
"Tapi mereka baru menikah bagaimana mungkin langsung talak?" tanya Tiara belum ngerti keinginan Riyan.
"Aku sudah tutup malu Dahlia dengan nikahi dia tapi aku sudah bilang tak bisa poligami. Aku tak mau duakan Mawar. Aku lakukan semua ini tanpa campur tangan siapapun dan murni keinginan sendiri. Aku sudah jatuhkan talak maka Dahlia bukan tanggung jawab aku lagi. Dan sekali maaf semua harus saksikan kejadian tak menarik ini. Aku Riyan Sahputra minta maaf sebesar-besarnya pada warga kampung ini." Riyan berkata dengan gagah. Beberapa ibu-ibu tepuk tangan puas pada keputusan Riyan. Riyan tak salah telah melakukan tugas sebagai lelaki sejati nikahi Dahlia walau berakhir talak tiga.
Dahlia menangis tersedu-sedu malu pada warga yang cibir dia sebagai ratu drama. Dahlia telah salah perhitungan tak sangka Riyan tega jatuhkan talak setelah menikah. Tidak tanggung-tanggung jatuh talak tiga. Ini menunjukkan Riyan tak ingin rujuk dengannya.
"Kau kejam bang Riyan. Apa kurangnya aku sampai tega jatuhkan talak tiga? Apa Mawar lebih baik dari aku?" tanya Dahlia di tengah Isak tangis. Di sudut ruang tampak ada seorang gadis tersenyum senang lihat kakaknya menderita. Orang itu Ayumi. Kenekatan Dahlia bawa petaka bagi diri sendiri. Sudah malu tak dapat apa-apa.
"Maaf Dahlia! Aku juga tak mau begini!"
"Lantas aku gimana? Terima talak begitu saja? Ayo kita rujuk lagi!" rengek Dahlia masih menyimpan harapan Riyan mau rujuk dengannya.
"Tak bisa rujuk begitu saja Dahlia! Kau harus menikah dulu dengan orang lain baru bisa rujuk dengan Riyan." kata Tengku Kadi menanggapi keinginan Dahlia.
"Ribet amat! Kami yang nikah kok Tengku yang sibuk. Sudah ayok kamu nikah sekali lagi! Anggap tadi tidak sah."
"Tak bisa Dahlia! Kau tetap telah bercerai dengan Riyan dan harus menikah dengan orang lain dulu." tukas Tengku geleng kepala lihat sifat keras Dahlia. Keras tak punya aturan.
"Maaf Tengku! Biar nanti kami bicara dalam keluarga saja! Aku sebagai orang tua minta maaf atas kejadian tak menyenangkan. Sebaiknya acara ini kita bubarkan dulu!" Pak Hari tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah keadaan. Semua telah terjadi. Pak Hari tidak dapat menyalahkan Riyan cuma menyesali mengapa Riyan tidak beri kesempatan pada Dahlia untuk menjadi isteri laki itu.
Para tamu mengerti dan segera pergi satu persatu tinggal keluarga inti. Yang tinggal keluarga pak Hanif dan keluarga pak Hari serta Riyan dan kedua anaknya. Arsy belum mengerti apa-apa hanya bisa bungkam sedangkan Rizky lebih dewasa sedikit paham apa yang telah terjadi. Rizky bersyukur Dahlia tidak jadi ibu sambung mereka. Di mata kedua anak itu Dahlia seperti nenek sihir hendak lumatkan mereka.
Dahlia menangis sesenggukan dalam pelukan Tiara. Ayumi duduk tak jauh dari ibu dan kakaknya bersyukur Riyan talak Dahlia. Kesempatan buat dia telah terbuka. Kini cuma tinggal mainkan peran menjadi orang baik agar Riyan simpatik.
"Nak Riyan...apa tak ada cara kamu balikkan dengan Dahlia?" tanya pak Hari tak tega lihat Dahlia asyik nangis.
Riyan bukan tak tahu Pak Hari malu atas kejadian hari ini namun Riyan sudah ambil keputusan takkan poligami. Laki ini sudah lihat keluarga yang poligami dan keluarga yang menganut monogami. Tak jauh lihat contoh. Keluarga pak Hari dan pak Hanif jadi contoh paling nyata.
Keluarga pak Hari jauh dari kata akur sedang keluarga pak Hanif penuh cinta damai. Riyan petik pelajaran dari keluarga yang baik saja.
"Ayah...dari awal aku sudah bilang tak mau poligami! Aku memilih Mawar karena sayang aku pada Yenni. Yenni telah menunjuk Mawar sebagai ibu ganti buat anaknya maka kupenuhi permintaan terakhir Yenni. Aku menikahi Dahlia untuk tutup malu dia tapi aku tak bisa khianati Mawar. Maafkan aku!" Riyan bangkit dari tempat duduk membungkuk sembilan puluh derajat pada pak Hari.
"Tapi kasihan Dahlia. Dia sangat mencintaimu. Rela korbankan segalanya untukmu nak!" timpal Bu Tiara.
"Apa yang dia korban?" tanya Bu Hanif tajam kurang suka cara bicara Tiara yang anggap Dahlia korban Riyan. Padahal Dahlia korban obsesi sendiri.
"Begitu dengar Yenni meninggal dia langsung cerai dengan suaminya untuk menjadi isteri Riyan. Apa itu bukan satu pengorbanan?"
"Itu bukan pengorbanan tapi gatal. Punya suami baik minta cerai untuk hidup senang. Itu niat busuk namanya. Kini Dahlia harus menikah dengan orang lain dulu baru bisa menikah lagi dengan Riyan. Itu kalau Riyan mau!" Sungut Bu Hanif tak jaga muka Dahlia lagi. Di sini cuma ada keluarga inti. Semua keburukan Dahlia bukan rahasia lagi jadi tak masalah bahas saat ini.
"Mana boleh kau bilang gitu tentang anakku? Dia menunggu hari ini dari tahun lalu. Apapun terjadi Riyan harus bawa Dahlia ke kota. Anggap saja talak ini tak pernah ada! Gitu saja keputusannya!" Tiara ngotot tak terima talak Riyan terhadap Dahlia.
"Mana bisa gitu Bu! Itu namanya zinah. Mereka sudah resmi bercerai. Di hadapan kita orang tua dan di depan umum." pak Hari memarahi isterinya karena tak pakai aturan. Maunya sesuka hati. Boleh menikah tapi tak boleh bercerai.
"Maafkan aku Bu! Aku tak bisa terima Dahlia. Di luar sana masih banyak laki baik akan menikahi Dahlia. Dan besok aku akan balik ke kota karena liburan anak-anak hampir berakhir. Aku akan bawa Mawar bersamaku karena dia adalah isteriku sekarang."
Pak Hari hanya bisa angguk sedangkan Dahlia teriak histeris akan ditinggal oleh Riyan. Kesempatan meraih Riyan akan makin jauh bila laki itu tidak berada di kota kecil ini. Kapan laki itu akan datang lagi bila telah temukan tambatan hati. Mujur amat nasib Mawar dipersunting laki sebaik Riyan. Bisa hargai wanita tanpa tertarik pada pesona wanita liar.
__ADS_1
"Baiklah! Mawar telah menjadi urusanmu. Jaga dan sayangi dia baik-baik. Ayah percaya kamu akan merawatnya dengan baik."
"Pasti...aku datang dari jauh untuk pinang dia. Dia sangat berharga bagiku!" Riyan berjanji akan merawat Mawar sebaik mungkin. Riyan berjanji takkan biarkan Mawar menderita lagi. Anak itu sudah cukup menderita akibat perlakuan ibu dan saudara tirinya. Riyan datang bawa kebahagiaan untuk gadis itu.
"Ayah percaya."
"Baiklah kalau gitu! Aku mau jumpa Mawar untuk bicara kalau besok kami akan berangkat ke kota."
"Silahkan!"
Riyan mengajak kedua anaknya untuk jumpai ibu baru mereka. Dari tadi mereka belum sempat ngobrol dengan baik akibat ulah Dahlia.
Riyan tak mau Mawar salah paham pikir dia lelaki suka ambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka harus saling terbuka agar tak ada salah paham di kemudian hari.
Ketiga insan itu lewati pagar kecil seberang ke rumah Mawar yang terkunci rapat. Riyan menduga gadis itu pasti sakit hati akibat Riyan menikahi Dahlia tanpa kompromi dengannya. Riyan tak punya pilihan lain selain bertindak ekstrim adu nasib menikahi Dahlia.
Dengan ragu Riyan mengetuk pintu rumah Mawar. Cukup lama Riyan menunggu barulah Mawar buka pintu. Raut wajah gadis itu kusam walau baru saja jadi pengantin baru. Tak ada aura seorang pengantin baru.
"Assalamualaikum.." sapa Riyan lembut.
"Waalaikumsalam.." sahut Mawar dingin. Gadis itu menurunkan badan sejajar dengan Arsy seraya mengusap pipi anak sambungnya.
"Sudah makan sayang?"
"Belum...Arsy lapar mama!" Arsy mengusap perutnya berkali-kali bikin Mawar tersenyum.
"Ayok masuk biar Mak Bit sediakan nasi!" Mawar menggandeng Arsy masuk ke dalam tapi anak kecil itu tak ikut masuk. Anak itu bertahan di depan pintu dengan wajah muram.
"Ada apa sayang?"
"Kenapa mama bilang Mak Bit lagi? Mama kan sudah jadi mama kami."
Mawar tertawa kecil lupa kalau statusnya telah berubah jadi mama dari anak kakaknya. Mawar belum terbiasa dengan status barunya yang masih terhalang masalah.
"Oh iya lupa! Mama minta maaf ya sayang! Nah sekarang kita masuk dalam dan makan bersama. Ayok Rizky sayang!" Mawar menggandeng Arsy dan Rizky masuk tak peduli pada Riyan yang terbengong seperti orang linglung.
Ini namanya mau anak tak mau bapaknya. Biasa ibu tiri mau bapak tak mau anak. Ini kok terbalik? Riyan masuk sendiri tanpa diundang. Apa Riyan punya pilihan lain selain masuk sendiri. Ini pasti imbas atas kejadian pernikahan semu antara dia dan Dahlia.
Mawar tidak melirik Riyan sama sekali. Perhatikan Mawar tercurah pada kedua anaknya seutuhnya. Suami sendiri dianggap angin lalu. Terasa tapi tak tampak. Riyan mesti bersabar untuk mendapatkan kembali keceriaan Mawar. Mawar masih muda gampang terbawa perasaan. Riyan harus lebih sabar hadapi gadis muda.
"Wah enak ma! Siapa yang masak?" tanya Arsy kesenangan makan makanan kampung. Bukan makanan mewah namun sedap di lidah.
"Yang masak nenek. Mama cuma numpang makan. Tambah nasi ya! Rizky tambah?"
"Tak usah. Iky sudah kenyang." Rizky paham suasana mencekam antara Papa dan mama baru mereka. Rizky lebih ngerti keadaan di banding adiknya yang masih lugu.
"Papa mau tambah?" tawar Arsy sok dewasa.
__ADS_1
"Papa sudah kenyang kok!" sahut Riyan melirik si cantik yang sedang ngambek. Mawar jual mahal tidak melihat ke arah suaminya sedikitpun.
"Iky dan Arsy boleh pergi main sama kak Salsa?" tanya Rizky paham mau beri waktu pada kedua orang tua mereka untuk menjernihkan masalah antara mereka.
"Boleh dong! Iky bisa pergi sendiri?" tanya Mawar belum bisa lepaskan kedua anak keliaran sendiri di luar sana.
"Bisa dong! Kan dekat! Ayok Arsy cepat habiskan nasi mu! Makan kok kayak siput!"
"Isshhh mas Iky! Makan tak boleh cepat-cepat kata ibu guru. Nanti tersedak."
"Arsy benar Iky...biar dia makan pelan!" Mawar bantu Arsy menyendok nasi ke mulut biar tidak belepotan.
Riyan punya mata untuk melihat fakta kedua anaknya dekat dengan ibu sambung mereka. Semoga ini bukan sandiwara Mawar cari muka. Baru nikah pura-pura sayang anak. Sudah lama nanti siksa anaknya. Riyan tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Siapapun yang menyakiti anaknya harus membayar dengan mahal.
Akhirnya Rizky dan Arsy berlarian ke rumah pak Hanif untuk main bersama anak Marwah. Mawar ikuti langkah anak-anak itu sampai masuk ke dalam rumah pak Hanif. Mawar lega saksikan sendiri kedua anak itu aman dalam rumah pak Hanif.
Kini giliran Mawar bereskan meja makan. Tak ada kesan Mawar dan Riyan itu pengantin baru. Biasa pengantin baru diperlakukan bak ratu dan raja sehari tapi yang ini tak ada kesan pengantin. Keduanya lebih mirip orang asing baru kenalan.
Mawar bekerja sedangkan Riyan duduk di ruang tamu menanti sang isteri selesai bereskan bekas makan siang mereka.
Riyan mencari di mana kamar pengantin mereka. Apa kamarnya juga dihiasi pernak-pernik kamar pengantin baru? Bagaimana Riyan lalui malam ini? Mendapat jatah atau dapat zonk?
Mawar balik ke ruang tamu bawa secangkir kopi hitam untuk Riyan. Tanpa berkata apa-apa Mawar meletakkan cangkir itu di depan Riyan.
Asap mengepul dari kopi hitam itu. Bau harum kopi mencubit hidung Riyan. Ini pasti kopi asli tanpa campuran. Riyan jarang minum kopi asli karena tinggal di tempat yang jauh dari barang asli. Kopi di kota kebanyakan kopi campuran ataupun kopi sachet.
Riyan meraih kopi itu menyeruput sekali untuk hargai jerih payah Mawar menyuguhkan minuman pertama di rumah sebagai isteri.
"Katakan apa tujuan Abang selanjutnya?" tanya Mawar dengan suara pelan. Kapan Riyan akan mendengar suara Mawar bernada tinggi. Riyan lebih suka Mawar marah-marah ketimbang abaikan dia.
"Besok kita pulang ke kota ya!" ujar Riyan sedikit merayu.
"Dengan kak Dahlia sekalian?" Mawar bertanya penuh nada tertekan.
"Untuk apa bawa dia? Dia bukan siapa-siapa Abang. Bawa kami dan anak-anak saja!"
"Bang...kak Dahlia itu isteri Abang juga! Tak baik abaikan dia! Aku pilih tidak ikut ke kota biar kalian bangun keluarga sakinah."
"Isteri Abang cuma kamu! Abang sudah talak Dahlia barusan tadi. Abang tak suka pada orang penuh intrik jahat. Abang menikahi dia untuk menutup malu keluarga kalian. Dan setelahnya langsung Abang beri talak 3." jawab Riyan tenang tidak terpengaruh oleh keheranan Mawar.
Gadis ini terpana tak sangka Riyan berani berbuat demikian ekstrim nikahi Dahlia dan langsung beri talak. Tidak tanggung-tanggung langsung jatuh talak tiga."
"Jangan bercanda bang!"
"Yang canda itu siapa? Abang sudah bilang takkan duakan kamu! Isteri Abang cuma kamu dan Yenni. Abang tidak tertarik pada cewek lain. Rizky dan Arsy jatuh cinta padamu maka papa mereka juga ikutan jatuh cinta." Riyan mulai lancarkan gombalan jadul ala tahun sembilan puluhan.
Pipi Mawar bersemu merah menahan malu telah salah sangka pada Riyan. Mawar sudah putus asa tak ingin lanjutkan pernikahan ini kalau harus berbagi suami. Mawar pilih mundur. Jadi janda bukan masalah asal tidak makan hati. Mawar sudah lihat penderitaan ibunya maka berjanji takkan dimadu.
__ADS_1
"Gimana? Kita berangkat besok?"
"Maaf bang! Murid sekolah akan segera ujian Senin ini. Aku harus dampingi mereka sampai selesai ujian."