lintang pelajari di bagian luar bangunan. Dari video Dolan dan Noval yang sudah Lintang lihat, sesuatu yang bisa Lintang selidiki baru ada di dalam bangunan. Apalagi sesuatu di balik pintu besar yang sulit terbuka.


"Momoy, bisakah Kamu membantuku untuk naik ke atas? Aku ingin melihat lebih dekat gambar yang ada di langit-langit bangunan ini," pinta Lintang ketika melihat gambar di langit-langit bangunan.


Dari bawah, semua gambar-gambar itu memang terlihat jelas. Namun, ada satu hal yang terlewatkan jika Lintang hanya melihatnya dari bawah. Lintang perlu melihat warna yang dipakai dari gambar tersebut. Jika warnanya memudar, maka umur dari bangunan ini sudah sangat lama. Namun, jika warnanya masih sangat cerah, bisa jadi tempat ini ditinggalkan tidak terlalu lama.

__ADS_1


"Warnanya masih sangat cerah. Ini membuat gambar ini telihat baru digambar beberapa tahun yang lalu," gumam Lintang.


"Jangan tertipu dengan hal itu, Lintang."


"Eh, maksudmu apa, Momoy?" tanya Lintang bingung.


"Warna dari gambar-gambar ini. Meski warna dari gambar ini terlihat cerah, tetapi gambar ini sudah ada sangat-sangat lama di sini. Bahkan lebih tua dari usia kakek buyutmu. Ini adalah bahan khsusu yang tidak akan pernah pudar dimakan usia."


"Aku dengar, beberapa ras kelas tinggi biasa memakai bahan warna ini untuk membuat gambar leluhur mereka. Dengan begitu, sampai puluhan ribu tahun pun, keturunannya masih bisa tahu bagaimana wajah leluhur mereka dengan jelas."


"Eh, ada yang seperti itu?" tanya Lintang tidak yakin.


Lintang kembali memperhatikan gambar di depannya. Berapa kali di lihat pun gambar itu masih sama saja. Lintang sama sekali tidak menyangka bahwa gambar ini memiliki kemungkinan berumur ribuan hingga puluhan ribu tahun.


"Dari ingatan ras yang aku punya, sesuatu yang seperti itu memang ada. Di sarangku saja aku memiliki gambar leluhurku yang sudah berumur dua puluh ribu tahun. Itu adalah gambar dari kakeknya kakek buyutku," jelas Momoy.


"Ya. Bangunan dari ras lain cukup sulit ditentukan oleh kalian para manusia. Meski kalian memiliki ilmu memperkirakan umur suatu bangunan dari bahan yang dipakai, tetapi ras lain biasanya memakai bahan yang lebih tinggi kualitasnya."


"Jika Kamu benar-benar ingin tahu umur bangunan ini, maka Kamu perlu mencari catatan yang ditinggalkan oleh ras penghuni bangunan ini. Aku yakin ada catatan yang menuliskan nama dari bangunan ini, siapa yang mendesain, dan kapan ini dibangun."


"Kalau begitu, kita perlu memasuki reruntuhan untuk tahu semua itu," jawab Lintang.


Lintang dan yang lain kini sudah berada di depan pintu besar. Dari video milik Dolan dan Noval, memang sulit mengetahui cara mereka membuka pintu ini. Namun, Lintang sebagai game developer, tentu saja tahu cara apa yang mereka pakai.


"Sistem, apakah pintu ini hanya bisa dibuka dengan darah seorang elf?" tanya Lintang. Lintang ingat ras yang dipakai oleh Dolan adalah Ras Elf, kemungkinan besar darah seorang Elf-lah yang bisa membuka pintu ini.

__ADS_1


[Host perlu mencari tahu itu sendiri. Sistem tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaan ini.]


"Heh." Lintang mendengus mendengar jawaban Sistem. "Aku lupa bahwa bertanya padamu justru akan membuatku marah besar. Ke depannya, aku tidak akan bertanya padamu mengenai hal yang seperti ini."


"Lintang, kenapa Kamu tidak juga membuka pintu ini?" tanya Jasmine yang melihat Lintang hanya diam dan memandangi pintu di depan mereka.


"Kita memiliki sedikit masalah di sini. Pintu ini hanya bisa terbuka dengan kita meneteskan darah di sana. Namun, aku rasa hanya darah seorang Elf saja yang bisa membuka pintu ini. Sedangkan sekarang, tidak ada satu pun Elf di antara kita. Kita harus kembali ke Star City dan mengundang Tiarsus untuk membantu membuka pintu ini," jelas Lintang.


"Tidak bisa terbuka? Kalau begitu, aku akan merusaknya saja," ucap Jasmine yang langsung menyerang pintu itu dengan kekuatan penuh. Jasmine yakin dengan kekuatannya yang besar, Jasmine bisa membuka pintu ini.


"Jangan lakukan itu!" teriak Momoy.


Sayangnya peringatan Momoy itu terlambat. Serangan Jasmine sudah meluncur ke arah pintu. Hal itu membuat Momoy langsung menarik tubuh Lintang, Jasmine, dan Rarae menjauh sejauh mungkin dari pintu.


Tiga orang yang ditarik oleh Momoy tentu saja mereasa kaget, terutama Rarae. Ini karena apa yang Momoy lakukan itu cukup mendadak. Karena Rarae bersama dengan orang terdekatnya, ia tidak meningkatkan kewaspadaan. Jadi, apa yang Momoy lakukan membuat berlian yang ia pegang terjatuh.


Rarae yang akan mengucapkan protesnya, harus menelan protes itu. Ini karena pintu yang sebelumnya diserang oleh Jasmine, kini sudah mementalkan serangan tersebut. Terjadi sebuah ledakan cukup besar di depan pintu itu. Jika saja Momoy sedikit terlambat membawa mereka pergi, maka mereka akan terkena ledakan itu.


"Sial! Jasmine lihatlah! Tindakan bodohmu itu hampir saja membunuh kami. Jika Kamu ingin mati, jangan mengajak kami. Lintang memang bisa hidup kembali, tetapi bagaimana dengan kami? Seranganmu tadi adalah serangan dengan kekuatan penuh. Lalu, pintu itu mementalkannya dan juga menambah kekuatan serangan itu. Tentu saja aku dan Rarae tidak akan siap untuk menahan serangan itu," ucap Momoy penuh dengan kemarahan.


Keringat dingin langsung mengalir punggung Lintang. Seperti yang Momoy bilang, dengan karakter game miliknya ini Lintang bisa hidup kembali. Namun, game ini sangatlah nyata. Hal itu membuat perasaan yang Lintang alami metika berada sangat dekat dengan kematian juga terasa sangat nyata.


"Aku sama sekali tidak memiliki maksud seperti itu. Sungguh. Aku hanya ingin membuka pintu itu. Jadi aku membukanya secara paksa," jelas Jasmine dengan mata berkaca-kaca.


Jasmine sendiri juga tidak menyangka tindakannya ini membuat teman-temannya hampir mati. Selama ini, Jasmine tidak pernah melihat teman-temannya berada sangat dekat dengan kematian. Ketika akan bertarung, mereka selalu memastikan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengalahkan lawan. Apa yang terjadi kali ini benar-benar memberikan pukulan besar untuk Jasmine.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku, aku benar-benar tidak tahu bahwa apa yang aku lakukan akan berakhir seperti ini," ucap Jasmine dengan sedikit terisak.


Air mata kini sudah mengalir di pipi Jasmine. Seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya Jasmine menangis. Jasmine merasa sangat bersalah kepada teman-temannya. Jika teman-temannya sampai terluka atau bahkan mati, maka Jasmine akan menjadi pendosa besar. Jasmine benar-benar menyesali tindakannya ini.


__ADS_2